Kamis, 09 April 2020

TANTANGAN GURU DARI GENERASI DIGITAL NATIVE

( oleh : Yeyet Nuryeti, S.Pd )
Guru IPS SMP Negeri 2 Cipanas, Lebak, Banten

Guru sebagai garda terdepan dalam tataran pelaksana pendidikan memiliki peran yang sangat vital. Bahkan kualitas dari sumber daya manusia lulusan dari suatu institusi pendidikan sangat ditentukan oleh peran seorang guru. Oleh karena itu, guru menjadi bagian sentral dan penting dalam kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Dalam menghadapi pendidikan abad 21 guru dituntut untuk selalu melakukan inovasi pendidikan khususnya dalam hal proses pembelajaran. Diharapkan guru mampu mengikuti perkembangan teknologi dan komunikasi yang selalu dinamis sebagai media pembelajaran agar materi dapat tersampaikan secara optimal.

Menurut Susanto (2010), terdapat 7 tantangan tenaga pendidik atau guru di abad 21, yaitu : Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa, Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep), Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif, Teaching and technology, mengajar dan teknologi, Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan, Teaching and choice mengajar dan pilihan dan Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.

Yahya (2010) juga menambahkan beberapa tantangan tenaga pendidik di Abad 21 yaitu: pendidikan yang berfokus pada character building, pendidikan yang peduli perubahan iklim, enterprenual mindset, membangun learning community dan kekuatan bersaing bukan lagi kepandaian tetapi kreativitas dan kecerdasan bertindak (hard skills- soft skills).

Selain itu tenaga pendidik juga harus memiliki empat  kompetensi utuh yang harus dimiliki demi capaian tujuan pendidikan nasional yang optimal, yaitu :

Kompetensi Profesional
Beberapa hal yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik sebagai tenaga profesional adalah menguasai keilmuannya baik dalam metodologinya maupun dalam konten materinya, menguasai struktur keilmuannya, menguasai dan mampu mengembangkan atau memanfaatkan teknologi dan komunikasi dalam pembelajaran, dapat mengorganisasi materi kurikulum keilmuannya dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dengan penelitian - penelitian baik dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ataupun penelitian produk yang berhubungan dengan keilmuannya.

Kompetensi Pedagogik
Merupakan kompetensi yang berhubungan dengan proses pembelajaran baik dalam hal metode, model, teknik dan strategi pembelajarannya. Beberapa hal yang terkait dengan kompetensi ini adalah memahami latar belakang keluarga dan lingkungan peserta didik, memahami karakteristik psikologi  peserta didik, memahami gaya belajar dan kesulitan peserta didik, memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik, mengembangkan metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik (student center), merancang dan sekaligus melaksanakan pembelajaran yang bersifat mendidik dan melakukan evaluasi sebagai alat ukur ketercapaian pembelajaran.

Kompetensi  Kepribadian
Merupakan salah satu kompetensi yang terdapat dalam pribadi tenaga pendidik. Beberapa contoh yang dapat diterapkan oleh tenaga pendidik sebagai bentuk pemenuhan kompetensi kepribadian adalah menampilkan pribadi yang berakhlak mulia atau teladan bagi peserta didik dan lingkungan, memiliki kepribadian  atau mental yang tangguh serta bijak dalam bersikap dan berpikir, memiliki estetika, etika, tatacara berkomunikasi yang baik dan mampu mengevaluasi kinerja diri sendiri sekaligus mampu mengembangkan potensinya agar menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi peserta didik.

Kompetensi Sosial
Merupakan kompetensi yang berhubungan dengan orang lain atau lingkungan di sekitarnya. Beberapa hal yang berkaitan dengan kompetensi tersebut adalah mampu berkomunikasi secara efektif dan berempati terhadap peserta didik, wali murid, dan masyarakat baik di sekolah maupun di lingkungan lain, mampu bermanfaat terhadap pendidikan di sekolah maupun di masyarakat, mampu memberikan kontribusi terhadap perkembangan pendidikan di tingkat manapun, mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik sebagai usaha pengembangan diri dan sebagai bentuk interpretasi terhadap kedinamisan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Meskipun guru telah menguasai beberapa kompetensi diatas, namun menjadi seorang guru pada masa kini bukanlah hal yang mudah dilakukan, bagaimana tidak, seorang guru tidak hanya memperkaya materi saja. Melainkan guru juga perlu memperkaya dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan modern, mengikuti perkembangan zaman. Pemikiran yang salah jika guru masih menyamakan antara sistem pendidikan tempo dulu dengan sistem pada masa sekarang, karena cara tersebut justru membuat para siswa merasa kurang nyaman.

Semetara itu para peserta didik masa kini merupakan generasi digital yang kehidupan sehari-harinya sudah karib dengan tekhnologi digital. Generasi ini dikenal dengan Generasi Digital Native, Generasi yang menginginkan segala sesuatu dengan cepat, narsis tapi juga kreatif. Gaya dan cara mengajar kuno sudah tidak sesuai dengan cara anak-anak masa kini belajar.

Istilah digital native itu sendiri diciptakan oleh  Marc Prensky pada tahun 2001, dan kemudian menguraikan konsepnya pada tahun 2009, pada kesempatan yang lain. Dia mengatakan digital native  adalah generasi muda yang semua “pembicara asli” dari bahasa digital komputer, video game dan internet. Digital native  adalah seorang individu yang lahir setelah adopsi teknologi digital. Istilah  digital native tidak mengacu pada generasi tertentu. Sebaliknya, itu adalah predikat yang diberikan untuk  semua kategori  anak-anak yang menggunakan teknologi seperti internet, komputer dan perangkat mobile.

Digital natives didefinisikan sebagai pemuda, berusia 15-24 inklusif, dengan lima tahun atau pengalaman lainnya menggunakan Internet, mobiles dan lainnya. Digital natives telah dikondisikan oleh lingkungan teknologi mereka untuk mengharapkan tanggapan langsung.Mereka lebih memilih akses non-linear acak untuk informasi (yaitu hyperlink), dan memiliki preferensi lebih untuk konten gambar berbasis teks.

Hal ini merupakan tantangan bagi guru dalam menghadapi karakteristik peserta didik generasi digital native.  Beberapa hal yang harus guru lakukan dalam menjawab tantangan generasi digital native, sebagai berikut ;
Pertama, merancang metode yang tepat. Metode adalah jalan yang harus kita tempuh dalam rangka memberikan sebuah pemahaman terhadap murid tentang pelajaran yang mereka pelajari. Metode harus dimiliki oleh seorang guru sebelum memasuki ruang belajar, dan harus dipakai oleh seorang guru. Metode sangat berpengaruh besar dalam pengajaran dengan metode nilai bisa baik atau bisa buruk, dangan metode pula pembelajaran bisa sukses atau gagal, kebanyakan seorang guru yang menguasai materi akan tetapi bisa gagal dalam pembelajaran karna ia tidak mendapatkan metode yang tepat untuk memahamkan murid. Salah satu metode yang cocok untuk menghadapi generasi digital native adalah metode pembelajaran hybrid learning, yaitu pembelajaran yang bisa dilakukan melalui daring ( dalam jaringan ) atau online.

Kedua, bangun kedekatan guru dan siswa. Pendekatan guru dimaksudkan  proses, cara atau perbuatan mendekati yang dilakukan seorang guru kepada peserta didik untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien, dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, pandangan guru terhadap siswa akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai siswa, hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Pendekatan yang dilakukan guru pada generasi digital native ini bisa berupa meluangkan waktu untuk sekedar bertanya hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi mereka. Luangkan waktu apabila mereka ingin diskusi, jangan tutup pintu berteman dengan anak didik kita, kita tidak akan pernah tahu mereka akan jadi apa dimasa depan.

Ketiga, meng – upgrade ilmu yang akan di ajarkan. Hakikatnya, guru merupakan pembelajar yang terus-menerus. Karena itu, komitmen menjadi guru berarti kesediaan dan kesiapan seseorang belajar terus-menerus dalam melakukan tugasnya. Hal ini agar dapat merespon tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat, terlebih peserta didik. Karakteristik generasi digital native, tidak nyaman jika di suguhkan dengan materi, konsep atau teori-teori. Mereka lebih memilih searching lewat google ketimbang bertanya sama gurunya. Maka dari itu guru harus terus meng upgrade baik pengetahuan maupun keterampilanya.

Ke empat, berikanlah Apresiasi dan harapan. Cara ini terlihat sederhana, namun tanpa kita sadari, apresiasi sekecil apapun bisa membangun rasa percaya diri, optimisme dan semangat peserta didik. Generasi ini haus berita baik dan positif, dan sudah jadi kewajiban pendidik untuk menyebarkan harapan serta berita baik tentang masa depan mereka. Arahkan mereka membaca situs berita positif tentang berita baik tentang negaranya, lingkungan terdekatnya, dengan begitu kita sudah memberikan harapan baik bagi masa depanya.

Ke lima, bersikap fleksibel. Yang dimaksud fleksibel disini adalah kita sebagai guru bisa menempatkan diri sebagai sosok yang baik bagi peserta didik tanpa mengabaikan karakter peserta didik yang kita hadapi.

Sebagai seorang pendidik untuk generasi ini kita harus bisa mendengarkan dengan sabar saat anak didik sedang berbicara atau bertanya merupakan salah satu fase pendewasaan,. Siswa pada generasi ini juga cenderung kritis bertanya, jika disuruh melakukan sesuatu, lantas dia bertanya kenapa mesti ini yang saya lakukan?. Nah kita harus punya penjelasan yang jelas dan konkret.

Dari kelima hal diatas, setidaknya bisa dijadikan acuan untuk kita para guru dalam menghadapi generasi digital native. Pada tataran ini guru perlu mengikuti gerak generasi ini, karakteristik, kesenangan, hobi bisa menjadi pintu masuk dalam proses belajar mengajar. Pola yang bisa dikembangkan bisa bersifat induktif, didasarkan pada kemampuan rill yang menjadi titik berangkat untuk selanjutnya secara bertahap di arahkan kepada pengetahuan yang lebih tinggi.

Proses ini akan berjalan baik jika guru selalu memantaskan diri memalui upgrade pengetauan dan pengenalan psikologis generasi ini. Guru harus terus memperbaharui materi ajar sehingga menjadi lebih sesuai dengan tuntutan zaman. Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam proses ini adalah, guru harus terus menanamkan berkarakter kuat dan berbudi luhur tidaklah cukup hanya dengan konsep dan sistem pendidikan yang modern. Aspek spiritual berupa keikhlasan dan do’a dari para pendidik juga sangat diperlukan. Proses ini jika bisa dilalui dengan baik maka generasi ini dapat menjadi agen pembaharuan dan inspirasi bagi diri dan lingkungan sekitarnya.