Senin, 23 Maret 2020

Bandung Lautan Api dalam Kenangan


Oleh Enang Cuhendi

Kupandangi monumen setinggi 45 meter ini dengan tatap kagum dan penuh kebanggaan. Monumen yang berada di tengah-tengah Kota Bandung, tepatnya di kawasan Lapangan Tegallega ini merupakan salah satu monumen terkenal di kota berjuluk Kota Kembang ini. Kehadiran monumen dengan sisi sebanyak 9 bidang yang dibangun 1981 dan direnovasi 2017 ini tidak lepas dari satu peristiwa heroik di tahun 1946, yaitu Bandung Lautan Api. Sebagai anak asli Kota Kembang kebanggaan akan peristiwa heroik ini akan terus terpelihara dan diwariskan pada anak dan cucu.
Tepat tengah malam jelang 25 Maret 1946 Kota Bandung yang indah mendadak luluh lantak. Dinginnya malam di ibukota Priangan disingkirkan dengan hadirnya hawa panas dari sejumlah bangunan yang terbakar hangus. Hawa panas nasionalisme dan heroisme telah mendorong tentara serta masyarakat Kota Bandung untuk membakar kotanya sendiri. Mereka tidak rela keindahan kotanya dinikmati oleh iblis kolonial berkedok Sekutu (Inggeris) dan NICA (Belanda) yang berniat kembali menguasai Bumi Nusantara.
Hari ini saat tulisan dibuat, tepat 74 tahun yang lalu  bertepatan dengan 23 Maret 1946 hari Jumat siang sekitar pukul 13.25, Kantor Pemerintah Republik Indonesia di Kota Bandung mendapat telepon dari Head Quarter. Isinya menyatakan bahwa Panglima Komandemen I/Jawa Barat Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Mr. Syafrudin Prawiranegara telah tiba di Kota Bandung. Mereka siap menghadiri pertemuan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), MPPP (Majelis Persatuan Perjuangan Priangan) dan Pimpinan Pemeritah RI di Bandung.
Bertempat di Jalan Dalem Kaum pertemuan TKR, MPPP dan Pimpinan Pemeritah RI di Bandung dilaksanakan. Hadir pada kesempatan tersebut Gubernur Jawa Barat Datuk Djamin, Residen Priangan Ardiwinangun, Walikota Bandung Syamsurizal dan Panglima Divisi III TRI Bandung Kolonel A.H. Nasution dan MPPP. Kemudian hadir pula Jenderal Mayor Didi Kartasasmita, dan Wakil Menteri Keuangan Mr. Syafrudin yang membawa amanat Perdana Menteri Sutan Syahrir. Dalam pertemuan ini dibahas tentang amanat penting dari Perdana Menteri Sutan Syahrir. Isi amanat menyatakan bahwa, “Tentara Sekutu (Inggeris) minta supaya daerah 11 km sekeliling Kota Bandung, dihitung dari tengah-tengah kota, harus dikosongkan dari semua orang dan pasukan-pasukan, laskar dan TRI yang bersenjata”.
Hasil musyawarah intinya meminta agar ultimatum ditangguhkan. Untuk itu Kolonel A.H. Nasution diwajibkan menemui Jenderal Mayor Didi Kartasasmita, Wakil Menteri Keuangan Mr. Syafrudin Prawiranegara yang menunggu di Markas Divisi Inggeris ke-23. Mereka menunggu Kolonel A.H. Nasution untuk bersama-sama menemui Mayor Jenderal Hawthorn, Komandan Divisi ke-23. Pada kesempatan pertama ketiganya gagal bertemu Mayjen Howthorn karena kesibukannya. Baru pada kesempatan kedua, Mayjend Howthorn bisa ditemui. Ia menolak usul penangguhan ultimatum. Pada hari itu, 23 Maret 1946 Mayjend Howthorn bahkan mengeluarkan ultimatum agar Bandung segera dikosongkan sejauh 11 km.
Sekembalinya dari Markas Divisi ke-23, Jenderal Mayor Didi Kartasasmita, Wakil Menteri Keuangan Mr. Syafrudin dan Kolonel A.H. Nasution berangkat menuju Jakarta untuk melapor pada PM Sutan Syahrir. Pada pertemuan di Gedung Proklamasi Sutan Syahrir berpesan salah satunya jangan diadakan pembakaran karena yang rugi rakyat sendiri dan kita sendiri yang harus membangunnya kelak. Semua pasukan harus mentaati ultimatum untuk keluar dari Kota Bandung demi perjuangan diplomasi. Sutan Syahrir juga mengamanatkan agar pemerintah sipil tetap tinggal di Kota Bandung.
Saat perjalanan pulang ke Bandung, 24 Maret 1946 sekitar pukul 10.00 pagi, Kolonel A.H. Nasution mengalami konflik batin. Ia bingung antara setuju dan tidak, mundur ataupun maju, semua tidak ada pilihan karena sudah disetujui pemerintah RI. Tujuannya demi de facto RI di mata dunia dan kepentingan politik diplomasi. Sesampainya di Bandung konflik batin Kolonel A.H. Nasution semakin kuat. Sesampainya di Markas TRI Bandung Selatan yang berkedudukan di Jalan Kepatihan Bandung ia menerima instruksi dari Markas Tertinggi TRI di Yogjakarta untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dan jangan menyerahkan Kota Bandung begitu saja kepada Sekutu. Dengan kata lain ada isyarat dari MT TRI untuk melakukan tindakan taktis pada Sekutu sebelum meninggalkan Kota Bandung.
Untuk menyelesaikan kedua perintah yang terkesan kontradiktif tersebut, Kolonel A.H. Nasution selaku Panglima Divisi III segera menemui pimpinan pemerintah sipil di Kota Bandung. Ia bertemu dengan walikota, Badan Pekerja KNI Priangan, Polisi dan MPPP. Ia sampaikan amanat PM Sutan Syahrir dan juga instruksi MT TRI. Semua sepakat bahwa mengingat sudah disetujui pemerintah pusat, maka amanat PM Sutan Syahrir harus dijalankan, tetapi perintah MT TRI juga harus dipertimbangkan.
Sebagai langkah awal Walikota Bandung meminta kepada pihak Sekutu untuk memperpanjang batas ultimatum 10 hari ke depan. Permintaan ini ditolak, mereka hanya bersedia menyediakan kendaraan untuk mengangkut TRI ke luar dari Bandung. Usul Sekutu ini pun ditolak walikota dengan mempertimbangkan beban psikologis pasukan TRI. Sekitar pukul 14.30 Walikota Syamsurizal mengadakan pidato radio mengumumkan keputusan pemerintah pusat kepada semua warga Bandung. Disampaikan pula bahwa ia dan unsur pemerintah kota akan tetap tinggal di Bandung untuk menjalankan tugasnya sebagai pemerintah RI di dalam wilayah Sekutu.  
Sementara posisi Kolonel A.H. Nasution sebagai Panglima Divisi III sangat sulit. Ia dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Akhirnya atas pertimbangan dan hasil koordinasi dengan MPPP diputuskan untuk kembali ke rencana awal, yaitu penghancuran dan pembakaran Kota Bandung. Pertimbangannya karena kalau tidak dihancurkan fasilitas kota yang utuh akan menguntungkan pihak Sekutu. Langkah taktis ini sejalan dengan instruksi tersirat dari MT TRI.
Sekitar pukul 16.00 Panglima Divisi III mengirim pesan kepada Walikota Bandung. Isinya menginstruksikan pemerintah Kota Bandung untuk meninggalkan Kota Bandung, sebab kota akan dibakar dan dihancurkan. Ia pun  memerintahkan segenap penduduk, baik sipil maupun militer harus meninggalkan Kota Bandung sebelum pukul 24.00 tanggal 24 Maret 1946 karena TRI akan melakukan bumi hangus terhadap semua bangunan yang ada.
Dalam rencana strategisnya sesudah matahari terbenam Bandung Utara akan diserang dari arah utara serta dibumihanguskan. Dari arah selatan akan diadakan penyusupan ke utara. Untuk itu Pos Komando TRI di Kota Bnadung dipindahkan ke Kulalet, Dayeuhkolot, Bandung Selatan. Untuk pembumihangusan Kota Bandung, dibagikan bahan peledak berupa dinamit, detonator, granat, dan bom molotov. Di sepanjang jalan yang kemungkinan dilalui Sekutu dipasang ranjau berbahan peledak. Pusat peledakan direncanakan tepat pukul 24.00 di Gedung Bank Rakyat sekitar alun-alaun Bandung dengan bahan peledak berskala besar. Semua rencana dipimpin oleh Sutoko selaku ketua MPPP. Untuk urusan pengangkutan logistik dan barang-barang TRI dan MPPP sudah dilakukan sejak siang hari ke selatan. Pembagian sektor serangan juga sudah dibagi penugasannya.
Menindaklanjuti perintah Komandan Divisi III pimpinan MPPP juga mengeluarkan perintah kepada seluruh laskar, badan-badan perjuangan dan rakyat lain yang bersenjata untuk mendukung langkah TRI. Dalam perintahnya yang ditandatangani Soetoko, MPPP memerintahkan semua pasukan bersenjata untuk steling dengan senjata lengkap dan mempersiapkan alat-alat peledak. Pasukan yang tidak bersenjata diperintahkan untuk menyelamatkan barang-barang
Sementara itu di kalangan warga Bandung terjadi kebingungan atas adanya dua perintah dari walikota dan Panglima Divisi III. Untuk mengatasi kebingungan masyarakat Walikota Syamsurizal berpidato di radio agar masyarakat tetap tenang dan mengikuti perintah Panglima Divisi III.
Kesibukan terlihat di seluruh wilayah Kota Bandung. Arus pengungsian sekitar 350.000-an masyarakat Kota Bandung terlihat mengarah deras menuju ke luar kota Bandung. Sebagian besar pengungsian dilakukan dengan cara berjalan kaki, di samping yang menggunakan kendaraan, dokar dan andong. Daerah Ciwidey, Ciparay, Pangalengan, Banjaran, Majalaya, Cililin, Lembang, Tasikmalaya, Garut dan daerah lainnya menjadi titik tujuan pengungsian. Gubernur Datuk Djamin, Walikota Syamsurizal dan para pejabat lain juga bergerak mengungsi. RRI Bandung dan Surat Khabar Suara Merdeka atas permintaan Gunernur memilih tempat mengungsi ke Tasikmalaya. Radio Banteng Hitam membangun pemancar di Banjaran. Sedangkan rombongan pimpinan Kota Bandung di bawah pimpinan walikota melintas menuju jalan Cigereleng (Jalan Moch. Toha sekarang).
Perjalanan sejauh 11 kilometer ini merupakan perjalanan yang berat bagi masyarakat Kota Bandung. Selain pengorbanan fisik yang cukup jauh, mereka juga harus merelakan semua rumah dan harta yang dimilikinya selama ini tetap di dalam kota dan ikut hancur bersama strategi bumi hangus yang dijalankan TRI.  Sanak saudara dan tetangga yang selama ini dekat dalam lingkungan hidup mereka harus berpisah satu dengan yang lain. Mengungsi dengan bekal hidup seadanya dan tidak tahu akan tinggal di mana adalah pilihan yang harus diambil demi ketaatan kepada pimpinan dan keyakinan atas keputusan terbaik dari pimpinan. Semua pengorbanan ini dilakukan demi tegaknya proklamasi kemerdekaan RI. Sungguh pengorbanan yang sangat luar biasa.
Sesuai rencana tepat pukul 24.00 tanggal 24 Maret 1946 atau pukul 00.00 tanggal 25 Maret 1946 peledakan pertama yang menjadi simbol akan dilakukan di Gedung Bank Rakyat di alun-alun Bandung. Rencana tersebut tidak berjalan sacara mulus, karena sekitar pukul 20.00 tanggal 24 Maret  1945 ledakan pertama yang diikuti ledakan-ledakan berikutnya sudah berdentum lebih dulu di wilayah Kota Bandung. Langit Bandung mulai memerah. Para pejuang kemerdekaan Kota Bandung sudah mulai melakukan aksinya. Sebelum meninggalkan kota mereka mulai membakar gedung-gedung, kantor-kantor instansi dan jawatan pemerintahan baik sipil maupun militer, begitu juga perumahan penduduk yang dianggap strategis dibumihanguskan. Bandung benar-benar menjadi lautan api.
Perubahan rencana tersebut didorong karena situasi tiap daerah di dalam kota berbeda-beda juga adanya semangat luar  biasa untuk menghancurkan  kota agar tidak dimanfaatkan Sekutu dan NICA.
Di tengah hingar bingar suara ledakan dan api yang menyala dari seluruh Kota Bandung sebelum pasukan TRI meninggalkan kota Bandung dilaksanakan pertempuran perpisahan. Komandan Resimen 8 Letnan Kolonel Omon Abdurakhman memerintahkan semua komandan batalyon bawahannya untuk menyerang basis-basis pertahanan Sekutu dan NICA.  Pukul 01.00 tanggal 25 Maret 1946 pasukan Mayor Tobing menyerang markas Sekutu dan NICA di Gedung Departemen van Oorlog (DVO) di Jalan Kalimantan dan ke Gedung Pensiunan Fond di Jalan Diponegoro. Pasukan Batalyon Lasiman dan Detasemen Mayor Abdul Hamid menyerang markas Sekutu dan NICA di Cimahi mulai pukul 02.00. Sementara kesatuan Batalyon Wiranatakusumah dan Batlyon Sudarsono sekitar pukul 05.30 bertempur di sekitar Perempatan lima dan Lapangan terbang Andir atau Husein Sastranegara sekarang. Pasukan lainnya bertempur di sekitaran KMA (Koninklijke Militaire Academie) di Ciumbuleuit.
Setelah tengah malam tanggal 24 Maret 1946 Bandung berubah total. Tidak lagi nampak sebagai kota yang indah yang sempat menjadi tujuan tempat tinggal dan persinggahan para tuan dan noni Belanda, tapi menjadi satu kota yang sepi dari kehidupan masyarakat. Dengan nyala api memenuhi seluruh kota laksana sebuah lautan api. Kehancuran akibat bumi hangus dan peledakan terlihat di mana-mana. Bangunan-bangunan bersejarah rusak. Bangunan peninggalan kolonial hangus terbakar. Memang tidak semua gedung sempat dihancurkan. Gedung-gedung megah seperti Hotel Preanger, Hotel Homan, Societeit Concordia (Gedung Merdeka sekarang), Denis (Gedung Bank Jabar dan Escomto). Walaupun demikian  kerusakan terhitung parah dan luluh lantak terjadi di bagian selatan Kota Bandung. Sekutu dan NICA dalam press realease-nya menyajikan berita dalam kotak hitam tanda berkabung dan murka. Bahkan Panglima Divisi III, Kolonel A.H. Nasution dianggapnya sebagai “penjahat perang”.
Peristiwa heroik Bandung Lautan Api meninggalkan makna yang mendalam bagi rakyat Bandung. Peristiwa ini akan terus terpatri dalam benak warga Bandung. Lagu “Halo-halo Bandung” yang diciptakan Ismail Marzuki akan selalu mampu menggugah semangat perjuangan. Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegallega Bandung sejatinya didirikan untuk memperingati dan mengenang peristiwa heroik perjuangan rakyat dan pejuang Bandung berikut pengorbanannya yang sangat luar biasa demi perjuangan dan kemerdekaan Indonesia tercinta. Nilai heroisme 74 tahun yang lalu ini harus selalu ditularkan kepada setiap generasi sampai kapanpun.
Bandung, 23 Maret 2020

Sumber Bacaan
Dinas Sejarah Angkatan Darat, 2016, Bandung Lautan Api, Bandung, Dinas Sejarah Angkatan Darat
Kodam VI /Siliwangi, 1968, Siliwangi Dari Masa Ke Masa, Bandung, Fakta dan Mahyuma.
Tim KodamVI/Siliwangi, 1982, Bandung Lautan Api 24 Maret 1946, Bandung, Kodam VI/Siliwangi.

Sumber Gambar
1981 Monumen Bandung Lautan Api,
23 Maret 2020 pukul 19:30.