Selasa, 21 April 2020

PEREMPUAN-PEREMPUAN HEBAT DI TENGAH DOMINASI KARTINI


Oleh Enang Cuhendi

Setiap April ada satu momen yang tidak pernah terlewatkan dalam sejarah Bangsa Indonesia. Momen itu dikenal sebagai Hari Kartini yang jatuh pada setiap 21 April. Ini didasarkan pada hari lahirnya Raden Ajeng Kartini pada ‎21 April 1879. Setiap Momen ini muncul nama R.A. Kartini melambung sebagai tokoh utama emansipasi dan pencerah kaum perempuan Indonesia. Ketika Hari Kartini tiba seolah-olah tidak ada tokoh perempuan lain yang lebih hebat daripadanya. Pertanyaannya, benarkah tidak ada tokoh perempuan lain yang lebih hebat dari R.A. Kartini?
Kalau sejarah betul-betul dikaji sebagai History bukan His Story tentunya pertanyaan tersebut akan terjawab dengan beberapa fakta sejarah yang ada. Sejarah mencatat bahwa selain R.A. Kartini ternyata Indonesia masih banyak memiliki tokoh-tokoh perempuan lain yang layak dikedepankan. Mereka berperan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, kebudayaan hingga kemiliteran. Beberapa di antarnya bisa penulis sampaikan dalam tulisan sederhana ini.
Sekian abad yang lalu jauh sebelum R.A. Kartini lahir, di bidang kemiliteran terdapat satu sosok yang sangat patut dikedepankan. Dia bukan hanya baru bicara sebatas teori emansipasi tetapi sudah jauh lebih dulu mempraktekannya. Tokoh ini adalah Keumalahayati atau lebih dikenal dengan Malahayati. Seorang laksamana terkenal dari Inong Balle yang memimpin armada laut Kesultanan Aceh ketika bertempur melawan Portugis. Jika nama Artemisia I dari Caria tidak dihitung, maka Malahayati adalah laksamana wanita pertama yang diketahui dunia modern.
Beberapa kisah sukses Malahayati tercatat dalam sejarah. Ketangguhan Malahayati dan pasukannya membuat armada Portugis bisa dipukul mundur di abad 16. Mereka juga berhasil menggugurkan utusan Belanda, Cornelis de Houtman pada tanggal 11 September 1599.
Selanjutnya giliran pasukan Paulus van Caerden yang mencoba menerobos perairan Aceh pada tahun 1600. Mereka menjarah dan menenggalamkan kapal bermuatan rempah, membuat raja Aceh naik pitam. Tantangan ini dijawab Malahayati dengan memerintahkan penangkapan Laksamana Belanda, Jacob van Neck pada tahun 1601. Perlawanan sengit dari armada Malahayati membuat Belanda menyerah. Penguasa Negeri Kincir, Maurits van Oranje mengirim utusan diplomatik beserta surat permintaan maaf kepada Kesultanan Aceh. Kedua utusan tersebut ditemui oleh Malahayati sendiri dan berbuah kesepakatan gencatan senjata. Belanda setuju membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi atas tindakan Paulus van Caerden.
Reputasi Malahayati yang tak kenal ampun membuat Inggris yang hendak melalui Kerajaan Aceh jadi ciut. Daripada mengirim pasukan dan kalah telak, akhirnya mereka memilih memasuki Aceh dengan jalan damai. Ratu Elizabeth I, penguasa Inggris kala, itu memilih untuk mengutus James Lancaster disertai surat permintaan izin kepada Sultan Aceh untuk membuka jalur pelayaran menuju Jawa. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1602.
Kehebatan Malahayati di lautan membuat namanya dikenal di negara-negara lain. Selain Belanda, Portugis, dan Inggris yang ketakutan dibuatnya, nama Malahayati juga terdengar sampai ke negeri Tiongkok. Sejumlah sejarawan menjajarkan namanya dengan Katerina Agung dari Rusia.
Sungguh cerita sukses luar biasa dari sosok seorang wanita hebat di medan tempur. Sosok pemimpin yang dipilih Sultan dan disegani kaum pria. Inilah emansipasi awal di bidang kemiliteran. Sosok yang selanjutnya menginspirasi lahirnya sosok pahlawan perempuan yang hebat dari Tanah rencong, seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Muthia yang juga turun ke medan pertempuran melawan Belanda. Atas jasa-jasanya Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.
Cut Nyak Dhien dan Cut Muthia menjadi generasi perempuan Aceh berikutnya yang unjuk diri sebagai perempuan hebat dan memiliki jiwa kepahlawanan yang luar biasa. Mereka terjun langsung di medan pertempuran untuk melawan kekuasaan Belanda di Tanah Rencong. Kematian suami dan terutama semangat jihad yang tertanam dalam diri sejak kecil telah menjadi modal utama pemicu munculnya jiwa kepahlawanan. Mereka berjuang sampai akhir hayat. Bangsa Indonesia pun menganugerahi mereka sebagai Pahlawan Nasional.
Di Sumatera Barat kita mengenal sosok Roehana Koedoes. Ia hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama, ini amat peduli dengan nasib perempuan. Ketidaktersediaan sekolah untuk pribumi putri mendorong mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar ini mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang, sekolah kaum putri yang mengajarkan keterampilan pada 1911.
Sambil aktif di bidang pendidikan, Roehana Koedoes aktif menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Ketika surat kabar itu dibredel pemerintah Belanda, sepupu H. Agus Salim ini berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Roehana Koedoes tercatat sebagai wartawan perempuan pertama. Pada 8 November 2019, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. 
Kepulauan Maluku juga punya perempuan hebat. Sosok itu ada dalam diri Martha Christina Tiahahu. Usianya baru 17 tahun tatkala Martha Christina Tiahahu terjun langsung dalam medan perang melawan tentara kolonial Belanda. Gadis yang lahir pada tanggal 4 Januari 1800 di Desa Abubu, Nusalaut ini dikenal baik di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh sebagai gadis pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangannya. Martha pun kerap disebut sebagai srikandi dari Tanah Maluku.
Ia mendampingi ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, angkat senjata untuk mengusir penjajah di Pulau Nusa Laut maupun di Pulau Saparua. Di tengah keganasan pertempuran itu, Martha memberikan kobaran semangat kepada pasukan Nusa Laut untuk menghancurkan musuh. Pekikan semangat Martha telah membakar semangat kaum perempuan untuk turut mendampingi kaum laki-laki di medan pertempuran. Baru di medan ini lah Belanda berhadapan dengan kaum perempuan fanatik yang turut bertempur.
Akhirnya pada tanggal 2 Januari 1818 Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas yang terakhir. Jenazah Martha Christina Tiahahu disemayamkan dengan penghormatan militer di Laut Banda. Martha Christina Tiahahu secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional tanggal 20 Mei 1969, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969.
Bumi Jawa pun mencatat lahirnya seorang Nyi Ageng Serang, Panglima Perang Asal Jawa Tengah dengan taktik cerdas. Putri dari Pangeran Natapraja, seorang penguasa daerah Serang, Jawa Tengah yang juga merupakan Panglima Perang Sultan Hamengkeu Buwono I, ini tercatat sebagai perempuan pemberani yang tak gentar melawan penjajah yang berusaha menguasai tanah kelahirannya juga pemimpin gerilyawan Jawa yang memimpin penyerangan terhadap kolonial Belanda.
Ketika Perang Diponegoro meletus pada tahun 1825, Nyi Ageng Serang bersama pasukan yang setia terhadap ayahnya ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro dan menantunya Raden Mas (R.M.) Pak –Pak. Karena usianya yang sudah sangat tua, 73 tahun, Nyi Ageng memimpin pasukannya dari atas tandu. Akhirnya, setelah tiga tahun ikut bertempur bersama Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng Serang tidak kuat lagi melawan penjajah karena kekuatan fisiknya tidak memadai. Ia pun mundur dari peperangan dan pasukan yang ia pimpin diambil alih oleh Raden Mas Pak-Pak.
Pada tahun 1828 sosok panglima perang yang terlahir dengan nama Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 76 tahun. Atas jasa-jasanya terhadap negara, Nyi Ageng Serang kemudian dikukuhkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI No.084/TK/1974.
Di tanah Pasundan setidaknya kita mencatat ada dua nama perempuan hebat. Raden Dewi Sartika dan Raden ayu Lasminingrat mewakili sosok hebat pada putri Sunda. Baik Rd. Dewi Sartika maupun Raden Ayu Lasminingrat memiliki cita-cita yang sama dengan R.A. Kartini yakni memajukan pendidikan para wanita serta demi masa depan anak bangsa. Peran keduanya dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan dan sekaligus mewujudkan gerakan emansipasi tidaklah kalah oleh R.A. Kartini, bahkan lebih karena berhasil mempraktekan apa yang dicita-citakannya.
Sosok Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, 4 Desember 1884. Terlahir dari keluarga priyayi Sunda, ayahnya R. Rangga Somanegara dan ibunya, R. A. Rajapermas. Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah dihukum buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di sana. Setelah ayahnya wafat, Raden Dewi diurus oleh pamannya Patih Aria, seorang patih di Cicalengka dan mendapat pendidikan budaya Sunda. Seorang Asisten Residen berkebangsaan Belanda juga telah mengajarkannya  tentang budaya dan adat bangsa Barat. 
Ketertarikannya pada dunia pendidikan sudah terlihat sejak kecil. Ia pun punya cita-cita untuk memajukan kaumnya. Cita-cita ini terealisasi pada 16 Januari 1904, ketika ia membuat sekolah yang bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Ini terjadi berkat bantuan Bupati R.A.A.Martanegara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu. Di sekolah ini murid-murid yang hanya wanita itu diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran agama.
Jumlah murid yang awalnya hanya dua puluh orang berkembang terus. Ruangan sekolah sudah tidak mampu menampung lagi. Akhirnya pada 1910 sekolah tersebut dipindahkan ke Ciguriang berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri. Perubahan tdak hanya pada nama tetapi mata pelajaran juga bertambah. Pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya, karena Raden Dewi berharap suatu saat muridnya harus mampu menjadi ibu rumah tangga yang baik, mandiri dan terampil.
Berbagai tantangan, khususnya di bidang pendanaan operasional sekolah yang didirikannya sering dihadapinya. Namun berkat kegigihan dan ketulusan hatinya untuk membangun masyarakat negerinya, sekolah yang didirikannya sebagai sarana pendidikan kaum wanita bisa berdiri terus, bahkan menjadi panutan di daerah lainnya.
Perkembangan Sekolah Kaoetamaan Isteri terhitung pesat. Pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat. Banyaknya sekolah perempuan di Sunda memunculkan kembali ide untuk mendirikan organisasi. Tahun 1913 Organisasi Keutamaan Isteri berdiri dengan tujuan untuk menaungi sekolah-sekolah yang telah didirikan di Tasikmalaya. Organisasi ini sengaja dibentuk untuk menyatukan sistem pembelajaran dari sekolah-sekolah yang telah dibangun Dewi Sartika.
Perkembangan berikutnya jumlah sekolah berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920. Setelah 25 tahun pendirian sekolah Isteri, namanya pun berubah kembali. Ini merupakan kali terakhir perubahan nama dari sekolah yang didirikan Dewi Sartika. Pada September 1929, sekolah Sekolah Kaoetamaan Isteri berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi.
Dengan semakin berkembangnya sekolah maka Raden Dewi Sartika mampu mewujudkan cita-citanya menjadi sebuah kenyataan. Ini hal yang membedakan sosok Raden Dewi Sartika dengan R.A. Kartini. Kalau Kartini baru sebatas dalam teori dan beberapa langkah kecil, Dewi Sartika sudah mampu merealisasikan cita-citanya sampai tersebar luas. Dari kehidupan pribadinya, Dewi Sartika juga lebih beruntung karena sampai wafatnya tidak pernah dimadu oleh suaminya, Raden Kanduruan  Agah Suriawinata, hal yang berbeda dengan R.A. Kartini yang harus menjadi istri keempat Bupati Rembang, yaitu K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. 
Mengingat jasa-jasanya dalam membangun putri-putri bangsa, maka pemerintah atas nama negara menganugerahkan gelar kehormatan pada Rd. Dewi Sartika sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan tersebut diberikan pada tanggal 1 Des 1966 dan disahkan melalui SK Presiden RI No.252 Tahun 1966. Gelar kehormatan lainnya, yaitu gelar Orde van Oranje-Nassau didapat dari negeri Belanda tepatnya pada 1 Desember 1966 beretepatan sekolah Keutamaan Isteri berusia 35 tahun.
Tanah Garut, Jawa Barat, juga tidak ketinggalan untuk mampu melahirkan sosok perempuan hebat. Sebagaimana disebut di atas sosok tersebut adalah Raden Ayu Lasminingrat adalah putri Garut. Terlahir sebagai putri sulung dari seorang penghulu sekaligus sastrawan sunda Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Penulis Deddy Effendie secara khusus menyebut Rd. Ayu Lasminingrat sebagai tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia.
Peran dalam dunia kepenulisan/kepengarangan dan pendidikan bagi kaum perempuan tidak kalah mentereng dibandingkan dengan Raden Dewi Sartika, dan R.A Kartini. Bahkan  Lasminingrat yang lahir di Garut 1843, dianggap lebih dulu menginspirasi, jauh sebelum Kartini (1879) dan Dewi Sartika (1884) lahir.
Karena didikan Levyson Norman, Lasminingrat tercatat sebagai perempuan pribumi satu-satunya yang mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda pada masanya. Dunia kepenulisan digelutinya secara serius. Beberapa buku berbahasa Sunda, untuk anak sekolah, baik tulisan sendiri maupun terjemahan berhasil ditulisnya. Pada 1875 ia menerbitkan buku Carita Erman yang merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar dengan menggunakan aksara Jawa, lalu mengalami cetak ulang pada 1911 dalam aksara Jawa dan 1922 dalam aksara Latin. Jumlah eksemplar yang luar biasa, karena untuk saat ini rata-rata hanya dikisaran 1500-an.
Beberapa waktu kemudian buku-buku lain berhasil ditulis dan diterjemahkan. pada 1876 terbit Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I dalam aksara Jawa. Buku ini merupakan hasil terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872) dan beberapa cerita Eropa lainnya. Jilid II buku ini terbit setahun kemudian, lalu mengalami beberapa kali cetak ulang, yakni pada 1887, 1909, dan 1912, dalam aksara Jawa dan Latin. Ini menunjukkan produktifitas yang sangat tinggi dalam menulis untuk ukuran perempuan saat itu,
Selain aktif menulis, Raden Ayu Lasminingrat juga fokus dalam pembangunan pendidikan bagi perempuan pribumi. Ia turut mendorong pendirian membangun Sekolah Keutamaan Istri yang dibangun Dewi Sartika pada 1904. Tidak berhenti sampai di sana. Raden Ayu Lasminingrat pun turut berpartisipasi membangun Sekolah Keutamaan Istri pada 1907.  Pada 1911 sekolahnya berkembang. Jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. Pada 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di Kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.
Guna menghargai dan mengingat geliat Raden Ayu Lasminingrat, Pemerintah Garut pun mengusulkan Raden Ayu Lasminingrat sebagai pahlawan nasional. Meski sudah dua kali, pada 2007 dan 2009, usaha tersebut gagal belum disetujui pihak pemerintah pusat. Walau belum mendapat gelar pahlawan nasional, di mata warga Garut dan Tanah Pasundan Rd, Ayu Lasminingrat tetap sosok perempuan hebat yang sangat berjasa dan menginspirasi.
Dimunculkannya tokoh-tokoh perempuan hebat di atas sejatinya bukan untuk menggugat keberadaan sosok R.A. Kartini yang diperingati setiap tahun. Tulisan ini sekedar untuk mengingatkan pada kita semua, bahwa di samping R.A. Kartini. masih banyak tokoh perempuan hebat lainnya. Tokoh yang memiliki kedudukan yang sama dengan R.A. Kartini. Tokoh yang memiliki kepatutan untuk ditempatkan di tempat yang terhormat dalam catatan sejarah Indonesia. Walaupun sampai saat ini belum semua mendapat penghargaan pemerintah dengan mendapat predikat pahlawan nasional. (EC)

Bandung, 21 April 2020