Kamis, 12 Maret 2020

MEMBANGUN MOTIVASI KERJA (1): PENGERTIAN MOTIVASI KERJA




 Oleh Dr. Syamsul Bahri, S.Pd., M.M.

(Ketua PW FKGIPS PGRI Sulawesi Selatan)


          a.  Pengertian Motivasi Kerja

Organisasi yang didirikan oleh individu maupun kelompok, pasti memiliki arah dan tujuan yang jelas. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan peran manusia atau sumber daya manusia sebagai pengelola sistem. Manusia dalam sebuah sistem dapat bekerja dengan baik apabila memiliki motivasi di dalam dirinya. Motivasi sesungguhnya menekankan tentang bagaimana cara mengarahkan daya potensi bawahan agar mau bekerja secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Motivasi kerja terdiri dari dua kata yaitu motivasi dan kerja. Menurut Hasibuan (2003:95), motivasi berasal dari kata dasar motif, yang mempunyai arti suatu perangsang, keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerjasama dengan efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.
Selanjutnya Nisbith (2003:12) menyatakan bahwa “penghargaan adalah bentuk motivasi yang diharapkan oleh individu birokrasi dalam melaksanakan aktivitas kerjanya. Tidak satupun dari individu birokrasi yang melakukan aktivitas kerja tidak memerlukan adanya pengakuan, pujian, penghargaan dan penghormatan atas apa yang telah dilakukan dalam mencapai tujuan perusahaan”. Pendapat ini secara eksplisit mengantar memberikan batasan bahwa penghargaan adalah suatu bentuk motivasi yang menjadi penguat dan perangsang untuk melakukan aktivitas kerja. Penghargaan tersebut merupakan rangsangan dari luar atas tindakan yang membutuhkan penilaian orang lain agar apresiasi tersebut ditujukan kepada yang melakukan tindakan.
Apresiasi dari penghargaan tersebut berupa pengakuan, pujian, dan penghormatan atas apa yang telah dikerjakan.
Sedangkan menurut Robbins (2001:166), menyatakan bahwa “motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual”. Kebutuhan terjadi apabila tidak ada keseimbangan antara apa yang dimiliki dan apa yang diharapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan. sementara tujuan adalah sasaran atau hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu.
Motivasi kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Amirullah dkk, 2002:146). Selanjutnya menurut Winardi (2002: 6), menyatakan bahwa “motivasi kerja adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia, yang dapat dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter, dan imbalan non moneter yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif, hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan”. Disisi lain Edy Sutrisno (2009: 109), menyatakan bahwa “motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktifitas tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan sebagai factor pendorong perilaku seseorang”.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud motivasi kerja adalah sesuatu yang dapat menimbulkan semangat atau dorongan bekerja individu atau kelompok terhadap pekerjaan guna mencapai tujuan. Motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan/kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu, melalui pelaksanaan suatu tugas.
Menurut Sanderson (2000:187), menyatakan bahwa “kebutuhan sosial merupakan kebutuhan yang dominan terjadi sebagai bentuk interaksi antara pimpinan, bawahan, pihak-pihak lain yang melakukan berbagai hubungan horizontal, vertical, eksternal ataupun internal yang berbeda-beda dari masing-masing karyawan. Kebutuhan sosial menghendaki terciptanya keharmonisan kerja, kerjasama, komunikasi dan perbaikan lingkungan kerja, yang terlihat secara nyata dan relevan dengan dinamika kerja individu birokrasi.”
Menurut Sastrohadiwiryo (2001:25) menyatakan bahwa “kebutuhan rasa aman merupakan bentuk kondisi dan suasana kerja yang kondusif dalam menjamin setiap karyawan untuk bekerja dengan aman dan tenang. Wujud kebutuhan rasa aman tersebut adalah rasa aman atas fasilitas dan prasarana yang aman. Suasana, kondisi yang menyenangkan, suasana kerja yang damai dan tenteram yang terhindar dari adanya resiko kerja yang tidak diharapkan”.
Uraian diatas menunjukkan bahwa rasa aman dan keselamatan merupakan bagian yang sangat penting dalam memperoleh motivasi bagi setiap karyawan secara kolektif untuk bekerja secara optimal.
Selanjutnya Jakson (2004:7), menyatakan bahwa “Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan esensial dan dominan untuk dipenuhi individu birokrasi dalam melakukan aktivitas kerjanya yang mengeluarkan energy atau tenaga, sehingga menyebabkan kondisi fisiologis lelah atau capek, maka menuntut untuk dipenuhi kebutuhan fisiologisnya berupa kebutuhan sandang, pangan dan papan. Bentuk konkrit kebutuhan tersebut dalam dinamika kerja bisa berupa tersedianya makanan ringan (snack), minuman dan memperoleh insentif yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis individu birokrasi”.
Tinjauan dan pandangan tentang konsep peningkatan motivasi dalam rangka peningkatan pemberian prestasi siswa, pelayanan kepada masyarakat atas aktivitas kerja yang dilakukannya. Sejalan teori yang dikemukakan oleh Pendich (2004:76), menyatakan bahwa “kebutuhan fisiologis adalah pemenuhan kebutuhan pokok yang utama diperlukan dalam membangun keberadaan individu birokrasi dalam melakukan aktivitasnya dalam mencapai tujuan kerja yang dilakukan”.
Sedangkan Rubinfield (2004:8) menyatakan bahwa “kebutuhan fisiologis merupakan unsur motivasi yang setiap orang memerlukan kebutuhan tersebut untuk makan, minum, berpakaian, dan memiliki pendapatan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari serta melakukan aktivitas kerja dalam perusahaan kerja”.
Selanjutnya Stevan Ivanko (2012:70), menyatakan bahwa “Motivasi sebagai keinginan dan energy seseorang yang diarahkan untuk pencapaian suatu tujuan”. Lebih lanjut Kondalkar (2007:99), mendefenisikan bahwa “motivasi sebagai hasrat dalam yang membakar yang disebabkan oleh kebutuhan, keinginan, dan kemauan yang mendorong seseorang individu untuk menggunakan energy fisik dan mentalnya demi tercapainya tujuan-tujuan yang diinginkan”.
Berdasarkan pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa setia manusia dalam menjalani kehidupan ini, harus memiliki tujuan yang jelas sehingga mereka terdorong untuk melakukan pekerjaan secara serius dan senantiasa bekerja keras. Disamping itu, dorongan dalam rangka pemenuhan kebutuahan sehari-hari, menjadi motivasi terbesar dalam menjalani kehidupannya. Orang yang termotivasi yaitu orang yang melaksanakan upaya subtansial guna menunjang tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya dan organisasi tempat seseorang bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi hanya memberikan upaya minimum dalam hal bekerja.
Motivasi memiliki arti penting bagi suatu organisasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Arif Yusuf Hamali (2016:132-133), menyatakan bahwa “ada empat arti penting motivasi bagi organisas atau perusahaan meliputi :
1.  Tingkat kinerja yang tinggi.
Tugas dari setiap manajer untuk memastikan bahwa karyawan memiliki derajat motivasi yang tinggi, dengan cara memberikan insentif moneter maupun non moneter. Karyawan yang termotivasi tinggi memiliki produktivitas kerja dan kinerja tinggi.
2.  Keinginan keluar dan ketindakhadiran karyawan yang rendah.
Keinginan keluar karyawan dari perusahaan dan ketidak hadiran karyawan (absensi) disebabkan oleh tingkat motivasi yang rendah pada bagian manajer. Ketidakpuasan yang dialami karyawan akan membuat karyawan tidak menikmati pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Tingkat ketidak hadiran yang tinggi menyebabkan tingkat produktivitas rendah dalam jadwal-jadwal produksi.
3.  Penerimaan perubahan organisasi.
Manajemen perusahaan harus membaca dengan cepat lingkungan eksternal dan internal, karena adalah perubahan sosial dan evolusi teknologi pada tingkatan motivasi karyawan. Perubahan sosial membangkitkan aspirasi-aspirasi, yang harus dipertimbangkan secara positif sehingga tercipta suasana kerja yang kondusif. Manajemen harus menjelaskan perubahan yang terjadi di dalam organisasi kepada karyawan sehingga tidak ada perlawanan terhadap perubahan dan pertumbuhan organisasi dapat dicapai.
4.  Gambaran Organisasi.
Karyawan adalah cerminan organisasi. Para manajer harus menempatkan standar kinerja yang tinggi yang dipasangkan dengan imbalan-imbalan moneter dan non moneter. Gambaran organisasi yang tinggi akan memberikan konstribusi terhadap gambaran merek dari produk dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang pasti memiliki suatu faktor yang mendorong beraktivitas. Menurut Sutrisno (2010:109), menyatakan bahwa “ motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktivits tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang”. Faktor pendorong dari seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu pada umumnya adalah kebutuhan serta keinginan orang tersebut. Kebutuhan dan keinginan seseorang berbeda dengan kebutuhan dan keinginan orang lain.

Bersambung