Kamis, 19 Maret 2020

BLACK DEATH YANG LEBIH DAHSYAT DARI COVID-19


Oleh Enang Cuhendi

Saat ini Covid-19 menjadi kasus terhebat di seluruh dunia. Wabah Covid-19 telah membuat gempar dan menjadi perbincangan di sejumlah negara lantaran kasusnya yang kian meningkat. Bahkan pada 11 Maret 2020 WHO menetapkan virus tersebut menjadi pandemi. Pandemi bisa diartikan sebagai wabah yang sudah meluas ke seluruh wilayah dalam jangkauan yang luas atau global.  Dengan status ini semua tempat berpotensi terkena terjangan wabah ini. Sampai Selasa, 17 Maret 2020  pagi, dari laman www.kompas.com, melansir dari peta penyebaran Covid-19, Coronavirus COVID-19 Global Cases by John Hopkins CSSE, data penyebaran Covid-19 di seluruh dunia terkonfirmasi di 152 negara, dengan 78.939 pasien sembuh, dan 7.138 meninggal. Potensi bertambahnya jumlah korban dan meluasnya area sebaran berpeluang terus meningkat.
 Tahukah Anda bahwa selain kasus Covid-19 dunia pernah digemparkan oleh kasus lain yang lebih dahsyat? Dalam sejarah tercatat satu penyakit pernah menerjang dunia, khususnya Eropa, dengan nama The Black Death.  The Black Death merupakan terjemahan dari bahasa Latin atra mortem. Umum dikenal sebagai penyakit pes. Disebut Black Death karena muncul dari gejala yang dialami penderita. Penderita Black Death akan mengalami kematian jaringan pada ujung jari tangan, kaki, atau hidung hingga warnanya menghitam. Dunia medis menamakan pes jenis ini septicemic plague, yang menyerang aliran darah. Jenis ini paling berbahaya karena penderitanya bisa mati bahkan sebelum gejala muncul. Penyakit ini ditandai dengan pendarahan, bagian tubuh yang menghitam, nyeri perut, diare, muntah, demam, dan lemas.
Black Death atau pes ini disebabkan oleh bakteri yersinia pestis yang terdapat dalam kutu tikus, khususnya tikus hitam yang suka tinggal di dekat manusia. Penyebab pasti penyakit pes lama tidak diketahui. Baru ketika wabah pes mencapai Hong Kong pada 1894 ahli bakteriologi Jepang Shibasaburo Kitasato dan Alexandre Yersin berangkat untuk meneliti penyakit itu pada Juni 1894. Keduanya menemukan jenis bakteri baru dalam tubuh pasien pes dan organ tikus mati di daerah wabah. Setelah penelitian Kitasato menjadi orang pertama yang mempublikasikan temuannya di jurnal kesehatan The Lancet pada 25 Agustus 1894. Namun, karena deskripsinya tidak seakurat Yersin yang dipublikasikan setelahnya, maka nama Yersin kemudian dipakai untuk menyebut bakteri penyebab pes, yersinia pestis pada 1970.
Sejarawan Norwegia Ole Jorgen Benedictow dalam bukunya The Black Death, 1346-1353 menyatakan bahwa dalam persebaran rentang 1346 sampai dengan 1350 Black Death telah mengakibatkan hampir 50 juta orang atau sekitar 60% dari penduduk Eropa tewas. Mengutip laman wikipedia.com tingkat kematian dari wabah ini sangat bervariasi di seluruh daerah dan berbeda tergantung sumbernya. Diperkirakan wabah ini total telah membunuh kurang lebih 200 juta orang  di seluruh dunia pada abad ke-14.  Kematian terbanyak didapati di kota yang padat, sementara orang Eropa yang tinggal di daerah yang terisolasi tidak mengalami kerugian separah yang di kota. Hal yang menarik dari data yang ada salah satu pihak yang tingkat kematiannya tinggi adalah rahib dan biarawan. Mereka biasanya yang merawat korban The Black Death.
Ole Jorgen Benedictow masih dalam bukunya The Black Death, 1346-1353 menulis bahwa pes tidak masuk dari Tiongkok lewat perdagangan di Jalur Sutra sebagaimana pendapat kebanyakan. Menurutnya penyakit ini muncul dari dekat Laut Kaspia, selatan Rusia (kini masuk wilayah Ukraina) pada musim semi 1346. Pendapat Benedictow ini sedikit berbeda pendapat kebanyakan. Salah satu teori tertua menyatakan bahwa The Black Death atau Maut Hitam Wabah ini menyebar di Asia khususnya merebak di Provinsi Hubei, Cina, pada tahun 1334. Kemudian meyebar ke dataran stepa di Asia tengah. Dari Asia Tengah ini, menyebar menuju Eropa melalui Jalur Sutra dibawa oleh tentara dan pedagang Mongol. Di Eropa pertama kali dilaporkan berada di Kota Caffa, Krimea pada tahun 1347.
Bagaimana kondisi kehidupan masyarakat Eropa pada saat Black Death merajalela? Gambaran ini bisa kita dapat dari catatan yang ada pada kumpulan cerita karya pengarang Italia abad ke-14 Giovanni Boccaccio (1313–1375) yang berjudul The Decameron atau Decamerone, subjudul Prince Galehaut (Italia: Prencipe Galeotto). Boccaccio diyakini membuat Decameron setelah epidemi pada 1348, dan menyelesaikan karya tersebut pada 1353. Karya tersebut menjadi sebuah dokumen kehidupan pada masa tersebut, selain itu juga menjadi karya terbesar dari prosa klasik awal Italia.  
Dalam ceritanya Giovanni Boccaccio menggambarkan keadaan masyarakat Eropa abad pertengahan yang mulai kehilangan norma, rasa sosial dan kemampuan sosialisasi. Dikisahkan ketika wabah pes berjangkit masing-masing warga saling menghindar dan tidak mau berhubungan. Begitu juga dengan sesama saudara atau keluarga semua saling menutup diri dengan tinggal mengisolasi diri di rumah masing-masing. Penduduk yang jatuh sakit dibiarkan tanpa perawatan apapun. Ribuan orang jatuh sakit tanpa mendapatkan perawatan dan perhatian, sehingga hampir semua penderita wabah penyakit meninggal. Mereka yang meninggal di rumah-rumah baru diketahui mati ketika tetangga mencium bau mayat membusuk. Bahkan karena tidak kuat dengan penderitaan yang dialami banyak di antara mereka yang memilih mengakhiri hidup di jalan-jalan.
Di sisi lain kematian penduduk Eropa dalam jumlah yang besar telah mengakibatkan benua tersebut kekurangan banyak buruh dan pekerja profesional. Pada 1349, penguasa Inggris mengeluarkan Ordonansi Buruh, membuatnya ilegal bagi pekerja untuk menuntut upah yang lebih tinggi. Menurut BBC, peraturan tersebut masuk ke dalam undang-undang pada tahun 1351 dan disahkan pada 1363. Undang-undang yang diberlakukan pasca-wabah begitu ketat (bahkan hukum itu juga menentukan apa yang bisa seseorang konsumsi) sehingga menyebabkan Revolusi Besar tahun 1381 dan pemenggalan kepala Uskup Agung Sudbury.
Secara psikologis banyak hal yang menarik pasca munculnya Black Death di kalangan masyarakat, khususnya Eropa. Salahsatunya berkembang fanatisme dan semangat akan religi yang tidak terkendali. Sebelum wabah melanda Eropa, agama menjadi pedoman kehidupan di sana. Kebanyakan orang dimakamkan di tanah gereja. Bahkan ketika itu gereja tidak hanya dijadikan sebagai tempat berdoa, tetapi menjadi jantung dari komunitas. Dalam hal ini orang-orang memegang dogma kehidupan dan mengenali betapa pentingnya suatu iman. Dalam pandangan mereka kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus ditakuti. Mereka yakin bahwa kematian adalah pintu gerbang yang harus dilalui dalam perjalanan menuju pahala terakhir, karena menjalani kehidupan yang baik, layak, dan saleh.  Pandangan ini berubah drastis ketika wabah menyebar dengan tiba-tiba, mereka menganggap bahwa Tuhan seolah-olah telah meninggalkan mereka semua. Para biarawan pun dianggap sudah berbohong. Mereka memandang kematian bukan lagi salah satu cara terbaik untuk masuk ke Surga yang diyakini banyak orang. Kematian adalah sebuah penderitaan. Saat itu akhirnya banyak orang yang takut pada kematian, apalagi kematian yang disebabkan dari Black Death.
Ketika pemerintah di Eropa tidak dapat menyelesaikan masalah karena tidak tahu penyebab dan cara penyebaran Black Death banyak orang yang kemudian menyalahkan keadaan dan mengatakan bahwa ini adalah kemarahan Tuhan. Tindakan “gila” pun akhirnya muncul di masyarakat. Beberapa kelompok masyarakat Eropa mulai menyerang kelompok tertentu, seperti orang Yahudi, biarawan, orang asing, pengemis, dan peziarah karena dianggap sebagai biang kerok terjadinya Black Death. Ada banyak serangan yang dilakukan terhadap masyarakat Yahudi ketika itu. Pada Februari 1349, penduduk Strasbourg membunuh 2.000 penduduk Yahudi. Kemudian pada Agustus tahun yang sama, komunitas Yahudi di Mainz dan Cologne dimusnahkan. Hingga 1351 sekitar 60 Komunitas besar dan 150 komunitas kecil Yahudi telah dimusnahkan. Mereka mengira bahwa dengan melakukan itu, akan membantu mengatasi masalah wabah.
Wabah Hitam atau Black Death telah begitu banyak mngubah kehidupan masyarakat Eropa. Wabah ini pun merupakan salah satu masa tergelap dalam sejarah dunia. Semoga sejarah tidak lagi mencatat adanya wabah sedahsyat ini pada masa sekarang dan yang akan datang. Terjangan Covid-19 yang dalam tiga bulan terakhir ini terjadi semoga bisa segera dipatahkan dan diatasi. Dampak yang dihasilkan Covid-19 semoga tidak sedahsyat Black Death. Nauzubillah summa nauzubillah!

Disarikan dari berbagai sumber