Minggu, 01 Maret 2020

Tentang Organisasi Guru


Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Suara kucing hanya bisa dimengerti oleh kucing. Suara tikus pun hanya bisa dimengerti oleh tikus itu sendiri. Sunatullah Tuhan ciptakan makhluknya berjenis dan berkelompok. Tidak ada jenis kucing dipimpin tikus dan tidak ada tikus dipimpin kucing.

Ahaa, kalau kita lihat berbagai organisasi  seperti TNI, Polri, Dokter, bidan, perawat dan arsitek mereka dari jenis yang sama. Organisasi guru? Ahaa, masih blended! Belum sesuai sunatullah! Masih gado-gado! Banyak yang bukan guru ada di organisasi guru.

Rasa guru, bahasa guru, jeritan guru, harapan guru, mimpi para guru hanya dapat difahami 100 persen oleh guru.  Pengurus organisasi guru yang bukan dari guru kemungkinan hanya karena tiga hal.  Pertama Ia cinta dan pejuang guru. Kedua Ia punya modus pribadi.  Ke tiga Ia mencari pekerjaan atau numpang hidup di organisasi guru.

Amanah UURI no 14 Tahun 2005 pasal  41ayat (1) Guru membentuk organisasi profesi yang bersifat independen. PP 74 tahun 2006 Pasal 44 ayat  (1) Guru memiliki kebebasan untuk berserikat dalam Organisasi Profesi Guru.  Kedua aturan di atas  “mewajibkan” organisasi guru diurus oleh guru.

Hal yang lebih psikologis  lagi adalah berdasar pada kebathinan kolektif guru bahwa organisasi guru  harus diurus oleh guru. Sejumlah guru bernada sumbang terkait organisasinya yang mayoritas tidak diurus oleh guru aktif.  Suara guru hanya bisa  lebih dimengerti oleh guru aktif.

Pribadi atau tokoh yang bukan guru aktif dan tidak sedang menjadi guru akan ada jarak antara dirinya dengan masalah guru.  Dia akan jauh dari mengerti apa yang sedang terjadi di ruang kelas, ruang rekan sejawat antar guru,  fenomena sekitar sekolah, dinamika sosial ekonomi politik guru.

Suara tikus akan lebih dimengerti oleh tikus. Jeritan suara tikus tak mungkin dimengerti oleh buaya. Tidaklah heran penanganan terkait derita guru dan perlindungan guru selalu lambat. Baru ditangani kalau sudah ramai, viral dan mendapatkan tekanan dari publik.

Makom guru memang idealnya dipimpin oleh jenis guru aktif. Guru aktif itu bagian dari masalah disekitar dirinya, bagian dari kehidupannya dan tidak ada jarak dengan para guru karena Ia berada di level yang sama.  Suara aspirasi guru akan mudah diterjemahkan karena dari jenisnya sendiri.

Faktanya dilapangan organisasi guru tidak ada satu pun pejabat yang mau jadi ketua ranting atau ketua organisasi guru ditingkat cabang (kecamatan). Hal lainnya hampir semua pejabat ingin menjadi ketua organisasi guru mulai dari jenjang kokab, provinsi dan pusat. Ahaa.

Setidaknya ada dua entitas “berdosa” terkait fenomena di atas. Pertama gurunya tak ada guam atau kemauan mengurus organisasinya sendiri.  Guru tipe ini bermental  budak, ingin jadi anggota saja.  Dan kedua sejumlah pejabat, pensiunan pejabat atau tokoh lain yang “nyosor” berkontestasi di organisasi profesi guru.

Ada dua juga solusinya agar organisasi guru diurus oleh guru sesuai undang-undang. Pertama para guru harus mulai waras dan berkemauan tinggi mengurus rumahnya sendiri.  Jangan mau jadi budak dan bermental ABS. Kedua para pejabat, pensiunan dan tokoh lain harus punya rasa malu jangan masuk di rumah yang bukan jenisnya

Ahaa,  sampai kiamat pun organisasi porfersi guru tidak akan  diakui  pemerintah sebagai organisasi profesi guru bila  organisasinya  diurus atau diketuai oleh bukan guru.  Sebaiknya pemerintah segera mengakui organisasi profesi guru yang organisasinya murni diurus guru.  Bubarkan organisasi guru yang didomplengi non guru!