Kamis, 16 April 2020

Semester Genap: Berakhir Desember 2020 (?)


 Oleh : Yanyan Hardiana, M.Pd.*)

Usulan tentang masa semester genap hingga Desember 2020, dari Ketua FAGI (Forum Aksi Guru Indonesia) Wilayah Jawa Barat, Iwan Hermawan, menarik untuk dikaji dan dikritisi. Pertimbangan yang diungkapkannya ialah pembelajaran daring tidak maksimal, penerapan PSBB dapat menimbulkan disparitas kualitas siswa jika satu daerah masih menerapkan PSBB sementara di daerah yang tidak menerapkan PSBB sudah mulai masuk sekolah. Selain itu, Iwan Hermawan, mengusulkan tahun ajaran dimulai dari Januari-Desember, mengikuti tahun anggaran pemerintah, seperti tahun 1978 dulu, bukan seperti sekarang dari Juli-Juni tahun depannya (Pikiran.com: Senin, 13/4/2020)

Menanggapi usulan tersebut, penulis mencoba memberikan analisis secara komparatif terkait fenomena tahun 1978 dengan tahun 2020 sekarang. Kebijakan Pendidikan tahun 1978,  Menteri P & K Daoed Joesoef, adalah menyusun Program Perpanjangan Wajib Belajar Mengajar untuk tahun ajaran 1978. Dia memutuskan memperpanjang tahun ajaran selama enam bulan sehingga tahun ajaran berikutnya akan mulai bulan Juli 1979. Ada beberapa alasan yang dikemukakan Daoed Joesoef mengenai kebijakan yang dia luncurkan ini. Pertama, libur panjang bulan Desember selama ini ternyata jatuh pada saat musim hujan lagi lebat-lebatnya dan itu merusak suasana liburan, kedua, dimulainya tahun ajaran pada bulan Januari (sejak 1966) menyulitkan perencanaan pendidikan. Karena saat itu, saat berakhirnya tahun angggaran. Jadi pengunduran ke bulan Juli dari segi ini dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dengan permulaan tahun anggaran.

Ketiga, pengunduran tahun ajaran ini juga itu dimaksudkan untuk program perbaikan dan pengayaan siswa. Kebetulan beberapa saat sebelum kebijakan tersebut dikemukakan Daoed Joesoef, dirilis hasil penelitian tentang pelaksanaan pendidikan yang menyebutkan bahwa daya serap murid terhadap pelajaran di sekolah dasar tidak lebih dari 50-60%, sementara di SLP 40% dan SLTA sekitar 30%” (Lihat: Tempo, Edisi: 15 Juli 1978).

Dengan demikian, berdasarkan sumber Tempo (15 Juli 1978) tersebut, fenomena tahun 1978 yang berubah adalah star tahun pelajaran dari bulan Januari diubah menjadi ke bulan Juli, bukan sebaliknya dari Juli ke Januari (seperti yang diungkapkan Ketua FAGI di atas). Tahun anggaran pemerintah bersamaan dengan tahun ajaran pendidikan di bulan Januari, waktu itu, menjadi pertimbangan diubahnya star awal tahun ajaran, dari Januari ke Juli.

Kemudian, hal penting yang harus diperhatikan ialah perkembangan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi (ICT) di tahun 1978 berbeda dengan saat ini. Penulis berkeyakinan, jika perangkat ICT di tahun 1978 sudah seperti sekarang, maka program pengayaan dan perbaikan siswa tidak perlu dengan menambah waktu belajar. Pembelajaran daring dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Lantas, bagaimana dengan pertimbangan terkait pembelajaran daring kurang maksimal dan penerapan PSBB akan menimbulkan disparitas (perbedaan) kualitas siswa? Dalam pandangan penulis, perlu ada penelitian yang komprehensif atas penerapan pembelajaran daring tersebut. Apakah benar tidak maksimal? Apakah berpengaruh pada penurunan daya serap peserta didik, seperti pada daya serap hasil belajar yang dibawah rata-rata tahun 1978? Tidak bisa usulan perubahan regulasi pendidikan berdasarkan hasil jajak pendapat melalui media sosial yang mana sampel responden yang diambil masih dipertanyakan kredibilitas dan akuntabilitasnya. Dan, terkait kebijakan PSBB akan berdampak pada disparitas kualitas siswa, penulis pikir tidak akan terjadi secara signifikan, karena kebijakan belajar on line di rumah merupakan kebijakan bersifat nasional. Meskipun tidak diterapkan di semua wilayah, kebijakan PSBB itu, namun kebijakan di bidang pendidikan terkait proses pembelajaran, nampaknya  akan tetap menjadi kebijakan berskala nasional. Jadi, tidak akan terjadi disparitas kualitas siswa.
---------------
*) Penulis adalah Guru Sejarah/IPS SMP Negeri 1 Kota Tasikmalaya.