Minggu, 22 Maret 2020

Kok Guru Tak Libur?

Oleh:  Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI) 

Begitu banyak aspirasi dan japri masuk ke WA dan FB pribadi dari para guru.  Protes anak didik libur kok guru tidak! Padahal para guru itu kopel dengan siswa.  Guru itu bagaikan dua sisi mata uang dengan siswanya. Bagaikan anak dan orangtua.  Kemana pun keduanya selalu bersama. 

Kok saat libur karena pandemi Si Korona guru tidak diliburkan?  Harus ke sekolah, harus presensi,  harus itu dan ini.  Ahaa,  sabar semuanya.  Pemerintah selalu berniat baik.  Ada pun masalah masih adanya keharusan guru ke sekolah setiap hari saat anak didiknya libur memang unik. 

Guru dengan anak didik sejatinya bagaikan air pegunungan yang mengalir seirama bersama saluran sungainya.  Dimana ada anak didik disitu harus ada guru.  Bahkan guru harus hadir sebelum anak didik hadir. 

Ada  sindiran yang menarik dan usil terkait kenapa guru tidak libur saat pandemi corona?  Mengapa guru tak libur?  Jawabannya karena semua makhluk menghargai guru,  termasuk Si Virus Corona  tidak akan berani memapar guru Ahaa,  sindiran jleb bagi pemerintah daerah yang memaksa guru tetap ke sekolah. 

Ada satu lagi guru muda japri pada Saya. Ia mengatakan,  guru bukan smadav pak   Ia ketakutan bila guru tak libur,  hilir mudik ke  sekolah terpapar corona.  Ahaa,  ekspresi ini wajar saja.  Guru muda ini punya bayi di rumahnya.  Saya katakan ikuti saran Presiden! 

Alhamdulillah Presiden Jokowi,  Men PAN RB Tjahyo Kumolo dan Mendikbud Nadiem Makarim memerintahkan semua ASN termasuk guru kerja dari rumah. Ini artinya guru libur ke sekolah tapi kerja dari rumah.  Semoga para kepala daerah dan pejabat Disdik memahami ini. 

La tahzan  para guru.  Jangan bersedih,  semua sayang guru,  termasuk para kepala daerah.  Hanya corona tentu belum tentu sayang guru.  Ia bisa memapar setiap guru yang tak libur libur. Waspada bagi guru yang terus ke sekolah atau bepergian.  

Sahabat pembaca di dunia ini ada dua entitas yang paling berharga dan penentu masa depan bangsa.  Pertama anak didik dan kedua guru. Beda dengan pejabat dan politisi.  Pejabat banyak yang siap menggantikan posisi.  Semua ingin jadi pejabat.  Begitu pun politisi banyak sekali,  lihat saja di baliho baliho setiap jalan ada. Ahaa...