Kamis, 26 Maret 2020

Tanggapan Atas Tulisan Dari Pak Taruna Yotatulu, S

Oleh Atjih Koerniasih

Membaca tulisan yang pak Enang share di grup FKGIPS PGRI Cianjur berjudul "Semangat Belajar Tumbuh dengan Media Pembelajaran "  yang ditulis oleh Pak Taruna Yotalulu, S dari Jambi,saya seperti membaca pengalaman diri. Inilah salah satu bentuk implementasi merdeka belajar yang telah dilakukan oleh penulisnya. 

Mengapa saya katakan salah satu bentuk implementasi merdeka belajar,  karena pak Taruna telah mengambil langkah yang kreatif menggunakan metode  ceramah. padahal dalam  kurikulum 13 hal tersebut sebaiknya dikurangi.  Biarkan anak menemukan sendiri konsep. 

Kenapa saya katakan kreatif namun di sisi lain menggunakan metode ceramah?  Kreatif karena Pak Taruna telah mampu melihat apa yang urgen yang dibutuhkan siswa, sesuai karakteritik mereka, yaitu mereka butuh hipnoteaching.  Butuh sesuatu yang menjadi landasan ke depannya untuk mereka belajar apa itu?

Tumbuhnya semangat belajar.  Tumbuhnya semangat belajar inilah yang kemudian digali oleh pak Taruna melalui kepiawainya menerangkan dengan menggunakan media.  Pak Taruna telsh melakukan merdeka belajar.  Merdeka dalam kemampuannya menemukan kebutuhan kompetensi siswa dengan secara kreatif. 
Kalau juga boleh saya katakan Penulis,  dengan kreatif nya langsung menemukan cara bagaimana membawa siswanya bergairah dalam belajar.

 Caranya,  tidak terpaku model kurikulum 13. Tetapi penulis menyesuaikan dengan karakteristik siswanya,  dengan apa? dengan menggunakan media dan berceramah. Itu tersurat saat penulis menerangkan tentang bentangan alam.  Ditunjukan satu persatu yang mana dalam pembelajaran discovery atau lainnya siswalah yang harus menemukan sendiri.   Tetapi karena beda situasinya, siswa harus diberikan wawasan serta motivasi terlebih dahulu,  maka dengan merdeka penulis menerapkan metode ceramah menggunakan media.

Hasilnya... Siswa jadi tergugah,  siswa jadi bersemangat,  karena apa? Penjelasan Gurunya telah membuat mereka terkesima, zona alpa telah diwujudkannya.  Hak mengajar telah diperolehnya dari siswa.  Karena menurut Bobby DePorter yang kemudian diungkap pula Munif Chatib dalam bukunya Gurunya Manusia,  hak guru mengajar sebenarnya diberikan oleh siswa dan guru harus merenggutmya dari mereka. Itu telah diperoleh oleh Pak Taruna dengan munculnya semangat belajar mereka it, terlihat pula saat mereka bergairah membuat peta secara berkelompok.

Tulisan Pak Taruna telah menguatkan apa ysng selama ini menjadi pemikiran saya.  Apa salahnya berceramah?  Kalau dengan berceramah menjadi siswa bersemangat dalam belajar, termotivasi dan menjadi senang pelajaran kita serta akhirnya menumbuhkan untuk siswa belajar lebih lanjut. Mengapa tidak?  Kalau sudah itu tumbuh, maka barulah model -model pembelajaran bisa diterapkan.

Maksudnya,  untuk pertemuan -pertemuan di awal, penggunaan metode ceramah dengan mengunakan media menurut saya lebih efektif. Permasalahanya metode ceramah yang bagaimana?  Tentunya metode ceramah dengan menggunakan media pembelajaran,  jika memberikan contoh, mengambil contoh dari kehidupan sehari - hari agar konstekstual.  Sesuai kehidupan nyata, serta tentunya diselingi tanya jawab.  Dengan begitu, maka metode ceramah bukan sesuatu yang perlu dihindari.  Justru perlu untuk membangkit kan motivasi dan semangat belajar siswa.

Sejarah telah memcatat,  bagaimana Soekrno mampu membangun semangat rakyat melalui retorikanya dalam berpidato, Hitler dalam menanamkan paham nazi nya,  serta Ustad Salman dalam kisah Lima Menara- nya A. Fuad.

 Intinya ceramah bukan sesuatu ysng harus dihindari,  mungkin sebuah keharusan bila situasi menuntut itu dan Pak Taruna telah melakukannya lewat kisahnya yang dituturkan dengan apik dengan judul "Semangat Belajar IPS) Tumbuh dengan Media Pembelajaran"

(Tanggapan ini atas rasa kagum pada tulisan pak Taruna.  Saya. Menemukan salah satu konsep merdeka belajar)

Salam kenal untuk Pak Taruna