Selasa, 31 Maret 2020

MEMAHAMI KEBIJAKAN PEMBATASAN SOSIAL SKALA BESAR DAN DARURAT SIPIL


Oleh Enang Cuhendi
Senin kemarin (30/3) hasil Rapat Terbatas presiden dengan menteri dan pejabat terkait memutuskan akan diberlakukannya status Pembatasan Sosial Skala Besar dan Darurat Sipil untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia. Sebagaimana dikutip www.pojoksatu.id bahkan Presiden secara khusus meminta kebijakan pembatasan sosial berskala besar, physical distancing dilakukan secara lebih tegas, lebih disiplin dan lebih efektif.  
Sebagai guru IPS tentunya kita wajib mengikuti dan memahami kebijakan yang diambil pemerintah. Selain untuk pemahaman pribadi juga untuk disebarkan kepada peserta didik kita dan masyarakat yang membutuhkan. Oleh karena itu melalui tulisan ini saya akan sedikit berbagi tentang kebijakan yang baru dikeluarkan pemerintah tersebut. Walau sederhana, mudah-mudahan informasi yang disampaikan bermanfaat,
Sebelum melangkah ke darurat sipil ada tahapan yang dilalui. Kalau merujuk pada UU nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan ada beberapa tahap yang bisa dilakukan dalam kondisi darurat kesehatan. Tahap tersebut diantaranya bisa dari Karantina Wilayah dulu baru kemudian melangkah ke kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar.
Dalam UU nomor 6 tahun 2018 tersebut disebutkan bahwa karantina wilayah adalah pembatasan penduduk dalam suatu wilayah termasuk wilayah Pintu Masuk beserta isinya yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi. Karantina Wilayah ini merupakan respon dari kondisi darurat kesehatan yang berkembang di masyarakat.
Kebijakan Karantina Wilayah dilaksanakan kepada seluruh anggota masyarakat di suatu wilayah apabila dari hasil konfirmasi laboratorium sudah terjadi penyebaran penyakit antar anggota masyarakat di wilayah tersebut. Saat karantina wilayah diterapkan seluruh anggota masyarakat wajib mematuhinya. Kunci utamanya pada ketaatan masyarakat mengikuti prosedur karantina wilayah. Mereka tidak boleh keluar masuk wilayah karantina.
Bagaimana dengan kebutuhan hidup masyarakat. Dalam Undang-undang ini disebutkan bahwa selama dalam Karantina Wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. Terkait dengan tanggung jawab Pemerintah Pusat dalam penyelenggaraan Karantina Wilayah tentunya harus dilakukan dengan melibatkan Pemerintah Daerah dan pihak yang terkait. Pihak kepolisian juga bisa dilibatkan dalam mensukseskan kebijakan karantina wilayah ini.
Langkah lain sebagai respon dari kondisi darurat kesehatan yang berkembang di masyarakat adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi. Tujuannya untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit.
Pembatasan Sosial Berskala Besar bisa dilakukan dengan melalui berbagai cara. Langkah yang diambil bisa berupa: peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan; dan/atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Dalam melakukan penyelenggaraan Pembatasan Sosial Berskala Besar ini koordinasi dan kerja sama antar berbagai pihak terkait sesuai sangat diperlukan, misalnya pemerintah daerah, departemen terkait, atau pihak industri. Sebagaimana Karantina Wilayah dalam penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar masyarakat wajib mematuhi, terutama tinggal di rumah masing-masing.
Lantas apa darurat sipil itu? Apa bedanya dengan karantina wilayah dan pembatasan sosial berskala besar ? Bagaimana ketentuannya?
Dalam KBBI darurat diartikan sebagai keadaan sukar (sulit) yang tidak tersangka-sangka yang memerlukan penanggulangan segera. Darurat bisa juga diartikan  keadaan terpaksa. Merujuk pada arti ini maka bisa dipahami bahwa pemerintah mengeluarkan kebijakan darurat karena dalam keadaan yang memang sulit dan menuntut penanggulangan segera serta terpaksa dilakukan. Pandemi Covid-19 memang sudah menuntut pada tahap darurat yang  menuntut penanggulangan segera.
Dasar hukum tentang Darurat Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Penganti UU (Perppu) nomor 23 tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya. Status Darurat Sipil adalah keadaan yang dinyatakan presiden atau Panglima Tertinggi Angkatan Perang bahwa suatu atau sebagian wilayah atau seluruh wilayah Indonesia dalam keadaan bahaya. Tingkatan keadaan bahaya bisa dimulai dari darurat sipil, darurat militer sampai darurat perang.
Dalam Perppu tersebut disebutkan bahwa selama masa Darurat Sipil tanggung jawab penguasaan tertinggi dalam keadaan bahaya dilakukan oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang selaku penguasa Darurat Sipil Pusat. Dalam menjalankan tugasnya presiden dibantu oleh para menteri dan kalangan militer dan polri. Untuk tingkat daerah tanggung jawab penguasaan tertinggi dalam keadaan bahaya dilakukan dipegang oleh kepala daerah sebagai penguasa daarurat sipil daerah. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh unsur terkait di daerah termasuk TNI dan Polri.
Selama diberlakukannya masa darurat sipil sejumlah kewenangan ditambahkan kepada presiden sebagai penguasa darurat sipil pusat, dan kepala daerah sebagai penguasa darurat sipil daerah. Baik presiden maupun kepala daerah berhak mengadakan segala peraturan-peraturan yang dianggap perlu untuk kepentingan ketertiban umum dan untuk kepentingan keamanan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan.
Diberlakukannya keadaan Darurat Sipil bisa menimbulkan dampak tersendiri. Kegiatan berupa rapat-rapat umum, pertemuan-pertemuan umum dan arak-arakan yang sifatnya mengumpulkan massa harus ada izin terlebih dahulu. lzin ini oleh Penguasa Darurat Sipil diberikan penuh atau bersyarat. Pembatasan masuk gedung, area umum, tempat kediaman, fasilitas umum sampai lapangan bisa diberlakuakn sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Penguasa Darurat Sipil juga berhak mengadakan peraturan-peraturan untuk membatasi pertunjukan-pertunjukan, percetakan, penerbitan, pengumuman, penyampaian, penyimpanan, penyebaran, perdagangan dan penempelan tulisan-tulisan berupa apapun juga, lukisan-lukisan, klise-klise dan gambar-gambar. Selain itu Penguasa Darurat Sipil juga berhak akan dapat menyuruh memeriksa dan menyita semua barang yang diduga atau akan dipakai untuk mengganggu keamanan serta membatasi atau melarang pemakaian barang itu. Pembatasi orang berada di luar rumah secara ketat juga dapat dilakukan.
Bagaimana ketika ada masyarakat yang tidak patuh pada kebijakan yang diambil slama Darurat Sipil. Tentunya penguasa Darurat Sipil dapat  mengambil tindakan berupa pemberian sangsi sesuai dengan hukum yang berlaku.
Kalau merujuk pada Perppu nomor 23 tahun 1959 tentu saja masih banyak ketentuan lain yang bisa penguasa Darurat Sipil lakukan. Semua itu dilakukan bukan sebagai bentuk arogansi penguasa, tetapi tentunya demi cepat pulihnya wilayah atau negara dari kondisi darurat. Yang tentunya pelaksanaannya dilindungi Undang-undang. Walaupun banyak yang mengkritisi, kita harapkan semoga kebijakan yang diambil pemerintah ini akan berdampak positif dalam penyelesaian masalah Covid-19.


MENGENAL LETNAN JENDERAL SUADI SUROMIHARDJO

Oleh : Yanuar Iwan. 

Sosoknya mungkin terdengar asing dibandingkan Tjokropranolo dan Soepardjo Rustam yang dikenal sebagai pengawal dan ajudan pribadi Panglima Besar Jenderal Soedirman. Padahal jabatan Suadi pada saat itu secara hierarkhis komando lebih tinggi dari Tjokropranolo dan Soepardjo Rustam yaitu sebagai Komandan Satuan Pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman

Foto-foto bersejarah perjalanan gerilya Jenderal Soedirman antara tahun 1948-1949. Beberapa diantaranya memuat gambar Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo yang memang selalu dekat dengan Pak Dirman, ciri Suadi dapat dikenali dari baret hitamnya dan selalu menyandang senapan carbine M1.

Bagi yang sudah menyaksikan film Perjuangan Jenderal Soedirman, film produksi 2015 sosok Suadi tidak ditampilkan dan pada film Janur Kuning film produksi PPFN di masa Orde Baru juga tidak ditampilkan, didalam buku-buku pelajaran IPS SD, SMP dan sejarah SMA namanyapun tidak ada, hanya foto dan gambarnya dengan mudah kita temukan.

Rasa penasaran saya terjawab dengan mencari sumber-sumber informasi sejarah tertulis yang pertama dari buku Yogyakarta 1948 tulisan Himawan Soetanto halaman 197, Letnan Kolonel Suadi ketika itu menjadi lawan Brigade Siliwangi II dalam "Perang Saudara" di Solo menjelang pemberontakan PKI Madiun 1948.

Brigade II Siliwangi dituduh secara sepihak oleh satuan-satuan para militer ( afiliasi FDR-PKI ) dan Komando Pertempuran Panembahan Senopati KPPS yang sudah di infiltrasi PKI, bahwa Siliwangi telah menculik dan membunuh Letnan Kolonel Suherman, beberapa perwira dari TNI-Masyarakat  ( afiliasi FDR-PKI ) dan Mayor Esmara Sugeng dari Brigade 9/KPPS yang berasal dari Tentara Laut Republik Indonesia ( TLRI ).

Letnan Kolonel Suadi meng-"ultimatum" Siliwangi agar mengembalikan perwira-perwira yang hilang selambat-lambatnya  13 September 1948. Siliwangi bersikeras tidak melakukan penculikan dan pembunuhan sehingga pecah pertempuran yang skalanya terus meluas.

Situasi Kota Solo pada saat itu serba tidak jelas, sikap saling curiga mencurigai antar satuan terus meningkat.

Yang kedua Jenderal Soedirman  menunjuk sosok tegas Kolonel Gatot Soebroto, sebagai Gubernur Militer Surakarta untuk menyelesaikan masalah di Kota Solo yang sudah menjadi kota _Wild West_Kolonel Gatot Soebroto memberikan ultimatum kepada setiap komandan pasukan agar segera menghadap kepadanya selambat-lambatnya pada tanggal 21 September 1948 dan apabila tidak menghadap akan dianggap sebagai pemberontak.

Diantara komandan yang tidak menghadap adalah Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo dan Mayor Slamet Riyadi.

Untuk menetralisir pembangkangan Jenderal Soedirman memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto Komandan Brigade X Divisi III Diponegoro dengan dibantu Kapten Tjokropranolo, Kapten Soetanto Wiryoprasanto dan Kapten CPM Ali Aliamangku ( CPM Divisi Siliwangi ) untuk memberikan penjelasan, pengertian, dan pesan dari Pak Dirman kepada Letnan Kolonel Suadi dan Mayor Slamet Riyadi untuk kembali ke TNI dan Republik Indonesia.
Misi netralisir tersebut berhasil dengan sukses Komando Pertempuran Panembahan Senopati ( KPPS ) berhasil ditarik kembali kedalam jajaran organisatoris  TNI. ( Https : // Soeharto. Co )

Setelah Perang Kemerdekaan, Suadi sempat mengikuti pendidikan militer prestisius di Forth Leavenworth AS dan Staff College, Queta Pakistan. Dipercaya Jenderal Nasution sebagai Komandan Seskoad di Bandung ( 1959-1961 ) jabatan terakhirnya adalah Gubernur Lemhanas pada masa awal Orde Baru, sehingga dia memperoleh pangkat tiga bintang, pangkat yang disandangnya sampai pensiun ( Aris Santoso, Letnan Jenderal Suadi, Pengawal Soedirman yang disikat Soeharto Pasca 1965 Tirto.id )

Gambaran peristiwa sejarah ini cukup jelas mengapa sosok Suadi jarang ditampilkan didalam tulisan sejarah militer Indonesia, Film dan buku-buku Sejarah Indonesia.

Walaupun terlalu dini dan gegabah apabila beranggapan Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo terlibat didalam peristiwa Pemberontakan PKI Madiun 1948.

Panglima Besar Jenderal Soedirman tidak mungkin menunjuk dan mengangkat Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo sebagai Komandan Pasukan Pengawal apabila yang bersangkutan terlibat Pemberontakan PKI Madiun.

Lantas mengapa sosok Suadi seperti disembunyikan bahkan dihilangkan didalam dinamika sejarah ?

Sumber bacaan :
 Yogyakarta 19 Desember 1948, Himawan Soetanto 2006
Tirto.id
https : // Soeharto.Co.

Senin, 30 Maret 2020

2 Maret 2020

By CNO

2 Maret menjadi pangkal perubahan
Ketika virus asal Wuhan tiba tanpa tertahan
Menyebar cepat dari pusat kota hingga pinggiran
Sekolah, kampus, dan perkantoran akhirnya diliburkan

Virus tidak bergerak merapat, tapi tanpa disadari kita yang malah mendekat
Akhirnya pergaulan pun perlahan harus tersekat-sekat
Kehidupan ekonomi perlahan mulai sekarat

Tapi jangan berkecil hati dan sedih meratap
Karena dokter dan tenaga medis serta aparat terus bergerak sigap
Bekerja keras agar wabah tidak semakin meluas
Berusaha keras agar setiap orang tetap bernafas

Selain itu, yang dibutuhkan bukan hanya masker, APD, dan obat-obatan
Kemampuan bertahan dan persatuan juga dibutuhkan
Dan doa-doa tulus agar terus meluncur deras dari tiap kerongkongan
Sehingga rahmat dan kasih sayang Allah turun membelai para Insan

Kita pernah susah seperti ini
Bahkan jauh lebih susah dari ini
Tapi akhirnya semua dapat dilewati
Dan yakinlah semua ini pun akhirnya akan berhenti

Esok atau lusa, yakinlah akan berakhir
Karena janji Tuhan itu pasti
Di balik kesulitan ada kemudahan
Sesungguhnya di balik kesulitan pasti ada kemudahan

Puisi by CNO
ditulis 30 Maret 2020

Minggu, 29 Maret 2020

PELURUSAN SEJARAH SEPUTAR BANDUNG LAUTAN API


Oleh Enang Cuhendi
“... Setiap jengkal tumpah darah harus dipertahankan, agar jangan meyerahkan Bandung Selatan begitu saja kepada Sekutu...”
Petikan isi surat perintah pimpinan Markas Tertinggi Tentara Republik Indonsia (MT TRI) telah menginspirasi terjadinya aksi heroik di Kota Kembang Bandung 74 tahun yang lalu. Di bawah komando Kolonel A.H. Nasution selaku Komandan Divisi III TRI yang berpusat di Bandung, didukung oleh para pejuang yang tergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP), pemerintah dan seluruh masyarakat Kota Bandung terjadilah salah satu aksi kepahlawanan terhebat yang pernah menghiasi sejarah Nusantara.
Peristiwa tersebut terjadi pada 24 Maret 1946 dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. Dalam peristiwa tersebut tidak hanya sekedar tembak menembak antara para pejuang dan rakyat Indonsia melawan Pasukan Sekutu dan NICA, tetapi lebih dahsyat karena adanya pembumihangusan Kota Bandung yang indah oleh masyarakat dan para pejuangnya sendiri.
Mereka melakukan aksi itu bukan tanpa sebab. Ini wujud perlawanan dan ketidakrelaan kota yang dicintainya harus diserahkan begitu saja kepada musuh menyusul adanya ultimatum dari Sekutu yang disetujui pemerintah pusat. Dalam ultimatum tersebut Tentara Sekutu meminta supaya daerah 11 km sekeliling Kota Bandung, dihitung dari tengah-tengah kota, harus dikosongkan dari semua orang dan pasukan-pasukan, laskar dan TRI bersenjata. PM Sutan Syahrir menyetujui ultimatum tersebut dalam upaya menjaga langkah diplomatik yang sedang dilakukan pemerintah RI.
Sebagai masyarakat dan para pejuang yang taat pada pemerintah mereka mentaati keputusan pusat. Walau demikian mereka enggan menyerahkan kota yang dicintainya diserahkan kepada musuh begitu saja. Sambil mundur menuju luar kota satu persatu bangunan yang ada di kota dibakar dan dihancurkan. Bandung yang indah berubah wujud menjadi lautan api. Di mana-mana kepulan asap membumbung tinggi menyertai jilatan api membara dari bangunan yang terbakar.
Terkait peristiwa Bandung Lautan Api ada beberapa catatan yang perlu dikedepankan. Catatan yang perlu diketahui oleh siapapun yang mencintai sejarah negeri ini. Dengan adanya catatan ini semoga menjadi sedikit terbuka wawasan dan sekaligus meluruskan hal-hal yang masih bengkok.
Catatan pertama terkait dengan tanggal peristiwa. Di beberapa media terutama yang berbasis online seringkali disebutkan bahwa peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) terjadi pada 23 Maret 1946. Berdasarkan fakta sejarah yang ada pendapat ini tidak tepat. Kejadian BLA terjadi bukan 23 Maret 1946, tetapi sehari setelah itu tepatnya menjelang tengah malam 24 Maret 1946. Pada 23 Maret 1946 Kolonel A.H. Nasution selaku Panglima Divisi III /Jawa Barat yang paling berperan dalam peristiwa BLA baru menerima amanat PM Sutan Syahrir untuk mentaati ultimatum Sekutu yang dikeluarkan Jenderal Hawtorn. Amanat tersebut dibawa oleh Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara yang sengaja datang ke Bandung.(Dinas Sejarah Angkatan Darat, 2016: 198). Mereka bersama dengan pimpinan MPPP dan pimpinan pemerintahan RI di Bandung mengadakan pertemuan di Jalan Dalem Kaum. Setelah itu Kolonel Nasution bersama Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara menghadap Jenderal Hawtorn di Markas Sekutu untuk meminta penangguhan waktu. Sore harinya Kolonel Nasution bersama Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara bertolak ke Jakarta untuk bertemu dengan PM Sutan Syahrir. Kolonel Nasution baru pulang kembali ke Bandung 24 Maret 1946 pagi. Baru malam hari 24 Maret 1946 peristiwa BLA terjadi di bawah komando Kolonel A.H. Nasution. Untuk itu informasi yang menyebutkan BLA terjadi 23 Maret 1946 tidak tepat.
Catatan berikutnya mengenai keputusan pembumihangusan Kota Bandung. Dalam beberapa catatan ada yang menulis bahwa perintah pembakaran dan penghancuran Kota Bandung merupakan tindakan blunder dan perlawanan Kolonel A.H. Nasution terhadap keputusan pemerintah pusat. Tanggung jawab atas hancurnya kota, jatuhnya korban dan munculnya penderitaan ratusan ribu rakyat di pengungsian mutlak tanggung jawab seorang Nasution.
Pendapat di atas tentunya tidaklah seratus persen benar. Menurut A.H. Nasution (1977: 186) tak lama setelah kejadian datanglah Kolonel Hidayat yang diutus oleh Jenderal Mayor Didi Kartasasmita MT TRI di Yogjakarta yang meminta laporan pertanggungjawaban Panglima Divisi III tentang peristiwa di Bandung. Sebagai Panglima Divisi III / Wilayah Jawa Barat semua yang terjadi dilaporkannya secara lengkap. Ketika MT TRI mempertanyakan mengapa Panglima Divisi III/Jawa Barat, tidak mempertahankan  Kota Bandung sampai titik darah terakhir, dijawab oleh Kolonel A.H. Nasution:
“...Panglima Komandmen lebih tahu apa yang telah dikatakan Panglima Komandemen kepada Pangima Divisi dan lebih-lebih Yogja harus tahu, bahwa saya selaku Panglima Divisi III tidak mungkin mengorbankan empat Batalyon saya dengan lebih kurang 100 pucuk senapan seluruhnya untuk menangkis Divisi India ke-23 yang diawaki oleh 12.000 orang itu dalam ruangan yang demikian kecil. Walaupun kami bertempur akhirnya kami tidak akan dapat menghindari pendudukan oleh musuh. Kalau seandainya musuh akan memperolehnya, baiklah ia menerima puing tapi empat Batalyon saya, menurut Panglima Divisi III akan tetap utuh untuk tiap malam melakukan gerilya di dalam kota ..”
Itulah penjelasan Kolonel A.H. Nasution kepada MT TRI. MT TRI pun menerima serta mendukung kebijakan yang ditempuh Panglima Divisi III, MPPP dan pemerintah Sipil RI di Bandung. Bahkan Pada awal Mei 1946 di Purwakarta menyebut keputusan yang diambil Panglima Divisi III merupakan keputusan terbaik ( Nasution, 1977: 187).
Mengenai pengambilan keputusan kebijakan pembakaran Kota Bandung, perlu juga mendapat catatan. Keputusan ini bukan mutlak diputuskan oleh Kolonel A.H. Nasution sendiri. Pada 23 dan 24 Maret 1946 Kolonel A.H. Nasution menerima dua instruksi yang bertentangan dari Perdana Menteri  Sutan Syahrir dan MT TRI. Pada 23 Maret 1946 PM Sutan Syahrir berpesan salah satunya jangan diadakan pembakaran karena yang rugi rakyat sendiri dan kita sendiri yang harus membangunnya kelak. Semua pasukan harus mentaati ultimatum untuk keluar dari Kota Bandung demi perjuangan diplomasi. Sutan Syahrir juga mengamanatkan agar pemerintah sipil tetap tinggal di Kota Bandung. Sedangkan pada 24 Maret 1946 pagi MT TRI di Yogjakarta memerintahkan untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dan jangan menyerahkan Kota Bandung begitu saja kepada Sekutu. Dengan kata lain ada isyarat dari MT TRI untuk melakukan tindakan taktis pada Sekutu sebelum meninggalkan Kota Bandung.
Untuk menyelesaikan kedua perintah yang terkesan kontradiktif tersebut, Kolonel A.H. Nasution selaku Panglima Divisi III tidak bergerak sendiri ia berkoordinasi dengan Walikota Kota Bandung Syamsurizal, Badan Pekerja KNI Priangan, Polisi dan MPPP. Dalam pertemuan ini semua sepakat bahwa mengingat sudah disetujui pemerintah pusat, maka amanat PM Sutan Syahrir harus dijalankan, tetapi perintah MT TRI juga harus dipertimbangkan. Kemudian sore harinya ia berkoordinasi dengan staf dan komandan-komandan pasukan serta pimpinan MPPP. Baru kemudian ia memutuskan bahwa rencana penghancuran dan pembakaran kota sudah tidak dapat dirubah lagi (Nasution, 1977: 145) dan memerintahkan agar segenap penduduk, baik sipil maupun militer harus meninggalkan Bnadung sebelum pukul 24.00 pada 24 Maret 1946 (Dinas Sejarah Angkatan Darat: 2016: 206). Kesimpulannya untuk pengambilan keputusan kebijakan pembakaran Kota Bandung tidak murni keputusan A.H. Nasution selaku Panglima Divisi III tetapi hasil musyawarah dengan pimpinan sipil Kota Bandung, MPPP, BP KNI Priangan dan para komandan pasukan.
Catatan lain yang perlu diluruskan adalah keterkaitan antara peristiwa Bandung Lautan Api dengan Sosok Heroik Mochamad Toha. Di beberapa media seringkali dikatakan bahwa Moch. Toha adalah sosok penting dalam peristiwa BLA bahkan ia mengorbankan dirinya untuk menghancurkan gudang mesiu milik Belanda yang ada di Dayeuhkolot. Dua peritiwa ini adalah dua peristiwa yang berbeda, baik waktu, tempat maupun tokohnya.
Sebagaimana sudah disampaikan di atas bahwa BLA terjadi pada malam tanggal 24 Maret 1946 bertempat di Kota Bandung dengan tokoh-toko penting di antaranya Panglima Divisi III/Jawa Barat, Kolonel A.H. Nasution, Walikota Bandung Syamsurizal, dan Pimpinan MPPP Sutoko. Sementara peristiwa kepahlawan di Dayeuhkolot yang berwujud peledakan Gudang mesiu Belanda terjadi 11 Juli 1946. Dalam buku Siliwangi Dari masa Ke Masa (1968: 96-99) dikisahkan bahwa pada pertengahan 10 Juli 1946 kira-kira pukul 21.45 beberapa anggota dari Barisan Banteng RI, Pangeran Papak dan Hizbullah yang merupakan bagian dari MPPP mendapat perintah untuk melaksanakan penghancuran pertahanan Belanda di Dayeuhkolot. Kekuatan yang dikerahkan untuk melaksanakan tugas berat itu ada 11 orang yang terbagi dalam dua regu. Regu I terdiri dari 5 anggota Barisan Banteng RI di bawah pimpinan Mochamad Toha dan Regu II dari Hizbullah dan Pangeran Papak dipimpin oleh Achmad.
Saat operasi berlangsung awalnya berlangsung sukses. Sekira tengah malam kesebelas pejuang tersebut berhasil melintasi Sungai Citarum.  Tiba-tiba salah seorang  di antara mereka menyentuh kabel ranjau yang menimbulkan ledakan hebat. Ini mengakibatkan adanya serangan dari phak Belanda. Kejadian yang tidak diduga tersebut menyebabkan jatuhnya korban, yaitu Mohammad Ramdan dan luka-luka sepuluh pejuang lainnya. Toha meminta kesembilan temannya untuk kembali ke seberang. Ia sendiri bertekad melanjutkan misi sendirian walau menderita luka di pahanya. Kejadian yang selanjunya tidak ada yang tahu hanya pada 11 Juli 1946 sekira pukul 12.30 terdengar ledakan  hebat disertai guncangan yang luar biasa dari markas Belanda. Ternyata gudang mesiu merka telah hancur. Ini membuktikan bahwa misi Toha sudah berhasil. Toha hancur bersama meledaknya gudang mesiu Belanda. Untuk menghormati jasanya didirikan monumen di Dayeuhkolot pada 17 Agustus 1957.
Daru uraian di atas jelas sekali bahwa antara BLA dengan peristiwa Moch. Toha adalah dua peristiwa yang berbeda. Mungkin saja sebagai pejuang di bawah MPPP Toha terlibat dalam peristiwa  BLA tetapi bukan sebagai pimpinan atau pengambil keputusan. Dalam peristiwa BLA sosok Toha hanyalah pejuang biasa. Kepahlawanannya baru muncul empat bulan kemudian, tepatnya saat sukses meledakan Gudang Mesiu Belanda di Dayeuhkolor pada 11 Juli 1946.
Itulah beberapa hal yang perlu diluruskan seputar peristiwa Bandung Lautan Api. Semoga distorsi sejarah seperti yang sudah disampaikan di atas tidak terulang lagi.   

Daftar Pustaka
 A.H. Nasution, 1977, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonsia, Diplomasi Sambil Bertempur, Jilid III, Bandung, Disjarahad-Angkasa.
Dinas Sejarah Angkatan Darat, 2016, Bandung Lautan Api, Bandung, Dinas Sejarah Angkatan Darat
Kodam III/Siliwangi, 1968, Siliwangi Dari masa Ke Masa, Bandung, Fakta dan Mahyuma

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN COVID-19

Oleh Hendarman


Dampak pandemi covid-19 dari hari ke hari tidak menunjukkan penurunan, dan daerah persebaran semakin meluas. Terhitung tanggal 28 Maret 2020, tercatat yang positip sejumlah 1155 orang, yang sembuh 59 orang, dan yang meninggal 102 orang. Berbagai pakar menyampaikan bahwa sekarang ini masih merupakan awal dari proses dan melihat dalam waktu "mulai proses" itu sudah cukup banyak korban yang jatuh maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi ketika masa puncaknya.

Berbagai pendapat dikemukakan berbagai pakar baik mereka yang memang ahlinya ataupun mendadak ahli ketika ada pandemi itu. Sejumlah kiat-kiat untuk dapat terhindar dari pandemi ini juga dilontarkan sejumlah ahli yang kadang-kadang satu dengan yang lain saling bertabrakan atau tidak sinkron. Jadilah yang membaca saran-saran itu mulai "keblinger" dan bahkan mulai digiring menjadi "parno" alias paranoid.

Ketika menyadari bahwa begitu mengerikan dampak dan daya kerja virus ini (kalau boleh dikatakan mengerikan--- karena masih banyak yang beranggapan tidak usah khawatir karena korban lebih kecil dibandingkan virus-virus lain); sudah tentu pengambilan keputusan menjadi bagian yang mau tidak mau menjadi inti solusi penanganan covid-19. Pengambilan keputusan dapat dimaknai dari aspek cakupan yang berbeda karena banyak pertimbangan yang dipelajari sebelum membuat suatu keputusan.

Pengambilan keputusan tersebut salah satunya adalah dalam lingkup dunia pendidikan atau tepatnya proses pembelajaran di sekolah. Yang menarik adalah mengambil keputusan untuk "merumahkan anak-anak dan pendidik serta tenaga kependidikan untuk memulai proses belajar dari dan di rumah" sudah menjadi bahan polemik yang ruwet. Tidak mengherankan ada daerah-daerah yang dengan cepat mengambil keputusan untuk instruksi belajar dari rumah segera dilakukan. Tetapi ada juga daerah-daerah tertentu yang bersifat "menunggu" sebelum membuat keputusan itu. "Menunggu" dalam arti setelah di daerahnya jatuh korban covid-19.

Yang juga menarik mengamati adalah kebijakan daerah yang "merumahkan" siswa tetapi tetap "meminta atau memaksa" kepala sekolah dan guru tetap hadir di kantor. Jadi pengawasan pembelajaran dalam posisi yang mengajar di sekolah dan yang diajar di rumah. Sampai-sampai ada yang berkomentar ,"jadi kami para guru dianggap kuat dan tahan terhadap covid-19 atau memang kami yang akan dikorbankan karena usia kami sudah lanjut".

Belum lagi keragaman keputusan batas waktu belajar di rumah. Ada yang memilih untuk mengikuti masa darurat nasional yang diperpanjang sampai dengan 29 Mei 2020. Patut diacungkan jempol kepada daerah-daerah yang berani memutuskan belajar dari rumah dilaksanakan sampai dengan 29 Mei 2020. Bagaimanapun ini adalah masa genting dan "mempertaruhkan" nyawa manusia. Bayangkan anak-anak disuruh masuk sekolah dan tidak menyadari mungkin teman-temannya ada yang "carrier" karena di rumah anggota keluarganya "carrier". Lalu temannya pulang ke rumah dan "tanpa disadari menularkan" kepada orangtua yang sudah berumur yang rentan virus covid-19.

Mudah-mudahan para pengambil keputusan pada level manapun akan sangat bijak menyikapi pandemi covid-19 ini dan mengambil keputusan tegas dan cepat tanpa bertele-tele berdiskusi dan berdebat. Musuh virus ini bergerak lebih cepat sementara kita masih sibuk mencari-cari formula.

Bogor, 29 Maret 2020
Hendarman

#WorkFromHome
#SocialDistancing
#PhysicalDistancing
#StayAtHome

https://www.facebook.com/100004922025998/posts/1477727689067951/

Sabtu, 28 Maret 2020

SECUIL KISAH DARI TANAH ASMAT


Oleh Danner Purba, S.Pd.

Saat malam menjemput sang siang aku masih duduk santai di teras depan rumah yang langsung berhadapan ke Sungai Pomact, sungai pasang surut  yang asin dengan lebarnya sekitar 200 meter. Suara jangkrik mulai bersahutan, gerombolan kodok juga demikian, pohon nyiur di ujung desa pun nyaris tidak lagi kelihatan, hanya kunang-kunang yang berlalu lalang memberi sedikit terang. Hewan yang dulunya bagiku sangat menakutkan kini nyaris seperti teman.

Ini lah desa tempatku bertugas, salah satu desa terpencil di pedalaman Asmat (Papua). Desa yang setiap sudutnya gelap saat malam, tapi walau begitu penduduknya hidup bahagia dan merasa nyaman. Penduduk di desa ini memiliki sikap yang ramah dan penuh kehangatan. Saat aku berjalan menyusuri jembatan papan setiap warga dari anak kecil, remaja, dan tua pasti memberi salam. Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan terbatasnya keadaan. Mereka juga tidak pernah mengeluh tentang mati lampu, karena di desa ini memang tidak pernah mati lampu alias tidak ada aliran arus untuk lampu.

Kabupaten Asmat ini sangat unik, topografinya yang seluruhnya datar dan dekat dengan laut menyebabkan semua tanah yang ada  basah saat air laut pasang. Semua air yang mengalir berasa asin, asam, dan berlumpur. Di kabupaten ini juga tidak ada kendaraan bermotor, semua rumah warga dihubungkan dengan jembatan papan, lantai rumah dari papan, kamar mandi papan, jalan utama papan, bahkan lapangan sepak bola pun dibuat menggunakn papan. Maka tak jarang orang-orang menyebutnya dengan julukan “Negeri 1000 Papan”.


Gelapnya malam semakin tak terbantahkan, Rasanya sudah tidak nyaman mata ini menatap dan beradu dengan pekatnya malam. Perlahan kuayunkan langkah menuju kamar, kubaringkan tubuhku sambil memandangi kunang-kunang yang berkeliaran di langit-langit kamar. Sejenak rindu dan terbayang akan kehidupan yang lebih nyaman di kota asal. Terbayang akan semua fasilitas yang mudah didapatkan, dan terbayang akan keluarga yang sudah lama tak kuberi kabar karena tidak ada signal. Perlahan kupejamkan mata, kulawan rindu dengan keluarga yang jauh di mata, dan akhirnya aku pun terlelap dan terbawa ke alam bawah sadar.

Pagi pun datang menjelang, mukin karena tidurku terlalu panjang sehingga bangun terlalu  pagi sudah bukan lagi hal yang menantang. Pukul 06.45 WIT aku sudah selesai beres-beres dan berganti pakaian. Suara langkah siswa/siswi ku saling beradu di jembatan papan depan rumah.

Tok.. Tok.. Tok...!!

"Pa guru selamat pagi.”

“Pa guru selamat pagi." Kata salah seorang siswa sambil mengetuk pintu rumahku.

"Ia selamat pagi" Kataku sambil datang dan membuka pintu.

“Pa guru hari ini kita tidak sekolah kah? ini su terang, itu matahari su di atas," Kata Dedi sambil menunjuk mata hari di ufuk timur yang bersinar cerah.

"Ia kita hari ini sekolah tohh, tapi ini belum jam masuk, jam masuk itu jam delapan." Kataku menjelaskan.

"Pak guru baru ini su jam berapa kah?” tanya Bakap.

Ini masih jam 06.46, tapi ya sudah jalan sudah ke sekolah, sebentar Bapak menyusul”, kataku. 

Mereka pun berlalu menuju sekolah dengan wajah dengan semangat dan tetap  ceria.
Seandainya di desa ini ada arus listrik dan speaker  ingin rasanya memutar musik dengan lirik "Pagiku cerahku matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak, Guruku tersayang.... dst’

Begitulah kondisi siswaku di sini. Mereka tidak punya jam tangan dan penunjuk waktu lainnya. Patokan bagi mereka untuk bangun pagi adalah sinar matahari. Saat cerah maka mereka bisa datang terlalu pagi, tapi saat mendung mereka bisa datang jam 09.00 WIT ke sekolah dengan santai dan tanpa merasa bersalah.

Ting..!  Ting..! Ting..!

Lonceng sekolah tanda bersiap masuk kubunyikan dengan nyaring. Seperi biasanya mereka pun baris berkumpul di lapangan dan mendengarkan beberapa pengarahan. Jumlah siswa/siswi yang hadir saat itu sekitar 120 siswa, sementara guru hanya dua. Kami berdua adalah guru yang ditempatkan pemerintah di desa ini lewat jalur SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal).

Seketika aku tepuk jidat, apa bisa dua guru mengajar siswa 6 kelas,? pikirku dalam hati. Saat muncul sedikit rasa pesimis, tiba-tiba muncul sebongkah rasa optimis.

Dalam hati yang paling dalam masih tertancap dengan kokoh:  "Aku kesini untuk kalian"
Setelah diskusi singkat dengan satu orang rekan sejawat, akhirnya kami pun berbagi kelas. Kelas kecil I, II dan III yang berjumlah sekitar 60 orang menjadi tanggung jawabku, sedangkan kelas besar IV, V dan VI menjadi tanggung jawab rekanku.

Pertama-tama terasa kaku, tidak mudah memang mengajar 3 tingkatan kelas sekaligus. Daya tangkap dan kemampuan awal siswa yang rendah juga turut menjadi kendala. Belum lagi aku harus siap jadi guru agama, guru olah raga, matematika dan guru mata pelajaran lainnya.

Satu hal yang menambah semangatku siswa kami ini tidak banyak mengeluh, tidak manja, dan tidak terlalu usil dengan teman saat belajar. Dengan demikian aku tidak perlu mengelurkan banyak energi untuk menertibkan mereka. Tidak jarang kami menemui hal-hal lucu yang mengundang tawa. Salah satu contohnya saat kelas dua kuminta menulis huruf M sebanyak 1 lembar, dan tentunya sudah terlebih dahulu kucontohkan dengan huruf M di papan tulis sebanyak satu baris.

Tampaknya semua siswa bersemangat membuat huruf M agar penuh satu lembar, tapi ternyata huruf yang benar-benar percis huruf M hanya beberapa baris selebihnya berubah jadi huruf W dan sebagian lagi entah huruf apa. Tapi bagiku itu tak mengapa, aku aprsiasi semangatnya. Yang pasti mereka masih ada kemauan untuk terus belajar. Aku sangat meyakini bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalan.

Tiga bulan pertama jalannya pembelajaran seperti tertatih. Selain kemampuan awal siswa/siswi kami yang rendah hidup masyarakat yang masih meramu dan berburu membuat setiap minggu siswanya selalu baru. Gantian yang datang setiap minggunya. Mereka harus ikut orang tua ke hutan selama beberapa minggu untuk mengumpulkan makanan dan kembali ke desa saat persediaan makanan yang terkumpul sudah lumayan. 

Di satu sisi hidup mereka yang berburu dan meramu  juga harus kami syukuri, karena kalau siswanya datang bersamaan kami pasti sangat kewalahan, jumlah siswa sebenarnya ada sekitar 260 orang dan yang datang setiap harinya sekitar 120 orang dan datangnya setiap minggu bergantian. Warna kulit, rambut, dan wajah mereka yang hampir mirip satu sama lain juga menjadi kendala untuk dapat mengenali siswa ini satu persatu. ya memang segala sesuatu butuh proses. Batinku.

Setip hari sebelum memulai kegiatan pembelajaran siswa kelas I, II dan III  terlebih dahulu dikumpulkan di satu  ruangan, kami bersama-sama berdoa dan setah berdoa yanyian lagu daerah papua pun mengalun dengan merdu di ruangan tersebut. Setelah selesai berdoa kelas II masuk kerungan kelasnya, sementara kelas I dan II tetap di ruang kelas sebelumnya.  Tujuan untuk menghemat pergerakan ke tiga ruang sekaligus.

Anak kelas I dan II duduk secara terpisah (sayap kiri dan sayap kanan).  Duduk di bangku panjang yang sebagian nyaris seperti kursi goyang (reot). Satu bangku biasanya terdiri dari 2 sampai 3 siswa.

Papan tulis kubagi menjadi dua bagian. Sebelah untuk anak kelas 1 dan yang lainnya untuk anak kelas 2. Setelah aku memberikan penjelasan tentang materi yang akan dikerjakan untuk kedua kelas aku pun bergegas menuju ke ruangan kelas tiga.

"Selamat pagi..!!" Kataku ramah menyapa kelas 3 yang sudah siap menunggu hadirku.

"Selamat pagi Bapak guru.." Jawab mereka serentak. “Hari ini kita akan belajar IPS tentang lingkungan Alam dan Lingkungan buatan”.

Saat belajar mengenai lingkungan alam dan lingkungan buatan, di wajah mereka tergambar rasa senang. Mukin dalam hati mereka berkata: “Syukurlah, ternyata kali ini belajarnya agak santai dan tidak menguras pikiran. Kali ini tidak belajar perkalian dan pembagian yang bagi kami merupakan pelajaran yang sulit.”

Saat rasa lelah sedang menghampiri mereka, mata pelajaran IPS menjadi pelepas penat, selain jam olah raga tentunya. Walau demikian aku sangat memaklumi hal tersebut, selain jarang diajari sebelum kami ditugaskan di sekolah tersebut, daya serap mereka yang agak rendah juga mungkin disebabkan umur mereka sudah tidak sesuai lagi duduk di kelas III SD. Sebagian dari mereka sudah berumur 12 tahun bahkan ada yang berumur 16 tahun.

Suatu ketika saat belajar IPS menganai provinsi yang ada di Indonesia. Aku mencoba menanamkan pada mereka bahwa Indonesia itu luas, kamu harus rajin baca buku karena buku adalah jendela duni. Dari buku kamu bisa tahu segalanya. Mereka pun bersemnagat memperhatikan atlas dan menyebutkan beberapa tempat yang akan mereka kunjungi kelak.
Saat jenuh menghampiri, kuingat lagi motto kami MBMI (Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia). Ada banyak orang yang sedang berjuang mencerdaskan generasi emas Indonesia melalui jalurnya masing-masing dan aku telah memilih jalur SM-3T, dengan motto tersebut semangatku pulih kembali dan meyakini bahwa "Setahun mengabdi selamanya menginspirasi". Tidak terasa setahun penuh sudah hampir berlalu. Itu artinya sudah waktunya bagi kami untuk kembali ke daerah asal masing-masing. selama bertugas di desa tersebut kelas rangkap adalah metode pembelajaran andalan dan IPS menjadi mata pelajaran is the best.
Hari perpisahan pun benar-benar tiba, tidak kuat rasanya melihat mereka ramai-ramai yang kecil hingga yang tua mengantar kami ke perahu sambil berlinang air mata. “Pak guru, kenapa kasih tinggal kami, sama siapa kami belajar, jangan pergi Pak guru, kami mau pintar, kami janji mau rajin belajar”.

Ucap mereka penuh pilu. mereka meyakinkan kami agar tetap tinggal bersama mereka sambil tetap membantu kami memikul  koper, tas dan barang-barang lainnya berjalan menyusuri jembatan papan penuh lubang (reot).

Kupeluk satu persatu siswaku, kukatakan bahwa ilmu dan pendidikan adalah jembatan penghubung. Teruslah belajar, gapai ilmu sebanyak mukin, semoga dengan ilmu yang kamu dapat kita bisa berjumpa kembali dengan senyum yang lebih manis.

Perahu kami pun melaju, isak tangis mereka semakin terdengar, “Pak guru..! Pak guru..! Datanglah lagi, kasih ajar kami”. Aku hanya tertunduk dan tak  sanggup memandangi mereka dan desa kecil yang memberiku banyak pelajaran berharga. Desa yang penuh dengan kenangan juga ketenangan. Perahu pun kian menjauh dan kini sudah berada dilaut lepas menuju pelabuhan Agats. Sayonara siswa/siswiku, terima kasih untuk pengalaman berharga ini. Kataku dalam hati menahan rasa pilu.

SM-3T Kab. Asmat, Papua 2016.

Danner Purba, Guru IPS SMP Satu Atap Danau Sarang Elang Muaro Jambi

TANPA JARINGAN INTERNET


Oleh: Wijaya*

Covid-19 membuat semuanya terhentak. Dunia seakan abnormal dalam tataran realitas, menghadapi wabah tersebut. Dalam hitungan bulan, Covid-19 menyebar lintas benua, menginfeksi inangnya. Angka kematian meningkat drastis diakibatkan olehnya. Tidak berhenti sampai di sana, semua lini kehidupan merasakan dampaknya. Termasuk pendidikan di setiap jenjang.

Kementerian pendidikan dan kebudayaan yang dikomandoi Mas Menteri Nadiem, mengeluarkan edaran nomor nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Corona Virus Deseas atau Covid-19. Berisi 6 point, yang satu diantaranya terkait dengan proses belajar di rumah. Kondisi ini menjadi peluang bagi para pendidik untuk melakukan inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran, sebagai implementasi merdeka belajar.

Kebijakan Mas Menteri sebagai tindak lanjut dari surat keputusan kepala badan penanggulangan bencana Nasional nomor 13.A tahun 2020 tentang perpanjangan status keadaan tertentu darurat bencana wabah penyakit akibat virus Corona di Indonesia. Perpanjangan selama 91 hari sampai dengan 29 Mei 2020. Merujuk pada edaran dan keputusan gugus tugas penanganan Covid-19, maka pembelajaran di rumah diperpanjang. Kebijakan itu juga diikuti dinas pendidikan dan kebudayaan tingkat provinsi, kabupaten/kota dengan mengeluarkan edaran sesuai kondisi faktual di lapangan.

Permasalahan baru timbul, bagi sekolah yang di daerahnya tidak terjangkau sinyal internet. Tidak sedikit keluhan, baik dari guru, siswa dan orang tua siswa, terkait pelaksanaan proses belajar mengajar jarak jauh melalui moda daring. Bagi peserta didik yang berada diperkotaan, kondisi ekonomi yang baik dan didukung dengan sinyal internet 4G serta kepemilikan gawai berbasis android bukan halangan melaksanakan pembelajaran moda daring. Belum lagi kesempatan mengakses platform pembelajaran online, semisal ruang guru, rumah belajar, Zenius dll.

Nah, kondisi ini sejatinya merupakan realitas pembangunan yang belum merata untuk negara Indonesia yang berbentuk kepulauan dengan sebaran penduduk yang juga tidak merata dan terpusat di kota-kota besar. Pembangunan yang belum bisa dinikmati oleh seluruh warga negara. Termasuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kenyataan ini tidak perlu kita tangisi dan menbuat kita semakin terpuruk. Tapi kita sikapi sebagai sebuah tantangan untuk tetap memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Aplikasi yang menunjang pembelajaran moda daring, seperti google class room, zoom, edmodo, quizziz dll. Tidak bisa diterapkan tanpa dukungan kepemilikan gawai berbasis android, kuota internet, penguasaan IT guru dan utamanya ketersediaan jaringan internet yang mengcover area di mana peserta didik berdomisili. Hal ini tentu saja menjadi kendala dalam PBM jarak jauh. Akan tetapi pembelajaran harus tetap berjalan, kewajiban guru dan hak siswa tetap harus terpenuhi.

Setidaknya ada beberapa alternatif solusi terkait masalah di atas. Moda luar jaringan bisa menjadi pilihan bagi guru dan juga peserta didik. Moda APK (antar, pelajari dan kerjakan), Guru menyusun bahan ajar ringkas, disertai latihan dan sumber belajar yang tersedia dan dekat dengan peserta didik selama PBM di rumah. Paket bahan ajar dan latihan tersebut bisa di copy dan dihantarkan langsung ke rumah-rumah peserta didik. Moda lainnya dengan membuat teka teki silang (TTS) sesuai materi dan jumlah pertemuan selama belajar di rumah, sama dengan moda APK, TTS juga digandakan dan dihantarkan ke rumah peserta didik.

Moda luar jaringan tersebut memang memerlukan pengorbanan lebih, baik dana dan juga waktu. Akan tetapi moda APK merupakan salah satu solusi agar proses belajar mengajar tetap berlangsung di tengah ketiadaan kepemilikan gawai berbasis android dan ketiadaan jaringan internet. Tentu saja ini hanya salah satu alternatif solusi di tengah masa penanganan darurat wabah Covid-19. Dedikasi dan inovasi guru serta dukungan orang tua menjadi salah satu penentu bahwa hak anak mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi 

Teknologi memang menawarkan berbagai kemudahan. Apalagi dengan disertakan kemampuan artifisial intelegensi (IA) dalam setiap produk teknologi yang semakin memanjakan dan memudahkan manusia mengakses dan memenuhi kebutuhannya. Khususnya informasi dan alat produksi. Akan tetapi kecanggihan dan kemudahan itu tidak memiliki arti, jika tanpa dukungan ketersediaan jaringan internet serta kemampuan sumber daya manusia dalam pemanfaatannya secara positif. Kondisi seperti ini, seyogyanya pribahasa "tidak ada akar, rotanpun jadi" masih relevan.

*Ketua Umum PP FKG IPS Nasional PGRI

Jumat, 27 Maret 2020

Guru Honorer dalam Bahaya!


Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Saat tidak ada wabah dengan gaji kecil guru honorer masih bisa berjuang hidup. Mereka masih bisa ke sekolah melayani anak bangsa. Mengapa mereka masih bisa melanjutkan  hidup? Karena ada pekerjaan sampingan untuk menambal risiko finansial. Gaji Rp. 300 ribu per bulan sangat-sangat tidak cukup.

Dari sejumlah mata pencaharian tambahan yang dilakukan guru honorer  adalah : 1) GTO (Guru Tukang Ojek), 2) GTR (Guru Tukang Rongsok), 3) GJP (Guru Jualan Pulsa), 4) GTK (Guru Tukang Kredit), 5) GTA (Guru Tukang Asongan), 6) GJO (Guru Jualan Online), 7)  GJP (Guru Jasa Privat), 8) GSJ (Guru Sopir Jemputan), 9) GTC (Guru Tukang Catering) dan sejumlah serabutan lainnya.

Menyedihkan memang nasib guru honorer.  Kakak  Saya guru MI bertahun-tahun jadi honorer dan akhirnya memilih resign. Hari ini adik Saya masih bertahan menjadi honorer guru PAUD. Nah bagaiman nasib guru honorer saat wabah corona seperti saat ini? Pekerjaan tambahan sulit karena sebagian masyarakat lockdown.

Masih teringat kuat dalam pikiran Saya bahkan pernah Saya tuliskan. Terkait guru-guru yang mendapatkan bantuan pemerintah karena musibah banjir. Mendikbud Nadiem Makarim memberikan tunjangan khusus  selama tiga bulan kepada guru terdampak banjir.

Mengapa tidak untuk guru honorer pun yang saat ini terdampak Covid -19 diberikan tunjangan khusus. Sama-sama musibah!  Mengapa mereka perlu diberi tunjangan khusus? Pertama karena mereka terdampak musibah. Kedua mereka adalah “aparatur” negara  bidang pendidikan. Ketiga mereka tidak bisa nyambi. Mereka harus  stay at home, sesuai saran pemerintah.

Sangat wajar, nalar dan wajib, bila guru honorer mendapat tunjangan khusus.  Ini wajib untuk  “ketahanan pangan” mereka.  Bahaya bila guru honorer dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Hal yang bisa muncul adalah  kecemasan, menurun daya tahan tubuh dan bisa kena penyakit.

Menyelamatkan guru honorer yang menderita saat ada wabah Covid -19 adalah tugas negara. Negara harus dan wajib hadir dan menjamin finansial mereka. Setidaknya logistik mereka harus aman!  Mengapa negara harus hadir? Ini masalah “balas budi” karena selama ini guru honorer hadir terus  di sekolah  mewakili negara.

Pemerintah, pemerintah daerah harus selamatkan nasib logistik  dan finansial guru honorer.  Jangan sampai gaji para guru honorer dibayarkan per triwulan.  Ini sangat tidak manusiawi  dan tidak sesuai dengan ajaran semua agama. Bayarkan upah sebelum keringat pegawai kering.

Dari mana anggarannya? Negara lebih tahu urusan anggaran. Ini tinggal masalah niat baik dan kemanusiaan pada “aparatur”   pendidikan yang hidupnya terancam di saat wabah. Misal gunakan  ratusan milyar angaran yang tadinya mau digunakan untuk  program ormas penggerak pendidikan. 

Alirkan anggaran taktis  dan anggaran di Kementerian pendidikan untuk waktu darurat selama wabah.  Hanya tiga bulan, setidaknya dua bulan! Guru terdampak banjir diberi tunjangan khusus, mengapa guru honorer tidak? Kan sama-sama musibah?  Guru ASN sudah aman, tinggal guru honorer! Posisinya, sama-sama guru!

GORESAN SIANG

Oleh: Erni Melati Sari

Perkenalan saya dengannya, memang baru seumur jagung, tapi selalu saja ada yang bisa saya petik dari kisah pertemanan kami.

Beberapa waktu yang lalu, saat saya bergabung untuk belajar online bersama dengan teman se-indonesia. Banyak ilmu yang Masa Allah,  luar biasa sekali untuk pembelajaran dirumah. Sambil berkumpul ditemani keluarga tercinta. Saya sangat berterima kasih sekali berkumpul bersama sahabat hebat di Indonesia ini. Rasa syukur tidak terhingga atas nikmat yang luar biasa ini diberikan kepada saya.

Di suatu ketika, diberikan kesempatan bergabung untuk belajar menulis di  wadah yang bernama, “Socius Writer “ hingga akhirnya bisa mengumpulkan sebuah tulisan bersama teman-teman yang dibukukan dan diterbitkan serta ber ISBN, eh tau-tau dapat kiriman sertifikat juga.

Sekarang ini, saya diberikan kesempatan untuk bergabung bersama  teman-teman lainnya di suatu grup yang diberinya nama “Bahagia Sukses Sejahtera“ dengan tujuan mengasah hati dan pikiran, untuk selalu mengucap rasa syukur, dan memunculkan energi positif, senyum tulus dan ikhlas. Saya bahagia, saya bersyukur, saya berterima kasih. 

Ini yang membuat saya sangat bersyukur sekali, disaat masa “diam dirumah” ini banyak yang dapat dilakukan, karna efek virus corona. Karena telah tercantum di al Qur,an surat Al Ahzab ayat 33, yang artinya; dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang jahiliyah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-nya. Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Singkat cerita saya sangat kagum dengan Pengurus di FKG IPS Nasional PGRI. Mereka menjadi motor penggerak yang bukan didominasi oleh  seseorang saja, tetapi mereka bersinergi menjadi penggerak tidak hanya di dunia nyata, akan tetapi di dunia maya. Berjuang bersama hingga seperti sekarang ini, mereka tetap bersama sesuai mottonya berkomitmen, sinergis dan kompeten. Semua Ikhlas diniatkan untuk Allah Ta,ala. 
Insya Allah berkah

#berkahdirumahsaja

MENINGKATKAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS



Oleh
ANIFA YULIA, S. Pd.
Guru SMPN 2  Bukittinggi, Sumbar


Pembelajaran IPS pada hakikatnya merupakan telaah tentang manusia dalam hubungan sosial dan kemasyarakatan. Karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial yang selalu hidup bersama dan membutuhkan orang lain. Mulai dari tingkat keluarga, lingkungan sekitar, nasional, regional bahkan internasional. Selayaknya pelajaran IPS adalah pelajaran yang menyenangkan dan diminati oleh siswa karena mempelajari tentang manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial yang kompleks dan selalu berubah. Tujuan pembelajaran IPS adalah agar peserta didik menjadi warga negara yang baik, melatih peserta didik berkemampuan berpikir matang untuk menghadapi dan memecahkan masalah sosial dan agar peserta didik dapat mewarisi dan melanjutkan budaya bangsa
Namun kenyataannya Pembelajaran IPS sering dianggap sebagai pelajaran yang membosankan dan kurang diminati oleh siswa karena identik dengan kumpulan konsep, pengertian, data ataupun fakta yang harus dicatat dan dihafal. Selain itu mata pelajaran IPS tidak termasuk pelajaran yang di UN kan sehingga dianggap kurang penting dibandingkan dengan pelajaran lain yang di UN kan. Masalah lain yang menyebabkan pelajaran IPS kurang diminati adalah metode pembelajaran dari guru yang masih banyak bersifat konvensional dengan ceramah , mencatat, menghafal sehingga kurang  menantang.
Untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar , guru IPS  perlu melakukan inovasi dalam metode, model , media ataupun sumber - sumber belajar yang lebih bervariasi. Ibarat dalam sebuah pementasan, maka Guru adalah sutradara dalam pembelajaran. Kemampuan guru dalam menyusun skenario pembelajaran dari perencanaan pelaksanaan, metode, model pembelajaran, bahan ajar dan penilaian akan menentukan sukses tidaknya pembelajaran. Sebagai sutradara pembelajaran maka guru harus dapat mengorganisasikan berbagai komponen pembelajaran sehingga dapat saling bersinergi untuk mencapai tujuan  pembelajaran. Guru dituntut untuk kreatif dalam memilih metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi dan juga karakteristik peserta didik sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa.
Menjadikan pembelajaran IPS menjadi pelajaran yang menarik dan diminati oleh siswa merupakan tantangan tersendiri bagi guru IPS. Beragam  metode dan model pembelajaran dapat dilakukan guru IPS dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, seperti  model Sosio Drama, kuis, TTS, diskusi, Mind Map, penggunaan IT, membuat produk  ataupun pembelajaran di luar kelas dengan mengajak siswa mengamati lingkungan sekitar, kunjungan ke museum dan sebagainya sesuai tuntutan materi pelajaran. Guru IPS dituntut untuk dapat menyiapkan siswa yang memiliki keterampilan sosial dan kepekaan terhadap lingkungan serta kemampuan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi di sekitar mereka. Guru IPS diharapkan tidak lagi terjebak dalam pembelajaran ceramah yang monoton, namun mereka hanya sebagai inspirator dan fasilitator yang menuntun jalannya pembelajaran dengan baik. Tentunya guru juga harus banyak belajar dan membaca agar dapat memahami berbagai metode dan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.
Pembelajaran IPS tidak hanya berupa materi yang harus diajarkan oleh guru, tapi dapat dilakukan serta diperoleh siswa dari berbagai sumber, antara lain dari pustaka, internet, dengan mengamati lingkungan, melakukan observasi langsung seperti ke pasar, perusahaan, museum, lingkungan sekitar dan sebagainya . Tentunya ilmu yang didapat dari pengalaman sendiri maupun langsung lebih bermakna daripada sekedar mencatat dan menghafal. Adanya model dan kegiatan pembelajaran yang lebih bervariasi tentunya lebih menyenangkan dan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar IPS.
Tak kalah penting dalam pembelajaran IPS adalah siswa harus rajin membaca dan menyimak beragam informasi serta  peristiwa yang terjadi dalam kehidupan  sehari – hari. Siswa harus update berbagai peristiwa dan informasi terkini. Karena setiap saat ada saja informasi atau peristiwa baru. Siswa diharapkan dapat mengamati dan melakukan penilaian bagaimana suatu peristiwa terjadi serta dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di sekitar mereka. Dengan demikian tujuan pembelajaran IPS agar peserta didik menjadi warga negara yang baik, melatih peserta didik berkemampuan berpikir matang untuk menghadapi dan memecahkan masalah sosial dan agar peserta didik dapat mewarisi dan melanjutkan budaya bangsa dapat tercapai.




COVID-19 TIDAK HANYA SEKEDAR ANGKA-ANGKA


Oleh: Wijaya

Akhir Desember 2019, dunia dikagetkan dengan kemunculan wabah penyakit di Wuhan Ibukota dari Provinsi Hubei. Sebagai kota terpadat di China dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa. Menjadi mudah untuk disorot oleh pewarta. Satu persatu korban jiwa berjatuhan, virus yang menurut para ahli dibawa oleh kelelawar, meskipun masih diperdebatkan.

Covid-19 sebutan organisasi kesehatan dunia atau WHO. _Corona Virus Deseas_ Covid, sedangkan 19 penanda tahun mewabahnya. Ditetapkan pada 10 Februari 2020. Meskipun pemerintah China menyebut _novel coronavirus pneumonia_ atau NCP. Terlepas dari penyebutan nama virus tersebut, namun yang pasti puluhan ribu jiwa melayang disebabkan Covid-19.

Tidak menunggu lama, Covid-19 secara cepat menyebar ke berbagai negara dan lintas benua dalam hitungan hari. Begitu juga informasi mewabahnya Covid-19 juga ramai diwartakan di media-media mainstream dan media sosial di tanah air. Akan tetapi sikap berbeda dilakukan oleh pemerintah. Tidak ada langkah-langkah yang mencerminkan betapa bahayanya virus tersebut. Berbagai statement dilemparkan oleh para "pejabat publik" menyikapi mewabahnya Covid-19. Akan tetapi statement dari "pejabat publik" bertolak belakang dengan para ahli virus dan tenaga medis yang menganggap betapa bahayanya Covid-19.

Pemerintah harus segera menyikapi secara serius jangan sampai menjadi pandemi yang akan meledak secara stastik. Bulan berganti bulan, seakan senyap dari langkah-langkah antisipasi terhadap persebaran Covid-19. Akhirnya duaaarrr, Covid-19 mulai memakan korban, meskipun masih belum diekspos secara transparan. Ditandai dengan semakin meningkatnya angka orang dalam pemantauan (ODP), dan Pasien dalam pengawasan (PDP) dibarengi dengan angka kematian yang semakin terus bertambah. Menjadi tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Langkah-langkah terukur dan taktis, akhirnya diinisiasi oleh pemerintah DKI sebagai titik awal mula Covid-19 terdeksi. Gayung bersambut pemerintah pusat merespon betapa bahayanya Covid-19. Meskipun bagi sebagian pengamat dan tenaga kesehatan dinilai terlambat. Tetapi suatu hal yang positif dan harus didukung, daripada tidak sama sekali. Berbagai imbauan dalam bentuk surat edaran, spanduk, flyer dll mulai serius terkait wabah Covid-19. Tidak terkecuali edaran terkait pendidikan.

Dunia pendidikan tidak luput dari dampak Covid-19. Sejalan dengan imbauan dari BNPB terkait penetapan Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah  Penyakit Akibat Virus Corona Di Indonesia. Kepala daerah baik tingkat provinsi dan kabupaten/kota membuat edaran _work from home_ atau WFH yang berdampak dengan dikeluarkannya edaran belajar di rumah bagi peserta didik, dibatalkannya Ujian Nasional dan Ujian Sekolah. Hal ini jelas berdampak besar terhadap target capaian meningkatnya indeks pendidikan.

Covid-19 telah membuka suatu potret sesungguhnya, terkait mentalitas sebagian aparatus negara dan masyarakat. Hal tersebut terlihat dari menyikapi imbauan untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19 yang banyak tidak diindahkan oleh sebagian masyarakat. Serta lambatnya pemerintah dalam mengambil sikap secara tegas dan terukur untuk menangani Covid-19. Sejatinya, ada hal krusial, yakni pelibatan para ahli virus, tenaga medis dalam menetapkan langkah-langkah penangananya yang dikomandoi oleh pejabat terkait.

Betapa banyak hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Betapa mentalitas masyarakat yang tidak taat aturan terkait imbauan WFH dan untuk tidak meninggalkan zona merah. Masih adanya segelintir orang yang tidak memiliki nilai kemanusiaan dengan menjual APD dan produk terkait dengan harga tidak manusiawi. Meskipun di lain sisi masih ada simpati dan empati sebagian masyarakat Indonesia yang terlibat dalam penanganan wabah Covid-19 sesuai kemampuan. Pengorbanan tenaga medis sebagai garda terdepan melawan Covid-19 dengan perlengkapan seadanya, sehingga lebih dari 6 putra terbaik bangsa meninggal. Pemerintah yang lambat, kalau tidak dibilang abai dalam menyikapi mewabahnya Covid-19.

Satu hal yang penting, masyarakat wajib mentaati imbauan pemerintah, terkait penanganan wabah Covid-19. Kedisiplinan dan menjaga perilaku hidup sehat harus menjadi kebiasaan. Pemerintah juga harus menyiapkan alternatif kompensasi dari hilangnya pendapatan pekerja harian, menurunkan harga BBM dan tarif dasar listrik selama masa darurat bencana wabah Covid-19, karena imbauan sekaligus kebijakan tersebut.

Kerahkan berbagai sumberdaya untuk terpenuhinya perlengkapan tenaga medis sebagai garda terdepan. Termasuk pendidik tetap melaksanakan proses belajar mengajar dengan memanfaatkan moda yang ada sesuai kondisi faktual peserta didiknya serta mengedukasi peserta didik akan bahaya Covid-19. Jauhkan dari sikap sombong dan takabur dengan menganggap enteng sesuatu yang jelas-jelas bahayanya.

Satu yang pasti dan menjadi keniscayaan. Bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Al Khaliq. Setiap episodenya kehidupannya telah termaktub dalam skenarioNya. Hanya dengan ketundukkan dan berserah diri kepadaNya menjadi keharusan. Setelah semua ikhtiar dilakukan dengan maksimal. Akhir kata, semoga wabah Covid-19 segera berakhir dan aparatus pemerintah serta rakyat dapat memetik hikmah dari peristiwa ini.

Kamis, 26 Maret 2020

Guru Buta Gaji, Gaji Buta!


Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Saat ini selain wabah coronavirus ada juga “wabah”  emosi  yang menghujat guru.  Seorang Ibu muda berinisial IM diduga menuliskan dalam FBnya *“Anak Sekolah Libur Panjang Enak Donk Pada Guru Gajih Buta”* Tulisan ini sangat melukai perasaan para guru Indonesia.

Guru tak henti-hentinya “disoal”. Disoal  mulai dari membuat anak stress karena memberikan tugas terlalu berat pada anak didik. Gonjang ganjing antara masuk sekolah dan tidak. Bahkan sejumlah guru tak mendapatkan gaji, buta gaji! Bukan gaji buta!

Imas Masrikah (IM) __bila Ia yang menuliskan __ salah dalam memahami guru.  Justru yang ada adalah derita guru tak mendapatkan gaji. Ratusan ribu guru buta gaji. Buta gaji yang dimaksud adalah adanya sejumlah guru yang gajinya tertunda. Ada yang mendapatkan gaji per triwulan.

Bisa dibayangkan nasib guru buta gaji. Dalam ajaran agama diwajibkan kita membayar pegawai sebelum keringatnya kering.  Bahkan sebaiknya dibayar sesuai keringatnya. Seorang guru  sarjana honorer  di negeri ini ada yang masih digaji Rp 300 ribu per bulan.

Bisa dibayangkan di saat wabah coronavirus guru honorer hanya mendapatkan gaji per tiga bulan. Terus setiap bulan mau makan batu? Tentu tidak!  Tidak semua guru bisa mendapatkan gaji tiap bulan. Ada sejumlah guru mengadu pada Saya karena Ia “buta gaji”.

Berikut  diantara ungkapan sejumlah guru kategori  buta gaji,  “Kang Dudung, sudah mah gaji kami di bawah UMR/UMK/UMP, sering gaji datang terlambat, baik dari provinsi  maupun sekolah. Kami “dilockdown” tidak hanya fisik Kang, gaji juga dilockdown”. Mendapatkan tulisan ini, sembab mata Saya.

Bahkan pada tiga tahun yang lalu Saya bertemu dengan seorang guru dengan gaji dibawah Rp. 200 ribu. Ia hidup dengan jualan asongan pasca mengajar. Ia mencintai profesi guru karena senang belajar dan memberikan pembelajaran pada anak didiknya.

Guru yang buta gaji banyak yang jadi GTO (Guru Tukang Ojek). Ada juga yang menjadi GTR  (Guru Tukang Rongsok). Ada juga GSA (Guru Sopir Angkot), selain GTA (Guru Tukang Asongan). Plus sejumlah guru lainnya yang nyambi dalam pekerjaan lainnya.

Guru ASN memang lebih beruntung karena mereka mendapatkan gaji yang normal, itu pun kalau sudah dapat TPG (Tunjangan Profesi Guru). Bila guru hanya dapat gaji normal ASN tanpa TPG, sungguh kasihan!

Bisa dibayangkan seorang guru ASN saja dengan gaji hanya Rp. 3 jutaan harus menghidupi keluarga. Baju memang terlihat rapih, penampilan sopan dan agak gagah, tapi dompetnya kosong. Ini derita guru ASN. Apalagi guru honorer.

Di negeri lain gaji guru ada yang puluhan juta per bulan. Di negeri ini gaji guru paling senior saja  __kerja melintasi 30 tahun__  belum tentu  bisa mendapatkan gaji Rp. 10 juta  per bulan.  Jadi bila mayoritas guru bermasalah secara kompetensi agak wajar. Mengapa? Urusan perut dan keselamatan keluarga guru masih jauh dari sejahtera.

Tidak ada guru yang kaya! Mayoritas guru menggadaikan SK di bank, terutama bank BJB. Makanya bila saat coronavirus guru lockdowan,  wajar bila bank BJB memberikan “solusi” dalam bentuk stop cicilan dua bulan!  Mengapa tidak! Ayo bank BJB. Eh kok jadi ke BJB lagi yah?

Kembali ke soal guru buta gaji dan gaji buta.  Faktanya mayoritas guru buta gaji, tidak pernah mendapatkan gajinya secara utuh. Buta gaji, tidak melihat gajinya secara utuh. Banyak potongan, cicilan dan hal lainnya. Mengapa? Bukan karena kurang tasyakur, melainkan memang gaji guru di negeri kita kecil.

Tak heran banyak anak tak mau jadi guru. Buta gajinya! Tulisan ini bukan pembelaan namun gambaran kehidupan sejumlah guru faktanya “Buta Gaji”. Selain gajinya buta bagi para guru honorer. Plus sejumlah guru ASN pun, “Buta Gaji” tak pernah melihat struk gajinya utuh. Bahkan ada yang minus!