Minggu, 05 April 2020

EMPAT JEMPOL UNTUK SAYA


Oleh : Drs. EFRIZAL
SMPN. 1 VII Koto Sungai Sarik
Kabupaten Padang Pariaman. Sumatera Barat

“ Alam Takambang  jadi Guru “. Aku bangga jadi guru, menurut saya juga menurut kita semua, guru profesi yang paling mulia dari semua profesi yang digeluti manusia sepanjang hayat, menekuni   profesi guru merupakan tabungan sisi lain untuk menjadi bekal di akhirat nanti.

Hari demi hari saya lalui lorong – lorong waktu pengabdian sebagai guru,  dalam diri ini bergelora rasa bangga dengan semangat dan dedikasi yang tinggi saya selalu aktif diberbagai organisasi profesi untuk mengembangkan diri terutama pada organisasi musyawarah guru mata pelajaran ( MGMP ). pada awalnya Aktif di MGMP mapel Ekonomi pada waktu itu masih memakai kurikulum 1984, akhir mata pelajaran ekonomi, geografi dan sejarah di SMP disatukan menjadi mata pelajaran IPS seperti yang kita kenal sekarang ini. Kegiatan organisasi ini selalu diikuti dengan aktif, bahkan  sudah sering dipercaya duduk dalam struktur kepengurusannya sampai sekarang.

Kegiatan pengembangan diri ( MGMP ) selalu di ikuti secara aktif mulai dari tingkat Kabupaten sampai MGMP Provinsi. Berbagai ilmu dari nara sumber serta rekan sejawat sangat banyak membantu saya dalam melaksanakan tugas disekolah, bahkan sudah berbagai kesempatan pelatihan dan workshop tingkat daerah, provinsi maupun Nasional saya ikuti, dan bahkan sudah pernah dipernah mendapat kesempatan dipercaya sebagai Instruktur Nasional dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi serta Implementasi Kurikulum 2013.

Pengalaman yang berharga pertama sekali saya alami lulus sebagai CPNS dari hasil seleksi dengan pesaing – pesaing lulusan perguruan tinggi didaerah ini yang nota bene telah di akui kualitas lulusannya, dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi tempat saya menyelesaikan pendidikan, maka dari itu menjadikan pribadi saya merasa terpicu untuk selalu mengasah diri agar jangan sampai tertinggal dari yang lainnya.

Awal pengalaman yang sangat berharga saya peroleh terjadi ketika kegiatan MGMP Mata pelajaran Ekonomi tingkat provinsi pada tahun 2001 tepatnya dibulan februari, pesertanya merupakan guru – guru mata pelajaran Ekonomi SMP dari berbagai daerah dalam provinsi ini. Pengalaman itu saya peroleh ketika seorang Nara Sumber, beliau juga merupakan seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi membahas materi Kebutuhan.

Beliau menguraikan materi kebutuhan manusia, mulai dari jenis – jenis kebutuhan manusia sampai pada jenis - jenis alat pemenuhan kebutuhan manusia. Panjang lebar dan terinci telah dipaparkan oleh nara sumber tersebut dengan jelas, saya sangat memperhatikan dengan cermat penjelasan demi penjelasan yang dipaparkannya, namun ada satu hal yang membuat saya pingin lebih tahu lagi secara terinci tentang materi jenis – jenis barang menurut Kelangkaannnya, penjelasan yang saya peroleh dari defenisinya bahwa jenis – jenis barang menurut kelangkaannya merupakan barang Ekonomi yakni barang yang diperoleh dengan pengorbanan, contoh makanan, pakaian dan sebagainya. Barang Bebas yakni barang diperoleh tanpa pengorbanan, contohnya Air dan udara.

Ketika saat tanya jawab berbagai pertanyaan diajukan oleh para peserta dengan antusianya. Sampai giliran saya, bukan mengajukan pertanyaan melainkan sedikit mengoreksi pernyataan yang telah diberikan nara sumber; Pak ! Contoh dari barang ekonomi dan barang bebas tidak tepat, maksudnya Makanan, pakaian belum tentu barang ekonomi, sedangkan Air dan Udara belum tentu barang bebas. Sebelum saya menerima jawaban atau penjelasan dari nara sumber, salah seorang dari peserta bertanya pada saya; Bapak tamat dari mana ?, dengan polos dan jujur saya jawab dari Jambi. Diluar dugaan terdengar suara yang seakan – akan dikomandoi dengan serentak bagaikan suara gerombolan Tawon mengatakan Oooo...Jambi!

Merasa mendapatkan cemooh, dengan sedikit emosi saya memberikan argumen melalui sebuah narasi pada nara sumber; Pak! nanti ketika bapak pulang kerumah ditengah jalan dapat musibah kenderaan bapak tabrakan, lalu dibawah kerumah sakit, di Infus dan dikasih Oksigen setelah sembuh pasti dibayarkan?, atau kenapa ada orang menjual air dan kenapa ketika kita setelah mengisi ban mobil kok dibayar ?. Bagaimana pula dengan Kado atau sesuatu benda berharga yang diterima seseorang dari orang lain dengan Cuma – Cuma?. Berdasarkan defenisinya, saya berani mengatakan sebuah mobil mewah bisa dijadikan barang bebas atau sebaliknya sampah yang tak berguna bisa jadi barang ekonomi.

Sebelum nara sumber memberikan tanggapannya, beliau mengatakan ; kalau bisa kaki saya di angkat kedua – duanya maka empat jempol untuk bapak itu ( maksudnya untuk saya ), mendengar pernyataan nara sumber, karena keluguan secara spontanitas saya berdiri seraya berkata sambil menepuk dada “ ini Sarjana Kubu “! ( sedikit melampiaskan kekesalan atas cemoohan para peserta diawal tadi ). Akhirnya nara sumber mempertegas bahwa contoh yang tepat dari semua jenis – jenis kebutuhan dan jenis – jenis alat pemenuhan kebutuhan disesuaikan dengan masing - masing defenisinnya.Walaupun hanya satu hari kegiatan MGMP yang  saya ikuti ini berlangsung, namun pengalaman yang berharga diperoleh sangat berkesan sekali. 

Kesemuannya itu dapatlah disimpulkan :

Pertama, Kita sebagai guru harus memperkaya diri dibidang pengetahuan dari berbagai sumber, tepatnya dengan memakai motto Alam takambang jadi Guru, agar tidak terjadinya pola pikir yang sempit dan kaku. Seandainya peserta MGMP saat itu telah menerapkan pada diri masing – masing, niscaya Mereka tidak akan pernah mencemooh ketika saya mengoreksi pernyataan nara sumber tersebut.

Kedua, Bahwa ilmu sosial merupakan salah satu ilmu yang selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan masyarakat setiap waktu, dengan kata lain ilmu sosial merupakan ilmu yang Dinamis dan yang selalu harus diikuti perkembangannya dari waktu kewaktu.

Ketiga, janganlah terlalu cepat menyimpulkan pernyataan seseorang dengan hanya mengetahui background lembaga pendidikannya saja. Kita sebagai Audien hendaknya mendengar, mengamati dengan cermat informasi yang kita terima sebelum memberikan tanggapan dan kesimpulan, sebab kualitas seseorang tidak selamanya dilatar belakangi background lembaga pendidikan yang telah dilaluinya, melainkan dapat juga dilihat dari kualitas isi pernyataan yang disampaikannya.
Sepenggal pengalaman yang sangat berharga dan berkesan sekali sepanjang karir saya sebagai guru, inilah salah satu momentum yang selalu memicu saya untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan potensi diri dalam melaksanakan profesi, dengan kata kunci “ Pengalaman Guru yang paling Berharga “.