Minggu, 05 April 2020

PERTEMPURAN LAUT JAWA DAN KEMENANGAN TELAK JEPANG

Oleh : Yanuar Iwan

Pertempuran di Laut Jawa adalah suatu rangkaian pertempuran menentukan bagi nasib Hindia Belanda, wilayah kolonial terluas Belanda di Asia yang kini bernama Indonesia.

Setelah Philipina jatuh kedalam kekuasaan Bala Tentara Jepang Januari 1942, strategi gurita dari Laksamana Takeo Kurita menelan korban berikutnya, Malaya jatuh pada bulan yang sama, Singapura pertahanan terakhir sekutu di barat berhasil dihancurkan pada Pebruari 1942.

Strategi gurita dengan gerakan mengepung dan membatasi gerak Pasukan Sekutu sangat efektif karena didukung dengan kekuatan Angkatan Udara Jepang yang "Superior" di langit Asia Tenggara, pesawat-pesawat zero dari pabrikan Mitsubishi sukses mendukung manuver AL Jepang  melalui kapal-kapal penjelajah, kapal-kapal perusak dan kapal-kapal pengangkut pasukan.

Balikpapan yang menjadi kota strategis sekaligus kota minyak walaupun sudah dibumi hangus oleh Belanda, tidak menjadi penghalang Jepang untuk terus bergerak maju kewilayah selatan. Dengan dikuasainya Balikpapan maka pintu gerbang menuju Pulau Jawa terbuka.

Dilihat dari perbandingan kekuatan tidaklah jauh berbeda antara Jepang dan Belanda, dengan kekuatan sebagai berikut :
Jepang mengerahkan dua penjelajah berat _Nachi_ dan _Haguro_, dua penjelajah ringan _Jintsu_dan __Naka_ dengan 13 kapal perusak

Belanda terdiri dari gabungan kekuatan Amerika, Britain, Dutch, dan Australia dibawah komando Karel Doorman terdiri dari :
Dua penjelajah berat  _Houston_ ( AS ) dan _Exeter_ ( Inggris) tiga penjelajah ringan _De Ruyter_( Belanda ) menjadi kapal komando Doorman.
_Java_ ( Belanda ) dan _Perth_ ( Australia )
11 kapal perusak:
_Evertsen_, _Witte de With_, _Kortrenaer_( Belanda ), _Electra_, _Jupiter_, _Encounter_( Inggris ) dan _Ford_, _Pope_, _Paul Jones_, _John Edwards_ dan _Alden_ ( AS )
( P.K.Ojong, Perang Pasifik, 11;2009 )

Dengan kekuatan berimbang mengapa ABDA di bawah komando Belanda bisa dihancurkan Jepang di dalam Pertempuran Laut Jawa, beberapa faktor bisa diungkapkan antara lain :
1. Ditenggelamkannya kapal tempur berkapasitas besar _Prince of Wales_ dan kapal penjelajah tempur _Repulse_ milik AL Inggris oleh pesawat-pesawat pembom torpedo Jepang, pada 10 Desember 1941 menimbulkan akibat mendalam terhadap armada tempur sekutu, moral bertempur dan kepercayaan diri menurun secara drastis.
2. Tidak adanya komunikasi dan kerjasama yang kuat dan solid di antara pimpinan militer ABDA. Laksamana Hart ( AS ) meninggalkan  Hindia Belanda 26 Pebruari 1942 karena orang Belanda tidak merasa senang melihat orang Amerika yang memimpin perang laut di wilayah mereka sendiri, Inggris di bawah Jenderal Wavell memutuskan untuk meninggalkan Belanda untuk menyingkir ke Australia dan hanya menyisakan beberapa kapal perang. ( P.K. Ojong, Perang Pasifik, 11 ; 2009 )
3. Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda terlalu meremehkan kemampuan tempur pilot-pilot Jepang di udara.
4. Tidak adanya kode militer tunggal karena lemahnya koordinasi dan komunikasi. Akibatnya prajurit sering mengalami kesalahan didalam mengartikan perintah komando.
5. Didalam perang laut modern, angkatan laut yang kuat tidak menjamin  akan memenangkan  peperangan jika tidak didukung kekuatan pesawat-pesawat tempur yang handal dan memadai. Sekutu dan Belanda dibuat kehilangan muka karena kekuatan udaranya gagal melindungi kekuatan angkatan laut.

Laksamana muda Karel Doorman tenggelam bersama kapal-kapal tempurnya ditengah  kekacauan yang luar biasa, antara 27 Pebruari - 1 Maret 1942 hampir seluruh kekuatan armada ABDA berhasil ditenggelamkan Jepang. Sisanya melarikan diri ke Australia.

Dengan kekalahan Sekutu dan Belanda didalam Pertempuran Laut Jawa, maka operasi-operasi pendaratan Pasukan Infanteri Jepang bisa dilaksanakan dengan amat sukses dan pada 8 Maret 1942 Belanda secara resmi menyerah tanpa syarat kepada Bala Tentara Jepang di Kalijati Subang. Mengawali episode sejarah pendudukan  Jepang di Indonesia.