Jumat, 17 April 2020

SEKOLAHKU TERCINTA

Oleh Sri Wahyu Utami


Puyung adalah nama desa di kecamatan tempat saya tinggal. Bagian barat, berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo. Sebelah timur, selatan, utara masuk wilayah kecamatan lain. Singkat cerita, daerah ini terletak 17 kilometer dari rumah saya. Untuk mencapai tempat tersebut harus melewati hutan pinus. Jalanan berliku, terjal, sebagian aspal sudah terkelupas bahkan hilang.

Udaranya dingin bahkan tanah sekeliling rumah warga sampai berlumut karena lembab. Salah satu penghasil cengkeh andalan  di Pule. Karena cuaca sangat mendukung tanaman ini tumbuh subur. Semua itu, pengalaman dan cerita yang saya dengar dari orang lain yang sudah pernah berkunjung kesana.

Saya hanya membayangkan keadaan di Puyung seperti apa. Berada pada tempat lebih tinggi, tentunya lebih dingin dari sekitar saya. Benarkah itu? Seperti apa daerahnya? Rasa penasaran pun muncul ingin membuktikan apa yang dikatakan orang. Hanya sebatas angan, karena disibukkan oleh kegiatan lain dan belum ada keberanian kesana sendiri karena tidak bisa mengendarai motor. Hingga hilang dari pikiran saya tentang Puyung.

Sebelumnya ada berita dibangun sekolah baru di Puyung. Sekolah ini membutuhkan tenaga guru dan administrasi baru. Tanpa pikir panjang, saya mendaftar. Ikhtiar dan niat mengabdi mengabaikan rute dan medan yang akan dilalui.

Semua pendaftar dikumpulkan untuk menerima pengarahan dari panitia penerimaan calon tenaga pendidik dan TU. Berhubung   jumlah pelamar melebihi kebutuhan, selanjutnya diadakan diseleksi. Bagi peserta yang lolos,  akan mendapat surat panggilan kedua mengikuti pengarahan ditempat yang ditentukan.

Sampai suatu sore, ada teman sesama calon pendaftar mengantarkan berita bahagia dan memberikan sepucuk surat lolos seleksi dan undangan untuk hadir di tempat acara. Syukur Alhamdulillah bahagia tak terkira. Benar adanya bahwa manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Ternyata Allah menakdirkan saya untuk benar-benar kesana. Daerah yang selama ini sebatas impian. Diterima sebagai GTT ( Guru Tidak Tetap ) sejak bulan Juli 2008.

Sebelum masuk sekolah, saya bersama rekan mengadakan survey ke lokasi agar perjalanan menuju tempat tugas baru menjadi mudah karena sudah tahu rutenya.  Karena tujuan kami adalah daerah yang belum pernah dikunjungi istilahnya asing, maka tanpa malu dan gengsi, sering bertanya pada orang yang ditemui setiap kali menjumpai persimpangan jalan. Sampai akhirnya tiba dengan selamat di lokasi yang ditentukan.

Alhamdulillah. sesuai petunjuk saat pengarahan, karena sekolah baru menunggu gedung sekolah sedang dibangun. Kegiatan belajar mengajar untuk sementara dilaksanakan di SD Negeri 1 Puyung. Waktunya setelah siswa SD pulang. siswa SMP masuk siang hari.

Hari pertama menjalankan tugas bagaikan mimpi di siang bolong. Seakan tak percaya bahwa saya benar-benar ada disitu. Alhamdulillah, kata itu yang terus keluar dari mulutku. Tak hanya sampai di Puyung, bahkan menjadi bagian dari penduduknya.

Mengemban amanah mencerdaskan bangsa pada umumnya dan masyarakat Puyung serta sekitar pada khususnya. Mengabdi pada SMP Negeri 3 Pule dengan menjadi salah satu pendidik di sana.

Semangat belajar dan antusiasme siswa dalam mencari ilmu patut diacungi dua jempol. Walaupun waktu belajar siang hari, tak peduli cuaca panas atau hujan, naik motor ataupun jalan kaki. Jarak tempuh pelajar untuk sampai sekolah pun jauh. Kadang medan dan cuaca yang kurang mendukung tak menyurutkan niat mereka untuk belajar Tak ada yang pernah datang terlambat ke sekolah. Santun, sopan pada guru dan orang yang lebih tua, manut itulah tipikal yang melekat pada diri siswa. Karakter positif yang sudah terbentuk dari keluarga dan menjadi pembiasaan.  Hal-hal itulah yang mendorong tenaga pengajar selalu bersemangat untuk mengamalkan ilmunya.

Kekompakan warga sekolah mulai Kepala Sekolah. Guru, TU, staf lain dan siswa sangat bagus. Ketika waktu pulang tiba, sekitar pukul 17.30 WIB. Kami selalu pulang bersama-sama, beriringan melewati deretan hutan pinus sepanjang jalan. Jika musim hujan, sampai pada jalan yang berlubang lebar dan menganga, apabila ada yang takut melintasinya, maka bapak-bapak guru siap membantu membawakan motor ibu guru ke tempat yang aman. Indahnya kebersamaan. Sampai saat ini, kami terus menumbuhkan semangat bersama dan kompak dalam menghadapi situasi apapun.