Minggu, 29 Maret 2020

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN COVID-19

Oleh Hendarman


Dampak pandemi covid-19 dari hari ke hari tidak menunjukkan penurunan, dan daerah persebaran semakin meluas. Terhitung tanggal 28 Maret 2020, tercatat yang positip sejumlah 1155 orang, yang sembuh 59 orang, dan yang meninggal 102 orang. Berbagai pakar menyampaikan bahwa sekarang ini masih merupakan awal dari proses dan melihat dalam waktu "mulai proses" itu sudah cukup banyak korban yang jatuh maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi ketika masa puncaknya.

Berbagai pendapat dikemukakan berbagai pakar baik mereka yang memang ahlinya ataupun mendadak ahli ketika ada pandemi itu. Sejumlah kiat-kiat untuk dapat terhindar dari pandemi ini juga dilontarkan sejumlah ahli yang kadang-kadang satu dengan yang lain saling bertabrakan atau tidak sinkron. Jadilah yang membaca saran-saran itu mulai "keblinger" dan bahkan mulai digiring menjadi "parno" alias paranoid.

Ketika menyadari bahwa begitu mengerikan dampak dan daya kerja virus ini (kalau boleh dikatakan mengerikan--- karena masih banyak yang beranggapan tidak usah khawatir karena korban lebih kecil dibandingkan virus-virus lain); sudah tentu pengambilan keputusan menjadi bagian yang mau tidak mau menjadi inti solusi penanganan covid-19. Pengambilan keputusan dapat dimaknai dari aspek cakupan yang berbeda karena banyak pertimbangan yang dipelajari sebelum membuat suatu keputusan.

Pengambilan keputusan tersebut salah satunya adalah dalam lingkup dunia pendidikan atau tepatnya proses pembelajaran di sekolah. Yang menarik adalah mengambil keputusan untuk "merumahkan anak-anak dan pendidik serta tenaga kependidikan untuk memulai proses belajar dari dan di rumah" sudah menjadi bahan polemik yang ruwet. Tidak mengherankan ada daerah-daerah yang dengan cepat mengambil keputusan untuk instruksi belajar dari rumah segera dilakukan. Tetapi ada juga daerah-daerah tertentu yang bersifat "menunggu" sebelum membuat keputusan itu. "Menunggu" dalam arti setelah di daerahnya jatuh korban covid-19.

Yang juga menarik mengamati adalah kebijakan daerah yang "merumahkan" siswa tetapi tetap "meminta atau memaksa" kepala sekolah dan guru tetap hadir di kantor. Jadi pengawasan pembelajaran dalam posisi yang mengajar di sekolah dan yang diajar di rumah. Sampai-sampai ada yang berkomentar ,"jadi kami para guru dianggap kuat dan tahan terhadap covid-19 atau memang kami yang akan dikorbankan karena usia kami sudah lanjut".

Belum lagi keragaman keputusan batas waktu belajar di rumah. Ada yang memilih untuk mengikuti masa darurat nasional yang diperpanjang sampai dengan 29 Mei 2020. Patut diacungkan jempol kepada daerah-daerah yang berani memutuskan belajar dari rumah dilaksanakan sampai dengan 29 Mei 2020. Bagaimanapun ini adalah masa genting dan "mempertaruhkan" nyawa manusia. Bayangkan anak-anak disuruh masuk sekolah dan tidak menyadari mungkin teman-temannya ada yang "carrier" karena di rumah anggota keluarganya "carrier". Lalu temannya pulang ke rumah dan "tanpa disadari menularkan" kepada orangtua yang sudah berumur yang rentan virus covid-19.

Mudah-mudahan para pengambil keputusan pada level manapun akan sangat bijak menyikapi pandemi covid-19 ini dan mengambil keputusan tegas dan cepat tanpa bertele-tele berdiskusi dan berdebat. Musuh virus ini bergerak lebih cepat sementara kita masih sibuk mencari-cari formula.

Bogor, 29 Maret 2020
Hendarman

#WorkFromHome
#SocialDistancing
#PhysicalDistancing
#StayAtHome

https://www.facebook.com/100004922025998/posts/1477727689067951/