Senin, 03 Februari 2020

SOEKARNO DAN MARXISME

Oleh : Yanuar Iwan

Belajar memahami Soekarno adalah berusaha memahami Indonesia, Soekarno lahir dan berkembang dari keluarga multikultutral, multi agama, kebudayaan Jawa dan kebudayaan Bali mempengaruhi proses sosialisasinya, karena berasal dari keluarga kelas menengah dan tergolong keturunan bangsawan Soekarno berhak untuk mendapatkan akses pendidikan yang kelak akan banyak mempengaruhi perjalanan karir politiknya.

Ide nasionalisme masa kecil banyak dipengaruhi ibunya Idayu Nyoman Rai melalui cerita-cerita kepahlawanan Kerajaan Singaraja didalam melawan Belanda, Ayahnya R. Sukemi Sosrodiharjo mempengaruhinya melalui cerita-cerita wayang dari Mahabharata dan Bharatayudha yang sarat heroisme, patriotisme, dan pengorbanan.

Bernard Dahm sejarawan Jerman dalam bukunya "Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan" mengatakan "Dia ( Soekarno ) yakin akan tradisi sinkretisme Jawa bahwa persatuan antara kelompok yang beraneka ragam, seperti Islam, Marxis, dan Nasionalis dapat terlaksana. ( Historia. id )

Sinkretisme Jawa memadukan unsur-unsur yang saling memperkaya dan melengkapi, membentuk harmoni kekuatan, nasionalisme, Islam, dan Marxisme memiliki persamaan di dalam menghadapi kolonialisme imperialisme bahwa kedua paham itu mengakibatkan penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan oleh karena itu harus dihancurkan, dalam hal ini Soekarno memiliki persamaan dengan Tan Malaka keduanya menolak dogmatisme total yang kerap dihubungkan dengan marxisme, menurut Soekarno masyarakat Indonesia yang tertindas kolonialisme memiliki sendiri alat dan perlengkapan hidup untuk memenuhi kehidupan, mereka bukan proletar mereka para Marhaen yang direkayasa oleh pemerintah kolonial untuk tetap miskin dan tidak berdaya, tidak ada kelas proletar dan kaum pemilik modal borjuis dan tidak ada perjuangan kelas didalam revolusi kelas proletar, kondisi di Indonesia berbeda dengan di Eropa tidak ada benturan dan konflik antar kelas didalam masyarakat Indonesia, yang ada adalah eksploitasi dan penindasan kekuatan politik kolonial.

Pemikiran Marxisme beserta analisis sosial politiknya menjadi populer dan lazim digunakan untuk menggambarkan sisi buruk kolonialisme disetiap organisasi pergerakan nasional yang non cooperasi.

Kebangkitan SI dan kemundurannya ditahun 1926, kegagalan pemberontakan PKI ditahun yang sama, perpecahan organisasi pergerakan nasional akibat perbedaan ideologi menjadi inspirasi Soekarno dalam tulisannya "Nasionalisme, Islam, Marxisme dimajalah Indonesia Muda, ide-ide persatuan dan sikap elitisme yang tidak mengakar kepada rakyat menjadi bahan kritikannya. Marxisme adalah salah satu unsur kekuatan didalam masyarakat Indonesia bersama Islam dan nasionalisme yang memiliki potensi besar untuk melawan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Kita tidak perlu bersikap Islam phobi, nasionalis phobi atau marxis phobi ketiga unsur tersebut saling melengkapi. ( Rakyat dan Negara, Ong Hok Kham, 15, 1983 )

Di dalam pidato-pidatonya Soekarno banyak mengutip tokoh-tokoh sosialis demokrat barat seperti Karl Kautsky,  Jean Jaures, PJ Troelstra, dan HM Brailsford, justru Karl Marx dan Frederich Angels jarang dikutip oleh Soekarno termasuk didalam tulisan-tulisannya.

Cindy Adams dalam "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" hal 89 menuliskan Dalam bidang politik Bung Karno adalah seorang nasionalis. Dalam bidang keagamaan Bung Karno seorang yang percaya pada Tuhan. Tetapi Bung Karno menjadi seorang penganut dari tiga pemikiran. Di bidang ideologi, dia sekarang seorang sosialis. Ku ulangi bahwa aku seorang sosialis, bukan komunis. Aku tidak akan menjadi komunis. Aku tidak akan menjadi seorang simpatisan komunis. Masih saja ada orang yang berpikir bahwa sosialisme sama dengan komunisme. Mendengar kata sosialis mereka tidak dapat tidur. Mereka melompat dan berteriak. "Aha, aku tahu ! Bung Karno seorang komunis !" Tidak, aku bukan komunis,  aku seorang sosialis. Aku seorang yang beraliran kiri. Orang kiri adalah mereka yang menghendaki perubahan kekuasaan kapitalis yang ada, orde imperialistis, keinginan untuk menyebarkan paham keadilan sosial adalah kiri. Dia tidak perlu komunistis.

Saya melihat Soekarno menggunakan pemikiran marxis dalam tahapan revolusi masyarakat tertindas, pengorganisasian massa, agitasi dan propaganda serta mobilisasi massa.
Soekarno hanya menggunakan analisa marxis didalam menelaah kondisi bangsanya yang terbelakang lahir dan batin akibat kolonialisme.
Sikap merakyatnya, sikap anti feodalnya,  pemikiran egaliternya didasarkan rasa cinta terhadap bangsanya, Soekarno banyak belajar dari HOS Tjokroaminoto, M. Natsir, A.Hasan, Alimin dan Muso serta interaksi politiknya dengan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, Soekarno secara brilyan bisa menganalisis, mensintesakan hal-hal yang berbeda dengan harapan dan kesamaan tujuan dan cita-cita. Dia tampil sebagai "singa podium" yang menjadi icon kebangkitan rakyat tertindas, berkharisma, popularitasnya sudah terbentuk diera pergerakan nasional dan meledak diera revolusi kemerdekaan. Jarang kita melihat seorang pemimpin yang konsisten dengan pemikiran politiknya, Soekarno adalah salah satu pemimpin tersebut, dia tetap konsisten dengan revolusinya, dengan Marhaenismenya, dengan Nasakomnya, dengan demokrasi terpimpinnya, walaupun sejarah tidak selamanya indah bagi pemimpin yang konsisten.

Awal Pebruari, di Cipanas. 2020.

* Guru IPS SMPN 1 Cipanas,  Cianjur Jabar