Sabtu, 25 April 2020

Mengejewantahkan Makna Kata “Mudik” Yang Jadi Viral.

Oleh Ahmad Ruhiat, SS

Sebuah kata memiliki makna yang jujur dan apa adanya. Tiap kata tak bisa lepas dari maknanya dan lekang dimakan usia. Makna dari tiap kata selalu hidup saat dituturkan, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Makna dan kata akan abadi selama masih digunakan penutur bahasanya.

Bagaimanakah bila penutur bahasa  mengejewantahkan makna tunggal atau lebih dr suatu kata berdasarkan kondisi waktu dan kejadian tertentu?
Semisal, "Jika ada orang bertanya, bilang saja, aku pulang kampung sehari sebelum puasa, karena tidak bisa mudik di pas lebaran nanti karena ada himbauan tak diperkenankannya mudik sebagai upaya pencegahan penularan covid-19".

Sesuai maknanya. Tiap pertanyaannya selalu ada jawaban. Sebagaimana tiap kata ada maknanya. Mungkin kajian sempit ini bisa membuka wawasan yang lebih luas.

Tradisi mudik dan/atau pulang kampung  lazimnya dilakukan sebulan, seminggu, atau beberapa hari sebelum lebaran, bahkan ada juga yang dilakukan setelah lebaran. Ini hanya soal  timing dan sesuai dgn yang bersangkutan berkehendak.

Kata “mudik” dalam kbbi.web.id dan kbbi.kemdikbud.go.id , memiliki dua arti serupa. Pertama, mudik berarti (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman). Kedua, pengertian mudik adalah pulang ke kampung halaman.

Dalam versi Jawa, mudik berasal dari kata Jawa yaitu, 'mulih dilik' yang artinya pulang kampung. Kata Mudik berasal dari singkatan kata Jawa Ngoko 'mulih dilik' yang artinya 'pulang kampung'. Sedangkan dalam kamus bahasa Sunda R Satjadibrata (Cet. V, 2019), mudik artinya menuju girang, yaitu menuju sumbernya, hulunya, asal mulanya.

Istilah “mudik” sendiri di Tanah Air selalu identifk dengan tradisi Lebaran umat Islam (pulang ke kampung halaman untuk bersilahturahim dan/atau berkumpul bersama keluarga dalam waktu tertentu).  Namun tradisi mudik sudah menjadi tradisi khalayak umum yang tidak membatasi status sosial, suku dan agama,  seluruh masyarakat biasa suka bermudik setiap tahunnya.

Tulisan ini tdk membahas soal boleh dan tidaknya mudik tahun ini. Namun lebih menyoroti soal pemaknaan istilah “mudik” yang dikaji berdasarkan khazanah ilmu jenis-jenis makna kata dalam Bahasa. Hal ini berawal dari cuplikan interview antara Presiden Joko Widodo dan presenter Najwa Shihab yang ramai diperbincangkan warganet di media sosial. Dalam video yang diunggah Najwa Shihab ke Instagram pada Rabu (22/4/2020), Jokowi mengatakan bahwa mudik tidak sama dengan pulang kampung.

Awalnya Najwa mengungkapkan data dari Kementerian Perhubungan tentang banyaknya orang yang mudik lebih awal. "Kontroversi mudik, data dari Kemenhub sudah hampir 1 juta orang curi start mudik. Faktanya sudah terjadi penyebaran orang di daerah, bapak," kata Najwa. Jokowi menjawab, "Kalau itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung".

Najwa langsung mempertanyakan perbedaan pulang kampung dan mudik seperti yang dikatakan oleh Jokowi. "Kalau mudik itu di hari lebarannya. Kalau pulang kampung itu bekerja di Jakarta tetapi anak istrinya ada di kampung," kata Jokowi. "Itu timing saja kan, faktanya orang sudah mudik dan bisa menyebarkan [Corona]?" timpal Najwa.

Melalui konten tanya jawab tersebut, paling tidak, kita bisa membedahnya melalui ilmu semantik atau mungkin bisa mengejawantahkannya dari ilmu jenis-jenis makna kata dalam Bahasa. Semisal, kita berkendak melihat makna kata itu dari aspek pemahaman leksikal (makna kata seperti yang terdapat dalam kamus), atau mau menggunakan pendekatan asosiatif,  makna asosiatif mencakup keseluruhan hubungan makna dengan nalar di luar bahasa. Berhubungan dengan masyarakat pemakai bahasa, pribadi memakai bahasa, perasaan pemakai bahasa, nilai-nilai masyarakat pemakai bahasa dan perkembangan kata sesuai kehendak pemakai bahasa. Makna asositif dibagi menjadi beberapa macam, seperti makna kolokatif, makna reflektif, makna stilistik, makna afektif, dan makna interpretatif.

Boleh jadi kita juga bisa menggunakan pendekatan makna interpretatif, adalah makna yang berhubungan dengan penafsiran dan tanggapan dari pembaca atau pendengar, menulis atau berbicara, membaca atau mendengarkan (Parera, 1991: 72). Mungkin saja kita bisa memaknainya dengan pendekatan makna stilistika, di mana makna kata yang digunakan berdasarkan keadaan atau situasi dan lingkungan masyarakat pemakai bahasa itu. Sedangkan bahasa itu sendiri merupakan salah satu ciri pembeda utama dari mahluk lain di dunia ini. Mengenai bahasa secara tidak langsung akan berbicara mempelajari kosa kata yang terdapat dalam bahasa yang digunakan pada waktu komunikasi itu.

Kita boleh memilih dari jenis makna kata mana kita mengejawantahkan makna “mudik” dan/atau “pulang kampung” tersebut, Jauh lebih dalam, makna kata selalu memiliki esensi sebenarnya. Sebuah kata selalu memiliki makna yang jujur dan apa adanya. Setiap makna memiliki maksud yang tersimpul dari suatu kata. Sebagaimana yang dikemukakan Tjiptadi (1984: 19), bahwa makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu. (A.Ruhiat)

Referensi Pustaka
Kamus Bahasa Sunda R Satjadibrata (Cit. V, 2019),
Kridalaksana. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta : PT Gramedia
Maskurun. 1984.  Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta Yudistira.
Parera. 1991. Sintaksis. Jakarta. Garamadia Utama.
Tjiptadi, Bambang. 1984.Tata Bahasa Indonesia. Cetakan II. Jakarta: Yudistira.
.......
IG najwashihab & program acara mata najwa (22/4/2020)
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/mudik
https://kbbi.web.id/mudik

Tulisan ini pernah dimuat di WAG Forkom Penulis dan Editor, ditayangkan di situs Socius Media atas seizin penulis.


AHMAD RUHIAT, SS, seorang guru, penulis dan editor. Menulis sejumlah buku, artikel dan feature di beberapa media, majalah dan koran. Lahir di Bandung, 12 Mei 1978. Lulus S1 (Sastra Inggris) dari Universitas Pasundan Bandung (2006). Penulis berdomisili di Lembang, Kab. Bandung Barat. Untuk kepentingan korespodensi bisa melalui surel ahmadruhiat0@gmail.com atau bacasaza@gmail.com