Rabu, 08 April 2020

Buku Catatan IPS Andis


oleh: Yeyet Nuryeti, S.Pd.
SMPN 2 Cipanas, Lebak, Banten
Malam kian larut saat kutekan icon shut down, ku sudahi pekerjaanku malam ini. Berharap besok di kelas tampil memuaskan dan memberikan pelayanan prima bagi peserta didikku.  Aku guru IPS di sebuah sekolah negeri, kota kecil bernama Cipanas. Sepuluh tahun delapan  bulan Sudah aku mengabdikan diriku di sini. Walau perantau dedikasiku tak usah di ragukan.
Tahun 2007 aku lulus di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Setelah mendapat gelar sarjana pendidikan aku kuatkan tekad untuk merantau. Alasanku merantau sebenarnya menggelikan. Pada saat itu aku berharap rencana Abah menikahkanku dengan anak temannya, urung.  Perdebatan dengan abah  dan airmata yang menganak sungai dari kelopak mata emak mengiringi kepergianku. Dengan segenap tekad yang kuat aku berangkat merantau ke Negeri Jawara. Entah apa yang membawaku tempat itu. Tempat aku mengabdi saat ini. Sepuluh tahun lebih aku betah di sini dengan segala suka dan duka yang kualami.
Mentari bersinar redup. Hujan semalam masih menyisakan mendung, tapi tak mampu menghalangiku pergi menjalankan tugas. Sesampainya di gerbang ku rapihkan jilbabku yang sejak tadi berkibar-kibar tak karuan sepanjang perjalanan. Aku menumpang ojek tiap hari ke sekolah.
“Asalamu alaikum, Ibu!” Terdengar suara yang tak asing di telinga beruluk salam.
“Waalaikum salam warahmatullahi wa baarakatuh!“ jawabku sambil melempar senyum padanya.
“Ada apa, Andis?” tanyaku.
“Enggak ada apa-apa, Bu. Cuma mau menyapa Ibu saja! Jawabnya dengan ekspresi yang tidak biasa.
“Ada yang aneh dengan dia, tapi apa, ya?” Tanyaku dalam hati.
Setelah Andis undur diri dari hadapanku, kuperhatikan dia sampai lenyap masuk ke kelasnya. Andis adalah anak yang punya gelar trouble make. Berhadapan denganya selalu saja perlu kesabaran ekstra. Ada saja ulahnya tiap hari. Usilin teman sekelas sudah jadi makananya sehari-hari. Bolos pun sudah tak terhitung. Belum lagi lompat pagar, berkelahi hingga pemalakan terhadap adik kelasnya.
Pagi ini jadwal sangat padat. Jeda  di jam istirahat, hanya tiga puluh menit saja. Lelah itu sudah pasti. Apa boleh buat ini konsekuensi pekerjaan, harus kujalani dengan sepenuh hati. Sebelum bel dibunyikan aku menyiapkan segala rupa media pembelajaran. Hari ini materi pasar ekonomi kreatif. Di skenario pembelajaran yang kurencanakan, anak-anak diajak berkelompok untuk membuat rencana dagang kreatif.
Beberapa menit lagi bel akan di bunyikan, tanda masuk ke kelas. Persiapan bahan ajar yang akan kubawa ke kelas dirasa sudah cukup.  Aku ambil tumpukan buku catatan yang telah kukoreksi. Untuk di bagikan kemudian ke masing-masing pemiliknya. Setelah beberapa saat, tanganku terhenti di satu buku yang sudah sangat lusuh. Gambarnya hampir sudah tidak jelas. Di pojok kanan atas tertulis nama “Andis”. Entah apa yang menggerakan tanganku untuk membuka helai demi helai bukunya. “Dia, apa istimewanya dia?” batinku. Di halaman terakhir yang halamanya hampir saja terlepas dari halaman yang lain, ada tulisan yang membuatku ingin membacanya. Aku sangat yakin ini bukan catatan materi pelajaran.
“Assalamu alaikum, dengan tidak mengurangi rasa hormat. Andis  mau minta maaf atas kesalahan-kesalahan Andis selama ini, Andis tahu Andis salah. Tapi Andis tak tahu bagaimana caranya agar semua orang paham dengan apa yang Andis alami selama ini. Andis ingin bicara tapi bingung harus bicara ke siapa? Andis ingin di dengar, Andis ingin di perhatikan,Aandis sudah berusaha keras untuk berubah, tapi Andis gak bisa. Pada kesempatan iniAandis mau minta maaf yang sebesar-besarnya ke ibu, dan mohon doanya agar Andis bisa jadi murid ibu yang baik, Andis mau berubah bu, Terimakasih ibu, telah membuka mata Andis.
Bel berbunyi dan siswa-siswi yang tengah bermain di koridor dan lapangan sekolah pun bergegas masuk ke kelas. Dengan tertib, mereka duduk di kursi masing-masing dan membuka buku pelajaran. Duduk rapi dalam kelompok-kelompok kecil. Wajah-wajah yang memancarkan semangat itu turut menumbuhkan semangat dalam diriku. Wajah-wajah itu jugalah yang telah menjadi bagian dari keseharianku selama hampir sepuluh tahun terakhir.
Selain mengingat wajah setiap anak didikku, aku beruasaha hafal nama dan sifat mereka masing-masing. Bagiku sebagai seorang guru, mengetahui karakter anak merupakan hal yang paling penting. Karakter siswa di kelas tidak ada yang sama. Tingkat pemahaman mereka pun berbeda-beda. Misalnya, ada anak yang bisa IPS, tetapi kurang menguasai pelajaran lain. Ada juga anak yang kurang menguasai banyak pelajaran, tetapi bagus di SBK (Seni, Budaya, dan Keterampilan). Padahal anak tersebut bukannya tidak bisa, tetapi hanya butuh waktu agak lama atau mungkin butuh metode pengajaran lain. Kita tidak boleh menganggap dia bodoh atau sejenisnya karena setiap anak pasti mempunyai kelebihan.” Batinku berkecamuk.
“Hening sekali?” tanyaku dalam hati. Sambil tangan masih sibuk membuka lembar demi lembar hasil ulangan anak-anak. Ternyata bel pulang sudah di bunyikan 30 menit yang lalu, tapi aku masih terpekur melihat nilai-nilai ulangan harian peserta didikku, khususnya di KD 3.3. Apa yang salah dengan caraku mengajar, tahun kemarin dengan metode ini peserta didikku hampi 35 % mampu menembus rata-rata  95, 45 % ada di kisaran 80, sisanya tidak begitu buruk ada di atas KKM. “Apa yang terjadi dengan tahun sekarang?” tanyaku berulang kali dalam hati sambil mengurut kening.
Lembar demi lembar koreksian hasil ulangan peserta didik kuselesaikan, mengingat besok sudah harus memulai ke materi selanjutnya. Baru sampai pada lembar ke-30 aku sedikit kaget. Di uraian terjawab dengan tepat semua, siapakah ini? tanyaku dalam hati. Saat kulihat namanya di lembar bagian depan, Muhamad Andis, kelas IX B. Nah lho, dia?
Membaca namanya lamunanku menerawang ke dua minggu yang lalu. Kejadian yang membuatku sesak nafas. Ya, dia si troubel maker kelas. “Kalo dia tidak ada di kelas, damai rasanya seisi kelas,” kata salah satu temanya.
Siang itu di jam istirahat kedua. Aku ada jadwal di kelasnya. Belum juga sampai ke bibir pintu, tiba-tiba, “Braak...!” Ada suara keras berasal dari dalam kelas.
“Ada apa ini ? seruku, setengah berlari.
Anak-anak sudah riuh menyoraki yang sedang berkerumun tepat di depan meja guru. Saat melihatku sekejap anak-anak mundur, merapikan diri di bangkunya masing-masing. Tak ada satu pun yang menjawab pertanyaanku. Sejurus kemudian aku menyaksikan sendiri, kursi tertumpuk tiga ke atas. Kemudian terguling tak beraturan. Ternyata dia pelakunya, siapa lagi kalau bukan “Andis”.
 “Maksud kamu apa tadi, Dis?“ tanyaku saat kupanggil dia keruanganku setelah pelajaran usai. Reaksi yang aku terima bikin aku gregetan, sepertia biasanya slengean. Kali ini kupaksa dia, untuk memahami setiap kalimatku, ku tatap dia dalam-dalam. Hampir setengah jam aku bersamanya, tapi tak ada hasil, masih dengan gayanya yang cuek.
Menghadapinya aku berusaha cerdas dan bijak, aku harus bisa memahami bahwa setiap anak membutuhkan perhatian.  Seperti Andis ini, ada yang mencari perhatian dengan bersikap sulit diatur, atau malah sebaliknya, menjadi pendiam dan penurut. Aku tidak bisa menyamakan anak yang satu dengan yang lainnya, yang penting adalah metode pendekatan ke anak. Aku perlu dekat dulu dengan anak ini. Aku harus mengetahui dulu karakter anak itu seperti apa. Setelahnya, barulah aku bisa memutuskan bagaimana menghadapi anak tersebut.
Belajar dari kejadian yang lalu bagiku menjadi guru tak sekadar mengikuti ritme harian. Letak keprofesionalan seorang guru terletak ketika dia bekerja bukan untuk dirinya semata, tetapi juga kemauan untuk mengubah muridnya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Seorang Guru tak hanya mengajarkan ilmu, tapi bisa memahami setiap kondisi muridnya dan memberikan terapi yang baik. Sehingga, murid-muridnya menuju ke arah yang lebih baik. Dari Andis aku belajar jadi guru yang baik. Terimakasih, Andis!