Rabu, 08 April 2020

Kisah Rantau ke Negeri Pendatang (1)



Tanggal 28 Januari 2012 adalah salah satu tanggal bersejarah dalam hidupku. Awal dari petualangan kecilku mengepakkan sayap di tanah rantau Pulau Kalimantan. Pukul 10.00 WIB aku menaiki kereta dari Kota Malang menuju Jakarta ditemani suami. Tujuannya untuk melakukan tes terakhir sebelum berangkat ke pulau seberang. Kenapa harus ke Jakarta dan tidak berangkat dari Malang? Semuanya karena aku ikut tes kerja di SMA swasta di Kota Bontang, Kalimantan Timur melalui lowongan kerja yang di-share oleh Perguruan Cikini Jakartadi internet.

Tes awal yang dilakukan di Kota Malang sudah selesai sehingga aku harus ikut tes terakhir di Perguruan Cikini. Saat itu kesedihan mulai menggelayuti karena hari perpisahan dengan suami semakin dekat, suami masih harus kuliah di Malang. Perjalanan kereta Malang-Jakarta merupakan perjalanan pertamaku menaiki kereta tujuan jauh. Di sepanjang jalan aku melihat berbagai bentang lahan dan alam yang beraneka ragam. Semakin ke barat semakin merah tanah yang kujumpai dan semakin datar karena menuju ke barat bagian utara.

Kereta tiba pagi hari di Bekasi,aku turun dulu di sana untuk menginap semalam di rumah Masku sebelum tes keesokan harinya. Hawa panas mulai terasa sesaat setelah keluar dari kereta api. Hawa Jakarta memang sedikit berbeda dengan di Malang. Di Jakarta bentang lahannya juga datar, jalannya lebar tetapi lalu lintas padat merayap. Itu juga pengalaman pertama kali menaiki angkot di sana, karena istri masku bisa menjemputnya di pasar yang tak jauh dari perumahan tempat mereka tinggal. Aku tidak bisa berjumpa dengan Mas karena dia sedang ada dinas ke luar kota.

Sambil beristirahat dan melepas kangen dengan keponakan, aku dan suami meminta saran perjalanan untuk esok hari karena kami berdua sama-sama masih belum pernah ke Jakarta. Perguruan Cikini terletak di Jakarta Pusat, jadi kami harus berangkat menggunakan  kereta pukul 6 pagi dan turun di Stasiun Gambir. Tahun itu kereta Bekasi –Jakarta sangat sesak, kami sudah berangkat pagi pun masih tidak mendapatkan tempat duduk. Ternyata perjalanannya cukup jauh, was-was kelewatan stasiun juga menghantuiku.

Akhirnya kami tiba di Stasiun Gambir, stasiun yang lumayan besar menurutku. Keluar dari sana kami dihadang oleh banyak tukang ojek, bemo dan taksi. Kami memutuskan berjalan sedikit keluar dari area stasiun. Melihat kondisi keuangan kami, kami memilih moda transportasi  bemo atau bajai. Terakhir naik bemo waktu masih SD berkunjung ke rumah bulek di Malang. Ternyata Stasiun Gambir ke Perguruan Cikini lumayan dekat, tapi sopir bajai memutar-mutarkan kami ke perumahan di Jakarta pusat biar agak lama dan meminta ongkos agak banyak. Sepertinya kelihatan sekali kami orang kampung, Hahahahah...

Setelah bertanya dengan satpam, kami dipersilahkan masuk untuk bertemu dengan PIC yang ditugaskan mengetesku. Setelah basa-basi sedikit akupun mulai di tes sampai petang, karena keesokan harinya harus sudah berangkat ke Bontang. Tesnya hampir sama dengan tes sebelumnya yang berjalan secara online, ini hanya untuk pemantapan dan pembekalan sebelum berangkat ke tanah rantau. Pesawatku berangkat pukul  8 pagi dan aku harus berangkat subuh dari samping Monas.  Aku dan suami diinapkan oleh Perguruan Cikini di hotel kecil dekat Monas. Malam itu kami sempat diajak berputar-putar melewati  Monas dan Tugu Tani yang sempat viral karena kasus tabrakan kala itu.

Jam 3 pagi aku mulai bersiap diiringi kesedihan yang luar biasa karena pertama kalinya kami berpisah jauh dan lama. Kami menaiki taxi dalam diam, terhanyut dengan pikiran masing-masing. Tiba di Bandara Soekarno-Hatta aku semakin tertekan, apalagi aku belum pernah naik pesawat. Ini adalah pertama kalinya saya naik pesawat. Takut salah, takut ketinggalan pesawat dan tersesat campur jadi satu. Karena waktu lumayan mepet aku langsung masuk, dan suami meneruskan perjalanan kembali ke Malang. Tempat tungguku berada di lantai 2, dan aku berusaha beradaptasi sembari berdoa di dalam hati. Aku mulai bertanya kepada petugas sampai akhirnya aku berada di ruang tunggu yang benar. Di sana aku mulai SKSD dengan beberapa penumpang karena bagaimanapun ini pengalaman pertamaku.

Untungnya ada ibu-ibu yang baik hati mau mengajariku bagaimana naik pesawat.  Beberapa penumpang menanyakan tujuanku dan bilang bahwa tempat yang akan kukunjungi adalah perusahaan gas terbesar di Indonesia, kota di dalam kota.

To be continued

Lusiana Rusiati,S.Pd.
MTsN 2 Bojonegoro, Jatim