Rabu, 25 Maret 2020

COVID-19 DAN KESOMBONGAN MANUSIA

Oleh : Yanuar Iwan

Saya teringat dengan pandemi HIV/AIDS pada dekade 80 dan 90an, penurunan kekebalan tubuh yang belum jelas obatnya sampai sekarang, berbagai penelitian dilakukan dan menghasilkan kesimpulan bahwa virus HIV/AIDS hanya menular melalui transfusi darah yang tercemar, hubungan sex, dan ibu hamil yang terpapar virus HIV/AIDS secara langsung akan berdampak kepada anak yang dikandungnya.

Sikap dan pola perilaku sebagian penduduk dunia justru kontra produktif dari tatanan sosial yang beradab dan manusiawi. Atas nama kebebasan, hak asasi manusia, dan demokrasi sebagian penduduk dunia makin meningkatkan produksi dan pemasaran alat "pengaman" melegalkan hubungan sesama jenis dan mempopulerkan sex bebas.

Akibatnya kita melihat anomali-anomali dikehidupan sosial kemasyarakatan dengan sombongnya manusia bersikap melakukan, dan bahagia dengan dosa tetapi berusaha untuk menghindari hukumannya.

Covid-19 mulai merebak di Asia Tenggara, Malaysia dan Singapura termasuk negara pertama yang merasakan keganasan virus ini, anomali terjadi lagi beberapa menteri dengan sombongnya mengatakan Indonesia kebal corona, Indonesia bebas corona, padahal kita sebagai manusia tidak bisa menentukan apakah kita bisa melihat matahari dihari berikutnya.

Kesombongan dan ego manusia jelas terlihat sebagian besar anak bangsa tidak bisa mendapatkan masker dan cairan pencuci tangan ditengah merebaknya corona, karena ada aksi borong-memborong, timbun-menimbun demi kepentingan dan keuntungannya sendiri, covid-19 sudah membuka topeng kita yang sebenar-benarnya, jika kita menyaksikan film "Walking dead" ternyata tokoh jahatnya bukan zombie yang menjadi sentral cerita, tokoh jahatnya adalah manusia yang menunjukkan sifat aslinya.

Sifat asli kita yang sering "mentertawakan" dan menganggap rendah orang lain, atas nama status sosial, pilihan politik, kekuasaan politik, jabatan dan pangkat. Kita bahagia karena bisa memenjarakan orang, membuat sistem yang sistematis agar rakyat takut dan bungkam sehingga tidak peduli lagi dengan keadaan sosial yang sebenarnya, karena perbedaan politik kita hilang nurani, hilang logika, yang ada adalah hujatan dan kata-kata kasar yang bertebaran di media sosial.

Anomali-anomali dalam peradaban sosial yang kita bangun terlalu lahiriah sentris akibatnya adalah menipu, kebahagiaan identik dengan materi berlimpah, sibuk memperbaiki penampilan fisik, sibuk meningkatkan prestise sosial, feodalisme gaya baru jelas terlihat ketika oknum rombongan anggota DPRD disuatu daerah marah-marah ketika hendak diperiksa kesehatannya sehabis kegiatan diluar daerah, suatu tindakan yang tidak rasional karena pemeriksaan kesehatan bisa dilakukan terhadap siapa saja terutama mereka yang pernah berkunjung kedaerah merah corona.

Covid-19 adalah aktor dalam drama satir yang menampar kesombongan kita sebagai manusia, kita berbicara mengenai _social distancing_ tanpa mau peduli dengan nasib wong cilik, pedagang kaki lima, ojol dan opal, tukang sol sepatu dan masih banyak wong cilik lainnya yang mungkin saja rezekinya hanya cukup untuk makan sehari.

Covid-19 adalah virus paling egaliter karena siapapun bisa diserangnya, ia tidak pernah memandang korbannya dengan status sosial, ia tidak pernah berpura-pura dan tentu tidak pernah munafik.
Covid-19 mungkin sedang mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya manusia, bukan manusia yang selalu membuat ketakutan, penuh dengan kepura-puraan, kemunafikkan, kesombongan dan kepalsuan.

Cisarua, 25 Maret 2020.