Rabu, 15 April 2020

Kisah Rantau di Negeri Pendatang (4)


Sudah hampir 3 bulan aku ada di Bontang dan banyak hal baru yang aku temukan di sana. Setiap bulan ada acara pengajian lingkungan atau RT plus arisan. Setiap acara selalu ada makanan berat di sana. Uniknya makan di sini harus habis, dan yang muda disuruh membawa sisa makanan pulang kerumah hingga penuh sesak kulkas di rumah dinas.
Sayur mentah yang banyak dijumpai di pasar adalah pare. Untungnya Mbak  Lel suka sehingga menu sarapan kami sering berupa tumis pare. Pisang di Bontang juga banyak, harganya lebih murah dibandingkan di Jawa.  Orang Bugis sering membuat pisang goreng atau pisang keppek yang dicocol ke sambal bajak atau tomat campur terasi, aku ternganga awalnya.

Di Bontang kita tidak mengenal musim hujan dan musim kemarau seperti pelajaran yang sering kita dapatkan dari SD dulu. Di sini hujan sepanjang tahun, tidak ada musim kemarau yang panjang. Habis hujan bisa langsung terang benderang alias panas. Untuk mendapatkan hawa sejuk setelah hujan agak sulit didapatkan.

Pernah pada suatu ketika aku pulang pada jam istirahat siang untuk makan. Kebetulan istirahatnya lumayan lama satu jam lebih, bisa digunakan untuk memasak dan sholat. Aku pulang sendirian karena Mbak Lel ada urusan. Setelah selesai ishoma aku bersiap-siap mau berangkat sambil menunggu hujan reda. Untungnya waktuku masih ada, ketika ke luar rumah betapa kagetnya aku bertemu dengan hewan besar yang aku kira adalah buaya. Aku dilanda ketakutan luar biasa, sambil berdoa aku beranikan diri agak mendekat. Hewannnya sudah naik hampir ke teras rumah, lebih dari satu meter lah kira-kira panjangnya. Setelah agak dekat dan kuamati ternyata bukan buaya tetapi mirip kadal besar atau komodo. Aku terus berdoa di dalam hati dan terus mengawasi hingga akhirnya si hewan menghilang di samping rumah.
Segera aku gas motorku ke sekolah. Setiba di sekolah aku ceritakan pengalamanku tadi ke guru-guru di sana. Mereka menanggapi ceritaku dengan antusias.
“Apa ya Bu Rin hewan tadi itu?” tanyaku kepada Bu Rin yang bangkunya berdekatan dengan bangkuku.
“Sepertinya itu tadi biawak bu, biasanya biawak keluar ke darat kalau hujan deras terus reda dan panas.” jelas Bu Rin.
“Saya tadi sudah mengira kalau buaya awalnya bu, takut sekali.”
“Iya Bu Lusi, tapi ndak terlalu berbahaya kok,pokok gak nyembur gak bahaya.” Jelas Bu rin lagi. Bu Rin adalah guru bahasa Inggris yang asli dari Salatiga. Setelah bel berbunyi aku segera masuk ke kelas. Sekarang anak-anak sudah lebih kondusif.
Lingkungan di sini sangat agamis, mushola dan masjid selalu dipenuhi warganya yang sholat berjama’ah.  Siswi yang beragama Islam mayoritas menggunakan jilbab.  Toleransi di sini sangat tinggi. Tidak ada pilih-pilih teman berdasarkan agamanya. Guyub rukun semua, suku yang beragam juga tidak menjadi bahan ejekan di sini.

Guru di SMA ini sebagian besar dari suku Jawa dan beberapa suku lain yaitu Bali, Minang, dan Bugis. Bu Ira namanya yang asli Bali, beliau sangat ramah dan kesayangan anak-anak. Beliau juga sangat pandai memasak.  Sering kali beliau bawa masakan ke sekolah untuk di makan bersama guru-guru. Dari Minang ada bu Herfen, beliau guru yang pandai dan berjiwa peneliti. Beragam penghargaan telah diperoleh beliau , termasuk menjadi guru prestasi tingkat nasional. Beliau asli Minang tetapi lahir di Jakarta. Kemudian dari Bugis ada Mbak Adia, beliau suku Bugis yang lahir di Bontang. Orangnya sangat ceria dan ramai. Ada mbak Adia bisa dipastikan suasana menjadi hidup. Keragaman ini membuatku menjadi lebih bersyukur karena diberi kesempatan untuk berada di tanah rantau ini.

To be continue