Jumat, 24 April 2020

DAMPAK CORONA TERHADAP PESERTA DIDIK DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Oleh Rizki Mega Saputra, S.Pd.
Guru IPS SMPN Satu Atap Nyogan, Muaro Jambi, Jambi

Kasus Corona yang terdeteksi di Wuhan, China pertama kali dilaporkan ke WHO. Selama periode yang dilaporkan ini, virus belum diketahui. Kasus-kasus tersebut terjadi antara 12-29 Desember. Meskipun tingkat kesembuhan penyakit ini lebih dari separuh jumlah kasus terinfeksi, virus corona jenis baru yang pertama kali ditemukan di Wuhan ini telah menewaskan lebih dari 4.000 (Kompas:2020).

Pada awal sebelum Presiden Jokowi menyatakan ada warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona, masyarakat Indonesia lebih dominan memiliki rasa cemas. Mengapa? Sebab rasa cemas ini sendiri merupakan suatu yang irasional dan objek ketakutan atas wabah virus corona di Indonesia belum terbukti dan nyata. Namun kondisi kecemasan itu kini berubah menjadi ketakutan. Sebab rasa takut merupakan suatu yang rasional, karena sudah memiliki objek ketakutan yang jelas dan nyata. Yaitu, wabah virus corona sudah terjadi di Indonesia.

Sebenarnya rasa cemas dan ketakutan pada diri masyarakat atas wabah virus corona suatu yang manusiawi. Namun hal ini jika tidak diatasi, secara sosiologis akan menimbulkan disorganisasi dan disfungsi sosial di masyarakat. Mengapa?

Sejak diberlakukannya Social distancing memberi dampak bagi pendidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendukung kebijakan pemerintah daerah untuk meliburkan sekolah karena penyebaran virus corona yang semakin mengkhawatirkan. Dampak penyebaran COVID-19 akan berbeda dari satu wilayah dengan wilayah lainnya. Kami mendukung kebijakan (meliburkan sekolah) yang diambil pemda, ujar Nadiem (Antara:2020).

Cultural shock
Kajian ilmu sosiologi memandang bahwa keputusan yang dikeluarkan pemerintah sudah tepat saat ini, namun ada terjadi sebuah kondisi yang dikatakan sebagai cultural shock atau gegar budaya. Lundstedt mengatakan bahwa gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri yang merupakan reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru (Mulyana:2005)

Culture shock adalah hal yang wajar dialami oleh seorang individu sebagai bentuk reaksi atas hilangnya sebagian atau semua tanda  tanda dalam kebudayaan baik norma dan nilai yang selama ini dianutnya. Kebiasaan yang terjadi dan dialami para peserta didik adalah mereka menerima materi dari apa yang di berikan oleh seorang pengajar, faktanya meskipun seorang pengajar menggunakan metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tetap saja sebagai penerima bukan sebagai inovator.
Permasalah banyak muncul ketika setiap peserta didik harus siap dan cepat menerima perubahan cara belajar yang menggunakan semua serba teknologi, sehingga menyebabkan terjadinya kekagetan bahkan kepanikan yang luar biasa ketika para peserta didik tidak bisa mengikuti pembelajaran yang diinginkan oleh para pengajar.

Sosialisasi dan Interaksi
Proses pembelajaran sebenarnya masuk ranah pada kajian sosioalisasi, karena sekolah merupakan lembaga atau agen yang berpangaruh pada proses pembelajaran. Jika tidak terlaksana dengan baik proses sosialisasi itu maka otomatis menyebabkan proses sosialisasi tidak sempurna yang kemudian nanti akan berpengaruh pada proses sub tindakan menyimpang dari norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

Memang proses sosialisasi dan interaksi itu bukan menjadi kesatuan yang harus dilalui oleh individu secara utuh karena interaksi itu bisa berlangsung meskipun tidak ada tatap muka yang penting adanya syaratnya yaitu ada orang yang menyampaikan pesan, pesan yang disampaikan dan orang yang menerima pesan.

Setelah pelaksanaan himbauan pemerintah untuk melaksanakan kegiatan semua dari rumah termasuk pembelajaran yang dilaksanakan dengan sistem jarak jauh maka muncul berbagai pemasalahan yang diakibatkan Corona dirasakan oleh masyarakat terutama para peserta didik terkait belajar dirumah.

Para peserta didik mengeluh akan belajar dirumah dipenuhi dengan tugas rumah yang diberi oleh masing-masing guru terlalu banyak, ditambah lagi terkendala oleh jaringan Web, teknologi yang kurang memadai, hingga sinyal. Selain itupula kurang efektifnya belajar dirumah karena mereka belajar otodidak(sendiri) yang faktanya banyak orang tua yang tidak bisa mengajari materi yang ada dibuku sehingga orang tua hanya bisa membimbing anaknya saja.

Tujuan pembelajaran dari rumah akhirnya tidak berjalan dengan seperti apa yang diharapkan karena banyak faktor yang menyebabkan pembelajaran itu tidak efektif. Seharusnya ada tindakan khusus atau peraturan yang ditetapkan pemerintah untuk peserta didik yang ketahuan tidak belajar dirumah meskipun pembelajran itu tidak harus melalu online yang intinya adanya pembelajaran yang dilaksanakan oleh peserta didik dirumah maka dengan begitu mencegah adanya crowd atau kerumunan yang menyebabkan penularan corona semakin banyak.

Pesan saya sebagai pengajar, berikanlah variasi pembelajaran kepada peserta didik kita dalam kondisi seperti ini dengan berbagai metode pembelajaran dengan memanfaatkan beberapa fitur kelas online, video pembelajaran, buku digital ataupun perintah pengerjaan menggunakan online namun hasil yang di harapakan dalam bentuk penulisan tangan. Sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dan tertekan yang nantinya akan menyebabkan terjadi cultural shock dan tifak mengganggu emosional peserta didik kita.

Semoga kita semua dapat memutus rantai kehidupan Virus Corona.