Rabu, 15 April 2020

MENGGALI JADI DIRI SILIWANGI

Oleh Enang Cuhendi
SANCANG

Pada 2019  yang lalu saya berkunjung ke Desa Sancang di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut untuk satu kegiatan. Daerah ini dari pusat kota Garut kalau lewat jalur Cikajang sekitar 109 km dengan perjalanan yang “mengasyikan” khas Kawasan Garut Selatan. Ketika memasuki gerbang desa Sancang, sebuah tugu dengan patung harimau putih (maung bodas-basa Sunda) di atasnya menyambut kedatangan kami. 

Seketika ingatan bergerak liar pada satu sosok yang sudah melegenda dalam kehidupan masyarakat Sunda, khususnya terkait dengan Leuweung (hutan) Sancang yang dianggap keramat. Ya, sosok Prabu Siliwangi yang menurut keyakinan masyarakat tilem (mangkat) di hutan ini dan menjelma menjadi maung. Benar atau tidaknya, wallahualam.

Tidak banyak memang nama yang begitu melegenda dalam kehidupan masyarakat. Apalagi nama yang bernuansa sejarah dipakai dengan penuh kebanggaan untuk sejumlah nama identitas kekinian. Siliwangi  adalah  salah satu dari sedikit nama tersebut. Tidak ada satu pun nama tokoh di Jawa Barat setenar Siliwangi. Namanya diabadikan dalam segala hal. Masyarakat sudah begitu familiar dengan nama, seperti: Jalan Siliwangi, Kesatuan Kodam III/Siliwangi, Universitas Siliwangi, Stadion Siliwangi, Babakan Siliwangi, Gedung Pertemuan Rakyat Siliwangi, Sekolah Kartika Siliwangi, Gedung Bumi Siliwangi, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, kolam renang, travel, perusahaan dan sebagainya semua berbau Siliwangi. Bahkan sosok maung yang dianggap jelmaannya saja begitu melekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Bukankah klub sepak bola Persib Bandung dijuluki Maung Bandung dan simbol Kodam III/Siliwangi dari dulu berupa maung?
Itulah “Siliwangi” sosok yang sangat melekat pada emosi terdalam masyarakat Sunda. Rasanya nama Siliwangi sudah menjadi jatidiri, kebanggaan, kehormatan dan bagian hidup masyarakat Pasundan. Jangan coba-coba menjelek-jelekan Siliwangi kalau tidak ingin kena peribahasa Ulah Sok Ngahudangkeun Maung Nu Keur Sare  (jangan membangunkan harimau yang sedang tertidur) artinya jangan coba-coba buat masalah yang berakibat kemarahan besar orang Sunda. Karena dalam diri orang Sunda tertanam kebanggaan dan kehormatan sebagai seuweu siwi Siliwangi (anak cucu Siliwangi).
Pertanyaan besarnya, Siapakah Siliwangi itu? Keberadaannya merupakan fakta sejarah atau hanya mitos belaka? Kalau fakta, siapa jatidiri sebenarnya?
Mempertanyakan dan membahas tentang Siliwangi sebetulnya tidak akan pernah berakhir. Minimnya sumber sejarah Sunda yang ada menjadi handicap tersendiri. Apalagi keberadaan sumber tertulis tentunya teramat minim. Kalaupun ada hanya berupa naskah yang ditulis masa kemudian setelah tokoh ini meninggal. Hal yang utama, dari semua sumber sejarah yang sezaman dengannya ada tidak ada yang mencantumkan nama tokoh besar ini.
Nama Prabu Siliwangi bisa ditelusuri pada sejumlah naskah kuno. Sumber tertua yang menyebut nama Siliwangi adalah naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang ditulis pada 1440 Saka (1518 M) atau pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, penguasa Pakuan Pajajaran antara tahun 1482–1521. Naskah ini selesai ditulis (dalam arti selesai disalin dan dilengkapi) pada masa-masa akhir kerajaan ini (1579). Naskah ini tidak menampilkan identitas penulisnya dan hanya mencantumkan Siliwangi sebagai saah satu judul cerita pantun yang berkembang saat itu. Bisa dipahami kalau dalam naskah tersebut tidak dibahas secara gamblang tentang Siliwangi, karena sejatinya naskah ini membahas tentang pengetahuan dan berbagai aturan kehidupan masyarakat saat itu.
Sumber lainnya, di antaranya: Naskah Carita Parahiyangan, Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (1720), Naskah Bujangga Manik, dan naskah yang lainnya. Naskah Carita Parahyangan berdasarkan penelusuran terbaru disusun oleh Nanganan atas perintah Pangeran Geusan Ulun, Raja Sumedang dan selesai ditulis 1601 M (Nina Herlina Lubis, 2013: 33). Naskah Carita Puwaka Caruban Nagari ditulis oleh Pengeran Arya Cirebon, seorang bangsawan keturunan Keraton Kasepuhan pada 1720. Naskah ini bersumber pada naskah yang ada sebelumnya, yaitu Nagara Kreta Bumi. Naskah Bujangga Manik merupakan salah satu naskah kuno berbahasa Sunda yang ditulis pada daun nipah dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford sejak tahun 1627. Seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.
Dilihat dari angka tahun pembuatannya, naskah-naskah tersebut ada yang sezaman dengan peristiwa, atau, setidaknya, ada juga yang jarak waktunya tidak jauh dari peristiwa. Demikian juga bila dilihat penulis naskah. Meskipun banyak naskah yang anonim, namun kemungkinan besar penulisnya itu adalah orang yang hidup di sekitar keraton. Dengan demikian, bobot kesejarahan dari sumber-sumber naskah tersebut tidak bisa diabaikan. Tentu saja kritik-kritik terhadap sumber-sumber itu mutlak harus dilakukan terlebih dahulu. Teknik koroborasi pun harus dilakukan. (Mumuh Muhsin, 2011: 8).
Kemudian adakah sosok Siliwangi itu? Sebagian pihak menganggap Siliwangi adalah tokoh mitologi karena namanya tidak ditemukan dalam satu pun prasasti yang ada, mereka berpendapat kalau tidak ada di prasasti berarti tokoh tersebut tidak masuk dalam ranah sejarah. Yudi Anugrah Nugroho dari Historia.id  mengutip pendapat Hasan Djafar, ahli epigrafi Universitas Indonesia, yang mengatakan Prabu Siliwangi tidak pernah disebut dalam sumber-sumber primer yang berasal dari prasasti dan naskah Sunda Kuno yang muatannya dapat dipercaya. Dari 23 prasasti dari masa kerajaan Sunda yang telah diteliti, 11 prasasti menyebut nama raja-raja Sunda, tapi tak satu pun menyebut nama Prabu Siliwangi. Menurutnya hal ini bisa dipahami karena Prabu Siliwangi bukan nama seorang raja dan nama gelar seorang raja, tetapi julukan bagi salah satu di antara deretan raja-raja Sunda.
Terhadap pendapat seperti ini kita bisa mempertanyakan, apakah nama-nama, seperti Ken Angrok, Raden Wijaya, Hayam Wuruk, Gajah Mada ada tertulis di prasasti? Sesungguhnya mereka pun tidak ada, sebab yang ditulis di prasasti hanya nama Rajasa, Kertarajasa, dan Sri Rajasanagara. Apalagi nama Gajah Mada tidak ada sama sekali di prasasti, tapi ada di sumber lain yang dapat dipercaya. Inilah yang disebut metode identifikasi dalam sejarah. Metode inilah yang bisa dipakai dalam meneliti keberadaan Siliwangi. (Saleh Danasasmita, 2003: 124)
Sejarahwan Universitas Padjadjaran, Bandung, Mumuh Muhsin Z. berkeyakinan Siliwangi itu ada. Menurut Mumuh Muhsin Z. (2011: 7) bila ada yang  berpendapat  bahwa   Prabu  Siliwangi  adalah  tokoh mitos karena hanya tercantum dalam sumber-sumber naskah atau historiografi tradisional, hendaklah diingat bahwa mitos jangan diabaikan sebagai sumber sejarah. Mitos adalah fakta mental. Mitos pun dapat dikategorikan sebagai sejarah “intelektual”. Dengan demikian, dalam batas tertentu mitos bisa jadi sumber sejarah. Kalaupun benar nama Siliwangi tidak ditemukan dalam satu pun prasasti yang ada, keberadaan tokoh Prabu Siliwangi pun bisa disandarkan pada fakta sosial dan fakta mental. Pada manusia Sunda di banyak daerah nama Prabu Siliwangi itu sudah demikian populer. Nama Prabu Siliwangi itu menjadi memori kolektif masyarakat Sunda. Popularitas dan massivitas nama Prabu Siliwangi ini tidak boleh diabaikan nilai dan bobot historisitasnya. Sejarah adalah milik masyarakat, bukan milik sejarawan atau sastrawan.
Kalaupun Siliwangi itu ada, maka pertanyaannya raja Sunda manakah yang bergelar Siliwangi itu? Ini yang akan coba ditelusuri dalam tulisan sederhana ini, walau hanya sebuah studi pustaka sederhana memanfaatkan hasil kajian para ahli yang menulis sebelumnya.
Sumber dari karya sastra lumrahnya menyelaraskan Prabu Siliwangi sebagai raja Pajajaran. Walau demikian C.M. Pleyte, etnolog asal Belanda, menolak kaitan Sang Prabu dengan kerajaan Pajajaran. Bahkan menurutnya Prabu Siliwangi tidak pernah menjadi penguasa Pajajaran. “Prabu Siliwangi sama dengan Prabu Wangi dari Carita Parahiyangan, yang telah tewas di lapang Bubat,” tulis Pleyte dalam “Raden Moending Laja di Koesoema. Een Oude Soendasche Ridderroman. Met een inleiding over den Toekang Pantoen”, (TBG, XLIX.) Menurutnya, Prabu Siliwangi identik dengan Prabu Wangi atau Prabu Maharaja dari kerajaan Sunda. (Historia.id)
Senada dengan C.M. Pleyte, Poerbatjaraka berpendapat Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja, raja Sunda yang gugur di Bubat sebagaimana tercantum dalam Kitab Pararaton. Pendapat ini disampaikannya dalam tulisan yang berjudul “De Batoe Toelis te Buitenzorg” dalam TBG No. 59 tahun 1921. Pendapat ini sudah lama tertanam dalam proses pembelajaran sejarah di negara kita, bahkan sekian lama menutup ruang penelitian sejarah tentang sejarah Sunda, karena dianggap sudah berakhir seiring wafatnya tokoh Sri Baduga Maharaja yang diidentikan dengan yang gugur di Bubat. 
Pada 1965 Amir Sutaarga, Kepala Museum Pusat saat itu, mendapat perintah dari Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan, Prof. Priyono untuk meneliti tentang Siliwangi. Ia mengidentifkasi Siliwangi sebagai Sri Baduga Maharaja yang memerintah di Pakuan Pajajaran selama 39 tahun (1482-1521). Menurutnya tokoh ini sama dengan tokoh Ratu Jayadewata dalam Carita Parahyangan. Menurut Amir Sutaarga Prabu Siliwangi baik secara harfiah maupun simbol adalah yang menggantikan (nu nyilihan)  Prabu Wangi. Ia pun berpendapat kalau dilihat dari kemashurannya maka Siliwangi bisa diidentikan dengan Sri Baduga Maharaja. Hal terpenting dari pendapat Amir Sutaarga ia menolak pendapat Poerbatjaraka dan Pleyte yang menyebutkan Sri Baduga Maharaja sebagai tokoh yang gugur di Bubat. Tokoh yang gugur di Bubat adalah leluhur Sri Baduga Maharaja, yaitu Prabu Maharaja atau Prabu Linggabuana.
Pandangan Amir Sutaarga mendapat banyak reaksi. Salah satunya dari Ayatrohaedi, arkeolog Universitas Indonesia. Menurut Ayatrohaedi dalam Nina Herlina Lubis (2013: 226) pandangan Amir Sutaraga yang mengidentikan Prabu Siliwangi dengan Prabu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja (1482-1521) terlalu berani. Raja yang masih memerintah atau baru beberapa tahun meninggal sangat terlarang atau pamali disebut-sebut sebagai tokoh dalam cerita pantun.
Lebih lanjut Ayatrohaedi menjelaskan Siliwangi berasal dari kata “silih” yang berarti “ganti”, sedangkan “wangi” berarti “harum”; atau bermakna menggantikan seseorang yang harum atau tersohor namanya. Raja yang harum dan tersohor namanya adalah Prabu Maharaja atau Prabu Linggabuana yang gugur di tanah lapang Bubat. Dalam hal ini ia sependapat dengan Amir Sutaarga. Prabu Maharaja berjuluk Prabu Wangi. Julukan itu diberikan kepada Prabu Maharaja oleh rakyatnya karena ketegarannya mempertahankan martabat Sunda ketika berperang di Bubat. Akibat kelicikan Mahapatih Gajah Mada, ia bersama semua pengiring, pengawal, dan putrinya yang cantik jelita, Dyah Pitaloka atau Putri Citra Resmi, gugur dalam pertempuran melawan Majapahit pada 1357. Julukan itu sebagai penghormatan terhadap semua jasa dan pengabdian sang raja sehingga namanya menjadi wangi atau harum.
Lebih lanjut menurut Ayatrohaedi, semua raja Sunda setelah Prabu Maharaja alias Linggabuwana  atau Prabu Wangi dikenal sebagai Prabu Siliwangi yang maksudnya asilih prabu wangi atau ‘menggantikan Prabu Wangi’ atau Prabu Maharaja Linggabuanawisesa. Berikut nama raja-raja Sunda-Galuh (Pajajaran) dari masa Prabu Maharaja:
1.      Prabu Maharaja Linggabuanawisésa atau Prabu Wangi (gugur dalam Perang Bubat, 1350–1357)
2.      Prabu Bunisora, Adik Linggabuanawisesa (1357–1371)
3.      Prabu Niskala Wastu Kancana putra Linggabuanawisesa (1371–1475)
4.      Prabu Susuktunggal (1475–1482) sebagai Raja Sunda saja, karena sepeninggal Prabu Niskala Wastu Kancana kerajaan dipecah dua di antara Prabu Susuktunggal dan Prabu Dewa Niskala dalam kedudukan sederajat.
5.      Jayadéwata Sri Baduga Maharaja putra Dewa Niskala, 1482–1521)
6.      Prabu Surawisésa (1521–1535)
7.      Prabu Déwatabuanawisésa (1535–1543)
8.      Prabu Sakti (1543–1551)
9.      Prabu Nilakéndra (1551–1567)
10.  Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567–1579)
Jika para peneliti Sunda lain menganggap Sri Baduga Maharaja sebagai raja Sunda terbesar. Tidak demikian dengan Ayatrohaedi. Menurutnya, mungkinkah Sri Baduga Maharaja dapat disebut sebagai raja terbesar dan masih sempat meluaskan wilayahnya, sementara itu dia harus menghadapi pasukan Islam dari Demak dan Cirebon? Bukankah untuk mempertahankan dirinya saja, dia harus mencari bantuan kepada Portugis yang menduduki Malaka sejak tahun 1511. Dari semua pengganti Prabu Wangi, dia yang kedua lamanya dalam memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Sri Baduga Maharaja keberadaannya tidak mengalahkan Niskala Wastukancana yang berkuasa selama 104 tahun (1371-1475).
Dengan mengikuti Naskah Wangsakerta, Ayatrohaedi berkesimpulan penganti Prabu Wangi atau Siliwangi jumlahnya ada delapan orang. Dari ke delapan raja tersebut yang pantas disebut sebagai Prabu Siliwangi yang pertama adalah Niskala Wastu Kancana alias Prabu Resi Bhuwana Tunggaldewa atau sang mokténg (mangkat) di Nusalarang sedangkan raja terakhir adalah Suryakancana yang berjuluk Prabu Siliwangi VIII. Adapun Prabu Bunisora Suradipati (adik Prabu Wangi) tidak disebut Siliwangi karena hanya sebagai “Ratu Panyelang” atau “Raja penyelang”. Niskala Wastu Kancana merupakan raja pengganti Prabu Maharaja yang berjasa besar membangun kerajaan Sunda. Masa bertahtanya pun cukup lama, 104 tahun (1371-1357), hingga mangkat di Nusalarang. Jadi jika Prabu Siliwangi dihitung sejak Niskala Wastu Kancana (putra Prabu Wangi), maka urutannya, seperti di bawah ini:
1.      Prabu Niskala Wastu Kancana (1371–1475) alias Prabu Raja Wastu (Prasasti Kawali), Prabu Resi Bhuwana Tunggaldewa atau sang mokténg di Nusalarang sebagai “Siliwangi I”
2.      Prabu Dewa Niskala alias Ningrat Kancana (Prasasti Kabantenan)atau Tohaan di Galuh(1475–1482) sebagai “Siliwangi II”
3.      Jayadéwata alias Prabuguru Dewataprana, Sri Baduga Maharaja di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata,  atau Sang Pamanah Rasa (1482–1521) sebagai Siliwangi III”
4.      Prabu Surawisésa  atau Ratu Sanghyang (1521–1535) sebagai “Siliwangi IV”
5.      Prabu Déwatabuanawisésa (1535–1543) sebagai “Siliwangi V”
6.      Prabu Sakti (1543–1551) sebagai “Siliwangi VI”
7.      Prabu Nilakéndra (1551–1567) sebagai Siliwangi VII”
8.      Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567–1579) sebagai Siliwangi VIII”
Pemaparan urutan raja-raja Sunda Pajajaran yang bergelar Siliwangi di atas tentunya mengacu pada nasab raja secara garis laki-laki ke Prabu Linggabuanawisesa. Oleh karena itu, adik prabu Linggabuana, yaitu Bunisora Suradipati tidak dihitung Siliwangi karena bukan keturunannya.
Ada hal yang menarik, putra Niskala Wastu Kancana dikenal ada dua orang yang menjadi raja, yaitu: Dewa Niskala dan Susuk Tunggal. Mengenai posisi Prabu Susuk Tunggal (Raja Sunda), oleh Ayatrohaedi tidak disebut sebagai “Siliwangi”. Hal yang berbeda untuk ayah dari Jayadewata atau Sribaduga, yaitu Dewa Niskala. Ia disebut “Siliwangi”. Pertanyaannya, Apakah karena Prabu Susuktunggal tidak punya anak laki-laki? Jawabannya tentu tidak, bukankah Prabu Amuk Murugul adalah putra Prabu Susuk Tunggal dan adik dari Kentring Manik Mayangsunda. Selanjutnya Prabu Amuk Murugul menjadi raja kerajaan Japura, bawahan Pajajaran. Karena Kentring Manik Mayangsunda menikah dengan Sri Baduga, maka posisi raja Sunda dipegang oleh menantu Prabu Susuk Tunggal itu. Dengan demikian, penghitungan Ayatrohedi disandarkan pada posisi para raja Pajajaran yang berkuasa di Sunda-Galuh (Selanjutnya disebut Kerajaan Sunda saja atau Pajajaran), bukan berdasarkan nasab saja.
Mengenai pendapat sebagian peneliti sejarah Sunda yang mengatakan Sri Baduga Maharaja (Siliwangi) sebagai raja terakhir, Ayatrohaedi juga tidak sependapat. Ia mencoba mencocokan tahun wafatnya Sri Baduga Maharaja dengan runtuhnya Kerajaan Sunda atau Pajajaran. Dalam kajainnya cenderung ada ketidak cocokan data, Kerajaan Sunda baru runtag (runtuh) tahun 1579, 58 tahun setelah Sri Baduga Maharaja meninggal. Bahkan Naskah Wangsakerta juga menyebut bahwa raja Sunda terakhir adalah Suryakancana atau dalam Carita Parahayiangan bernama Nu Siya Mulya yang memerintah selama 12 tahun (1567-1579).
Atas beberapa pendapat Ayatrohaedi, Saleh Danasasmita memberikan pandangan berbeda. Tentang pamali atau terlarangnya menjadikan raja yang masih memerintah atau baru beberapa tahun meninggal sebagai tokoh dalam cerita pantun Saleh Danasasmita (2003 : 145) punya pandangan berbeda. Berkaca pada apa yang dilakukan para penulis cerita yang ada di kerajaan-kerajaan di Jawa bagian Timur, seperti Empu Kanwa menulis Kekawen Arjuna Wiwaha yang isinya tentang Raja Erlangga, Empu Darmaja yang menulis kisah perkawinan Raja Kameswara dalam Kekawen Smaradahana dan Empu Sedah dengan Empu Panuluh  yang menulis Kekawen  Bharatayudha terkait dengan Raja Jayabaya. Semua ditulis sezaman dengan masa hidup raja-raja tersebut. Menurut Saleh kalau di keraton timur bisa kenapa tidak dengan di Jawa Barat.
Kemudian tidak benar kalau Siliwangi itu banyak dan merupakan gelar untuk setiap raja Pajajaran. Siliwangi hanya satu nama untuk satu orang. (Saleh Danasasmita, 2003: 142)  Ia pun menolak kalau Siliwangi  itu raja terakhir Pajajaran.
Kritik juga diberikan pada teori Poerbatjaraka dan Amir Sutaarga. Menurut Saleh Danasasmita (2003: 71) dasar pijakan teori Porbatjaraka kurang kokoh. Kerangka teori Poerbatjaraka tergantung pada tafsirannya atas kata “rancamaya”, yang menurutnya, berdasarkan maksud kalimat ditambah dengan adanya kata sambung yang menyatakan tempat, yaitu di dan ring, tentunya Nusalarang, Gunung Tiga, dan Rancamaya adalah nama tempat. Hal ini tentu saja menggugurkan teori Poerbatjaraka, yang artinya siapa sosok Prabu Siliwangi menjadi tidak jelas. Poebatjaraka lupa bahwa di depan kata Rancamaya ada kata sanghyang, jadi Sanghyang Rancamaya. Kalau sudah menggunakan kata sanghyang tidak mungkin bisa diartikan kalawisaya atau pekerjaan yang khianat. Yang dimaksud dengan khianat atau kalawiyasa di sini terkait dengan tindakan Prabu Dewa Niskala yang memperistri perempuan dari Majapahit yang statusnya sudah dipinang orang lain.
Kemudian teori Poerbatjaraka yang menyamakan Sri Baduga Maharaja sebagai raja Sunda yang meninggal di Bubat (1357 M) juga digugat Saleh Danasasmita. Merujuk pada Kitab Carita Parahyangan disebutkan bahwa Prabu Maharaja menjadi raja hanya dalam waktu tujuh tahun, sedangkan Sri Baduga Maharaja atau Jayadewata selama 39 tahun. Prabu Maharaja adalah bapak dari Prabu  Niskala Wastu Kancana, kakek dari Prabu Dewa Niskala. Prabu Desa Niskala sendiri ayah dari Sri Baduga Maharaja. Kalau merujuk pada urutan raja-raja Sunda di atas maka Sri Baduga Maharaja jelas berada di urutan kelima.
Dalam hal identifikasi sosok Prabu Siliwangi Saleh Danasasmita sependapat dengan Amir Sutaarga. Ia yang mengidentikan Prabu Siliwangi dengan Sri Baduga Maharaja. (Saleh Danasasmita, 2003: 63). Pendapat ini juga mendapat dukungan dari Mumuh Muchsin Z., Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Barat dan Yoseph Iskandar. Mumuh Muhsin Z. (2012: 11) memperjelas bahwa keberadaan Prabu Siliwangi itu historis, bukan mitos, bukan dongeng. Keberadaannya didukung oleh fakta historis. Menurutnya Raja Pajajaran yang dijuluki Prabu Siliwangi hanya satu. Prabu Siliwangi identik dengan Sri Baduga Maharaja.
Sri Baduga Maharaja, putra dari Prabu Dewa Niskala, cucu Niskala Wastu Kencana, yang bertahta pada 1482-1521. Ia memindahkan pusat kekuasaan ibukota di Pakuan-Pajajaran (Bogor). Pada masanya kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaan. Sri Baduga Maharja membangun kembali dan memperindah ibukota Pakuan, membuat parit di sekeliling ibukota Pakuan, membuat monumen berupa gugunungan, membuat jalan yang diperkeras dengan batu (ngabalay), membuat hutan lindung (samida), dan membuat Talaga Warena Mahawijaya. Jumlah penduduk Pakuan mencapai 48.271 orang, Pakua menjadi kota terbesar kedua di Nusantara setelah Demak yang jumlahnya 49.197 orang. Pasai kota terbesar ketiga dengan jumlah pnduduk 23.121 orang. (Yoseph Iskanadar, 1997: 234)
Dari pendapat-pendapat yang ada secara umum pada masa kekinian sosok Siliwangi mengarah kepada Sri Baduga Maharaja. Raja Sunda yang memerintah pada 1482–1521 dan dimakamkan di Rancamaya, Bogor. Teori Poerbatjaraka yang mengatakan Sri Baduga Maharaja sebagai tokoh yang gugur di Bubat sangat keliru, karena tahun terjadinya peristiwa Bubat (1357) terpaut jauh dari lahirnya Sri Baduga Maharaja. Sri Baduga Maharaja pun bukan sosok raja terakhir dari kerajaan Pajajaran, karena Pajajaran runtuh jauh setelah Sri Baduga wafat. Kalaupun ada yang menyodorkan sosok lain dalam jumlah banyak sebagai Siliwangi, selain Sri Baduga, tentu kejayaannya masih di bawah Sri Baduga Maharaja.
Sementara terhadap pendapat yang mengatakan Prabu Niskala Wastu Kancana sebagai Siliwangi sebelum Sri Baduga Maharaja, Yoseph Iskandar (1997: 239) mengambil jalan tengah. Dalam hal ini tinggal masyarakat yang tanpa harus mengetahui nilai kebenaran sejarah, sebagai idola masyarakat Jawa Barat yang mengaku seuweu siwi Siliwangi (anak cucu Siliwangi), tinggal memilih antara Prabu Siliwangi Sang Mahaprabhu Nisakala Wastu Kancana atau Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja. Semoga kabut yang menelimuti jatidiri Siliwangi sedikit demi sedikit mulai terbuka.
Sumber Bacaan

Amir  Sutaarga,  (1966) Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharadja Ratu Hadji di Pakwan Padjadjaran, 1474-1513, Jakarta: Duta Rakyat.
Nina Herlina Lubis dkk, (2013), Sejarah Kerajaan Sunda, YMSI Jawa Barat bekerjasama dengan MGMP IPS Kabupaten Purwakarta
Saleh Danasasmita, (2003), Nyukcruk Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi, Bandung: Girimukti
-          (2003), Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi, Bandung: Girimukti
Yoseph Iskandar,(1997), Sejarah Jawa Barat, Yuganing Rajakawasa, Bandung: Geger Sunten
Makalah
Mumuh Muhsin Z. 2011, Prabu Siliwangi, Sejarah atau Dongeng?, Makalah Dialog Interaktif “Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Tatar Sunda” (Nyusur Galur Mapay Raratan, Ngaguar Warisan Karuhun Urang); diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Regional Jabar-Banten bekerja sama dengan Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat dan JITUJI pada tanggal 20 Mei 2011
-                         (2011), Sri Baduga Maharaja (1482-1521) Tokoh Sejarah yang Memitos dan Melegenda, Makalah Disampaikan dalam seminar “Sri Baduga dalam Sejarah, Filologi, dan Sastra Lisan” Diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga 31 Oktober 2012
-.            (2011), Eksistensi Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi, Makalah disampaikan dalam Seminar Prodi Ilmu Sejarah pada hari Senin 28 Maret 2011 di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor
Internet
Hendri F. Isnaeni, “Prabu Siliwangi Ada Delapan bukan Satu”
Irfan Teguh, “Maung dan Prabu Siliwangi: Mitos atau Fakta?” 15 Maret 2017
Raden.Tama.F.Larasantang, “Tentang Prabu Siliwangi” 8 Desember 2019
https://medium.com/@tamalarasantang07/tentang-prabu-siliwangi-c5fbd6e3ee1a diunduh 12 April 2020:  10:30
Yudi Anugrah Nugroho  “Mencari Prabu Siliwangi”