Jumat, 27 Maret 2020

Guru Honorer dalam Bahaya!


Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Saat tidak ada wabah dengan gaji kecil guru honorer masih bisa berjuang hidup. Mereka masih bisa ke sekolah melayani anak bangsa. Mengapa mereka masih bisa melanjutkan  hidup? Karena ada pekerjaan sampingan untuk menambal risiko finansial. Gaji Rp. 300 ribu per bulan sangat-sangat tidak cukup.

Dari sejumlah mata pencaharian tambahan yang dilakukan guru honorer  adalah : 1) GTO (Guru Tukang Ojek), 2) GTR (Guru Tukang Rongsok), 3) GJP (Guru Jualan Pulsa), 4) GTK (Guru Tukang Kredit), 5) GTA (Guru Tukang Asongan), 6) GJO (Guru Jualan Online), 7)  GJP (Guru Jasa Privat), 8) GSJ (Guru Sopir Jemputan), 9) GTC (Guru Tukang Catering) dan sejumlah serabutan lainnya.

Menyedihkan memang nasib guru honorer.  Kakak  Saya guru MI bertahun-tahun jadi honorer dan akhirnya memilih resign. Hari ini adik Saya masih bertahan menjadi honorer guru PAUD. Nah bagaiman nasib guru honorer saat wabah corona seperti saat ini? Pekerjaan tambahan sulit karena sebagian masyarakat lockdown.

Masih teringat kuat dalam pikiran Saya bahkan pernah Saya tuliskan. Terkait guru-guru yang mendapatkan bantuan pemerintah karena musibah banjir. Mendikbud Nadiem Makarim memberikan tunjangan khusus  selama tiga bulan kepada guru terdampak banjir.

Mengapa tidak untuk guru honorer pun yang saat ini terdampak Covid -19 diberikan tunjangan khusus. Sama-sama musibah!  Mengapa mereka perlu diberi tunjangan khusus? Pertama karena mereka terdampak musibah. Kedua mereka adalah “aparatur” negara  bidang pendidikan. Ketiga mereka tidak bisa nyambi. Mereka harus  stay at home, sesuai saran pemerintah.

Sangat wajar, nalar dan wajib, bila guru honorer mendapat tunjangan khusus.  Ini wajib untuk  “ketahanan pangan” mereka.  Bahaya bila guru honorer dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Hal yang bisa muncul adalah  kecemasan, menurun daya tahan tubuh dan bisa kena penyakit.

Menyelamatkan guru honorer yang menderita saat ada wabah Covid -19 adalah tugas negara. Negara harus dan wajib hadir dan menjamin finansial mereka. Setidaknya logistik mereka harus aman!  Mengapa negara harus hadir? Ini masalah “balas budi” karena selama ini guru honorer hadir terus  di sekolah  mewakili negara.

Pemerintah, pemerintah daerah harus selamatkan nasib logistik  dan finansial guru honorer.  Jangan sampai gaji para guru honorer dibayarkan per triwulan.  Ini sangat tidak manusiawi  dan tidak sesuai dengan ajaran semua agama. Bayarkan upah sebelum keringat pegawai kering.

Dari mana anggarannya? Negara lebih tahu urusan anggaran. Ini tinggal masalah niat baik dan kemanusiaan pada “aparatur”   pendidikan yang hidupnya terancam di saat wabah. Misal gunakan  ratusan milyar angaran yang tadinya mau digunakan untuk  program ormas penggerak pendidikan. 

Alirkan anggaran taktis  dan anggaran di Kementerian pendidikan untuk waktu darurat selama wabah.  Hanya tiga bulan, setidaknya dua bulan! Guru terdampak banjir diberi tunjangan khusus, mengapa guru honorer tidak? Kan sama-sama musibah?  Guru ASN sudah aman, tinggal guru honorer! Posisinya, sama-sama guru!