Kamis, 09 April 2020

Kisah Rantau di Negeri Pendatang (2)


Panggilan untuk menaiki pesawat sudah berkumandang, akhirnya aku akan merasakan naik pesawat pertama kalinya. Kebetulan sekali tempat dudukku di pinggir jendela dan di tengah. Pramugari menerangkan bagaimana menggunakan sabuk pengaman dan keadaan darurat. Aku mengikutinya sambil berdoa di dalam hati. Pesawat pun mulai take off, rasanya tidak seserem yang aku bayangkan. Tidak ada kendala apapun selama di pesawat, udara cerah membuatku bisa melihat gedung-gedung dari atas seperti melalui google earth.

Semakin ke atas ada sedikit kesesakan terasa di paru-paru karena perubahan tekanan, aku menikmati perjalanan ini. Melalui jendela aku bisa melihat awan strato cumulus putih yang cantik seperti tumpukan kapas. Ketika pesawat melalui awan tersebut ada getaran sedikit seperti naik kereta api yang melewati persambungan rel atau naik bus yang melewati jalan sedikit bergelombang. Kurang lebih rasanya naik pesawat seperti naik bus atau kereta api,hanya saja di lapisan stratosfer yang tidak akan terkena petir, tapi ini khusus pesawat bermesin lebih dari satu.

Kurang lebih perjalanan menuju Balikpapan  sekitar 2 jam tanpa transit. Ketika sudah mendekati Balikpapan dan pesawat menurun perlahan, aku disajikan pemandangan yang tak kalah elok, laut pantai dan daratan.  Di laut terlihat instalasi pipa gas atau minyak lepas pantai, di daratan terlihat bangunan, hutan dan sungai atau jalan laksana ular. Pesawat landing dengan sedikit kasar, tapi tidak menakutkan. Perasaan lega terasa sekali, ternyata semua berjalan baik. Aku tiba pukul sepuluhan WIB,tetapi karena aku sudah ada di Balikpapan maka jarum jam nambah satu jam, pukul 11.00 WITA.

Hawa panas menerpa setelah 2 jam ber-AC. Bandara Sepinggan lama tidak sebesar bandara yang sekarang.  Aku mengikuti para penumpang yang berjalan cepat-cepat menghindari teriknya matahari.  Saat itu koperku aku bagasikan, ternyata menunggu koper datang lumayan lama, aku menunggu sambil membalas telefon dari PIC yang ada di Bontang dan menanyakan kabar suami. Sesekali kulihat sekelilingku, terdapat ornament suku dayak yang unik.

Setelah hampir setengah jaman menunggu koperku datang, aku segera mengambilnya dan berjalan mencari petugas untuk menanyakan counter pesawat perusahaan berikutnya yang akan aku tumpangi. Karena yang diterima saat itu hanya aku akhirnya pihak yayasan menaikkan aku ke pesawat perusahaan, apabila naik travel atau jalur darat jatuhnya biaya sama saja. Aku langsung naik ke lantai 2 menuju counter, belum ada antrian sama sekali. Petugas counter memberitahuku untuk menunggu pesawat sampai pukul 1, karena waktu keberangkatan sekira pukul tersebut. Tempat duduk di bandara masih sedikit akhirnya aku menunggu di tangga.

Panggilan menaiki pesawat sudah terdengar, aku segera berjalan mengikuti arahan petugas, ini kali ke-2 menaiki pesawat dalam satu hari. Masuk pesawat langsung disambut awak kabin yang ramah dan dipersilahkan duduk di tempat yang tersedia, pesawatnya lebih kecil dibanding pesawat pertama karena cuma bermesin satu, tapi pilotnya sepertinya sudah piawai, tidak ada getaran sedikit pun. Kali ini teman sebangku adalah ibu-ibu pegawai kementrian BUMN yang berasal dari Jawa Tengah.  Beliau menceritakan bahwa tempat yang dituju  itu bagus. Kami bercerita segala hal sambil menunggu waktu landing. Sesekali kutengok jendela pesawat melihat hamparan lahan tanpa bangunan dan kelokan sungai dan jalan. Karena pesawat bermesin satu maka kami terbang di troposfer, lapisan atmosfer terendah dan tempat terjadinya cuaca.

Pesawat landing dengan mulus, aku langsung disambut PIC yayasan dua ibu-ibu dan satu bapak-bapak sebagai sopirnya. Saya lupa nama beliau karena kejadiannya yang sudah lama. Perkenalan singkat dilakukan, dengan mengendarai avanza aku menuju rumah dinasku bersama rekan kerja yang sudah lebih satu tahun bekerja di sekolah yang akan aku tempati. Oh, iya aku mengisi lowongan guru Geografi di SMA V karena guru tetapnya sedang melanjutkan S2.

Ternyata benar, seperti kota tersendiri daerah yang kumasuki. Jalanan besar seperti di film Hollywood, bangunan modern dan perumahan modern yang disebut PC disini. Bu Uli akhirnya aku ingat namanya, menjelaskan bahwa kawasan ini adalah kawasan tertib lalu lintas. Sekolahnya adalah salah satu sekolah favorit di kota Bontang, kota yang berasal dari singkatan bond dan pendatang atau persatuan pendatang yang kurang lebih 6 jaman dari Balikpapan menggunakan jalur darat.

Rumah dinasku yang berada di PC 6 merupakan rumah klasik berkamar 3. Mbak Laily yang akan menjadi teman serumah menyambutku dengan ramah, aku menempati  kamar depan. Setelah perkenalan singkat dan pihak yayasan yang mengantarku pulang ke rumah masing-masing, aku pun memasuki kamar baruku. Lumayan luas dengan ukuran sekitar 3 kali 2,5 meter. Setelah makan malam,ba’da Isya aku pamit ke mbak Lel untuk istirahat terlebih dahulu. Hari ini benar-benar pengalaman yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku.

To be continue

Lusiana Rusiati,S.Pd.
MTsN 2 Bojonegoro, Jatim