Sabtu, 28 Maret 2020

SECUIL KISAH DARI TANAH ASMAT


Oleh Danner Purba, S.Pd.

Saat malam menjemput sang siang aku masih duduk santai di teras depan rumah yang langsung berhadapan ke Sungai Pomact, sungai pasang surut  yang asin dengan lebarnya sekitar 200 meter. Suara jangkrik mulai bersahutan, gerombolan kodok juga demikian, pohon nyiur di ujung desa pun nyaris tidak lagi kelihatan, hanya kunang-kunang yang berlalu lalang memberi sedikit terang. Hewan yang dulunya bagiku sangat menakutkan kini nyaris seperti teman.

Ini lah desa tempatku bertugas, salah satu desa terpencil di pedalaman Asmat (Papua). Desa yang setiap sudutnya gelap saat malam, tapi walau begitu penduduknya hidup bahagia dan merasa nyaman. Penduduk di desa ini memiliki sikap yang ramah dan penuh kehangatan. Saat aku berjalan menyusuri jembatan papan setiap warga dari anak kecil, remaja, dan tua pasti memberi salam. Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan terbatasnya keadaan. Mereka juga tidak pernah mengeluh tentang mati lampu, karena di desa ini memang tidak pernah mati lampu alias tidak ada aliran arus untuk lampu.

Kabupaten Asmat ini sangat unik, topografinya yang seluruhnya datar dan dekat dengan laut menyebabkan semua tanah yang ada  basah saat air laut pasang. Semua air yang mengalir berasa asin, asam, dan berlumpur. Di kabupaten ini juga tidak ada kendaraan bermotor, semua rumah warga dihubungkan dengan jembatan papan, lantai rumah dari papan, kamar mandi papan, jalan utama papan, bahkan lapangan sepak bola pun dibuat menggunakn papan. Maka tak jarang orang-orang menyebutnya dengan julukan “Negeri 1000 Papan”.


Gelapnya malam semakin tak terbantahkan, Rasanya sudah tidak nyaman mata ini menatap dan beradu dengan pekatnya malam. Perlahan kuayunkan langkah menuju kamar, kubaringkan tubuhku sambil memandangi kunang-kunang yang berkeliaran di langit-langit kamar. Sejenak rindu dan terbayang akan kehidupan yang lebih nyaman di kota asal. Terbayang akan semua fasilitas yang mudah didapatkan, dan terbayang akan keluarga yang sudah lama tak kuberi kabar karena tidak ada signal. Perlahan kupejamkan mata, kulawan rindu dengan keluarga yang jauh di mata, dan akhirnya aku pun terlelap dan terbawa ke alam bawah sadar.

Pagi pun datang menjelang, mukin karena tidurku terlalu panjang sehingga bangun terlalu  pagi sudah bukan lagi hal yang menantang. Pukul 06.45 WIT aku sudah selesai beres-beres dan berganti pakaian. Suara langkah siswa/siswi ku saling beradu di jembatan papan depan rumah.

Tok.. Tok.. Tok...!!

"Pa guru selamat pagi.”

“Pa guru selamat pagi." Kata salah seorang siswa sambil mengetuk pintu rumahku.

"Ia selamat pagi" Kataku sambil datang dan membuka pintu.

“Pa guru hari ini kita tidak sekolah kah? ini su terang, itu matahari su di atas," Kata Dedi sambil menunjuk mata hari di ufuk timur yang bersinar cerah.

"Ia kita hari ini sekolah tohh, tapi ini belum jam masuk, jam masuk itu jam delapan." Kataku menjelaskan.

"Pak guru baru ini su jam berapa kah?” tanya Bakap.

Ini masih jam 06.46, tapi ya sudah jalan sudah ke sekolah, sebentar Bapak menyusul”, kataku. 

Mereka pun berlalu menuju sekolah dengan wajah dengan semangat dan tetap  ceria.
Seandainya di desa ini ada arus listrik dan speaker  ingin rasanya memutar musik dengan lirik "Pagiku cerahku matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak, Guruku tersayang.... dst’

Begitulah kondisi siswaku di sini. Mereka tidak punya jam tangan dan penunjuk waktu lainnya. Patokan bagi mereka untuk bangun pagi adalah sinar matahari. Saat cerah maka mereka bisa datang terlalu pagi, tapi saat mendung mereka bisa datang jam 09.00 WIT ke sekolah dengan santai dan tanpa merasa bersalah.

Ting..!  Ting..! Ting..!

Lonceng sekolah tanda bersiap masuk kubunyikan dengan nyaring. Seperi biasanya mereka pun baris berkumpul di lapangan dan mendengarkan beberapa pengarahan. Jumlah siswa/siswi yang hadir saat itu sekitar 120 siswa, sementara guru hanya dua. Kami berdua adalah guru yang ditempatkan pemerintah di desa ini lewat jalur SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal).

Seketika aku tepuk jidat, apa bisa dua guru mengajar siswa 6 kelas,? pikirku dalam hati. Saat muncul sedikit rasa pesimis, tiba-tiba muncul sebongkah rasa optimis.

Dalam hati yang paling dalam masih tertancap dengan kokoh:  "Aku kesini untuk kalian"
Setelah diskusi singkat dengan satu orang rekan sejawat, akhirnya kami pun berbagi kelas. Kelas kecil I, II dan III yang berjumlah sekitar 60 orang menjadi tanggung jawabku, sedangkan kelas besar IV, V dan VI menjadi tanggung jawab rekanku.

Pertama-tama terasa kaku, tidak mudah memang mengajar 3 tingkatan kelas sekaligus. Daya tangkap dan kemampuan awal siswa yang rendah juga turut menjadi kendala. Belum lagi aku harus siap jadi guru agama, guru olah raga, matematika dan guru mata pelajaran lainnya.

Satu hal yang menambah semangatku siswa kami ini tidak banyak mengeluh, tidak manja, dan tidak terlalu usil dengan teman saat belajar. Dengan demikian aku tidak perlu mengelurkan banyak energi untuk menertibkan mereka. Tidak jarang kami menemui hal-hal lucu yang mengundang tawa. Salah satu contohnya saat kelas dua kuminta menulis huruf M sebanyak 1 lembar, dan tentunya sudah terlebih dahulu kucontohkan dengan huruf M di papan tulis sebanyak satu baris.

Tampaknya semua siswa bersemangat membuat huruf M agar penuh satu lembar, tapi ternyata huruf yang benar-benar percis huruf M hanya beberapa baris selebihnya berubah jadi huruf W dan sebagian lagi entah huruf apa. Tapi bagiku itu tak mengapa, aku aprsiasi semangatnya. Yang pasti mereka masih ada kemauan untuk terus belajar. Aku sangat meyakini bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalan.

Tiga bulan pertama jalannya pembelajaran seperti tertatih. Selain kemampuan awal siswa/siswi kami yang rendah hidup masyarakat yang masih meramu dan berburu membuat setiap minggu siswanya selalu baru. Gantian yang datang setiap minggunya. Mereka harus ikut orang tua ke hutan selama beberapa minggu untuk mengumpulkan makanan dan kembali ke desa saat persediaan makanan yang terkumpul sudah lumayan. 

Di satu sisi hidup mereka yang berburu dan meramu  juga harus kami syukuri, karena kalau siswanya datang bersamaan kami pasti sangat kewalahan, jumlah siswa sebenarnya ada sekitar 260 orang dan yang datang setiap harinya sekitar 120 orang dan datangnya setiap minggu bergantian. Warna kulit, rambut, dan wajah mereka yang hampir mirip satu sama lain juga menjadi kendala untuk dapat mengenali siswa ini satu persatu. ya memang segala sesuatu butuh proses. Batinku.

Setip hari sebelum memulai kegiatan pembelajaran siswa kelas I, II dan III  terlebih dahulu dikumpulkan di satu  ruangan, kami bersama-sama berdoa dan setah berdoa yanyian lagu daerah papua pun mengalun dengan merdu di ruangan tersebut. Setelah selesai berdoa kelas II masuk kerungan kelasnya, sementara kelas I dan II tetap di ruang kelas sebelumnya.  Tujuan untuk menghemat pergerakan ke tiga ruang sekaligus.

Anak kelas I dan II duduk secara terpisah (sayap kiri dan sayap kanan).  Duduk di bangku panjang yang sebagian nyaris seperti kursi goyang (reot). Satu bangku biasanya terdiri dari 2 sampai 3 siswa.

Papan tulis kubagi menjadi dua bagian. Sebelah untuk anak kelas 1 dan yang lainnya untuk anak kelas 2. Setelah aku memberikan penjelasan tentang materi yang akan dikerjakan untuk kedua kelas aku pun bergegas menuju ke ruangan kelas tiga.

"Selamat pagi..!!" Kataku ramah menyapa kelas 3 yang sudah siap menunggu hadirku.

"Selamat pagi Bapak guru.." Jawab mereka serentak. “Hari ini kita akan belajar IPS tentang lingkungan Alam dan Lingkungan buatan”.

Saat belajar mengenai lingkungan alam dan lingkungan buatan, di wajah mereka tergambar rasa senang. Mukin dalam hati mereka berkata: “Syukurlah, ternyata kali ini belajarnya agak santai dan tidak menguras pikiran. Kali ini tidak belajar perkalian dan pembagian yang bagi kami merupakan pelajaran yang sulit.”

Saat rasa lelah sedang menghampiri mereka, mata pelajaran IPS menjadi pelepas penat, selain jam olah raga tentunya. Walau demikian aku sangat memaklumi hal tersebut, selain jarang diajari sebelum kami ditugaskan di sekolah tersebut, daya serap mereka yang agak rendah juga mungkin disebabkan umur mereka sudah tidak sesuai lagi duduk di kelas III SD. Sebagian dari mereka sudah berumur 12 tahun bahkan ada yang berumur 16 tahun.

Suatu ketika saat belajar IPS menganai provinsi yang ada di Indonesia. Aku mencoba menanamkan pada mereka bahwa Indonesia itu luas, kamu harus rajin baca buku karena buku adalah jendela duni. Dari buku kamu bisa tahu segalanya. Mereka pun bersemnagat memperhatikan atlas dan menyebutkan beberapa tempat yang akan mereka kunjungi kelak.
Saat jenuh menghampiri, kuingat lagi motto kami MBMI (Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia). Ada banyak orang yang sedang berjuang mencerdaskan generasi emas Indonesia melalui jalurnya masing-masing dan aku telah memilih jalur SM-3T, dengan motto tersebut semangatku pulih kembali dan meyakini bahwa "Setahun mengabdi selamanya menginspirasi". Tidak terasa setahun penuh sudah hampir berlalu. Itu artinya sudah waktunya bagi kami untuk kembali ke daerah asal masing-masing. selama bertugas di desa tersebut kelas rangkap adalah metode pembelajaran andalan dan IPS menjadi mata pelajaran is the best.
Hari perpisahan pun benar-benar tiba, tidak kuat rasanya melihat mereka ramai-ramai yang kecil hingga yang tua mengantar kami ke perahu sambil berlinang air mata. “Pak guru, kenapa kasih tinggal kami, sama siapa kami belajar, jangan pergi Pak guru, kami mau pintar, kami janji mau rajin belajar”.

Ucap mereka penuh pilu. mereka meyakinkan kami agar tetap tinggal bersama mereka sambil tetap membantu kami memikul  koper, tas dan barang-barang lainnya berjalan menyusuri jembatan papan penuh lubang (reot).

Kupeluk satu persatu siswaku, kukatakan bahwa ilmu dan pendidikan adalah jembatan penghubung. Teruslah belajar, gapai ilmu sebanyak mukin, semoga dengan ilmu yang kamu dapat kita bisa berjumpa kembali dengan senyum yang lebih manis.

Perahu kami pun melaju, isak tangis mereka semakin terdengar, “Pak guru..! Pak guru..! Datanglah lagi, kasih ajar kami”. Aku hanya tertunduk dan tak  sanggup memandangi mereka dan desa kecil yang memberiku banyak pelajaran berharga. Desa yang penuh dengan kenangan juga ketenangan. Perahu pun kian menjauh dan kini sudah berada dilaut lepas menuju pelabuhan Agats. Sayonara siswa/siswiku, terima kasih untuk pengalaman berharga ini. Kataku dalam hati menahan rasa pilu.

SM-3T Kab. Asmat, Papua 2016.

Danner Purba, Guru IPS SMP Satu Atap Danau Sarang Elang Muaro Jambi