Jumat, 10 April 2020

PERAN SERTA DALAM PEMBELAJARAN DARING

Oleh Taufik Firdaus, guru IPS SMPN7 Muncang

Indonesia saat ini menjadi salah satu negara pendemi virus covid-19. Menurut data virus ini telah menjangkiti 1.346.299 orang, dan meninggal 74.679 orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri 2.738 orang dinyatakan positif mengidap covid 19. Tidak dibayangkan sebelumnya bahwa dampak dari penyebaran virus tersebut melumpuhkan berbagai sendi-sendi kehidupan, dari bidang ekonomi, sosial, keagamaan, dan pendidikan.

Dalam bidang pendidikan, secara mendadak diputuskan bahwa proses belajar mengajar di ruang kelas ditiadakan, peserta didik belajar di rumah masing-masing. Media pembelajarannya pun menggunakan moda daring (dalam jaringan) alias internet. Bagi sebagain peserta didik yang tinggal di perkotaan moda belajar seperti ini telah biasa. Apalagi berjamurannya aplikasi-aplikasi bimbel online, seperti ruanggura, zenius, dan lain-lain.

Tidak demikian bagi mayoritas peserta didik di daerah. Contoh saja di SMPN 7 Muncang. Pada saat diumumkan bahwa proses belajar menjadi online selama pendemi covid-19, secara spontan, bertanya, "Pak nu kumaha belajar online tea?"

Proses belajar daring yang mendadak ini, menimbulkan efek gaduh. Berseliweran rasa pesimis bahwa ini dapat berjalan. Bagaimana gurunya, materinya, penilaian, peserta didiknya, dan lain-lain. Banyak kendala yang dihadapi, akan tetapi jika mendapat dukungan dari semua pihak proses pembelajaran daring dapat berjalan.

Peran peserta didik dan orang tua.
Hakikatnya pembelajran jenis ini akan berjalan apabila peserta didiknya mengikuti dengan baik. Mereka pada akhirnya akan sadar bahwa gawai yang mereka miliki bukan sekedar facebook, intagram atau media sosial lainnya, ataupun tik tok an. HP mereka adalah media belajar. Tanpanya tidak bisa belajar.

Begitu pula peran orang tua sangat diharapkan. mereka dapat mengawasi proses belajar, menemani, bahkan memberikan solusi dalam masalah belajar. Tidak hanya menyuruh belajar saja. Begitu juga orang tua harus rela berkorban lebih membelikan kuota atau voucher internet demi berlangsungnya  belajar anak-anaknya.

Guru dan sekolah
Tugas guru lebih sederhana tapi membutuhkan perhatian lebih. Bagaimana guru memberikan pembelajan yang menarik dan bermakna bagi peserta didik. Kebanyakan guru di daerah hanya memberikan tugas, tugas, dan tugas yang bisa dapat meberatkan peserta didik. Persis seperti saat Ramadhan di liburkan satu bulan penuh pada zaman Presiden Gusdur. Pada saat itu, setiap mata pelajaran memberikan tugas yang menumpuk. Coba bayangkan jumlah mapelnya saat itu ada 15 untuk tingkat SMP.

Dalam pembelajaran daring ini, guru sebaiknya memberikan slide materi atau peta konsep ke dalam WAG, atau google classroom atau sejenisnya, kumudian membuka komunikasi atau tanya awab dengan siswa, agar dapat mengeksplorasi materi belajar dari sumber yang lain. sehingga tujuan kompetensi mata pelajaran dapat tercapai.

Kedepannya poses pembelajarn dengan menggunakan gawai dapat diaplikasikan di sekolah saat keadaan sudah normal. Sekolah tidak lagi menjadikan gawai sebagai barang haram yang dilarang dibwa peserta didik. Tapi sekolah dapat mendorong penggunaan secara sehat dan bermanfaat.

Peran sekolah, diharapkan dapat mendorong proses belajar jarak jauh seperti ini. Dengan cara menerbitkan panduan atau rambu-rambu pembelajaran daring. Hal lainnya, sekolah dapat membuat kebijakan dengan mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan bandwitch internet di sekolah.