Rabu, 18 Maret 2020

MELAWAN CORONA ANTARA KARANTINA, SOCIAL DISTANCING HINGGA LOCKDOWN

Oleh Enang Cuhendi

Saat ini dunia digemparkan dengan terjangan virus yang bernama Corona atau Covid-19. Coronavirus menjadi bagian dari keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit yang terjadi pada hewan ataupun manusia.  Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengumumkan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini dengan nama Covid-19. Nama tersebut diberikan Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss pada Selasa, 11 Februari 2020. Covid-19 merupakan akronim dari "co" berarti corona, "vi" mengacu ke virus, "d" untuk diase, dan 19 merupakan tahun wabah penyakit pertama kali diidentifikasi pada 31 Desember 2019.
Wabah Covid-19 telah membuat gempar dan menjadi perbincangan di sejumlah negara lantaran kasusnya yang kian meningkat. Bahkan pada 11 Maret 2020 WHO menetapkan virus tersebut menjadi pandemi. Pandemi bisa diartikan sebagai wabah yang sudah meluas ke seluruh wilayah dalam jangkauan yang luas atau global.  Dengan status ini semua tempat berpotensi terkena terjangan wabah ini.
Covid-19 pertama kali terdeteksi di Wuhan, ibukota Probinsi Hubei, China akhir Desember 2019. Dari Wuhan menyebar kesaantero dunia. Sampai Selasa, 17 Maret 2020  pagi, dari laman www.kompas.com, melansir dari peta penyebaran Covid-19, Coronavirus COVID-19 Global Cases by John Hopkins CSSE, data penyebaran Covid-19 di seluruh dunia terkonfirmasi di 152 negara, dengan 78.939 pasien sembuh, dan 7.138 meninggal.
Sementara di Indonesia kasus positif virus Corona atau Covid-19 di Indonesia pertama kali terdeteksi pada Senin (2/3). Secara resmi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo. Berdasarkan data yang dikutip dari laman www.merdeka.com, sampai Selasa sore, 17 Maret 2020, angka kasus virus Corona atau Covid-19 di Indonesia telah mencapai 172 orang, di antaranya 9 orang dinyatakan sembuh dan 5 orang meninggal dunia.


Dari Karantina Hingga Lockdown
Seiring semakin merebaknya Covid-19 berbagai upaya dilakukan oleh semua negara. Targetnya untuk membatasi penyebaran penyakit, penanganan ataupun pencegahan penyebaran Covid-19 semakin meluas.  Langkah yang diambil tentunya berbeda-beda disesuaikan dengan tingkat penyebaran Covid-19 dan kebijakan setiap negara. Setidaknya kita bisa menginventarisir ada beberapa kebijakan yang diambil, selain rekomendasi seperti sering mencuci tangan dan menghindari menyentuh mulut atau mata Anda, langkah-langkah yang lebih serius dapat diambil untuk menyetop penyebaran COVID-19, seperti: karantina atau isolasi, social distance atau social distancing dan lockdown.
Sepintas karantina diri atau isolasi diri seperti sama. Sebetulnya ada sedikit perbedaan antara keduanya. Karantina merupakan salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan penyebaran penyakit menular. Karantina umumnya dilakukan pada orang-orang atau kelompok yang tidak memiliki gejala, tetapi terkena penyakit. Karantina menjauhkan mereka dari orang lain sehingga mereka tidak menginfeksi siapa pun. Pakar kesehatan merekomendasikan, karantina diri sendiri berlangsung selama 14 hari. Dua minggu cukup untuk mengetahui apakah mereka akan menjadi sakit dan menular ke orang lain. Selain memantau jika gejalanya berkembang, berada di karantina berarti seseorang yang mungkin terpapar tidak akan menularkan penyakit kepada orang lain, karena mereka tinggal di rumah.
Isolasi adalah istilah perawatan kesehatan yang berarti menjauhkan orang-orang yang terinfeksi penyakit menular dari mereka yang tidak terinfeksi. Isolasi dapat terjadi di rumah atau di rumah sakit atau fasilitas perawatan. Langkah isolasi dilakukan pada orang-orang yang dipastikan memiliki COVID-19.
Social distance atau social distancing merupakan langkah lain untuk mempersempit penyebaran penyakit menular. Social distance sengaja meningkatkan ruang fisik antara orang-orang untuk menghindari penyebaran penyakit. Dalam hal ini masyarakat diminta untuk menghindari hadir di pertemuan yang melibatkan banyak orang atau ruang ramai, seperti pusat perbelanjaan, bioskop atau stadion. Jika harus berada di sekitar orang, jaga jarak dengan orang lain sekitar 6 kaki (2 meter).
Johns Hopkins Medicine merekomendasikan beberapa aktivitas dalam rangka Social distance. Langkah-langkah, seperti: bekerja dari rumah alih-alih di kantor, menutup sekolah atau beralih ke kelas online, bertemu orang lain dengan telepon atau video call alih-alih secara langsung, dan membatalkan atau menunda konferensi dan rapat besar.membatalkan acara yang cenderung menarik perhatian banyak orang. Selama melakukan social distance, ada baiknya tetap bekerja sama dengan pihak berwenang dan mengikuti arahan dari kementerian kesehatan atau lembaga berwenang lainnya untuk menghentikan penyebaran penyakit menular.
Adapun lockdown secara harfiah berarti kuncian atau mengunci. Secara umum lockdown bisa berarti situasi di mana orang tidak diizinkan masuk atau meninggalkan gedung atau area karena sebuah keadaan darurat. Protokol ini biasanya hanya bisa diajukan oleh seseorang dalam posisi otoritas seperti pemimpin negara atau daerah. Sebagai contoh sejak pertama kali ditemukan pada akhir 2019 pemerintah China melakukan isolasi di Kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei yang menjadi epicentrum virus Corona. Saat kasus terus bertambah dan semakin meluas, pemerintah kemudian memutuskan untuk mengisolasi kota-kota lain di Provinsi Hubei. Di Filipina Pemerintah melakukan lockdown di Metro Manila. Dalam skala besar, lockdown saat ini juga berlaku di seluruh Italia. Hal yang sama juga dilakukan Malaysia. Keputusan lockdown itu diumumkan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, Senin, Maret 2020. Sedangkan pemberlakuan lockdown efektif mulai Rabu 8 Maret 2020 hingga 31 Maret 2020.
Bagaimana gambaran situasi ketika diberlakukan lockdown? Ambil contoh situasi di China ketika pemerintah memberlakukan lockdown di Wuhan, sejak jam sepuluh pagi hari itu semua transportasi publik seperti bus, kereta, penerbangan, hingga perjalanan kapal feri ditangguhkan. Keesokan harinya, arus lalu lintas dari 12 daerah lain yang terhubung langsung dengan Wuhan juga ditutup. Penutupan tersebut membuat lebih dari 50 juta orang terkunci di Wuhan.
Contoh lain yang terjadi di Italia. Awalnya lockdown hanya berlaku di utara Italia, namun pada 9 Maret 2020 diperluas sampai ke seluruh penjuru negara. Italia menutup semua perbatasan dan mengimbau warganya agar tak meninggalkan rumah. Selain itu, pemerintah juga memerintahkan warganya untuk menjaga jarak setidaknya satu meter dari orang lain. Bar dan restoran harus tutup jam enam sore. Warga hanya bisa memesan makanan untuk dibawa pulang, tidak boleh berkumpul di tempat umum. Yang melanggar aturan ini akan didenda atau dihukum penjara hingga 3 bulan. Militer pun dikerahkan untuk memastikan aturan ini dipatuhi.
Itulah gambaran upaya yang dilakukan pemerintah yang negaranya terkena terjangan Covid-19. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sejak Januari 2020 sebenarnya sudah ada langkah-langkah taktis yang dilakukan. Langkah yang mengarah pada karantina dan isolasi diri sudah terlihat, hanya kalau mengarah pada lockdown memang belum dilakukan. Pemerintah, dalam hal ini Presiden Joko Widodo atau Jokowi belum memerintahkan lockdown, baik secara regional maupun nasional. Jokowi hanya meminta agar seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang dan tetap produktif dengan meningkatkan kewaspadaan agar penyebaran Covid19 ini bisa dihambat dan disetop. Hal senada disampaikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menilai saat ini tak akan melakukan lockdown atau menutup kota maupun negara dalam  mencegah penyebaran wabah virus corona jenis baru atau Covid-19. Sebagaimana dikutip laman www.katadata.co.id Menteri Kesehatan Terawan menilai langkah terbaik, yakni tindakan preventif atau pencegahan dengan membersihkan lingkungan dan menjaga imunitas anggota masyarakat.
Sementara itu pada Minggu, 13 Maret 2020 Presiden Joko Widodo atau Jokowi memerintahkan kepala daerah mulai provinsi hingga kabupaten dan kota menetapkan situasi penyebaran Covid-19 di wilayahnya dengan berkonsultasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pernyataan Jokowi ini menyusul penetapan Indonesia dalam status bencana nasional nonalam Covid-19 yang meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, Jokowi juga akan melakukan langkah-langkah pencegahan dengan membuat proses belajar dan bekerja dari rumah. Sebelumnya, sejumlah kepala daerah sudah melakukan langkah-langkah ini. Menutup sekolah, menyarankan warga bekerja dari rumah sampai menutup pusat keramaian, seperti kawasan wisata. Belajar dan bekerja melalui metode online. Pada 17 Maret 2020 Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperpanjang masa darurat bencana wabah penyakit akibat virus corona di Indonesia hingga 29 Mei 2020. Walau masa darurat diperpanjang, Presiden Joko Widodo melarang pemerintah daerah menetapkan status 'lockdown' sebagai langkah pengendalian covid-19.  Apapun upaya yang dilakukan semoga bisa melawan Covid-19. Semoga!
Disarikan dari berbagai sumber