Selasa, 31 Maret 2020

MENGENAL LETNAN JENDERAL SUADI SUROMIHARDJO

Oleh : Yanuar Iwan. 

Sosoknya mungkin terdengar asing dibandingkan Tjokropranolo dan Soepardjo Rustam yang dikenal sebagai pengawal dan ajudan pribadi Panglima Besar Jenderal Soedirman. Padahal jabatan Suadi pada saat itu secara hierarkhis komando lebih tinggi dari Tjokropranolo dan Soepardjo Rustam yaitu sebagai Komandan Satuan Pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman

Foto-foto bersejarah perjalanan gerilya Jenderal Soedirman antara tahun 1948-1949. Beberapa diantaranya memuat gambar Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo yang memang selalu dekat dengan Pak Dirman, ciri Suadi dapat dikenali dari baret hitamnya dan selalu menyandang senapan carbine M1.

Bagi yang sudah menyaksikan film Perjuangan Jenderal Soedirman, film produksi 2015 sosok Suadi tidak ditampilkan dan pada film Janur Kuning film produksi PPFN di masa Orde Baru juga tidak ditampilkan, didalam buku-buku pelajaran IPS SD, SMP dan sejarah SMA namanyapun tidak ada, hanya foto dan gambarnya dengan mudah kita temukan.

Rasa penasaran saya terjawab dengan mencari sumber-sumber informasi sejarah tertulis yang pertama dari buku Yogyakarta 1948 tulisan Himawan Soetanto halaman 197, Letnan Kolonel Suadi ketika itu menjadi lawan Brigade Siliwangi II dalam "Perang Saudara" di Solo menjelang pemberontakan PKI Madiun 1948.

Brigade II Siliwangi dituduh secara sepihak oleh satuan-satuan para militer ( afiliasi FDR-PKI ) dan Komando Pertempuran Panembahan Senopati KPPS yang sudah di infiltrasi PKI, bahwa Siliwangi telah menculik dan membunuh Letnan Kolonel Suherman, beberapa perwira dari TNI-Masyarakat  ( afiliasi FDR-PKI ) dan Mayor Esmara Sugeng dari Brigade 9/KPPS yang berasal dari Tentara Laut Republik Indonesia ( TLRI ).

Letnan Kolonel Suadi meng-"ultimatum" Siliwangi agar mengembalikan perwira-perwira yang hilang selambat-lambatnya  13 September 1948. Siliwangi bersikeras tidak melakukan penculikan dan pembunuhan sehingga pecah pertempuran yang skalanya terus meluas.

Situasi Kota Solo pada saat itu serba tidak jelas, sikap saling curiga mencurigai antar satuan terus meningkat.

Yang kedua Jenderal Soedirman  menunjuk sosok tegas Kolonel Gatot Soebroto, sebagai Gubernur Militer Surakarta untuk menyelesaikan masalah di Kota Solo yang sudah menjadi kota _Wild West_Kolonel Gatot Soebroto memberikan ultimatum kepada setiap komandan pasukan agar segera menghadap kepadanya selambat-lambatnya pada tanggal 21 September 1948 dan apabila tidak menghadap akan dianggap sebagai pemberontak.

Diantara komandan yang tidak menghadap adalah Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo dan Mayor Slamet Riyadi.

Untuk menetralisir pembangkangan Jenderal Soedirman memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto Komandan Brigade X Divisi III Diponegoro dengan dibantu Kapten Tjokropranolo, Kapten Soetanto Wiryoprasanto dan Kapten CPM Ali Aliamangku ( CPM Divisi Siliwangi ) untuk memberikan penjelasan, pengertian, dan pesan dari Pak Dirman kepada Letnan Kolonel Suadi dan Mayor Slamet Riyadi untuk kembali ke TNI dan Republik Indonesia.
Misi netralisir tersebut berhasil dengan sukses Komando Pertempuran Panembahan Senopati ( KPPS ) berhasil ditarik kembali kedalam jajaran organisatoris  TNI. ( Https : // Soeharto. Co )

Setelah Perang Kemerdekaan, Suadi sempat mengikuti pendidikan militer prestisius di Forth Leavenworth AS dan Staff College, Queta Pakistan. Dipercaya Jenderal Nasution sebagai Komandan Seskoad di Bandung ( 1959-1961 ) jabatan terakhirnya adalah Gubernur Lemhanas pada masa awal Orde Baru, sehingga dia memperoleh pangkat tiga bintang, pangkat yang disandangnya sampai pensiun ( Aris Santoso, Letnan Jenderal Suadi, Pengawal Soedirman yang disikat Soeharto Pasca 1965 Tirto.id )

Gambaran peristiwa sejarah ini cukup jelas mengapa sosok Suadi jarang ditampilkan didalam tulisan sejarah militer Indonesia, Film dan buku-buku Sejarah Indonesia.

Walaupun terlalu dini dan gegabah apabila beranggapan Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo terlibat didalam peristiwa Pemberontakan PKI Madiun 1948.

Panglima Besar Jenderal Soedirman tidak mungkin menunjuk dan mengangkat Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo sebagai Komandan Pasukan Pengawal apabila yang bersangkutan terlibat Pemberontakan PKI Madiun.

Lantas mengapa sosok Suadi seperti disembunyikan bahkan dihilangkan didalam dinamika sejarah ?

Sumber bacaan :
 Yogyakarta 19 Desember 1948, Himawan Soetanto 2006
Tirto.id
https : // Soeharto.Co.