Jumat, 27 Maret 2020

COVID-19 TIDAK HANYA SEKEDAR ANGKA-ANGKA


Oleh: Wijaya

Akhir Desember 2019, dunia dikagetkan dengan kemunculan wabah penyakit di Wuhan Ibukota dari Provinsi Hubei. Sebagai kota terpadat di China dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa. Menjadi mudah untuk disorot oleh pewarta. Satu persatu korban jiwa berjatuhan, virus yang menurut para ahli dibawa oleh kelelawar, meskipun masih diperdebatkan.

Covid-19 sebutan organisasi kesehatan dunia atau WHO. _Corona Virus Deseas_ Covid, sedangkan 19 penanda tahun mewabahnya. Ditetapkan pada 10 Februari 2020. Meskipun pemerintah China menyebut _novel coronavirus pneumonia_ atau NCP. Terlepas dari penyebutan nama virus tersebut, namun yang pasti puluhan ribu jiwa melayang disebabkan Covid-19.

Tidak menunggu lama, Covid-19 secara cepat menyebar ke berbagai negara dan lintas benua dalam hitungan hari. Begitu juga informasi mewabahnya Covid-19 juga ramai diwartakan di media-media mainstream dan media sosial di tanah air. Akan tetapi sikap berbeda dilakukan oleh pemerintah. Tidak ada langkah-langkah yang mencerminkan betapa bahayanya virus tersebut. Berbagai statement dilemparkan oleh para "pejabat publik" menyikapi mewabahnya Covid-19. Akan tetapi statement dari "pejabat publik" bertolak belakang dengan para ahli virus dan tenaga medis yang menganggap betapa bahayanya Covid-19.

Pemerintah harus segera menyikapi secara serius jangan sampai menjadi pandemi yang akan meledak secara stastik. Bulan berganti bulan, seakan senyap dari langkah-langkah antisipasi terhadap persebaran Covid-19. Akhirnya duaaarrr, Covid-19 mulai memakan korban, meskipun masih belum diekspos secara transparan. Ditandai dengan semakin meningkatnya angka orang dalam pemantauan (ODP), dan Pasien dalam pengawasan (PDP) dibarengi dengan angka kematian yang semakin terus bertambah. Menjadi tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Langkah-langkah terukur dan taktis, akhirnya diinisiasi oleh pemerintah DKI sebagai titik awal mula Covid-19 terdeksi. Gayung bersambut pemerintah pusat merespon betapa bahayanya Covid-19. Meskipun bagi sebagian pengamat dan tenaga kesehatan dinilai terlambat. Tetapi suatu hal yang positif dan harus didukung, daripada tidak sama sekali. Berbagai imbauan dalam bentuk surat edaran, spanduk, flyer dll mulai serius terkait wabah Covid-19. Tidak terkecuali edaran terkait pendidikan.

Dunia pendidikan tidak luput dari dampak Covid-19. Sejalan dengan imbauan dari BNPB terkait penetapan Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah  Penyakit Akibat Virus Corona Di Indonesia. Kepala daerah baik tingkat provinsi dan kabupaten/kota membuat edaran _work from home_ atau WFH yang berdampak dengan dikeluarkannya edaran belajar di rumah bagi peserta didik, dibatalkannya Ujian Nasional dan Ujian Sekolah. Hal ini jelas berdampak besar terhadap target capaian meningkatnya indeks pendidikan.

Covid-19 telah membuka suatu potret sesungguhnya, terkait mentalitas sebagian aparatus negara dan masyarakat. Hal tersebut terlihat dari menyikapi imbauan untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19 yang banyak tidak diindahkan oleh sebagian masyarakat. Serta lambatnya pemerintah dalam mengambil sikap secara tegas dan terukur untuk menangani Covid-19. Sejatinya, ada hal krusial, yakni pelibatan para ahli virus, tenaga medis dalam menetapkan langkah-langkah penangananya yang dikomandoi oleh pejabat terkait.

Betapa banyak hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Betapa mentalitas masyarakat yang tidak taat aturan terkait imbauan WFH dan untuk tidak meninggalkan zona merah. Masih adanya segelintir orang yang tidak memiliki nilai kemanusiaan dengan menjual APD dan produk terkait dengan harga tidak manusiawi. Meskipun di lain sisi masih ada simpati dan empati sebagian masyarakat Indonesia yang terlibat dalam penanganan wabah Covid-19 sesuai kemampuan. Pengorbanan tenaga medis sebagai garda terdepan melawan Covid-19 dengan perlengkapan seadanya, sehingga lebih dari 6 putra terbaik bangsa meninggal. Pemerintah yang lambat, kalau tidak dibilang abai dalam menyikapi mewabahnya Covid-19.

Satu hal yang penting, masyarakat wajib mentaati imbauan pemerintah, terkait penanganan wabah Covid-19. Kedisiplinan dan menjaga perilaku hidup sehat harus menjadi kebiasaan. Pemerintah juga harus menyiapkan alternatif kompensasi dari hilangnya pendapatan pekerja harian, menurunkan harga BBM dan tarif dasar listrik selama masa darurat bencana wabah Covid-19, karena imbauan sekaligus kebijakan tersebut.

Kerahkan berbagai sumberdaya untuk terpenuhinya perlengkapan tenaga medis sebagai garda terdepan. Termasuk pendidik tetap melaksanakan proses belajar mengajar dengan memanfaatkan moda yang ada sesuai kondisi faktual peserta didiknya serta mengedukasi peserta didik akan bahaya Covid-19. Jauhkan dari sikap sombong dan takabur dengan menganggap enteng sesuatu yang jelas-jelas bahayanya.

Satu yang pasti dan menjadi keniscayaan. Bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Al Khaliq. Setiap episodenya kehidupannya telah termaktub dalam skenarioNya. Hanya dengan ketundukkan dan berserah diri kepadaNya menjadi keharusan. Setelah semua ikhtiar dilakukan dengan maksimal. Akhir kata, semoga wabah Covid-19 segera berakhir dan aparatus pemerintah serta rakyat dapat memetik hikmah dari peristiwa ini.