Rabu, 15 April 2020

SISTIM PEMBELAJARAN DARING DI PEDESAAN

Oleh Meiliwita Malau, S.Pd.
SMPN 2 Teluk Meranti

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) kata daring adalah akronim dari dalam jaringan yang berarti terhubung melalui internet. Pembelajaran daring adalah bisa diartikan sebagai pembelajaran menggunakan jaringan internet. Lebih tepatnya implementasi pembelajaran  jarak jauh  antara  guru dan siswa dengan memanfaatkan jaringan internet.  Pembelajaran seperti ini dicetuskan  saat munculnya virus corona di Indonesia.

Saya seorang guru Honor yang sudah mengabdi 14 tahun di salah satu sekolah negeri di Pelalawan. Sekolahku bernama SMPN 2 Teluk Meranti. Berada di  Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti. Mata pelajaran yang saya ajarkan IPS.

Saat pertama datang di desa ini, saya harus melewati air dengan menggunakan spead boot lebih kurang 4 jam dengan melewati tantangan ombak Bono yang melintasi peraiaran.  Takut, memang ia karena sering terjadi kecelakaan kapal tenggelam karena ombak Bono tersebut. Walaupun ombok bono adalah salah satu  pariwisata unggulan di daerah kami. Saat ini dengan  kemajuan pembangunan lintas darat saya tidak perlu memakai  spead boot lagi.

Pada tanggal 16 maret 2020 ada perintah untuk meliburkan peserta didik ( stay at home – bahasa gaulnya ) di karenakan antisipasi penyebaran covid 19. Libur di sini bukan berarti bebas. Guru wajib memberikan tugas kepada siswa  dengan syarat tidak membebani siswa. Ini yang menjadi masalahnya .  Kebetulan saya adalah kepala urusan kurikulum di sekolah. Beberapa usulan saya ajuhkan untuk pembelajaran siswa seperti mengikuti aplikasi ruangguru, tapi tidak berhasil karena jaringan tidak bagus di tempat saya. Lalu Saya membuka kelas daring melalui whatsApp, sebagai admin saya membagi kelas menjadi  dua grup  Kelas 7 dan kelas 8.  Kelas VII.a dan VII.b berjumlah 50 orang sedangkan kelas VIII.a dan kelas VIII.b berjumlah 61 orang.  Saya berharap seluruh siswa masuk ke dalam grup yang telah ditetapkan (termasuk memasukkan guru mata pelajaran).

Sampai hari ke lima siswa yang aktif  kelas VII hanya 20 orang dan kelas VIII hanya 15  orang. Ada perasaan kecewa karena tidak semua siswa yang masuk grup. Setelah di data dan ditanya kebanyakan siswa  tidak punya hp android dan tidak ada pulsa untuk mengisi paket data.

Hari berikutnya Guru Mata pelajaran sudah mengirim tugas yang akan di kerjakan siswa. Tanggapan dari siswa  beragam, ada yang bilang kebanyakan tugaslah, pusing lah, tidak dapat jawabannya. Padahal orang tua selalu mengeluh anak dirumah hanya main games dan tiduran dan kalau sudah suntuk anak akan keluyuran ke rumah temannya.  Pikirku, “Berarti anak tidak berminat dalam pembelajaran daring”

Sebagai guru IPS, aku  mengirim materi yang harus di cari siswa di internet atau dalam buku paket IPS  sesuai dengan kompetensi dasar yang seharusnya di ajarkan di sekolah. Siswa harus lebih aktif dan produktif.  Tugas itu di tuangkan dalam buku  catatannya yang akan saya koreksi saat masuk nanti. Lalu untuk memperkuat pemahaman peserta didik, saya kembali  mengirim tugas.  Bukan uraian, bukan pilihan ganda, dan buka pula isian panjang,  tetapi dalam bentuk  teka teki silang. Ini saya buat karena saya tahu anak paling suka mengisi teka teki silang. Hanya 10 soal, 5 mendatar dan 5 menurun, dengan waktu pengerjaannya  2 hari ( waktu yang cukup lama ).  Saya yakin siswa akan mengerjakannya dengan semangat.

Di luar dugaan mereka kebingungan dan gagap untuk mengerjakan apa yang saya perintahkan. Saya jadi kewalahan, karena apa yang saya tugaskan berbeda dengan yang di jawab siswa. Seakan akan semua yang saya katakan dalam pesan whatsapp  tidak masuk ke dalam pikiran mereka. Mereka bingung, bertanya dan bertanya, lalu ada juga yang tidak aktif lagi kerena tidak ada pulsa paket internet.

Waduh, gimana nih? Aku penasaran dan bertanya pada teman ku sesama  Guru IPS yang mengajar di kabupaten. Ia mengatakan pembelajaran daring terlaksana dengan baik di sana. Aku jadi bigung.
Permasalah ini sampai sekarang belum selesai. Bagaimana caranya mengontrol supaya anak tetap belajar aktif dan produktif  karena selama ini  kebiasaan anak  belajar dengan tatap muka dengan guru.

Saya berkesimpulan bahwa pembelajaran daring tidak lah efektif di terapkan di daerah pedesaan.  Jaringan nya pun sering lelet, anak tidak terpantau dengan maksimal, kendala tidak punya uang karena beban kuota meningkat saat kegiatan pembelajaran secara daring. Belum lagi  tidak punya HP android yang menjadi alasan siswa,  tugas dari guru banyak  minta ampun, karena tidak mungkin semua guru memberikan materi tentang covid 19.