Sabtu, 11 April 2020

PENGGUNAAN GOOGLE CLASSROOM MASA WABAH COVID-19

Oleh: Tresna  Prajadin, M.Pd
SMPN 1 Cimarga, Lebak, Banten

Wabah Corona atau Covid-19 telah merajalela di dunia. Seperti yang diungkapkan oleh Ardi Priyatno Utomo (2020), bahwa sejak tanggal 11 Maret 2020, WHO menjadikan virus tersebut menjadi pandemi. Indonesia termasuk yang terkena pandemi ini. Dampaknya tentu terasa pada berbagai bidang, termasuk pendidikan.

Untuk pendidikan, pemerintah Indonesia menetapkan bahwa pembelajaran di sekolah dialihkan di rumah. Hal ini menjadikan sebuah perubahan besar dalam kegiatan belajar mengajar, dari tatap muka, menjadi pembelajaran tak langsung atau daring (online). Perubahan tersebut membuat cara berfikir dan komptensi yang dimiliki diubah secara drastis. Dari tadinya penggunaan IT seperlunya, menjadikan bahan utama dalam pembelajaran. Pengunaannya  dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran IPS, sebelumnya hanya sedikit yang digunakan, sekarang mutlak dipergunakan.. Untuk mengunakan hal ini, memerlukan keahlian khusus. Perlu latihan dan kesabaran dalam penggunaannya.
Tentu saja kewajiban pembelajaran di rumah, merupakan berkah bagi para guru, khususnya guru pengampu IPS. Dengan adanya Corona atau Covid-19 akan meningkatkan kemampuan dalam bidang IT, sekaligus tetap berada di rumah bersama keluarga. Pembelajaran daring (dalam jaringan) sebagai bagian dari tekonologi pembelajaran terkini, mutlak diperlukan dalam keadaan mewabahnya virus Corona.

Keuntungan dari pembelajaran daring adalah mencegah terjadinya penularan Corona, dan materi atau tugas bisa dilihat secara langsung oleh semua peserta didik. Kekurangan dalam pembelajaran daring adalah jika guru kurang mampu dalam IT dan akses yang tidak merata. Tidak semua peserta didik mempunyai HP. Selain itu, akses sinyal dan kondisi android yang dimiliki peserta didik berbeda-beda.

Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi guru. Belum lagi, dana yang harus dimiliki karena harus ada kuota pulsa. Sedangkan kemampuan dana yang dimiliki peserta didik berbeda-beda, apalagi disaat ada anjuran untuk tetap tinggal di rumah.
Tantangan yang dihadapi, pada awal perubahan kegiatan belajar mengajar (KBM) adalah kebingungan dan kekurangmampuan dalam pembelajaran daring (online).  Bagi guru yang terbiasa dengan tatap muka, awal perubahan menuju pembelajaran berbasis Online, adalah kebingungan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan (galau), sedangkan tugas pembelajaran harus tetap berjalan. Hal lainnya adalah ketidakmampuan dalam aplikasi pembelajaran online. Aplikasi mana yang akan dipergunakan, menambah kegalauan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memerlukan jawaban yang tepat, agar pembelajaran dapat berlangsung.

Lalu bagaimana memilih aplikasi pembelajaran daring (online) yang tepat? Jawaban dari pertanyaan di atas memerlukan kajian dan juga percobaan bagi guru-guru yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Selain itu, juga harus dikaitkan dengan aturan dari pemerintah, akses peserta didik terhadap kepemilikan dan kemampuan penggunaan Android. Jika tidak mengindahkan aturan pemerintah, yaitu tidak boleh membebani peserta didik dalam pembelajaran, akan menjadikan pembelajaran kurang efektif. Juga jika tidak memperhatikan kemampuan dan kepemilikan peserta didik dalam penggunaan android, akan berakibat keluhan dari orang tua atau peserta didiknya sendiri.

Hal ini jelas memerlukan strategi dalam pemilihan aplikasi pembelajaran daring yang cocok. Hal pertama, harus diperhatikan kemampuan kita sebagai guru. Jika tidak mampu menggunakan aplikasi yang dipakai, maka pembelajaran tidak akan terlaksana. Untuk itu, pakailah aplikasi yang mampu. Hal ini juga akan memudahkan jika ada kesulitan dari peserta didik, dalam mengerjakan tugas dari guru. Banyak dari peserta didik yang mempunyai kemampuan berbeda-beda dalam penggunaan android, sehingga banyak pertanyaan dan permintaan untuk dibereskan.

Hal kedua, harus diperhatikan adalah kecocokan dalam penggunaannya. Mungkin bisa kita kuasai, tapi dirasakan kurang sesuai dengan materi atau tugas yang diberikan. Hal ini berdampak pada sulitnya bagi peserta didik, maupun guru itu sendiri. Ada kalanya peserta didik tidak memahami tugas yang diberikan,  dikarenakan aplikasi yang digunakan tidak dimengerti atau dipahami peserta didik. Jika terjadi demikian, maka harus diganti atau dihapus. Jika pun dipaksakan, peserta didik akan banyak mengalami kendala dalam mengerjakan tugas yang dibagikan.

Apa contoh aplikasi yang cocok? Jawabannya tergantung guru masing-masing. Penulis sendiri setelah mencoba dan mempraktekan aplikasi daring, memilih aplikasi google classroom. Seperti yang diungkapkan Wikipedia (2020) bahwa google classroom (atau dalam bahasa Indonesia berarti ruang kelas google) adalah suatu serambi pembelajaran campuran yang diperuntukkan terhadap setiap ruang lingkup pendidikan.  Bertujuan untuk menemukan jalan keluar atas kesulitan dalam membuat, membagikan dan menggolong-golongkan setiap penugasan tanpa kertas.

Aplikasi ini, seperti yang diungkapakan oleh Maria Elanawati Milatana (kompasiana bloging, 2018), terhubung dengan  gmail, drive,  hangout, youtube  dan  calendar. Hal ini memudahkan bagi guru pembelajaran dalam waktu dan tempat di luar kelas. Selain itu memudahkan bagi guru dalam pembelajaran sesuai kebutuhan. Aplikasi yang terhubung dengan google classroom bisa digunakan secara bersamaan, hal ini memudahkan guru untuk memberikan tugas atau materi yang beragam.

Hakim, (2016) menyatakan bahwa penggunaan google classroom ini sesungguhnya mempermudah guru dalam mengelola pembelajaran dan menyampaikan informasi secara tepat dan akurat kepada peserta didik. Sejalan dengan pernyataan dari Hakim (2016), Sabran dan Edy Sabara (tanpa tahun) menyatakan bahwa melalui pembelajaran dengan blended learning peserta didik merasa nyaman dan aktif dalam mengkonstruksi pengetahuannya.  Dengan demikian, peserta didik merasa nyaman dan aktif dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Dari paparan ahli di atas, google classroom merupakan media alternatif yang bisa digunakan oleh para guru dalam pembelajaran.
Untuk memulai menggunakan google classroom, ada beberapa tahapan. Pertama, masuk dalam  akun google dan kemudian mencari produk google tersebut. Lebih mudahnya, jika memakai leptop atau PC tinggal klik di google search atau pencarian google. Tulis kata google classroom, akan keluar keterangan atau sumber-sumber yang dibutuhkan. Kemudian pilih clasrrom google.com, ikuti petunjuk.

Setelah masuk pada akun google classroom, ada pilihan sebagai guru atau peserta didik, klik guru. Aplikasi ini kemudian mengharuskan jika sebagai guru, membuat kelas dengan cara buat kelas. Kelas yang dibuat sesuai dengan kebutuhan, jika ada 6 kelas yang diampu, maka kelas pun dibuat sejumlah 6 kelas maya. Proses pembuatan kelas maya, satu persatu. Jika satu kelas beres maka kelas lain segera dibuat.

 Jika sudah terbentuk kelas maya dengan kode kelasnya, ada pada tiga menu utama, yaitu stream /aliran atau forum, classwork/tugas kelas dan People atau anggota, dan value atau nilai. Stream adalah fasilitas google class yang dapat digunakan untuk membuat pengumunan, mendiskusikan gagasan atau melihat aliran tugas, materi, quiz dari topik-topik yang diajarkan guru. Peserta didik akan melihat pengumuman yang ditulis guru, sehingga jika ada tugas bisa segera dikerjakan. Selain itu, peserta didik juga dapat melihat jumlah dan jenis tugas yang dikirim di bilah classwork.

Classwork/tugas kelas dapat digunakan guru untuk membuat soal tes, pretes, quiz, menggunggah materi dan mengadakan refleksi. Cara membuat pilihan tugas, klik tanda +buat. Ada beberapa pilihan yaitu tugas, pertanyaan, quiz, dan materi. Untuk soal tes ada dua pilihan yaitu pertanyaan dan quiz. Bisa juga dimasukan di tugas, dengan memasukan soal essai atau isian pendek. Untuk pilihan ganda, bisa menggunakan quiz, dengan bantuan google form.

Materi yang diunggah pada bilah atau fitur classwork dapat berupa file word, excel, powerpoint, pdf maupun video. Hal ini dilakukan guru untuk mengakomodasi adalanya berbedaan terhadap kecepakan berpikir, latar belakang pengetahuan awal, dan perbedaan pada learning style peserta didik. Jika akan mengunggah atau upload materi, klik + buat di pojok sebelah kiri, lalu masukan materi yang akan digunakan oleh peserta didik.

Pada menu people/anggota guru dapat mengundang peserta didik dengan menggunakan kode akses yang telah tersedia pada bilah people, sedangkan untuk mengundang guru lain sebagai kolaborator cukup dengan mengundang guru melalui email masing-masing. Jika ingin menambah guru atau peserta didik, klik + dipojok kanan. Di bilah ini akan terlihat jumlah peserta didik dan guru yang bergabung pada kelas maya yang telah dibuat.
Pada menu value/nilai, akan dipaparkan nilai yang telah didapatkan oleh peserta didik. Baik hasil dari quiz maupun tugas, akan tercantum dengan lengkap di fitur ini. Peserta didik yang belum memiliki nilai atau nilainya kurang akan terbaca. Dengan demikian, akan mudah untuk memperbaiki tugas yang belum dilaksnakan atau perbaikan nilai peserta didik.
Bagi pengguna android, buka playstore, kemudian download/unduh google classroom. Cara mengakses yang paling mudah adalah lewat playstore. Ketik google classroom, download/unduh aplikasinya, buka dan insstal di handphone masing-masing. Terkadang muncul masalah, seperti tidak terdownload/unduh. Hal ini dikarenakan memori android penuh, atau mungkin kuota internet sudah habis

Bentuk tampilan yang muncul di android adalah persegi warna hijau dengan tulisan google class room. Setelah berhasil didownload/unduh, dibuka dan diinstal google classroom dapat dimulai dengan mengklik tanda "+" yang ada pada toolbar bagian atas. Ada dua opsi yang akan muncul yaitu membuat kelas dan gabung kelas. Guru dapat membuat kelas dengan mengetik nama kelas, mata pelajaran dan subyek belajar yang dihadapi.
Jika peserta didik akan masuk kelas maya, sama seperti guru. Download/unduh aplikasi google classroom di playstore atau klik link yang teredia. Bentuk tampilan setelah masuk Google classroom sama saja. Untuk masuk pada kelas maya, klik +gabung kelas atau join. Masukan kode kelas, maka terbukalah seluruh bilah atau fitur. Tugas yang dikirim oleh guru, akan terlihat juga oleh peserta didik terutama di classwork atau tugas kelas.

Wabah Corona atau Covid-19 telah banyak memakan korban, dan sudah ditetapkan oleh WHO menjadi pandemik dunia. Imbas dari wabah ini, pada dunia pendidikan merubah cara pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan tatap muka, menjadi 100% daring atau online. Perubahan cara ini, menjadikan tantangan bagi guru. Baik dari segi kemampuan IT, maupun cara memahami peserta didik. Oleh karena itu perlu adanya kesadaran dari guru, umtuk menguasai aplikasi pembelajaran. Banyak alternatif pembelajaran daring, salah satunya dengan google casroom. Aplikasi ini membuat kreasi guru dalam pengajaran bertambah.  Selain itu, tidak diperlukan kelas atau ruangan. Pembelajaran dengan google classroom bisa diakses kapan saja. Sekarang tinggal kembali kepada guru, apakah hanya bisa mengeluh dengan keadaan. Atau mengikuti keadaan zaman, menggunakan aplikasi daring atau online, seiring dengan dibatasinya aktivitas sosial.


Sumber-Sumber Bacaan:

Maria Ernawati Milatana. 2018. Media Pembelajaran Google Classroom. Kompasiana, beyond blogging. Diunduh 10 April 2020

Wikipedia. 2020. Google Classroom. Diunduh 10 April 2020.

Ardi Priyatno Utomo. 2020. WHO Umumkan Virus Corona sebagai Pandemi Global. Kompas.com ", https://www.kompas.com/global/read/2020/03/12/001124570/who-umumkan-virus-corona-sebagai-pandemi-global?page=all.. Diunduh 10 April 2020.

Sabran dan Edy Sabara.Tanpa tahun. Keefektifan Google Classroom  Sebagai Media Pembelajaran. Makasar:PROSIDING SEMINAR NASIONAL LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Hakim, A.B., (2016). Efektifitas Penggunaan E-Learning Moodle, Google Classroom Dan Edmodo. I-STATEMENT: Information System and Technology Management, 2(1).



BIODATA SINGKAT PENULIS

Tresna Prajadin, Lahir di Karawang, 27 April 1978. Pendidikan Dasar di SDN Baranangsiang, dan SMPN 1 Tanjungsiang, dan SMAN 3 Subang, Kabupaten Subang. Melanjutkan Pendidikan Tinggi S-1,Tahun 2002 lulus dari Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia.  Melanjutkan ke jenjang S-2 tugas belajar Program Studi Pendidikan IPS, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia dari program P2TK Kemendikbud, lulus tahun 2016. Mulai dari Tahun 2010 diterima sebagai PNS bertugas sebagai guru IPS di SMPN 6 Cilograng, Kabupaten Lebak sampai tahun 2019. Sejak 2020 sampai sekarang bertugas di SMPN 1 Cimarga, Lebak-Banten.