Sabtu, 11 April 2020

Kisah Rantau di Negeri Pendatang (3)


Pada 1 Februari 2012 aku langkahkan kakiku untuk yang pertama kalinya ke Yayasan Y dengan diantar mbak Lel. Setelah perkenalan singkat dengan pihak yayasan, aku diantar Ibu Anda menuju ke sekolah yang letaknya dari yayasan tinggal menyeberang jalan. Dalam perjalanan itu aku diberi pembekalan lebih lanjut mengenai SMA yang aku tuju, terutama sifat murid di sini yang agak berbeda dengan yang di Jawa. Sambutan pihak SMA sangat ramah, baik guru maupun stafnya.

Hari pertama diisi dengan perkenalan dan tour mengelilingi sekolah. Berhubung sekolah merupakan sekolah perusahaan maka sebagian besar peserta didik adalah anak dari karyawan perusahaan tersebut. Sekolah ini sangat lengkap untuk ukuran fasilitas, mulai dari setiap kelas ber-AC dan memiliki LCD proyektor hingga terdapat Al Qur’an yang ditata rapi di depan kelas. Kantin dan koperasi sekolah juga ada dan lengkap, ruang parkir pun luas.

Setiap pagi anak-anak melakukan kegiatan beribadah sesuai agamanya. Di sini multikultural dari Sabang sampai Merauke dengan semua agama ada.  Aku langkahkan kakiku ke ruang kelas pertamaku hari ini. Riuh sekali ruang kelas yang kutuju. Anak-anak kaget ada guru yang masuk, karena biasanya hanya tugas. Dialek peserta didik yang cepat membuatku lebih bersemangat menjalani hari ini. Mereka berceloteh menguji mental guru baru yang kutanggapi dengan riang, benar kata Bu Anda, aku harus menyiapkan suara ekstra keras di SMA ini.

Langkah pertamaku tentunya penguasaan kelas. Menurutku jika kita sudah mampu menguasai kelas, maka pelajaran pun berjalan dengan lancar. Anak-anak ternyata cerdas-cerdas, tidak seperti stereotip orang Jawa yang kadang bilang bahwa luar Jawa masih belum maju begitu pula dengan peserta didiknya. Hal itu terhempas begitu saja, mereka tidak berbeda jauh dengan sekolah unggulan di Jawa.

Aku ditugaskan mengajar kelas X dan XI. Anak IPS yang terkenal agak badung memang benar adanya, tetapi dengan pendekatan persuasif seperti teman lama-lama mereka mau mengikuti gurunya. Memang benar siswa yang terkenal badung membutuhkan perhatian dan mereka membutuhkan guru yang mengikuti perkembangan zaman pada masa mereka.

Aku menikmati pekerjaan ini, apalagi di sini gurunya pun gaul-gaul seperti siswanya. Mereka menerima pendatang dengan baik atau tangan terbuka. Banyak kegiatan  yang diadakan di SMA ini, siswanya pun sangat kompetitif. Hampir semua perlombaan diikuti siswa di sini,bahkan ke luar Pulau pun di-jabanin. Mereka sangat antusias dengan perlombaan, apalagi didukung kondisi finansial yang mencukupi.

Minggu pertama aku diajak teman-teman guru muda untuk mengelilingi kompleks perusahaan.  Fasilitas kompleks ini sangat lengkap, mulai dari bandara, rumah sakit, toserba, kolam renang, lapangan golf, bowling, fitness, sauna dan masih banyak lagi fasilitas lainnya. Mau masuk ke lingkungan ini pun sangat ketat, melewati berbagai prosedur yang tidak bisa dianggap enteng. Kecepatan kendaraan pun dibatasi hanya 40 km/jam dan ada alat pendeteksinya . Siswa yang belum cukup umur membawa kendaraan pribadi disediakan bus sekolah. Rumah-rumah memiliki  kelas sendiri sesuai jabatan orang tuanya.

Untuk bentang alamnya di sini berbukit-bukit kecil dengan rawa-rawa serta sungai daerah hilir. Kawasan perusahaan ini berbatasan langsung dengan laut.  Meski modern di sini masih mempertahankan kawasan alaminya di beberapa tempat sehingga banyak kita jumpai monyet dan hewan lainnya. Ada peringatan awas ada buaya di beberapa tempat terutama dekat sungai kecil. King kobra banyak juga ditemukan di sini. Karena Kalimantan adalah pulau tua maka kondisi tanahnya pun tanah merah dan rawa yang sulit ditanami. Untuk air bersih , perusahaan mengolah air laut menjadi air tawar.

Hampir dua minggu di sana aku belum ke luar dari kompleks, melihat kota Bontang yang sesungguhnya. Akhirnya akhir pekan ini teman-teman mengajak makan di luar. Aku gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ternyata kota Bontang tidaklah besar, banyak juga perumahan dari kayu karena tanahnya banyak yang berawa. Ada kampung tertentu yang sesuai dengan suku yang mendiaminya. Terdapat juga mall di sana,dan pasar tradisional yang berbeda sistemnya dengan di Malang.

Pasar tradisional di sini untuk pembelian ayam dan telur bukan per-kilo melainkan per-ekor dan per-rak piring.  Aku kaget pertama kali mendengarnya karena tidak terbiasa. Nanas di sini akan selalu aku rindukan karena besar-besar, manis dan murah serta sudah dibersihkan. Pasar tradisional juga menyediakan aneka hasil laut segar. Lumayan lengkap di sini. Berbagai bumbu masakan bisa didapat dengan mudah, mungkin karena banyaknya suku maka bumbu di sini pun lumayan lengkap. Rata-rata pedagangnya dari suku Bugis yang tidak mengenal kata kamu karena bagi mereka kata "kamu" tidak sopan,sehingga percakapan menggunakan kata ganti "kita". Aku terpana dengan berbagai hal baru yang aku temukan.

Lusiani Rusiati, S.Pd.
Guru IPS MTs Negeri 2 Bojonegoro, Jatim