Rabu, 15 April 2020

Terimakasih Pak Presiden, Terimakasih Bu Ketum!

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Sebagai guru, setidaknya ada tiga orang yang harus Saya beri ucapan terimakasih. Pertama Presiden Jokowi karena dalam rapat kabinet  virtual memutuskan  guru golongan IV dapat THR dan gaji ke 13. Kedua kepada Sri Mulyani karena sebelumnya pun sudah memberi  “kode”  bahwa gol I dan III akan dapat THR dan gaji ke 13.

Ucapan terimakasih yang ketiga Saya sampaikan pada Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, Prof. Dr. Hj. Unifah Rosyidi, M.Pd.  Ia telah membuat sebuah rekomendasi berdasarkan hasil rakornas virtual terkait wabah Covid-19 pada tanggal 7 April 2020. Rakornas virtual ini dihadiri hampir semua pengurus PGRI se Indonesia. Ada 11 butir strategis yang disampaikan pada pemeriintah.

Tekait THR dan Gaji ke 13 Prof. Unifah Rosyidi menuliskan dalam poin terakhir. Pasal 11 berbunyi, “Memohon kepada pemerintah untuk tetap membayarkan Gaji ke 13 dan THR kepada para guru, dosen dan tenaga kependidikan”.  Ini sebuah pasal kode  yang menyuarakan kebathinan para guru di Indonesia. Prof. Unifah Rosyidi adalah aspirator  dan penyambung lidah suara guru.

Alhamdulillah, suara Rakornas Virtual PGRI didengar! Gosip awal  sejumlah media menjelaskan  bahwa para  ASN dan  guru tidak akan dapat THR dan gaji ke 13.  PGRI terus bermanuver dan aspiratif. Selanjutnya gosip itu  terbantahkan, Sri Mulayani __yang cantik__ mengumumkan  bahwa para ASN gol 1 dan 3 tetap dapat THR dan gaji ke 13.  ASN golongan IV resah karena diksinya tidak dapat.

Hari ini info terbaru berdasarkan rapat kabinet virtual,  Jokowi memutuskan semua ASN dapat THR dan Gaji ke 13. Kecuali para pejabat!  Cocok dengan aspirasi dan tulisan-tulisan Saya sebelumnya. Saat wabah Covid-19 harus ada yang “dikorbankan” atau berkoban banyak. Siapa? Tiada lain adalah orang yang dapat banyak? Siapa? Ya para pejabat eselon 1 dan eselon 2.

Sri Mulyani mengatakan, "Presiden, wapres, para menteri, anggota DPR, MPR, DPD, kepala daerah pejabat negara, tidak mendapatkan THR." Wajar, memang mereka dapat banyak, banyak dapat dan menang banyak dari negara ini. Mereka adalah entitas elite yang berprestasi secara karir dan politik. Mereka adalah kelas tebal dompet. Wajar bila dompetnya saat wabah Covid-19 dikurangi isinya.

Jokowi adalah Presiden wong cilik. Ia akan cenderung “mempreteli” para elite. Bukankah dahulu saat pertama menjadi Presiden para protokoler dan Paspampres dibuat kikuk? Mengapa kikuk? Kerena kebiasaan dan kultur elitis di lingkungan kepresidenan harus berhadapan dengan orang no 1 yang ndeso dan sederhana. Mobil kesayangannya saat kampanye Gubernur DKI  "hanya" innova!

Bahkan menurut sebuah kisah dari negeri 1001 cerita,  mengapa Jokowi dibenci sejumlah masyarakat? Konon katanya itu sebuah design orang elite berdarah biru yang memompakan kebencian pada masyarakat sumbu pendek.  Itulah politik di mana rakyat selalu dijadikan “korban” memompakan kebencian demi keuntungan elite. Bahkan sejumlah oknum penceramah pun terlibat memompakan kebencian.

Anjing menggong gong, Jokowi berlalu, kerja dan kerja! Pak Jokowi love you!  Bu Sri Mulyani love you. Bu Unifah Rosyidi love you! Tinggal nasib guru yang lolos PPPK bagaimana Pak? Tinggal  nasib para guru honorer bagaimana Pak?  Walau pun ada pemeo  yang mengatakan, “Masalah guru sampai kiamat pun  tidak akan selesai”, Namun Saya berharap masalahnya satu demi satu segera selesai.

Setidaknya sebelum tahun 2024 semua guru honorer bisa UMP/UMR/UMK.  Kasihan kalau sampai tahun 2024 menuju Pilpres yang baru guru honorer masih seperti ini. Bisa jadi mereka akan jadi korban “penipuan” politik lagi.  Semoga para guru , terutama guru honorer, ikuti saja apa yang menjadi imam atau pimpinan organisasi guru. Pemimpin biasanya lebih tahu!