Selasa, 24 Maret 2020

Semangat Belajar IPS Tumbuh dengan Media Pembelajaran

                  Oleh Taruna Yotatulu, S.Pd.


Saat pertama kali tiba di sekolah ini, aku tidak terlalu merasa akan sulit untuk mengabdi di sini. Secara lokasi sekolah ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat kabupaten. Hanya saja akses untuk sampai ke sini cukup sulit, meskipun tidak sesulit lokasi yang lainnya. Itulah yang membuat diriku bersyukur. Untuk sampai ke sini, kami para guru harus melewati sedikit jalan batu berlubang selama 10 menit, jalan tanah kuning berlumpur dan tergenang sekitar 20 menit, atau juga bisa lewat pusat kabupaten meski harus menyebrang menggunakan ketek (pompong). Walau begitu bagi kami itu bukan apa-apa, kami yakin kami akan terbiasa menjalaninya.
Setelah melewati fase-fase awal untuk perkenalan, maka terbitlah jadwal baru dari Waka Kurikulum untuk kami semua. Aku mendapatkan jam mengajar sebanyak 24 jam. Dua puluh empat jam itu untuk 6 kelas yang ada di sekolah ini, berarti aku memegang jam IPS di semua kelas di sekolah ini. Setelah aku tanya, ternyata guru IPS yang lama memilih untuk bekerja di kantor desa sebagai sekretaris desa dan melepaskan tugasnya sebagai guru IPS di sekolah ini.
Hari pertama, aku masuk ke salah satu kelas. Aku memperkenalkan diri dan sedikit bercerita tentang diriku. Kulanjutkan untuk mengenal mereka satu persatu sekaligus mengingat wajah-wajah mereka. Sejak pertama berkenalan aku mulai tahu bahwa kondisi anak di sini sangat pasif. Mereka tidak pernah diajarkan untuk berbicara di depan umum. Belum lagi penggunaan bahasa daerah yang sangat kental serta logat yang tidak tertinggal saat disuruh menggunakan Bahasa Indonesia. Itu bukan apa-apa bagiku, pelan-pelan akan kami bimbing untuk belajar menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar setidaknya dalam “Kegiatan Belajar Mengajar”. Begitu pula saat aku masuk ke kelas yang lain, kondisinya tidak jauh berbeda, mereka sedikit lebih sulit untuk mengikuti pembelajaran karena mungkin selama ini belum ada peraturan yang terlalu ketat terkait sekolah satu atap.
Waktupun berlalu, sedikit demi sedikit aku mulai paham keadaan mereka, miris dan kasihan sebenarnya. Masih ada di antara mereka yang belum lancar membaca, masih ada yang belum bisa menuliskan angka puluhan, ratusan, ribuan apalagi ratusan ribu. Bahkan masih ada di antara mereka yang belum bisa membedakan huruf-huruf. Aku terdiam, tatapanku kosong, tergores rasanya hati ini. “Ya Allah, berdosakah aku jika perangkat pembelajaran yang telah aku siapkan nyatanya tidak bisa digunakan untuk mereka?” tanyaku dalam hati.
Tuntutan kurikulum yang begitu tinggi seperti berlari rasanya tak layak untuk mereka yang masih belajar untuk berdiri. Tugas ini lebih dari sekedar sulit, karena harus menuntun mereka lagi dari awal agar bisa membaca dan paham akan yang mereka baca. Hendak menyalahkan siapa? Jika ditanya siapa yang salah maka guru-guru akan menyalahkan guru SD tempat mereka sekolah dulu, guru SD akan menyalahkan Guru TK karena tidak mengajarkan dasar-dasar kepada mereka. Aku tidak ingin ambil pusing, saat ini mereka adalah tanggung jawabku, dan aku harus membuat mereka lebih baik demi tujuan pendidikan di negara ini, yang sudah terjadi biarlah terjadi, tugas kami saat ini adalah membantu pendidikan Indonesia menjadi lebih baik dan semakin baik lagi.
Pernah suatu hari aku masuk kelas, berniat untuk mengajar tentang ASEAN. Aku mulai melakukan apersepsi dengan bertanya tentang Indonesia dan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Mereka hanya diam.
Aku coba tanya lagi, “Nak, pernah tidak belajar tentang negara kita Indonesia?” Mereka pun tetap diam.
Aku ambil nafas dalam-dalam, aku coba dekati salah satu juara kelas di kelas terebut. “Nak, coba jawab, di negara mana kita tinggal?” Dia pun diam.
“Nak, di pulau manakah Jambi itu berada?
“Kota Jambi tahu, Nak?”  
Matanya berbinar, bibirnya bergerak-gerak kecil tak beraturan, kedua tangannya dikepal kuat-kuat sambil bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Semua pertanyaan aku pun berakhir dngan jawaban diam seribu basa.
Aku menghela nafas. Aku sadar, aku harus memulai semuanya dari awal. Dari paling dasar. Tak bisa aku paksa untuk melanjutkan. Hati ini teriris, sakit sekali, tapi aku tahan. Aku coba tarik nafas lagi sembari terus berdzikir. Akhirnya aku bertanya lagi. “Nak, sekolah kita punya globe tidak?”
“Globe itu apa, Pak?” tanya salah satu anak.
Aku jawab, “Globe itu tiruan bentuk bumi, Nak. Bulat dan bisa diputar-putar” Kembali mereka pun diam.
Aku ambil gawai dari dalam tas. Aku ketik globe di laman pencarian dan aku tunjukkan kepada mereka. Mereka serempak berteriak, “Tidak ada, Pak, kami tidak pernah melihat globe itu seperti apa.”
“Kalau peta ada, Nak?” tanyaku lagi. Mereka diam, saling berpandangan. Aku teringat di perpustakaan ada beberapa atlas yang tidak pernah digunakan. Aku panggil ketua kelas dan memintanya untuk meminjam semua atlas yang ada di perpustakaan dan membagi-bagikannya untuk teman-teman sekelas.
Ketika ketua kelas mengambil atlas ke perpustakaan, aku menuju gudang untuk mencari gulungan peta. Aku membongkar lemari-lemari. Banyak alat-alat laboratorium yang rusak dan tidak pernah digunakan. Aku juga menemukan rangka bekas globe tapi sudah tidak ada bola globenya. Aku coba tanya kepada guru yang sudah lama mengajar di sekolah itu. Mereka menjawab semua alat-alat peraga termasuk buku-buku banyak yang rusak saat terjadi banjir besar di daerah tersebut. Sekedar informasi, sekolah tempat ku bertugas berada di tepian sungai Batanghari dan setiap tahun mengalami air pasang dan air tersebut sampai ke sekolah kami hingga pernah setinggi bahu orang dewasa.
Akhirnya setelah lama bongkar dan mencari-cari, aku menemukan Peta Lokasi Pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi. Hanya peta itu, ukurannya sekita 120 cm x 100 cm. “Tak apa.” kataku dalam hati. Aku butuh alat ini untuk mengenalkan siswaku tentang peta.
Aku kembali ke kelas dan mereka pun aku minta untuk duduk berkelompok sesuai dengan jumlah atlas yang telas diambil oleh ketua kelas. Aku gantung peta yang sudah aku ambil tadi di papan tulis, aku jelaskan pelan-pelan, aku tunjukkan berbagai macam hal yang ada di peta. Aku minta mereka membuka atlas dan membuka peta Indonesia dan menjelaskan sedikit hal tentang peta Indonesia tersebut. Aku begitu bahagia melihat mereka semangat mendapatkan ilmu yang mungkin belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Dalam hatiku berkata, “Esok aku harus mampu menggunakan media yang lebih baik daripada ini, aku tak mau sekedar tahu, tapi aku ingin mereka paham.”
Esoknya, aku kembali masuk kelas yang sama. Selangkah demi selangkah, pelan-pelan, sedikit demi sedikit aku coba buka cakrawala pengetahuan mereka. Tak apa  kemarin kubeli sebuah globe ukuran sedang dan selembar peta Indonesia ukuran 2x1 agar mereka mampu membuka pandangan dan pengetahuan mereka. Aku tunjukkan bahwa bumi itu seperti globe ini. Ini lho Indonesia. Nak, ini Jambi, coba lihat, di sini lho kita tinggal. Ini Benua Asia, ini samudera, ini kutub yang banyak es itu, dan lain-lain.
Mereka tercengang, terdiam dan terlihat jelas dari raut wajah mereka bahwa baru pertama kali mereka tahu bentuk bumi, pulau dan lautan seperti itu. Selama ini hanya melihat dari buku tanpa pernah menggunakan alat peraga yang sebenarnya sudah disediakan sekolah jauh sebelum hari ini. Tidak puas dengan keadaan itu, aku ambil proyektor bantuan BOS Afirmasi. Aku ambil kabel terminal panjang dan aku pasang proyektor tersebut. Aku hidupkan laptop yang kubawa setiap hari ke sekolah. Aku tampilkan gambar-gambar kenampakan bumi mulai dari Indonesia, Asia Tenggara, hingga dunia yang sejak lama aku miliki sebagai seorang guru IPS. Aku lanjutkan dengan video pembelajaran yang memuat kondisi fisik dan alam negara-negara di Asia Tenggara.
“Wah... bagus, Pak.”
“Keren, Pak.”
“Itu benaran ada, Pak?”
Berbagai macam ekspresi dan teriakan mereka membuat hatiku bahagia dan letih yang kurasa terbayarkan. Mereka hanya butuh guru yang mampu membuka pandangan mereka tentang apa yang mereka pelajari. Semangat lagi rasanya hati ini. Hilang rasanya keluh kesah yang selama ini aku rasakan. Tugas ini memang tidak mudah, apalagi itu hanya sepenggal kisahku dalam mengajar IPS Geografi untuk satu materi. Belum lagi Ekonomi, Sejarah dan Sosiologi yang setiap materinya harus aku sampaikan kepada mereka. Aku tidak patah semangat. Aku mampu menggunakan media pembelajaran sebagai penunjang bagi mereka untuk memahami materi yang akan mereka pelajari. Tak apa habis waktu dan sedikit biaya berkorban asal mereka paham yang mereka pelajari. Bagiku, masa depan mereka lebih mahal dan berharga daripada sedikit hal yang aku korbankan saat ini.
Hingga saat tulisan ini diselesaikan, sudah ada perubahan dan perkembangan mereka dalam Mata Pelajaran IPS. Mereka sudah mampu membaca peta dan menunjukkan letak suatu daerah meski belum sempurna. Mereka telah mampu menyebutkan pulau-pulau terkenal di Indonesia serta kota-kota besar yang ada di dalamnya.
Beberapa pertemuan yang lalu aku juga menugaskan mereka secara berkelompok untuk menggambar peta di atas kertas karton. Setiap kelompok telah dibagi untuk menggambar pulau dan propinsi yang ada di Indonesia. Semangat dan antusias yang begitu tinggi tampak dari raut wajah mereka. Saking asyiknya, bel istirahat pun terlewatkan demi menyajikan hasil karya terbaik dari tangan-tangan mereka. Coretan pensil, penghapus dan pensil warna adalah pandangan terindahku pada saat itu. Bagiku hasil karya mereka bukanlah segalanya saat ini, proses yang terus berjalan adalah jalan yang menjadi tantangan sekaligus tuntunanku agar kelak anak didikku emua menjadi insan yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Aku sadar, ada banyak kekuranganku sebagai guru, tapi aku hanya ingin mereka tahu. Bersama mereka aku temukan juga jati diriku sebagai seorang pendidik. Tugasku tidak hanya memberi mereka pengetahuan, tapi mampu menambah rasa cinta mereka terhadap negara ini. Mampu membantu mereka membuka wawasan pengetahuan umum mereka bahwa negara ini tidak sesempit yang mereka pikirkan selama ini.
Aku yakin di luar sana banyak guru-guru yang merasakan sama sepertiku, bahkan lebih sulit dari yang aku hadapi saat ini. Tugasku di tempat ini mungkin tidak sesulit mereka yang mendapat tempat tugas di daerah yang lebih pelosok dengan sumber daya yang terbatas pula. Tidak ada sinyal, akses yang sulit atau bahkan belum ada listrik di sana. Rasa bersyukur selalu aku ucapkan atas tugasku di sini dan selalu aku anggap sebagai sesuatu yang telah dituliskan bahwa aku harus mampu mewujudkan tujuan pendidikan yang sebenarnya, yaitu mampu memanusiakan - manusia.



Taruna Yotatulu, S.Pd. Guru IPS SMPN Satap Tantan Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.