Minggu, 29 Maret 2020

PELURUSAN SEJARAH SEPUTAR BANDUNG LAUTAN API


Oleh Enang Cuhendi
“... Setiap jengkal tumpah darah harus dipertahankan, agar jangan meyerahkan Bandung Selatan begitu saja kepada Sekutu...”
Petikan isi surat perintah pimpinan Markas Tertinggi Tentara Republik Indonsia (MT TRI) telah menginspirasi terjadinya aksi heroik di Kota Kembang Bandung 74 tahun yang lalu. Di bawah komando Kolonel A.H. Nasution selaku Komandan Divisi III TRI yang berpusat di Bandung, didukung oleh para pejuang yang tergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP), pemerintah dan seluruh masyarakat Kota Bandung terjadilah salah satu aksi kepahlawanan terhebat yang pernah menghiasi sejarah Nusantara.
Peristiwa tersebut terjadi pada 24 Maret 1946 dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. Dalam peristiwa tersebut tidak hanya sekedar tembak menembak antara para pejuang dan rakyat Indonsia melawan Pasukan Sekutu dan NICA, tetapi lebih dahsyat karena adanya pembumihangusan Kota Bandung yang indah oleh masyarakat dan para pejuangnya sendiri.
Mereka melakukan aksi itu bukan tanpa sebab. Ini wujud perlawanan dan ketidakrelaan kota yang dicintainya harus diserahkan begitu saja kepada musuh menyusul adanya ultimatum dari Sekutu yang disetujui pemerintah pusat. Dalam ultimatum tersebut Tentara Sekutu meminta supaya daerah 11 km sekeliling Kota Bandung, dihitung dari tengah-tengah kota, harus dikosongkan dari semua orang dan pasukan-pasukan, laskar dan TRI bersenjata. PM Sutan Syahrir menyetujui ultimatum tersebut dalam upaya menjaga langkah diplomatik yang sedang dilakukan pemerintah RI.
Sebagai masyarakat dan para pejuang yang taat pada pemerintah mereka mentaati keputusan pusat. Walau demikian mereka enggan menyerahkan kota yang dicintainya diserahkan kepada musuh begitu saja. Sambil mundur menuju luar kota satu persatu bangunan yang ada di kota dibakar dan dihancurkan. Bandung yang indah berubah wujud menjadi lautan api. Di mana-mana kepulan asap membumbung tinggi menyertai jilatan api membara dari bangunan yang terbakar.
Terkait peristiwa Bandung Lautan Api ada beberapa catatan yang perlu dikedepankan. Catatan yang perlu diketahui oleh siapapun yang mencintai sejarah negeri ini. Dengan adanya catatan ini semoga menjadi sedikit terbuka wawasan dan sekaligus meluruskan hal-hal yang masih bengkok.
Catatan pertama terkait dengan tanggal peristiwa. Di beberapa media terutama yang berbasis online seringkali disebutkan bahwa peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) terjadi pada 23 Maret 1946. Berdasarkan fakta sejarah yang ada pendapat ini tidak tepat. Kejadian BLA terjadi bukan 23 Maret 1946, tetapi sehari setelah itu tepatnya menjelang tengah malam 24 Maret 1946. Pada 23 Maret 1946 Kolonel A.H. Nasution selaku Panglima Divisi III /Jawa Barat yang paling berperan dalam peristiwa BLA baru menerima amanat PM Sutan Syahrir untuk mentaati ultimatum Sekutu yang dikeluarkan Jenderal Hawtorn. Amanat tersebut dibawa oleh Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara yang sengaja datang ke Bandung.(Dinas Sejarah Angkatan Darat, 2016: 198). Mereka bersama dengan pimpinan MPPP dan pimpinan pemerintahan RI di Bandung mengadakan pertemuan di Jalan Dalem Kaum. Setelah itu Kolonel Nasution bersama Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara menghadap Jenderal Hawtorn di Markas Sekutu untuk meminta penangguhan waktu. Sore harinya Kolonel Nasution bersama Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara bertolak ke Jakarta untuk bertemu dengan PM Sutan Syahrir. Kolonel Nasution baru pulang kembali ke Bandung 24 Maret 1946 pagi. Baru malam hari 24 Maret 1946 peristiwa BLA terjadi di bawah komando Kolonel A.H. Nasution. Untuk itu informasi yang menyebutkan BLA terjadi 23 Maret 1946 tidak tepat.
Catatan berikutnya mengenai keputusan pembumihangusan Kota Bandung. Dalam beberapa catatan ada yang menulis bahwa perintah pembakaran dan penghancuran Kota Bandung merupakan tindakan blunder dan perlawanan Kolonel A.H. Nasution terhadap keputusan pemerintah pusat. Tanggung jawab atas hancurnya kota, jatuhnya korban dan munculnya penderitaan ratusan ribu rakyat di pengungsian mutlak tanggung jawab seorang Nasution.
Pendapat di atas tentunya tidaklah seratus persen benar. Menurut A.H. Nasution (1977: 186) tak lama setelah kejadian datanglah Kolonel Hidayat yang diutus oleh Jenderal Mayor Didi Kartasasmita MT TRI di Yogjakarta yang meminta laporan pertanggungjawaban Panglima Divisi III tentang peristiwa di Bandung. Sebagai Panglima Divisi III / Wilayah Jawa Barat semua yang terjadi dilaporkannya secara lengkap. Ketika MT TRI mempertanyakan mengapa Panglima Divisi III/Jawa Barat, tidak mempertahankan  Kota Bandung sampai titik darah terakhir, dijawab oleh Kolonel A.H. Nasution:
“...Panglima Komandmen lebih tahu apa yang telah dikatakan Panglima Komandemen kepada Pangima Divisi dan lebih-lebih Yogja harus tahu, bahwa saya selaku Panglima Divisi III tidak mungkin mengorbankan empat Batalyon saya dengan lebih kurang 100 pucuk senapan seluruhnya untuk menangkis Divisi India ke-23 yang diawaki oleh 12.000 orang itu dalam ruangan yang demikian kecil. Walaupun kami bertempur akhirnya kami tidak akan dapat menghindari pendudukan oleh musuh. Kalau seandainya musuh akan memperolehnya, baiklah ia menerima puing tapi empat Batalyon saya, menurut Panglima Divisi III akan tetap utuh untuk tiap malam melakukan gerilya di dalam kota ..”
Itulah penjelasan Kolonel A.H. Nasution kepada MT TRI. MT TRI pun menerima serta mendukung kebijakan yang ditempuh Panglima Divisi III, MPPP dan pemerintah Sipil RI di Bandung. Bahkan Pada awal Mei 1946 di Purwakarta menyebut keputusan yang diambil Panglima Divisi III merupakan keputusan terbaik ( Nasution, 1977: 187).
Mengenai pengambilan keputusan kebijakan pembakaran Kota Bandung, perlu juga mendapat catatan. Keputusan ini bukan mutlak diputuskan oleh Kolonel A.H. Nasution sendiri. Pada 23 dan 24 Maret 1946 Kolonel A.H. Nasution menerima dua instruksi yang bertentangan dari Perdana Menteri  Sutan Syahrir dan MT TRI. Pada 23 Maret 1946 PM Sutan Syahrir berpesan salah satunya jangan diadakan pembakaran karena yang rugi rakyat sendiri dan kita sendiri yang harus membangunnya kelak. Semua pasukan harus mentaati ultimatum untuk keluar dari Kota Bandung demi perjuangan diplomasi. Sutan Syahrir juga mengamanatkan agar pemerintah sipil tetap tinggal di Kota Bandung. Sedangkan pada 24 Maret 1946 pagi MT TRI di Yogjakarta memerintahkan untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dan jangan menyerahkan Kota Bandung begitu saja kepada Sekutu. Dengan kata lain ada isyarat dari MT TRI untuk melakukan tindakan taktis pada Sekutu sebelum meninggalkan Kota Bandung.
Untuk menyelesaikan kedua perintah yang terkesan kontradiktif tersebut, Kolonel A.H. Nasution selaku Panglima Divisi III tidak bergerak sendiri ia berkoordinasi dengan Walikota Kota Bandung Syamsurizal, Badan Pekerja KNI Priangan, Polisi dan MPPP. Dalam pertemuan ini semua sepakat bahwa mengingat sudah disetujui pemerintah pusat, maka amanat PM Sutan Syahrir harus dijalankan, tetapi perintah MT TRI juga harus dipertimbangkan. Kemudian sore harinya ia berkoordinasi dengan staf dan komandan-komandan pasukan serta pimpinan MPPP. Baru kemudian ia memutuskan bahwa rencana penghancuran dan pembakaran kota sudah tidak dapat dirubah lagi (Nasution, 1977: 145) dan memerintahkan agar segenap penduduk, baik sipil maupun militer harus meninggalkan Bnadung sebelum pukul 24.00 pada 24 Maret 1946 (Dinas Sejarah Angkatan Darat: 2016: 206). Kesimpulannya untuk pengambilan keputusan kebijakan pembakaran Kota Bandung tidak murni keputusan A.H. Nasution selaku Panglima Divisi III tetapi hasil musyawarah dengan pimpinan sipil Kota Bandung, MPPP, BP KNI Priangan dan para komandan pasukan.
Catatan lain yang perlu diluruskan adalah keterkaitan antara peristiwa Bandung Lautan Api dengan Sosok Heroik Mochamad Toha. Di beberapa media seringkali dikatakan bahwa Moch. Toha adalah sosok penting dalam peristiwa BLA bahkan ia mengorbankan dirinya untuk menghancurkan gudang mesiu milik Belanda yang ada di Dayeuhkolot. Dua peritiwa ini adalah dua peristiwa yang berbeda, baik waktu, tempat maupun tokohnya.
Sebagaimana sudah disampaikan di atas bahwa BLA terjadi pada malam tanggal 24 Maret 1946 bertempat di Kota Bandung dengan tokoh-toko penting di antaranya Panglima Divisi III/Jawa Barat, Kolonel A.H. Nasution, Walikota Bandung Syamsurizal, dan Pimpinan MPPP Sutoko. Sementara peristiwa kepahlawan di Dayeuhkolot yang berwujud peledakan Gudang mesiu Belanda terjadi 11 Juli 1946. Dalam buku Siliwangi Dari masa Ke Masa (1968: 96-99) dikisahkan bahwa pada pertengahan 10 Juli 1946 kira-kira pukul 21.45 beberapa anggota dari Barisan Banteng RI, Pangeran Papak dan Hizbullah yang merupakan bagian dari MPPP mendapat perintah untuk melaksanakan penghancuran pertahanan Belanda di Dayeuhkolot. Kekuatan yang dikerahkan untuk melaksanakan tugas berat itu ada 11 orang yang terbagi dalam dua regu. Regu I terdiri dari 5 anggota Barisan Banteng RI di bawah pimpinan Mochamad Toha dan Regu II dari Hizbullah dan Pangeran Papak dipimpin oleh Achmad.
Saat operasi berlangsung awalnya berlangsung sukses. Sekira tengah malam kesebelas pejuang tersebut berhasil melintasi Sungai Citarum.  Tiba-tiba salah seorang  di antara mereka menyentuh kabel ranjau yang menimbulkan ledakan hebat. Ini mengakibatkan adanya serangan dari phak Belanda. Kejadian yang tidak diduga tersebut menyebabkan jatuhnya korban, yaitu Mohammad Ramdan dan luka-luka sepuluh pejuang lainnya. Toha meminta kesembilan temannya untuk kembali ke seberang. Ia sendiri bertekad melanjutkan misi sendirian walau menderita luka di pahanya. Kejadian yang selanjunya tidak ada yang tahu hanya pada 11 Juli 1946 sekira pukul 12.30 terdengar ledakan  hebat disertai guncangan yang luar biasa dari markas Belanda. Ternyata gudang mesiu merka telah hancur. Ini membuktikan bahwa misi Toha sudah berhasil. Toha hancur bersama meledaknya gudang mesiu Belanda. Untuk menghormati jasanya didirikan monumen di Dayeuhkolot pada 17 Agustus 1957.
Daru uraian di atas jelas sekali bahwa antara BLA dengan peristiwa Moch. Toha adalah dua peristiwa yang berbeda. Mungkin saja sebagai pejuang di bawah MPPP Toha terlibat dalam peristiwa  BLA tetapi bukan sebagai pimpinan atau pengambil keputusan. Dalam peristiwa BLA sosok Toha hanyalah pejuang biasa. Kepahlawanannya baru muncul empat bulan kemudian, tepatnya saat sukses meledakan Gudang Mesiu Belanda di Dayeuhkolor pada 11 Juli 1946.
Itulah beberapa hal yang perlu diluruskan seputar peristiwa Bandung Lautan Api. Semoga distorsi sejarah seperti yang sudah disampaikan di atas tidak terulang lagi.   

Daftar Pustaka
 A.H. Nasution, 1977, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonsia, Diplomasi Sambil Bertempur, Jilid III, Bandung, Disjarahad-Angkasa.
Dinas Sejarah Angkatan Darat, 2016, Bandung Lautan Api, Bandung, Dinas Sejarah Angkatan Darat
Kodam III/Siliwangi, 1968, Siliwangi Dari masa Ke Masa, Bandung, Fakta dan Mahyuma