Kamis, 09 April 2020

SEJARAH, SEJARAWAN, DAN GURU SEJARAH

Oleh Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum.
Deputy Menteri Sekretaris Negara RI-Ketua IKA Sejarah UPI



Orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya.

Kenyataannya bahwa sejarah terus ditulis orang,
di semua peradaban dan di sepanjang waktu.
Sebenarnya cukup menjadi bukti,
bahwa sejarah itu perlu..
(Kuntowijoyo, 1999)


1. Pendahuluan
Tahun 1985, saya tersesat di Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Bandung. Jurusan yang tidak pernah saya impikan dan tidak saya niatkan. Karena tidak diniatkan, awal studi di IKIP Bandung menjadi beban yang cukup berat.

Beban itu, terasa mulai ringan, setelah saya mendapat banyak pencerahan dari guru-guru saya, utamanya Dr. Hamid Hassan, MA---ketika itu belum profesor. Sebagai doktor yang baru lulus kuliah dari luar negeri, tentu gaya kuliah Pak Hamid---begitu kami  biasa memanggilnya---terasa mengalir jernih. Mata kuliah Sejarah Asia Selatan,  salah satu mata kuliah yang diajarkan Pak Hamid, saya nikmati bagaikan mata air yang mengalirkan sumber-sumber peradaban dan meneteskan hikmah kebijakan.

Lambat-laun, banyaknya petualangan ke masa silam, menyelinap diam-diam dalam lerung hati yang paling dalam dan menjalar ke urat nadi. Hati kecil saya mulai menerima sejarah sebagai bagian hidup saya. Dan akhirnya, saya tersesat dalam dunia yang ternyata begitu indah, dan sebagaimana kata pepatah, belajar sejarah, membuat orang lebih bijaksana.

Apalagi, pada tahun 1990 saya diangkat menjadi dosen Kopertis Wilayah IV Jawa Barat yang ditempatkan di Jurusan Pendidikan Sejarah STKIP Galuh Ciamis---ketika itu belum menjadi Universitas Galuh Ciamis. Dan saya beruntung, menjadi asisten Pak Hamid untuk mata kuliah Asia Selatan, selama lebih dari tiga tahun. Saya beruntung mendapat bimbingan dosen senior yang saya idolakan ketika saya mulai tersadar dan menikmati kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah. Alhamdulilah, saya tersesat di jalan yang benar!!!

Sejarah, sebagaimana diungkapkan Kuntowijoyo di atas,  ternyata memiliki kegunaan bagi manusia, baik manusia secara individu, kelompok, maupun suatu bangsa, dalam menjalani kehidupannya.
Secara garis besar sejarah mempunyai tiga fungsi, yaitu sebagai sarana informasi (information), pendidikan (education), dan rekreasi (recreation). Ketiga fungsi itu satu sama lain saling berhubungan. Informasi sejarah tentang peristiwa yang pernah terjadi, selain seolah-olah membawa kita rekreasi ke masa lampau. Secara tidak langsung, informasi sejarah itu juga mendidik kita untuk bersikap kritis dan bijaksana, bila peristiwa sejarah itu benar-benar dihayati, dikaji, dan dijadikan cermin dalam menghadapi kehidupan masa kini dan mengantisipasi kehidupan di masa mendatang.

Bahwa sejarah  memiliki kegunaan bagi kehidupan kita, tercermin dari beberapa ungkapan seperti belajarlah dari sejarah; sejarah adalah guru yang abadi; sejarah adalah obor kebenaran; atau sejarah adalah guru kehidupan. Ada pula jargon yang paling monumental yang dikemukakan oleh Presiden Soekarno dengan berapi-api: Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah !. Dalam tradisi budaya Sunda ada ungkapan ngindung ka waktu ngabapa ka jaman. Ungkapan-ungkapan tersebut mengandung makna filosofis yang menunjukkan bahwa sejarah memiliki kegunaan sebagai “cermin” untuk instropeksi.

2. Tulisan Sejarah
Dalam tulisan ini sejarah yang dimaksud adalah sejarah sebagai peristiwa (histoire-realite) dan sejarah sebagai kisah (histoire-recite). Penulisan sejarah adalah rekonstruksi atau penyatuan kembali penggalan-penggalan peristiwa dan atau fakta;  merangkaikannya dalam sebuah untaian yang dapat dinikmati dengan kesadaran yang amat dalam.

Penulisan sejarah, lebih-lebih sejarah analisis atau deskriptif analisis, dituntut untuk dapat memberikan kejelasan mengenai masalah sejarah yang dikaji, sehingga tulisan sejarah itu benar-benar memiliki makna dan kegunaan. Untuk memenuhi tuntutan itulah, maka kini penulisan sejarah tidak hanya menggunakan metode, teori, dan konsep-konsep (ilmu) sejarah, tetapi juga menggunakan pendekatan ilmu lain, terutama ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, filologi,  ekonomi, politik, sosiologi, dan masih banyak lagi. Konsep-konsep pemikiran para sejarawan dalam merekonstruksi masa lampau membantu mereka untuk lebih tepat mengajukan pertanyaan terhadap data, sehingga diperoleh fakta yang kuat (hard fact). Pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam penulisan sejarah, membantu sejarawan menghindarkan diri dari pembuatan eksplanasi yang tergesa-gesa, terlampau sederhana, atau justru salah.

Dalam sejarah nasional Indonesia terdapat perubahan fundamental dari cakrawala penulisan sejarah yakni:

  • Cakrawala religio-magis serta kosmogonis, seperti tercermin dalam babad atau hikayat telah ditinggalkan dan diganti dengan cakrawala empiris ilmiah. Sejarah kritis telah menyediakan alat-alat metodologis yang secara ilmiah mampu mengungkapkan fakta-fakta dari sumber sejarah.
  • Cakrawala ethnocentrisme telah digantikan oleh cakrawala natiocentris, maka sejarah Indonesia merupakan kesatuan yang berbataskan politik-geografis wilayah Indonesia.
  • Cakrawala kolonial elitis diganti dengan sejarah bangsa Indonesia secara keseluruhan dengan mencakup berbagai aspek sosialnya. Tercakup di dalam pandangan baru ini ialah dialihkannya pemusatan perhatian pada peranan raja-raja serta menteri dan hulubalangnya, juga dari peranan para penguasa kolonial (Kartodirdjo, 1982:3; 1992:6-7).

Salah satu karya tulisan sejarah yang mengedepankan cakrawala penulisan sejarah baru adalah buku “Indonesia dalam Arus Sejarah”. Buku yang diterbitkan oleh PT. Ichtiar Baru Van Hoeve tahun 2010 lalu, terdiri dari delapan jilid utama dan satu jilid faktaneka dan indeks, dengan 4400 halaman, 135 judul artikel, dan 1000 ilustrasi berwarna. Buku “Indonesia dalam Arus Sejarah” memuat segala aspek tentang sejarah Indonesia yang disusun secara kronologis. Buku yang ditulis oleh para sejarawan dari Aceh sampai Papua itu, dapat menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin mempelajari sejarah Indonesia, baik di masa lampau maupun masa kontemporer.

3. Sejarawan dan Cara Kerjanya
Sejarawan adalah orang yang mencoba mengumpulkan sumber-sumber sejarah, melakukan kritik terhadap sumber yang diperolehnya, lalu menginter-pretasikannya, dan hasil interpretasinya ditulis dalam bentuk historiografi  atau tulisan sejarah.

Metode dasar yang digunakan oleh sejarawan untuk menyajikan cerita atau kisah sejarah adalah metode sejarah melalui langkah-langkah sebagai berikut;
  1. Pengumpulan obyek dari suatu jaman dan pengumpulan benda-benda, bahan-bahan tercetak, tertulis, dan lisan yang boleh jadi relevan;
  2. Menyingkirkan bahan-bahan atau bagian-bagian daripadanya yang tidak otentik melalui kritik intern untuk mempercayai informasi yang diperoleh dan kritik ekstern untuk menjawab otentisitas;
  3. Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan-bahan yang otentik;
  4. Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan-bahan yang otentik atau melakukan interpretasi; dan
  5. Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi sesuatu kisah atau penyajian yang berarti (Renier, 1997:113-115).

Seorang sejarawan berupaya untuk memperoleh fakta keras (hard fact) untuk mendapatkan satu dugaan keras tentang fakta historis (alleged fact) atau kepastian tentang satu fakta (certainty of fact). Untuk itu diperlukan prosedur koroborasi dengan cara membandingkan di antara sumber-sumber yang ada yang harus independen sehingga dapat diperoleh sebuah dukungan penuh untuk sebuah fakta. Apabila hanya ada  sumber sekunder yang satu dengan yang lain tidak bebas, masih ada ketergantungan kuat satu sama lain, maka prosedur koroborasi tidak bisa sepenuhnya dilakukan karena sumber sekunder yang ada masing-masing punya kepentingan. Pada akhirnya diberlakukanlah prinsip argumentum ex silentio, yang dalam sejarah merupakan metode pengujian yang lemah.

Setelah ditemukan serangkaian fakta-fakta yang dapat dipertanggung-jawabkan, dalam menyusun kembali arti historis, sejarawan melakukan beberapa penafsiran antara lain:
Pertama, interpretasi verbal yang berkaitan dengan beberapa faktor, antara lain bahasa, perbendaharaan kata (vocabulary), tata bahasa, konteks, dan terjemahan. Bagaimana pun, pendekatan terhadap arti sebuah dokumen, misalnya, terletak pada kata-katanya atau pada kalimatnya. Tugas interpretasi verbal adalah untuk menjelaskan arti kata-kata atau kalimat, yaitu dengan membuat intisari gagasan yang ingin disampaikan dalam kata-kata atau kalimat tersebut.
Kedua, interpretasi teknis dari sebuah dokumen, misalnya, yang didasarkan pada dua pertimbangan, yaitu tujuan penyusunan dokumen dan bentuk tulisan persisnya. Adapun yang dimaksud tujuan di sini adalah bahwa si penulis dokumen bukan semata-mata bertujuan menyampaikan informasi, mungkin saja ada tujuan lainnya, baik untuk penikmatan intelektual, emosional, legitimasi kekuasaan, atau tujuan lain.
Ketiga, interpretasi logis yaitu interpretasi yang didasarkan atas cara berpikir logis, artinya berdasarkan cara berfikir yang benar.
Keempat, interpretasi psikologis yakni interpretasi tentang sebuah dokumen yang merupakan usaha untuk membacanya melalui kacamata si pembuat dokumen, untuk memperoleh titik pandangannya. Interpretasi ini berhadapan dengan kehidupan mentalitas si pembuat dokumen, yang menyangkut aspek umum yang artinya mentalitas yang berlaku untuk semua orang, dan aspek individual yang khusus mentalitas bagi si pembuat dokumen.
Kelima interpretasi faktual, yakni interpretasi yang tidak didasarkan atas kata-kata, tetapi terhadap data. Dalam hal ini yang menjadi titik berat adalah membiarkan fakta “berbicara” sendiri, tanpa perlu membuat interpretasi macam-macam, sehingga interpretasi faktual bisa dikatakan mengatasi interpretasi lainnya (lihat Lubis, tt: 14-19). Dalam beragam penafsiran itu, seorang sejarawan harus  berpedoman pada apa yang tertulis di dalam teks dibandingkan dengan data di luar teks, misalnya peninggalan kepurbakalaan (lihat Luxemburg, dkk., 1992:63).

Pada akhirnya, sejarawan berupaya menyajikan arti historis yakni makna yang terkandung di dalam sejarah untuk menjawab beberapa “pertanyaan sejarah”, apa (what), mengapa (why), siapa (who), kapan (when), di mana (where), dan bagaimana (how) terhadap suatu kejadian masa silam, dengan tujuan untuk mengabadikan rekaman sejarah (history is a record), mengaktualkan masa lampau (history is past actuality), dan sebagai kajian yang khas (studies the unique) yang akan menunjukkan nilai sejarah kehidupan manusia di bumi; aktivitasnya, kebudayaannya, dan peradabannya (lihat Lucey, 1984:10-14).

4. Guru Sejarah
Barangkali kata sejarah didengar pertama kali karena dipakai oleh guru sejarah yang selalu berhubungan  dengan pelajar dalam pengajaran sejarah. Dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, sudah  pasti ada seorang guru sejarah yang mengajar mata pelajaran sejarah. Masing-masing guru sejarah dalam berbagai tingkatannya menyampaikan mata pelajaran sejarah disesuaikan dengan tingkat intelektual, emosional, usia, dan jenjang pendidikan anak didiknya.

Pendidikan adalah suatu proses yang sangat efektif untuk menjadikan ilmu sejarah memiliki makna bagi kehidupan masa kini dan menjawab tantangan untuk kehidupan masa mendatang. Pendidikan adalah juga proses yang sangat efektif untuk membuat ilmu sejarah dan kajian sejarah mempunyai warna tersendiri. Warna pendidikan sejarah  di berbagai jenjang pendidikan haruslah mampu memberikan sesuatu yang dapat dimanfaatkan peserta didik.

Untuk murid-murid Sekolah Dasar, sejarah sebaiknya  disajikan oleh guru sejarah dengan pendekatan estetis. Artinya, sejarah diberikan semata-mata untuk menanamkan rasa cinta kepada perjuangan, para pahlawan, kepada tanah air  dan bangsanya. Untuk tingkat selanjutnya, sejarah disajikan  dengan pendekatan etis. Kepada para siswa harus ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat, dan kebudayaan lain, baik yang dulu maupun yang sekarang. Selain itu, para siswa  diharapkan lebih mencintai perjuangan, pahlawan, tanah air dan bangsa, mereka pun dapat memahami dan tidak canggung dalam pergaulan masyarakat yang semakin majemuk. Kepada anak-anak Sekolah Menengah yang sudah mulai bernalar, sejarah harus disajikan dengan pendekatan kritis. Mereka diharapkan sudah bisa berpikir mengapa sesuatu terjadi, apa sebenarnya yang telah terjadi, dan kemana arah kejadian-kejadian itu. Sementara di tingkat perguruan tinggi, sejarah mestilah disajikan dengan pendekatan akademis (Kuntowijoyo, 1999:3-4).

Selain perbedaan dalam menyajikan materi sejarah di setiap jenjang pendidikan, seorang guru sejarah harus dapat menyajikan sejarah bagaikan  orang menenun benang; sejarah harus disampaikan jalur atas bawah dan samping kanan-kiri. Dengan kata lain, sejarah harus disampaikan berkaitan dengan dimensi waktu (temporal), dimensi ruang (spatial), aspek proses (berjalan maju), aspek struktur atau  segi sinkronis dan diakronis (lihat Kuntowijoyo, 1999:4).

Dengan demikian manfaat yang harus dapat dikembangkan oleh guru sejarah di berbagai jenjang pendidikan adalah melatih kemampuan berfikir abstrak, kritis, dan analitis;  sikap dan pandangan yang lebih menopang kehidupan individual sebagai dirinya dan sebagai warga bangsa; kemampuan memanfaatkan ketelitian dalam membaca dan merumuskan informasi dari suatu sumber (apa yang didengar, dibaca, dan dilihat); dan mempersiapkan diri bagi kehidupan yang lebih baik dari masa lalu, baik secara individual maupun kelompok (Hassan, 1995:5).

Manfaat sejarah yang harus dikembangkan itu menunjukkan bahwa pendidikan dan pengajaran sejarah tidak boleh hanya menekankan pada pengetahuan faktual sejarah. Ini tidak berarti bahwa pengetahuan tentang fakta sejarah itu tidak penting, sebab tidak ada pengembangan manfaat sejarah yang sesungguhnya jika pengetahuan faktual sejarah lemah. Pengetahuan faktual sejarah diperlukan dan harus menjadi dasar bagi pengembangan sejarah dalam pendidikan. Artinya, pendidikan dan pengajaran sejarah harus menggunakan pengetahuan peserta didik mengenai fakta sejarah untuk mencapai kebermaknaan yang dikemukakan di atas. Peserta didik diharapkan dapat diajak berfikir abstrak, kritis, dan analitis ketika ia membaca paparan kejadian sejarah dari sebuah buku sejarah, baik buku pelajaran sejarah, rujukan, artikel, atau tulisan sejarah lainnya.

Berbagai kemampuan dan prosedur dalam metodologi sejarah digunakan untuk membantu peserta didik bersikap kritis terhadap apa yang dibacanya.  Dalam mengambil informasi dari apa yang dibacanya akan memperbesar manfaat ilmu sejarah bagi peserta didik. Jika mereka mampu melakukan kritik---dalam tingkat yang sesuai dengan pengalaman belajar mereka---terhadap suatu bacaan dan dapat mengambil informasi yang dapat diandalkan (sahih) dari bacaan tersebut, maka kebermaknaan ilmu sejarah akan dapat dirasakan langsung oleh peserta didik. Mungkin sekali mereka tidak fasih menyebutkan istilah yang digunakan seperti kritik sumber, kritik eksteren, kritik interen, dan analisis sejarah, misalnya, tetapi yang terpenting adalah mereka mampu menerapkan apa yang mereka pelajari itu. Inilah tugas utama guru sejarah (Hassan, 1995:6).

Dengan kemampuan yang demikian, diharapkan peserta didik tidak akan bingung menghadapi berbagai informasi yang diterimanya sehari-hari dari surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Mereka sudah memiliki bekal yang terlatih menghadapi keragaman yang demikian ketika mereka belajar sejarah.

5. Berkaca Pada India Kuna
Masih segar dalam ingatan saya, hampir seperempat abad yang lampau, di ruang kuliah Jurusan Pendidikan Sejarah---yang kini ruangannya sudah tidak ada lagi---di hadapan para mahasiswanya, Pak Hamid berdiri, berjalan, dan bercerita tentang berbagai kisah yang terjadi di Asia Selatan. Bagaimana Pak Hamid dapat secara runtut---selama satu semester---menyampaikan berbagai kisah, ceritera, dan fakta sejarah India dari kebudayaan lembah Indus hingga kemerdekaan India; sebuah rentang waktu yang amat panjang, berabad-abad, melintasi ruang dan waktu, dan jarak ribuan kilometer dari ruang kuliah.

Pak Hamid---dengan banyak merujuk pada buku klasik sejarah India karangan T. S. G. Mulya---menuturkan banyak hal mengenai kebudayaan lembah (sungai) Indus. Untaian cerita sejarah di Lembah Indus itu  tentu baru dapat dirangkai di awal abad 20, tepatnya sejak ditemukan banyak peninggalan di Mohenjodaro dan Harappa pada tahun 1920.

Awalnya, ditemukan beberapa  patung, reruntuhan tata kota yang teratur, reruntuhan bangunan yang terbuat dari batu bata merah, beberapa anak panah, tengkorak yang bolong,  stempel, dan fosil gandum. Itulah penemuan sumber-sumber sejarah yang amat berharga untuk merekonstruksikan sejarah India Kuna.  Sumber-sumber sejarah itu amat penting untuk membuka tabir India di zaman sebelum masehi. Lalu penemuan itulah yang direkonstruksi oleh para sejarawan, hingga tiba pada untaian cerita yang kemudian disampaikan oleh guru atau dosen sejarah kepada para murid atau mahasiswanya.

Melalui berbagai peninggalan sejarah yang ditemukan di Lembah Indus, baik itu berupa patung, tata kota, hingga bangunan monumental, telah membawa sejarah India ke masa yang lebih panjang dari perkiraan sebelumnya---demikian penuturan Pak Hamid sebagai dosen sejarah. Kebudayaan di lembah itu, ternyata sudah sangat maju, katanya; memiliki berbagai karakteristik penting---seperti kota yang bangunannya terbuat dari batu bata merah dan dibangun berdasarkan perencanaan tata kota yang baik, sistem sanitasi yang maju dan terawat, serta tatanan kehidupan yang mencerminkan kemajuan dan kemakmuran pada masanya.

Patung-patung yang ditemukan dalam berbagai gaya dan coraknya, telah menggambarkan penduduk yang bertempat tinggal tetap. Dan  penemuan “stempel” dari tanah liat bergambar binatang dan beraksara pictograph, menunjukkan tingkat intelektual yang tinggi. Demikian pula penemuan fosil biji gandum, menunjukkan mereka telah mengenal pertanian, mengembangkan perekonomian agraris, dan juga mengenal perdagangan.

Kehidupan di kota Mohenjodaro dan Harappa, diatur berdasarkan sistem pemerintahan yang tertata. Keteraturan perencanaan kota sebagaimana yang ditinggalkan reruntuhannya, menjadi bukti kuat bahwa kedua kota Mohenjodaro dan Harappa, merupakan kota kembar di bawah satu pemerintahan.
Lalu siapa mereka?

Penemuan patung wanita yang terbuat dari perunggu di kota Mohenjodaro dan Harappa serta berita dari kitab Veda, menunjukkan karakteristik seorang bangsa Dravida. Dengan demikian, patut diduga, pendukung kebudayan Lembah Sungai Indus adalah bangsa Dravida yang sekarang menempati sebagian terbesar daerah Deccan.

Kebudayaan Lembah Indus diperkirakan musnah pada tahun 500 sebelum Masehi yang diakibatkan oleh serangan bangsa Arya. Peristiwa serangan itu terdokumentasikan dalam kitab Veda yang menyatakan bahwa Dewa Indra dalam penjelmaannya sebagai Puramdhara, telah menghancurkan bangsa Dasya yang anasah atau tidak berhidung (pesek). Di samping itu, terdapat pula bukti mengenai adanya anak panah dan tombak pada sebagian tengkorak yang bolong dan berada di dekat tangga-tangga rumah.

Cerita itulah yang diemban oleh guru sejarah dengan memanfaatkan iformasi yang diperoleh dari para peneliti sejarah atau sejarawan. Sejarawan pun, mendapat informasi dari para arkeolog Jadi, sebaiknya seorang  guru sejarah dapat menjadi seorang peneliti sejarah; dan peneliti sejarah juga dapat menjadi guru sejarah.

6. Penutup
Rekonstruksi masa lampau yang dilakukan sejarawan bukanlah pekerjaan mudah, dan menyajikan mata pelajaran sejarah oleh guru sejarah bukan hal yang gampang. Seorang sejarawan memerlukan kemampuan berfikir yang menyeluruh (komprehensif), analitis, penuh imajinasi (akademik), mampu mengaplikasikan  berbagai konsep dan teori dari sejarah dan dari berbagai disiplin ilmu lain.

Pemaknaan informasi menjadi suatu fakta, perangkaian fakta menjadi suatu cerita yang memiliki kebenaran akademik, juga menggambarkan warna dan ketajaman sejarawan dalam membaca fakta, mencari keterkaitan dan kebermaknaan antara fakta, itulah yang dilakukan sejarawan.

Sementara guru sejarah harus dapat menjadikan makna sejarah menjadi lebih nyata dan hidup bagi peserta didik. Sebab peserta didik bukanlah keranjang sampah ilmu yang harus menerima apa adanya dari pelajaran sejarah, ia harus berfikir kritis dan analitis sehingga sejarah bukan hanya untaian angka tahun, rangkaian nama orang, dan sebuah kejadian masa silam, tetapi juga mempunyai manfaat pada masa sekarang dan  inspirasi untuk masa datang. Keterampilan semacam itu hanya dapat dikembangkan jika materi pendidikan sejarah dapat dikembangkan lebih jauh, melebihi apa yang ada dalam fakta sejarah yang ungkapkan oleh banyak buku pelajaran.

Pak Hamid, telah menyadarkan saya pentingnya memahami sejarah, lalu menjadi guru sejarah untuk mengajar sejarah dengan baik, dan menjadi peneliti untuk menjadi seorang sejarawan yang andal. Saya penah menjadi  dosen sejarah, lalu menjadi peneliti sejarah ketika kuliah di program Doktor Universitas Padjadjaran. Dan dengan sejarah pula, saya dapat melintasi berbagai negara dari Malaysia hingga Belanda;  dari Australia hingga Kanada; dan dari Kairo hingga Tokyo; mengunjungi lebih dari 20 negara, dan singgah di lima benua yang ada di muka bumi ini.

Terimakasih Pak Hamid, Bapak telah menyadarkan kami akan pentingnya sejarah dan menjadikan anak didiknya menjadi lebih bijaksana. Semoga ilmu yang diajarkan pada kami, menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi ladang amalan shalihan bagi Bapak yang mengalirr  deras sebagai amal jariyah.


Kepustakaan

Garagghan, Gilbert J. (1946). A Guide to Historical Method. New York: Fordham University Press.

Hassan, Said Hamid (1995).  “Sejarah, Masa Kini, dan Tantangan Masa Depan”. Makalah Seminar Sejarah Perjuangan Jawa Barat Periode 1945-1995. Bandung 5-6 Oktober 1995.

Kartodirdjo, Sartono (1982). Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia; Suatu Alternatif. Jakarta: Gramedia.

Kuntowijoyo (1999). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

Lubis, Nina Herlina (tt). “Interpretasi Sumber Sejarah”. Dalam Jurnal Sastra. Bandung: Fakultas Sastra Unpad.

Lucey, William Leo (1984). History; Methods and Interpretation. New York & London: Garland Publishing, Inc.

Luxemburg, Jan van (1992). Pengantar Ilmu Satra. Jakarta: Gramedia.

Renier,  G.J (1997). Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



Tulisan ini dipersembahkan secara khusus sebagai persembahan "70 Tahun Prof. Dr. H. Said Hamid Hasan, M.A"