Minggu, 31 Mei 2020

CATATAN KECIL PEMBELAJARAN JARAK JAUH (PJJ) DALAM KONDISI PANDEMI COVID 19


Oleh Dr. Syamsul Bahri, MM

(Ketua Wilayah Forum Komunikasi Guru IPS Nasional Sulawesi Selatan/

Guru SMP Negeri 3 Makassar)


    Pandemi Covid 19 telah memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia termasuk di negara Indonesia yang kita cintai ini. Paling tidak, ada 3 (tiga) sendi kehidupan masyarakat yang paling terdampak, dan sangat di rasakan oleh masyarakat, meliputi bidang kesehatan, ekomoni dan pendidikan. Dari tiga sendi kehidupan masyarakat tersebut, tentu saling berkaitan satu sama lain. Pada kesempatan ini, kami mencoba untuk mengulas tentang bagaimana dampak Covid 19 terhadap tatanan dan keberlangsungan dunia pendidikan kita, terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. 

    Seiring dengan bertambahnya jumlah masyarakat yang terinveksi Covid 19 di negeri ini sejak awal maret 2020, menyebabkan pemerintah mengambil kebijakan tentang Stay at Home pada akhir maret 2020. Kebijakan ini dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran dan menekan jumlah masyarakat yang terinveksi Covid 19. Tapi disisi lain, tentu kebijakan tersebut memberikan dampak dalam bidang pendidikan kita, terutama hubungannya dengan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. 

    Kebijakan yang muncul secara tiba-tiba terkait dengan Stay at Home mengharuskan pihak sekolah terutama Kepala Sekolah & Guru untuk mencari formulasi-formulasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang tepat, dengan mempertimbangkan kondisi daerah dan latar belakang ekonomi keluarga peserta didik. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tentu membutuhkan tata kelola yang baik dari pihak sekolah. Tata kelola yang baik tentu, harus dibarengi dengan strategy yang baik pula. Menurut Fred R. David & Forest R. David (2015:4), menyatakan bahwa proses manajemen strategik (strategic management process), terdiri atas tiga tahap : formulasi strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi.

    Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan oleh pihak sekolah tentu harus dirancang dengan formulasi strategi yang baik, dengan terlebih dahulu menentukan kekuatan dan kelemahan internal yang dimiliki oleh pihak sekolah. Kepala sekolah sebagai penanggung jawab kegiatan pembelajaran disekolah tentu harus mempersiapkan fasilatas pendukung yang dibutuhkan. Sumber kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, sudah sangat mumpuni diantaranya : (1) sekolah memiliki tenaga pengajar (guru) yang sudah profesional dibidangnya yang ditandai dengan kepemilikan sertifikat pendidik oleh guru. Walaupun disisi lain, masih ada sebagian kecil guru yang masih perlu membekali diri terutama kemampuan dalam penguasaan IT; dan        (2) ketersedian anggaran yang cukup dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), telah siap menopang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

    Formulasi strategi yang dibuat oleh pihak sekolah tentu berbeda antara peserta didik yang memiliki latar belakang ekonomi  keluarga menengah keatas dengan peserta didik yang memiliki latar belakang ekonomi lemah (pra sejahtera), termasuk daerah yang tidak didukung oleh ketersediaan jaringan internat yang baik. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk peserta didik ekonomi menengah keatas, tentu bisa dilakukan dengan menggunakan pembelajaran secara online (virtual), sementara peserta didik yang masuk dalam kelompok ekonomi lemah dan atau kondisi daerah yang tidak didukung oleh ketersedian jaringan internet yang baik, tentu harus dilakukan dengan pembelajaran secara offline dengan menggunakan modul.

    Dengan adanya formulasi strategi yang dirancang oleh pihak sekolah, tentu harus dibarengi dengan implementasi strategi yang baik pula. Tenaga pendidik (guru) sebagai pihak yang bertanggung jawab secara teknis terkait dengan implementasi dari formulasi strategi tersebut, di tuntut untuk melakukan eksekusi kegiatan pembelajaran secara efektif, efisien dan berkualitas. Pembelajaran online (virtual) akan berjalan dengan baik, apabila guru mampu memilih saluran pembelajaran online (virtual) yang tepat, baik menggunakan WA, Google Class Room, Zoom Cloud Meetings, Cisco Webex Meetings atau aplikasi lainnya yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Keterbatasan waktu dengan menggunakan aplikasi tertentu, harus dibarengi dengan fasilitas pendukung pembelajaran lainnya, seperti guru menyiapkan vidio pembelajaran yang setiap saat bisa diakses atau dibuka oleh peserta didik. Sementara pembelajaran offline dengan menggunakan modul  yang diperuntukkan bagi peserta didik yang masuk dalam kelompok keluarga ekonomi lemah atau daerah yang tidak terjangkau oleh ketersediaan jaringan internet, tentu harus diawali dengan pembuatan modul pembelajaran oleh guru. Kemudian dilakukan penggandaan modul oleh pihak sekolah  berdasarkan jumlah siswa. Dari sisi perlakuan oleh guru terhadap peserta didik, tentu pembelajaran secara offline dengan menggunakan modul, dibutuhkan kerja ekstra dari guru dalam memberikan pelayanan pembelajaran. Pembelajaran secara offline dengan menggunakan modul, akan menuntut siswa untuk bisa lebih banyak belajar secara mandiri di rumah. Pemberian penguatan materi dan tagihan tugas yang telah diberikan oleh guru melalui modul, mengharuskan guru untuk melakukan kunjungan rumah, dan atau siswa datang ke sekolah dalam waktu-waktu tertentu untuk melakukan pengumpulan tugas dengan tetap memperhatikan protokoler kesehatan.

    Bagian akhir dari strategic management proces dalam Pembelajaran  Jarak Jauh (PJJ) adalah evaluasi strategi (strategy evaluation). Ada tiga hal yang menjadi fokus perhatian dalam melakukan evaluasi strategi dalam Pembelajaran  Jarak Jauh (PJJ), meliputi (1) meninjau ulang faktor internal pembelajaran, diantaranya perangkat pembelajaran dan kemapuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran; (2) pengukuran atas capaian kinerja guru dalam pembelajaran dan capaian kompetensi peserta didik; (3) menyiapkan/merancang langkah-langkah yang  tepat untuk perbaikan kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM) Jarak Jauh di masa yang akan datang, agar bisa berjalan lebih  efektif, efisien dan berkualitas. 

    Penulis yakin bahwa setiap sekolah punya strategi tersendiri dalam mengelola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), tetapi paling tidak semoga tulisan ini bisa menjadi bahan pembanding atas rancangan strategi yang akan dan atau telah dibuat oleh masing-masing sekolah. “Semoga pandemi Covid 19 ini cepat berakhir, sehingga kita sebagai guru, bisa beraktifitas kembali seperti biasa, bertemu dengan teman sejawat dan anak didik kita di dalam kelas, Aamiin.

   

   

     

Jumat, 29 Mei 2020

Dimulainya Tahun Ajaran Baru Tidak Sama dengan Pembukaan Sekolah

SIARAN PERS
Nomor: 130/Sipres/A6/V/2020


Jakarta, Kemendikbud --- Proses Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2020 akan segera dimulai, artinya sistem pembelajaran akan segera masuk Tahun Ajaran baru 2020/2021. Namun, ditengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad menegaskan bahwa ada perbedaan antara dimulainya Tahun Ajaran baru dengan tanggal dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk tatap muka. 

“Tanggal 13 Juli adalah tahun pelajaran baru, tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing,” jelas Hamid melalui  melalui telekonferensi di Jakarta pada Kamis (28/5).

Lebih lanjut, Hamid mengatakan bahwa kalender pendidikan Indonesia dimulai pada minggu ketiga bulan Juli dan berakhir pada akhir bulan Juni. “Dengan dimulainya PPDB ini sebenarnya sudah jelas bahwa kami tidak memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari. Kenapa tidak memundurkan? Karena kalau memundurkan maka akan ada konsekuensi yang harus kita sinkronkan,” ungkap Hamid. 

Hamid menambahkan, konsekuensi pertama adalah peserta didik untuk tingkat SMA dan SMP yang sudah dinyatakan lulus. “Kelulusan siswa SMA dan SMP sudah diumumkan, sebentar lagi akan diumumkan untuk kelulusan siswa SD. Artinya kalau sudah lulus kemudian diperpanjang, anak yang lulus ini mau dikemanakan? Termasuk juga perguruan tinggi juga sudah melakukan seleksi,” ujar Hamid.

Sejalan dengan itu, Staf Ahli Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, Chatarina Muliana Girsang menambahkan bahwa hal yang mungkin menjadi masalah dalam PPDB metode luring di mana membutuhkan kehadiran fisik di sekolah karena beberapa alasan yang menyebabkan ketidaksiapan daerah untuk melaksanakan sistem daring. 

“Tentu saja sesuai dengan yang diperintahkan oleh Bapak Presiden bahwa dalam pelaksanaan PPDB jika tidak dapat menghindari pertemuan langsung maka untuk metode luring harus memperhatikan protokol kesehatan seperti penyediaan masker dan hand sanitizer, menjaga jarak, dan tidak melakukan kerumunan,” tegas Chatarina.

“Oleh karena itu dalam metode luring kami harapkan kesiapan pemerintah daerah untuk jauh-jauh hari menyampaikan pelaksanaan PPDB nya secara luring sehingga dapat membagi waktu pendaftaran agar tidak terjadi kerumunan yang akan menyulitkan pendaftar untuk menjaga jarak,” imbuhnya.


Jakarta, 28 Mei 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: www.kemdikbud.go.id

WFH Bagi ASN Kembali Diperpanjang Sampai 4 Juni 2020

SIARAN PERS KEMENTERIAN PANRB
28 MEI 2020 - 291/HUMAS-MENPANRB/2020


*JAKARTA* – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo telah menerbitkan Surat Edaran No. 57/2020 tertanggal 28 Mei 2020. SE tersebut mengatur perpanjangan pelaksanaan kerja dari rumah/_work from home_ (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga 4 Juni 2020. Kebijakan ini akan dievaluasi lebih lanjut sesuai kebutuhan.

Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) pada instansi pemerintah diminta untuk memastikan agar penyesuaian sistem kerja ini tidak mengganggu kelancaran penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan kepada masyarakat.

Pada SE tersebut dijelaskan bahwa perpanjangan masa WFH bagi ASN ini memperhatikan arahan Presiden Joko Widodo untuk menyusun tatanan kehidupan baru (_the new normal_) yang mendukung produktivitas kerja. Adanya tatanan kehidupan baru ini, pemerintah akan tetap memprioritaskan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Selain itu, Kementerian PANRB tetap berpedoman pada Keputusan Presiden No. 11/2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat _Corona Virus Disease_ 2019 (Covid-19), dan Keputusan Presiden No. 12/2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Covid-19 sebagai bencana nasional. 

SE Menteri PANRB No. 19/2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah telah beberapa kali diubah terakhir dengan SE Menteri PANRB No. 54/2020, masih tetap berlaku dan merupakan satu kesatuan dengan SE Menteri PANRB No. 57/2020 ini. *_(rr/HUMAS MENPANRB)_*

Sabtu, 23 Mei 2020

LAUK DAUN

oleh Yanti Susanty.SE.,M.Pd

Siang ini, kulihat di dalam tudung nasi, lauknya sayur kangkung. Yang kali ini ditumis. Hari sebelumnya kangkung diberi santan putih. Hari sebelumnya lagi, sayur kol yang ditumis bersama telor. Dan hari sebelumnya lagi, sayur asam.
Hmmm, kalau aku hitung, sudah ada sepuluh hari teman makan kami, sayur terus.
Mak, oh, Mak! teriakku memanggil Emak. Tidak ada sahutan. aku coba mencarinya di kamar, juga tak ku jumpai.
Kulihat di kursi tamu, Alina adekku, sedang asyik mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. 
Ya, sejak adanya wabah Covid_19 ini, semua sekolah diliburkan. Untuk kemudian belajar di rumah. Dan Alina, mendapatkan banyak tugas dari guru, yang akan dikumpulkan saat masuk sekolah nantinya.
Alina, mana Emak? tanyaku.
Dikebun, Kak jawab Alina, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya. 
Sambil berlari ke kebun, aku memanggil Emak,
 Mak ... Emak!"
Dengan suara lembutnya, Emak menjawab panggilanku, ada apa memanggil Emak? Mau nyusu? kata Mak sambil membawa daun ubi di tangannya. 
Emak menghampiriku.
 "Mak, kok daun ubinya banyak sekali, untuk apa? tanyaku, pada Emak.
 Dengan santai, Emak menjawab, ya, untuk dimasaklah! yuk, pulang. Ajak Alina makan. Emak sudah tumis kangkung kesukaanmu."
Lalu sambil berjalan, Emak berkata lagi padaku, "besok, teman makan kita, gulai daun ubi!"
"Mak, kok kita makan sayuran terus ya, Mak?" tanyaku.

 "Ya ampun, Sumi! Apa kamu tidak tau, kalau Pemerintah meminta kita  untuk selalu  lauk daun? karna itu adalah salah satu cara terhindar dari covid_19!" kata Emak, penuh semangat. 
 "Ya ampun, Mak! Pemerintah mengadakan Lockdown, untuk menutup beberapa tempat, dengan maksud memotong penyebaran covid_19. Lockdown, Mak, bukan Lauk daun!" jawabku sambil tertawa. Lalu, memeluk Emak penuh sayang.
Sayaaaaang, Emak!

-Selesai-
2 April 2020

Kamis, 21 Mei 2020

Bahagia Berurai Air Mata

Oleh : Supriyanto, M.Pd

Hari ini aku menangis sesenggukan di Masjid Al Ikhlas. Air mataku mengalir deras membasahi pipi dan maskerku.

Seperti biasanya setiap hari di Bulan Ramadhan selama masa WFH/SFH, selesai salat jama'ah subuh di masjid aku tidak pulang. Kusempatkan setiap pagi untuk iktikaf sambil berdzikir menunggu matahari terbit dan tibanya waktu syuruq untuk melaksanakan 2 raka'at salat isyraq/syuruq yang pahalanya menurut Rasulullah SAW seperti pahala naik haji dan umrah yang sempurna.

Sekitar satu jam aku duduk tafakur sambil berdzikir dan memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Saat membaca shalawat itulah tiba-tiba terlintas sepenggal kisah dalam Kitab Irsyadu Ibad yang semalam aku baca menjelang tidurku.

Dalam kitab itu diceritakan tentang Athiyah bin Khalaf, seorang saudagar di Mesir, pedagang kurma kaya raya yang sedang bangkrut. Ia menyempatkan diri beribadah di Masjid Amr bin Ash. Saat itu ia didatangi oleh seorang perempuan miakin dengam pakaiannya yang kumal.

"Wahai hamba Allah, tak inginkah kau bersedekah untukku dan anak-anakku? Aku seorang syarifah (keturunan Rasulullah SAW), janda yang memiliki beberapa anak yang masih kecil di rumah. Sudah beberapa hari ini kami belum makan, kami tak memiliki apa pun yang bisa kami pakai untuk membeli makanan," kata perempuan itu.

Seketika wajah sang lelaki tertunduk. Pikirannya bekerja keras. Dia berdiskusi dengan pikiran dan hatinya sendiri.

"Engkau ini pedagang yang telah bangkrut. Kau sudah tidak lagi memiliki harta selain sehelai pakaian yang sedang engkau kenakan kini. Apa yang bisa engkau sedekahkan untuk syarifah ini? Jika pun engkau memberikan bajumu ini maka engkau akan malu terlihat auratmu di masjid ini", kata pikirannya.

" Tapi dia seorang syarifah miskin dengan anak-anak yatimnya yang sedang menahan lapar yang amat sangat. Kalau aku tidak membantu mereka, lantas apa yang akan aku katakan nanti di akhirat kepada Rasulullah", suara hatinya pun berbicara lirih.

Sejenak dia pun menoleh kepada syarifah itu dan berkata dengan lembut, "Wahai syarifah, ikutlah aku."

Maka bergegaslah lelaki itu keluar meninggalkan masjid dan menuju rumah petaknya yang mau runtuh itu. Sesampainya di rumah dia masuk daneminta syarifah menunggu di depan pintu yg ditutupnya. 

Dia pun membuka pakaiannya, melipat dan membungkusnya dengan rapi setelah berganti dengan kain kumal sekedar untuk menutup auratnya.

"Wahai syarifah, aku hanya miliki sehelai baju ini. Juallah dan belikan makanan untukmu dan anak-anakmu.", kata si lelaki kepada syarifah.

Dengan wajah berbinar syarifah menerimanya dan dengan tulus berdo'a, " Semoga Allah SWT menggantinya dengan pakaian surga untukmu dan kamu tidak akan membutuhkan sesuatu pada orang lain selama hidupmu."

Setelah syarifah pergi, lelaki iku mengurung diri di rumahnya sambil berdzikir dan menangis, bermunajat sepanjang hari hingga akhirnya tertidur. 

Dalam tidurnya itu dia bermimpi didatangi seorang bidadari yang sangat cantik yang membawakan buah apel yang baunya sangat harum untuknya. Saat buah apel itu dipecah keluarlah sehelai pakaian surga yang sangat indah.

Dengan penuh keheranan, Athiyah, lelaki itu, bertanya kepada sang bidadari, "Siapakah dirimu?" "Aku adalah Asyura',  istrimu di Surga", jawab sang bidadari.

Athiyah tersentak dan terbangun dari tidurnya. Dia pun berdo'a, " Ya Allah, jika mimpiku ini benar adanya, dan bidadari itu adalah istriku, maka matikanlah aku segera agar bisa bertemu dengan-Mu."

Belum selesai dia berdo'a, Allah pun sudah mengambil nyawanya.

Bukan tentang Athiyah dan bidadarinya yang membuatku menangis di Masjid pagi ini. Aku menangis karena teringat Rasulallah SAW.

Sebelum menikah, beliau adalah seorang pemuda yang kaya raya. Seorang pedagang antarnegara yang sukses. Banyak saudagar lain yang tertarik berkongsi dengan beliau sebagai investor dan beliau sebagai operator bisnisnya.  

Salah seorang investor, saudagar besar nan kaya raya itu bernama Khadijah binti Khuwailid. Bisnis mereka senantiasa menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Keuntungan yang terus menambah pundi-pundi kekayaan mereka berdua.

Kekaguman Khadijah pada pribadi Muhammad mengantarkan mereka berdua menjadi suami istri. Pasangan saudagar kaya raya di Kota Makkah. 

Beliau dan keluarga menikmati kehidupan yang bahagia dan kaya raya itu hingga beliau memilih ber uzlah di Gua Hira dan menerimah nubuwah kenabian.

Sejak itulah beliau memilih fokus berdakwah dan menghabiskan harta kekayaannya untuk dakwah.

Tidak sedikit harta beliau dan harta Bunda Khadijah yang dihabiskan untuk membiayai dakwah dan untuk menaklukkan hati banyak pemimpin kabilah untuk memeluk dan membela agamanya.

Setelah Islam berjaya di Madinah pun, Allah SWT memberikan hak 20% dari harta ghanimah untuk beliau. Dan itu jumlah yang sangat besar setiap kali ada peperangan yang dimenangkan oleh kaum muslimin. Nilainya bisa milyaran dan bahkan triliunan rupiah.

Jika beliau menghendaki hidup sejahtera dan kaya raya seperti sebelum mendapat nubuwah maka kehidupan mewah bukan hal yang sulit beliau dapatkan. Dan itu pun tak akan habis dinikmati oleh 7 turunan sekali pun.

Tapi ternyata bukan itu yang beliau kehendaki di dunia ini. Beliau memilih menginfakkan harta yang menjadi hak beliau itu di jalan dakwah. Semua keluarga dan anak cucu beliau pun mengikutinya.

Mereka memilih hidup dalam ketrerbatasan ekonomi demi tegaknya agama Allah. 

Hingga kita pun bisa membaca kisah si Syarifah bersama beberapa anak yatimnya yang kelaparan dan memohon sedekah.

Ya Rasulullah.... Betapa mulia hatimu. Betapa agung budi pekertimu. Betapa lembut jiwamu. Engkau memilih hidup menderita meski harta dunia datang melimpah kepadamu demi umatmu.

Ya Allah, hamba rindu kepada nabi-Mu. Hamba ingin memeluknya, duduk bersimpuh didepannya sambil mendengarkan banyak wajangannya  

Ya Allah, ijinkan hba segera bisa berziarah ke makam beliau di Madinah, bermunajat di raudah yang mustajabah untuk semua do'a. Ijinkan hamba dan keluarga segera bisa menunaikan ibadah haji dan umrah dengan pahala yang sempurna.

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi)

*Supriyanto, M.Pd*
*Masjid Al Ikhlas, 26 Ramadhan 1441H*

Selasa, 12 Mei 2020

Dirjen GTK Usung Transformasi Pendidikan Guru Kelas Dunia


Socius Media.Bandung,(12/5) Visi Indonesia Maju yang diusung pemerintahan Joko Widodo hanya bisa diwujudkan dengan adanya sumber daya manusia (SDM) unggul yang lahir dari proses pendidikan berkualitas. Sebagai prasyarat, pendidikan berkualitas membutuhkan guru-guru berkualitas yang lahir dari lembaga pendidikan guru berkualitas pula. Kalau sudah begitu, revitalisasi pendidikan guru dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) menjadi sebuah keniscayaan. 

Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) Enggartiasto Lukita menegaskan hal itu saat menyambut ratusan peserta webinar bertajuk “Reformasi LPTK untuk Pendidikan Bermutu” yang diprakarsai IKA UPI dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional 2020 pada Selasa siang hingga sore, 12 Mei 2020. Webinar menghadirkan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Iwan Syahril, Direktur Pendidikan dan Agama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Amich Alhumami, Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UPI Solehuddin, dan guru berprestasi tingkat nasional dari SMP Negeri 5 Tasikmalaya Ai Tin Sumartini. 

Enggartiasto Lukita mendesak pemerintah untuk berani menertibkan LPTK abal-abal. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjadikan pendidikan berkualitas untuk mewujudkan Indonesia Maju dengan bekal SDM unggul di dalamnya. Tanpa LPTK yang notabene produsen guru berkualitas, maka perbaikan pendidikan Indonesia mustahil bisa diwujudkan. Sudah saatnya LPTK berbenah diri dan keluar dari zona nyamannya.

“Saya ingin bicara dengan sangat terang, Benahi dulu LPTK! Dalam artian, Pak Dirjen tolong melaporkan kepada Mas Menteri harus ada keberanian untuk menghentikan atau mentutup LPTK abal-abal itu. Tentukanlah parameternya. Kita harus berani melawan arus. Kita harus berani karena kalau tidak, sulit rasanya kita untuk berbenah diri,” tegas Enggar, sapaan Enggaeriasto Lukita. 

Selain menyoroti keberadaan LPTK unqualified alias abal-abal, Enggar juga mengkritik PPG yang menempatkan sarjana pendidikan pada posisi yang sama dengan sarjana nonkependidikan. Menurutnya, mempersamakan sarjana pendidikan dan nonkependidikan dalam kegiatan PPG merupakan kekeliriuan. Sarjana pendidikan, tegas Enggar, sudah terlebih dahulu ditempa ilmu-ilmu pendidikan selama perkualihan. Proses itu seolah-olah tidak ada artinya ketika pada saat PPG dipersamakan dengan lulusan nonkependidikan. 

“S1 nonkependidian itu sama pangatnya dengan S1 pendidikan guru. Dia sama-sama melakuan satu proses pelatihan untuk layak mengajar menjadi guru. Gak ada bedanya dengan sertifikat dengan lulusan S1 yang lain. Tidak ada bedanya dengan yang LPTK abal-abal tadi. Kami tidak ingin membedakan antara LPTK negeri dan swasta. Ada banyak juga LPTK swasta yang bagus. Tapi yang abal-abal tadi kelewat banyak,” tegas penerima gelar doktor kehormatan bidang pendidikan kewirausahaan dari UPI ini. 

Lebih dari sekadar berbenah diri, mantan Menteri Perdagangan Kabinet Kerja ini meminta LPTK untuk terus melakukan inovasi. LPTK harus menjawab tantangan dunia yang terus berubah. Tanpa itu, LPTK akan makin tertinggal dari perguruan tinggi reguler. 

Di bagian lain, Enggar mengingatkan, kebijakan Merdeka Belajar yang menekankan pada pengembangan potensi murid harus turut mempertimbangkan banyak aspek. Proses belajar berkualitas membutuhkan prasyarat tidak mudah. Selain ketimpangan kualitas guru, daya dukung daerah juga berbeda-beda. 

“Indonesia bukan Jakarta, Indonesia bukan Jawa. Apakah seluruh daerah bagian dari Repubik ini sudah puya akses yang sama? Karena harusnya teknologi informasi ini harus terjangkau sampai ke pelosok. Apakah tenaga pendidik kita sudah sama kualitasnya? Saya sadar sepenuhnya bukan semata-mata tugas Kemendikbud, tapi tugas kita semua untuk bisa berubah dan mereformasi diri. Saya percara, reformasi LPTK untuk pendidkkan bermutu. Tetapi persayaratan ini harus kita penuhi,” tandas aktivis mahasiswa generasi 10970-an ini. 

Problem akut LPTK sebagaimana diungkapkan Enggar tersebut senada dengan pernyataan Rektor UPI Asep Kadarohman maupun dua pembicara lainnya. Asep menilai disparitas mutu LPTK sudah menjadi permasalahan lama. Data 2019, di Indonesia terdapat 425 LPTK. Dari jumlah itu,  45 LPTK di antaranya berstatus negeri. Ini berbeda dengan Malaysia, Singapura, atau Philipina yang memiliki lebih banyak LPTK negeri. 

“Masalah berikutnya, oversupply akibat banyaknya program studi di LPTK. Sampai 2019, terdapat 5.998 program studi kependidikan, dengan jumlah mahasiswa sekitar 1,480 juta. Setiap tahunnya terdpat sekitar 250 ribu lulusan. Nah, ini menyebabkan terjadinya oversupply,” ungkap Asep. 

Selain itu, Asep menilai pendidikan profesi guru berbede dari kelaziman pendidikan profesi lainnya. Profesi dokter misalnya. Pada pendidikan profesi dokter, pendidikan akademik dan profesi dilakukan secara terintegrasi. Seperti disinggung Enggar, pendidikan profesi guru mempersamakan lulusan kependidikan dengan nonkependidikan. Tata kelola pendidikan guru juga dianggap tidak selaras dengan regulasi dan perundang-undangan. 

“Perundang-undangan menyatakan bahwa pendidikan guru dilaksanakan secara berasrama dan ikatan dinas. Faktanya tidak demikian,” Asep menyesalkan. 

Terkait oversupply lulusan LPTK ini, Direktur Pendidikan dan gama Bappenas Amich Alhumami menilai perlu adanya pengendalian pertumbuhan LPTK swasta dan jumlah mahasiswa. Ini penting untuk menjaga keseimbangan supply-demand guru. Amich mencatat, secara kumulatif lulusan LPTK selama kurun 2012-2017 mencapai 1,94 juta. Sementara rekrutmen guru PNS pada periode yang sama hanya sebanyak 142.232 orang. Padahal, dari jumlah tersebut, 123.531 orang di antaranya direkrut dari guru honorer.

Secara keseluruhan, kebutuhan rekrutmen guru PNS, baik untuk menggantikan guru pensiun maupun menambah guru untuk sekolah baru, jauh lebih sedikit dibanding jumlah lulusan LPTK. Jumlah mahasiswa LPTK sangat besar melampaui kebutuhan. Karena itu, perlu pengendalian penerimaan mahasiswa LPTK secara lebih ketat, sekaligus untuk menjamin kualitas lulusan secara lebih baik.

“Kondisi ini menuntut adanya reformasi LPTK. Ada tiga urgensi dalam reformasi LPTK. Selain melakukan pengendalian, hal lainnya adalah evaluasi kinerja LPTK agar mampu menyiapkan guru-guru berkualitas dan menguasai dua kompetensi utama (subject-content knowledge dan Pedagogical-content knowledge). Berikutnya, LPTK harus mengutamakan kualitas perbaikan program akademik  dan peningkatan kualitas tenaga akademik (dosen, peneliti), dan penguatan kelembagaan,” papar Amich.

Amich menilai menyebut upaya lain yang mendukung peningkatan kualitas lulusan LPTK adalah seleksi penerimaan calon mahasiswa LPTK mulai diperketat dan menyaring mereka yang benar-benar punya passion di bidang keguruan untuk dididik menjadi guru profesional. Sistem rekrutmen dan seleksi calon mahasiswa melalui SNMPTN LPTK. Pada saat yanng sama, melakukan pembatasan kuota untuk calon mahasiswa baru di masing-masing prodi pada LPTK berdasarkan hasil akreditasi prodi LPTK.

Dirjen GTK Usung Transformasi Pendidikan Guru

Sementara itu, Dirjen GTK Iwan Syahril mengungkapkan, sertifikasi dalam jabatan yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir sukses mengantarkan sekitar 1,8 juta guru mendapatkan sertifikat pendidik. Program ini menghabiskan tidak kurang dari Rp 5,5 triliun dan Rp 523 triliun lainnya sebagai tunjangna profesi guru atau tunjangan sertifikasi sejak 2006 hingga 2019. Dalam lima tahun terakhir, tunjangan profesi guru mencapai 12-18 persen dari total anggaran pendidikan nasional. 

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah program tersebut sudah menghasilkan dampak atau outcomes yang diinginkan? Mengutip laporan studi randomized experiment berskala besar yang dilakukan The World Bank, Iwan menyebut program sertifikasi guru Indonesia tidka berdampak pada hasil belajar siswa. Padahal, sambung Iwan, siswa merupakan puncak dari hasil kegiatan pendidikan. 

“Meminjam analogi Pak Presiden Jokowi, menjalankan program pemerintah itu seperti menggunakan aplikasi WhatsApp. Sebuah pesan akan terkirim, lalu kemudian sampai atau delivered. Program harus lebih banyak delivered, dari sekadar sent. Lebih banyak diterima oleh mereka yang kita targetkan. Nah, banyaknya program-program kita statusnya sent. Program terlaksana, anggaran terserap, tapi delivered-nya lemah. Dibanding ekspektasi terhadap kualitas yang kita dapatkan masih lemah,” tegas Iwan yang baru dilantik menjadi Direktur Jenderal GTK pada Jumat pekan lalu. 
Tak hanya itu, mengutip Studi Video TIMSS pada 2015 lalu, Iwan menilai tidak adanya perbedaan praktik mengajar dan hasil belajar siswa antara guru-guru bersertifikasi dengan guru-guru bersertifikasi. Malah guru-guru bersertifikasi cenderung menggunakan pendekatan yang berpusat pada guru. 

Rendahnya outcomes juga tampak jelas dari skor assesmen internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA). Hasil assesmen menunjukkan tidak adanya peningkatan secara konsisten dan signifikan pada performa siswa Indonesia. Bahkan, performa siswa Indonesia pada PISA 2018 menurun dibanding 2015 lalu. 

“Mas Menteri menerjemahkan delivered dalam konteks pendidikan adalah kualitas hasil belajar siswa. Artinya, yang kita inginkan adalah keualitas belajar siswa menjadi lebih baik. Itu yang menjadi acuan program yang kita lakukan. Setiap program yang kita lakukan harus bisa menjawab kualitas belajar siswa. Tidak hanya program terlaksana dan anggaan terserap. Karena itu, dalam kerangka utama transformasi guru yang sudah dipresentasikan kepada Presiden, murid diletakkan paling atas,” terang Iwan. 

“Ini kami dilakukan Kemendikbud, melakukan inovasi seperti ditekankan oleh Pak Enggar tadi. Kita harus melakukan ekperimentasi dengan ide-ide baru dan keberanian meninggalkan pola-pola lama, cara-cara lama, yang kita sudah tahu bahwa hasilnya tidak mencapai pada delivered kualitas yang kita inginkan,” tambah Iwan.

Lebih jauh mantan Dekan Fakultas Pendidikan Sampoerna University ini menjelaksan, kebijakan Merdeka Belajar dalam konteks guru dan tenaga kependidikan menempatkan murid sebagai tujuan utama. Lalu, sekolah berperan sebagai unit inovasi utama. Untuk melakukan itu, perlu program-program yang penciptanya adalah sekolah-sekolah penggerak. 

Sekolah penggerak ini ditopang lima pilar utama. Pertama, transformasi kepemimpinan pendidikan. Kedua, transformasi pendidikan profesi guru (PPG) prajabatan. Ketiga, pengembangan ekosistem belajar guru di setiap provinsi. Keempat, komunitas pendidikan yang bergotong-royong untuk tujuan yang sama. Kelima, regulasi, tata kelola, dan koordinasi dengan pemerintah daerah. 

“Dalam budaya kita, mau tidak mau, pemimpin itu adalah kunci. Pemimpinnya sudah oke, ekosistemnya bisa lebih cepat. Bergerak lebih cepat lagi. Sedangkan selama ini hal ini mungkin belum menjadi perhatian Kemendikbud sebelumnya. Dengan kata lain, ini adalah bentuk inovasi yang kita kembangkan. Pemimpinnya bisa mengembangkan pembelajaran yang beriorientasi pada murid dan mengembangkan guru. Dengan kata lain, menjadi mentor. Saat terjadinya pembelajaran itu sebearnya di sekolah. Tidak perlu menunggu pelatihan lagi. Murid tidak bisa menungu. Kalau ini bisa dilakukan di sekolah, kita meyakini bisa membawa dampak secara sistemik, massif, dan sustainable,” papar Iwan. 

Dalam konteks peningkatan kualitas guru, Iwan menjadikan transformasi PPG sebagai agenda utamanya. Dia menyebutnya sebagai investasi karena dianggap luar bisa penting. PPG prajabatan jauh lebih penting sekaligus lebih mudah dibandingkan PPG dalam jabatan. “Daripada kalau guru-guru (kurang berkualitas) ini sudah masuk. Lalu dilakuan professional development. Itu lebih susah dibandingkan investasi prajabatan. Ini sebuah hal sangat penting untuk mewujudkan sekolah penggerak untuk pendidikan yang beriontasi pada murid,” imbuh Iwan. 

Dalam desain transformasi PPG prajabatan, Iwan menekankan pentingnya proses seleksi calon guru. Seleksi ini meliputi ujian penguasaan konten, ujian bernalar kritis, ujian kepribadian, dan wawancara. Hal ini penting untuk melihat sejauh mana passion seorang calon guru. Seleksi masuk berkualitas tinggi ini diharapkan menghasilkan output guru generasi baru berkualitas.

“Dari beberapa lokakarya yang kami lakukan dan studi literatur, selain inovasi, seleksi masuk berkulitas tinggi menjadi kunci. Bahkan di negara-negara maju, seperti Finlandia. Finlandia melihat passion yang terpenting. Oke penguasan materi bagus, tapi value lemah itu tidak bisa. Ini merupakan kunci menjadi guru pembelajar sepanjang hayat dan sukses,” terang Iwan. 

Sejalan denga itu, Iwan menegaskan pentingnya program PPG baru hasil inovasi dari proses yang sekarang berlangsung. Inovasi pendidikan profesi guru merupakan kunci peningkatan kualitas guru. Sudah saatnya PPG menemukan model-model alternatif yang bisa manjadi cara berionovasi seusai dengan ekspektasi yang kita inginkan. Tentu, model alternatif yang tidak itu-itu saja harus berkualitas, bukan alternatif yang disebutnya alternatif abal-abal. 

Iwan bermimpi PPG baru mampu menghasilkan guru kelas dunia. Mimpi seperti dilakukan Muhammad Yamin ketika mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang kini bertransformasi menjadi UPI. Untuk itu, LPTK harus melakukan inovasi dan keluar dari zona nyaman.

“Kita harus punya visi pendidikan guru kelas dunia. Artinya, kalau bisa, lebih baik lagi dari yang ada. Apakah Cambridge lah, IB lah, dan lain-lain. Goals standar kita itu yang menjadi bagian untuk mentrasformasi PPG. Mimpi lebih bagus dari Singapura, dari Finlandia. Kita sebagai bangsa banyak sekali potensi dan kita jika kita bergaul dengan dunia internasional tidak kalah dari mereka. Cuma dari sistem kita belum bisa membutikan itu. Sekaran dengan banyak sekali momentum, kita harus menata dan mulai berlari bersama-sama, bergotong royong, untk kemudian beralri ebih cepat dari negara lain. Kita mengejar ketertinggalan, dan kalau bisa lebih cepat,” tandas Iwan.(NJP)

Minggu, 10 Mei 2020

Peran Guru IPS Dalam Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme

oleh Sulistyowati, S.Pd.  M.Pd.
Guru IPS SMPN  1 Pujon,  Kab. Malang, Jatim


Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional juga untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sistem pendidikan di Indonesia menerapkan  pendidikan berbasis karakter menjunjung  nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Kemendikbud memaparkan lima nilai karakter yang seharusnya terinternalisasi dalam pendidikan yaitu, nilai religius, nilai nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong (Pengelola Web Kemdikbud, 2017). Untuk mendapatkan pendidikan, maka lembaga keluarga bekerja sama dengan lembaga pendidikan dalam artian menempatkan anak mereka ke dalam sekolah, agar anak-anak mendapatkan lmu pengetahuan maupun karakter. Sekolah ideal adalah sekolah yang menerapkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga setiap anak yang terdidik dapat ikut andil dalam mencapai tujuan nasional bangsa kita yang dimuat dalam UUD 1945 alinea keempat.

Pendidikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Jadi, pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa tentu memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan rekayasa bangsa (Studi, Pancasila, & Kewarganegaraan, 2015). Siswa merupakan aset terbesar dalam menentukan kemajuan bangsa di masa depan. Siswa yang akan memegang tanggung jawab menghidupi kemerdekaan yang telah dititipkan oleh leluhur kepada kita. Untuk itulah pendidikan harus membawa mereka kepada rasa cinta dan bangga kepada tanah air. Tetapi melihat kondisi mental siswa yang kian memburuk saat ini sangat diragukan bahwa mereka memiliki jiwa nasionalisme.

Dalam berbagai kasus yang kita temui saat ini mengajarkan kita bahwa ada sesuatu yang salah dalam bidang pendidikan terkait pengembangan karakter. Dimuat dalam situs ksp.go.id, Pada tanggal 5 Agustus 2019 dilakukan pelatihan guru untuk mendeteksi sejak dini intoleransi di sekolah. Peserta dilatih untuk memahami empati, toleransi, intoleransi, kekerasan, dan perdamaian, cara berkomunikasi konstruktif (Ksp.go.id, 2019) . Lalu apakah pelatihan seperti ini bisa mengurangi tindak kekerasan di sekolah?

Jika ditinjau dari sudut pandang guru pendidikan ilmu pengetahuan sosial (IPS) pendidikan yang terlaksana sampai saat ini sangat memperhatikan pembentukan karakter siswa. Sejak periode jabatan Presiden Jokowi pun, pembentukan karakter menjadi salah satu fokus pembangunan sumber daya manusia yang disebut revolusi mental.

Pendidikan tentu merupakan salah satu faktor terbesar yang menentukan keberhasilan pembangunan karakter anak. Tetapi siapa sangka, sekolah juga memberikan fakta mengejutkan mengenai kemerosotan karakter anak!

Di sekolah masih terdapat tindakan bullying dan kekerasan. Seperti yang dimuat oleh berita di situs Okezone.com yang ditulis oleh (Nasuha, 2019) terdapat berbagai kasus kekerasan dan bullying yang terjadi di sekolah diantaranya adalah kekerasan yang dilakukan antar siswa yaitu seorang taruna di Makassar dengan luka lebam disekujur tubuhnya akibat penganiayaan oleh seniornya. Terdapat juga kekerasan antar guru dengan siswa yaitu guru menampar hingga menendang siswa SMP di NTT serta ada juga kasus kekerasan antara murid dengan guru yakni murid melakukan rundungan pada gurunya di Gresik dengan mendorong dan mengarahkan tangannya yang terkepal kearah guru serta mengeluarkan kata-kata kotor dan merokok dihadapan guru. Selain itu kekerasan seksual terjadi dalam sekolah. Dalam Tempo.co juga dimuat bahwa hasil pengawasan KPAI mengungkap terjadi kasus kekerasan di SD dan SMP yang terjadi di 13 lokasi dan menimbulkan korban sebanyak  73 orang (Riana, 2019). Beberapa kasus yang terjadi tersebut begitu miris mengingat bahwa sekolah merupakan tempat yang kerap dianggap aman bagi anak.

Saat ini kita memang berada dalam era revolusi 4.0 teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dan semakin cepat. Namun dari segi karakter, kita masih mengalami ketertinggalan. Kasus bullying yang marak tanpa mengenal batas usia, kekerasan terhadap siswa yang dilakukan tenaga pendidik, bahkan tindakan kekerasan yang berujung pada kematian. Semua kasus kekerasan yang menimpa murid dan guru tersebut mencerminkan pembangunan karakter kepada penerus bangsa kurang efektif. Bukan hanya siswa, bahkan makna seorang guru juga sudah melenceng dari makna yang sesungguhnya. Pendidikan karakter yang selama ini dikobar-kobarkan sepertinya tidak mengalami perkembangan dalam bidang implementasi dan tidak membawa perubahan yang signifikan. Pendidikan berbasis karakter seakan menjadi retorika belaka yang banyak dibicarakan namun minim tindakan. Seorang siswa harusnya memiliki empati dan kasih sayang diantara sesama siswa dan kepada guru begitu juga sebaliknya.

Dalam konteks pendidikan IPS yang akan mengajarkan tentang relasi yang berlandaskan kasih sayang, maka hal ini cukup kontekstual dalam pembentukan karakter siswa. Dalam hal ini siswa bukan hanya dilihat sebagai siswa tetapi sebagai agent of change. Agent of change bagi keluarganya, lingkungan sekitar, bahkan bangsa dan negaranya. Mengingat materi IPS pada pendidikan dasar memuat konten tentang pesan moral dari kegiatan komunikasi antara manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam dan lingkungannya. Jika materi tersebut disajikan secara proporsional,  komunikatif dan kreatif pasti akan membawa pengaruh positip terhadap pola perilaku para siswa, yang akhirnya akan makin menguatkan karakter para siswa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara maupun dalam pergaulan dunia. Muaranya menumbuhkan jiwa Nasionalisme, cinta tanah air serta rela berkorban untuk bangsa dan negara.

Revolusi 4.0 memang menjadi tantangan bagi pendidikan. Dengan berbagai kemajuan teknologi yang ditawarkan, ada hal yang paling penting untuk diperhatikan. Merosotnya pengenalan jati diri guru maupun siswa. Guru bukan hanya sekedar profesi. Perlu dicatat menjadi guru bukan suatu cita-cita atau pilihan tetapi merupakan panggilan, karena tidak sembarang orang artinya menjadi guru tidak mudah, karena membimbing manusia untuk berubah kearah yang lebih baik dalam menggapai cita-cita serta menanamkan nilai-nilai moral.  Seorang guru memiliki tugas mulia dan peran penting mempersiapkan generasi bangsa yang diawali dengan pembelajaran di dalam kelas. Dengan kata lain guru memiliki kekuatan membuat anak bersemangat untuk selalu belajar dan berbuat apapun serta kapanpun. Guru memiliki posisi yang sangat kuat memberi  teladan, memiliki potensi menginspirasi siswa melakukan sesuatu secara kreatif, inovatif dan santun.

Sepatutnya para guru/pendidik terus merevolosi diri untuk makin profesioanal dalam segala dimensi, dapat menjadi tuntunan bukan hanya sekedar tontonan serta teladan bagi para siswanya. Tidak hanya mengandalkan dimensi Fikriyah/Intelektualitas, tapi terus menguatkan dimensi Ruhiyah/Spiritualitas, karena hanya Rahmad & Karunia ALLOH SWT yang akan menuntun pada kebenaran, profesianalisme serta tugas kita untuk mendidik anak- anak bangsa menjadi manusia paripurna sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional. Jadi guru IPS memiliki peran strategis dalam menumbuhkan karakter anak-anak bangsa serta jiwa Nasionalisme melalui pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. Semoga bermanfaat, terus semangat merevolosi diri. Salam sukses dan santun  untuk semuanya, bersama ALLOH  SWT pasti Bisa dan terealisasikan Percayalah !!



DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar AS. 1992. Kepada Para Pendidik Muslim. Jakarta: Gema Insani Press
Dirjen GTK. 2018. Pedoman Umum Program PKB. Jakarta: Kemendikbud
M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media
Sapriya. 2012. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara.
http://www.dakwahtuna.com/2007/03/29/138/menjadi-pelopor- 
kebajikan/#ixzz6F7V0C4ZJ


                                               










         
                 

Jumat, 08 Mei 2020

Melihat Pemikiran Iwan Syahril, Dirjen GTK Yang Baru

oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Dalam tulisannya yang berjudul “Proklamasi dan Transformasi Pendidikan Indonesia Abad ke-21” yang Ia ramu dari buku “Peluang dan Tantangan Pendidikan Abad 21” terbitan STKIP Kebangkitan Nasional-Sampoerna School of Education, 2011. Ia menuliskan terkait pentingnya “kebangkitan” pendidikan di abad 21.

Iwan Syahril menjelaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah buah karya gerakan terorganisir para pemuda pelajar. Terutama para mahasiswa yang mengecap pendidikan tinggi. Iwan Syahril  seolah berpesan bahwa “Hanya dengan gerakan terorganisir sebuah kebangkitan akan tercapai”.  Begitu pun dalam dunia pendidikan.

Dunia pendidikan adalah kunci. Ia mengatakan karena pendidikanlah Indonesia terbangun. Kesadaran, persatuan dan cita-cita itu terlahir karena proses pendidikan. Kebangsaan itu terlahir karena pendidikan. Pendidikan menyadarkan kebangsaan. Iwan Syahril dalam tulisannya seolah menghendaki gerakan kebangkitan  jilid ke  4, dimulai dari pendidikan!

Gerakan kebangkitan bangsa kita memang berjiid-jilid, jilid pertama yakni saat generasi Budi Utomo 1908. Jilid ke dua  generasi  Sumpah pemuda 1928, dan  jilid ke tiga  generasi saat  proklamasi kemerdekaan  1945? Setidaknya perjuangan terorganisir pada masa lalu untuk memerdekakan negara sudah tercapai.

Bagi Iwan Syahril ada perjuangan di abad 21 yang harus mengorganisir ulang  kekuatan bangsa yakni melakukan transformasi pendidikan. Bukan hanya reformasi pendidikan. Reformasi baginya  hanyalah bentuk lebih baik dari apa yang selama ini kita telah lakukan. Sedangkan transformasi  berarti menjadi sebuah bentuk yang berbeda dari apa yang sudah ada selama ini. Berbeda (kebaruan) itu lebih penting dari hanya lebih baik.

Iwan Syahril ingin pendidikan Indonesia “tampil beda”.  Apakah Ia pengagum Gus Dur yang selalu harus tampil beda?   Iwan Syahril memaparkan lima langkah transformasi pendidikan agar kita lebih baik,  bangkit dan berbeda.  Pertama,  pendidikan harus memerdekakan. Ia tidak boleh menjadi penjara kreatifitas dan imajinasi siswa. Ia tak boleh mengerdilkan dan menindas peserta didiknya yang kejeniusannya tidak bisa dibuktikan lewat ujian tertulis semata.

Kedua, pendidikan tidak boleh membungkam rasa ingin tahu siswa yang tak tersentuh oleh buku teks dan soal ujian. Proses belajar mengajar seharusnya tidak berpusat pada guru, sekolah, kurikulum, orang tua, apalagi penguasa, tapi menginspirasi siswa untuk memberi jutaan pertanyaan tentang hal-hal yang nyata di sekitar mereka. Inspirasi yang menggerakkan mereka untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan jawaban dari sumber-sumber pembelajaran yang ada.

Ketiga, pendidikan memberi contoh konsisten implementasi tutur, tindak dan perilaku norma dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Ia tidak boleh memodelkan cara berbuat curang, termasuk kolusi, korupsi, maupun manipulasi karena alasan apa pun. Guru dan segenap elemen di sekolah harus menjadi contoh dalam bertindak dan berperilaku yang baik.

Keempat, pendidikan harus menjadi bagian pembangunan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Ia tidak boleh boleh menyemai bibit curiga, benci, dendam, dan permusuhan, baik karena hal suku, ras, kelas, harta, agama, antar golongan, dan antar bangsa. Idealnya dalam satu ruang kelas di Indonesia terlihat keanekaragaman agama, suku dan kelas sosial. Misalnya ada orang Jawa, Batak, Maluku, Cina, dan Minahasa.

Kelima, pendidikan harus menciptakan budaya belajar yang dicontohkan semua guru. Guru pembelajar menghasilkan pengajaran yang berkualitas. Guru pembelajar selalu mencari pengetahuan terkini dan terus mencari berbagai cara mengajar kreatif dan efektif. Guru pembelajar menginspirasi siswa dan masyarakat untuk gandrung belajar. Karena itu guru pembelajar akan meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Ahaa, kelima pemikiran terkait transformasi pendidikan di atas cukup wow. Sebaiknya para guru membaca dan memahami pemikiran Iwan Syahril yang ditulis  sejak tahun 2011.  Kini Ia menjadi pejabat Kemdikbud sebagai Dirjen GTK. Ia menjadi “Bapak Muda” para guru. Mengapa menjadi Bapak Muda, bukan mamah muda? Karena Ia Bapaknya para guru dalam usia muda.

Itulah era disrupsi. Mendikbud dan Dirjennya adalah generasi muda. Mas Menteri dari Bos Gojek dan Dirjen GTKnya dari guru, dosen  Yayasan perguruan swasta. Ada sejumlah harapan  pada mereka __Mas Menteri dan Bang Iwan__ yakni nasib guru dan pendidikan harus jauh  lebih baik. Mereka masih muda dan pembelajar, kita punya harapan dan guru menanti harapan lebih baik itu.

Rabu, 06 Mei 2020

DILEMA TRADISI MUDIK DITENGAH CORONA

oleh Rizki Mega Saputra, S.Pd
(Pengajar SMPN Satu Atap Nyogan)

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo resmi menyampaikan larangan mudik bagi masyarakat Indonesia. Telah menjadi keharusan bagi masyarakat Indonesia, beberapa hari menjelang hari lebaran terjadi fenomena yang sangat unik. Yaitu adanya tradisi mudik yang dilakukan masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Mudik ini biasanya dilakukan oleh para perantau yang berasal dari desa yang bekerja di kota  kota besar. Mereka melakukan tradisi mudik karena ingin merayakan hari raya idul fitri dikampung halamannya.

Mudik merupakan fenomena sosial yang rutin setiap tahun terjadi. Mudik di sini diartikan sebagai liburan massal warga kota-kota besar di daerah asal mereka (desa atau kota-kota yang lebih kecil). Kegiatan ini biasanya di lakukan menjelang hari raya Idul Fitri, natal dan tahun baru (Abeyasekere 1989; Jelinek 1991; Evers dan Korff 2000: Somantri 2001).
Mudik dapat diartikan sebagai pulang kampung walaupun secara harfiah sebenarnya berasal dari kata udik yang mempunyai arti desa. Mudik kebiasaan yang selalu dilakukan masyarakat Indonesia menjelang perayaan Idul Fitri tiba. Umumnya mudik lebaran dilakukan oleh segenap umat beragama Islam yang berada diperantauan atau bertempat tinggal jauh dari kampung halaman mereka. Kebiasaan ini dilakukan pada 7 (tujuh) hari sebelum lebaran hingga 7 (tujuh) hari sesudah hari raya tersebut.

Mudik menurut antropolog Neil Mulder sering dimaknai sebagai proses migrasi internal (lokal) yang berlangsung secara temporer. Mudik juga merupakan simbol kultur komunalitas yang terjadi pada masyarakat baik sebelum maupun pasca libur panjang atau hari besar seperti Natal, tahun baru, dan terutama pada saat lebaran. Mudik di Indonesia sudah menjadi suatu tradisi yang selalu dilakukan di masyarakat Indonesia pada peringatan hari-hari yang dianggap penting, seperti pada waktu lebaran atau liburan. Mudik atau dalam artian lain pulang kampung ini sudah merupakan aktivitas rutin tahunan bagi sebagian masyarakat Indonesia yang sebagai perantau atau jauh dari keluarga.

Pulang kampung sebenarnya kamuflase dari semangat memperoleh legitimasi sosial dan menunjukkan eksistensinya. Itulah awal mula mudik menjadi tradisi yang seolah-olah mempunyai akar budaya. Sesungguhnya tradisi mudik (dari Jakarta ke udik) lebih disebabkan oleh problem sosial akibat perbedaan mencolok kemajuan Jakarta dan kota-kota lain. Tengok saja, sebagian besar pemudik adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah yang ingin pamer kepada masyarakat udiknya, seolah-olah mereka telah mencapai sukses (Kompas:2011).

Sebenarnya fenomena mudik tahun ini dipandang ada dua faktor kemungkinan yaitu menjadi suatu ancaman terhadap kesehatan orang lain dan berkurangnya atau bahkan hilangnya penghasilan bagi pekerja informal yang ada di perkotaan.

Solidaritas Sosial 

Solidaritas merupakan sebuah keterkaitan terhadap kelompok sosial karena pada dasaranya masyarakat itu saling membutuhkan dengan kata lain bahwa solidaritas dapat diartikan sebuah kesetiakawanan serta perasaan sepenanggungan diantara kelompok sosial.

Paul Johnson mengatakan solidaritas menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan yang di dukung nilai-nilai moral dan kepercayaan dalam masyarakat. Wujud nyata hubungan bersama melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antara mereka.

Salah satu sosiolog yang membahas tentang solidaritas yaitu Emile Durkheim, beliau merupakan seorang pencetus sosiologi modern yang terkenal. Durkheim paling tertarik pada cara yang menghasilkan solidaritas sosial, cara yang berubah yang mempersatukan masyarakat dan bagaimana para anggotanya melihat dirinya sebagai bagian dari suatu keseluruhan. Adanya perbedaaan tersebut Emile Durkheim mengacu pada dua tipa yaitu mekanik dan organik.

Pengertian secara sederhana dari solidaritas yang dimaksud oleh Emile Durkheim yaitu solidaritas organis merujuk pada orang-orang kota yang salah satu cirinya adalah adanya pembagian tugas atau pekerjaan sesuai dengan kemampuan, kemudian untuk solidaritas mekanik bisa dikatakan sebagai orang-orang desa yang mempunyai ikatan dan latar belakang yang sama.

Tradisi mudik dilakukan oleh beberapa orang bekerja atau tinggal sementara dikota untuk kembali lagi pada saat tertentu dengan begitu mereka kembali ke desa atau kekampung masing-masing dengan solidaritas yang tinggi maka bisa dikatakan adanya solidaritas mekanik.

Status sosial

Status sosial biasanya didasarkan pada berbagai unsur kepentingan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu status pekerjaan, status dalam sistem kekerabatan, status jabatan dan status agama yang dianut. Status seseorang dapat berinteraksi dengan baik terhadap sesamanya, bahkan banyak dalam pergaulan sehari-hari seseorang tidak mengenal orang lain secara individu, melainkan hanya mengenal statusnya saja.
Menurut Soerjono Soekanto bahwa status sosial merupakan tempat seseorang yang secara umum didalam masyarakat sehubungan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulan, prestise serta juga hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.

Secara sederhana status sosial diartikan sebagai sebuah kedudukan seseorang yang ada di masyarakat sesuai dengan hak dan tanggung jawab yang dimilikinya, kemudian akan ada namanya tingkatan-tingkatan status dimasyarakat yang biasanya yaitu karena kekayaan, kedudukan, keturunan dan pendidikan.

Ralph Linton (dalam Polak, 1985) membedakan ada beberapa jenis status yaitu ascribed status (status sudah dari lahir), Achieved Status (berdasarkan usaha) dan Assigned status (status yang diberikan).

Saya menganggap bahwa sebagian pemudik itu ke achieved status dengan alasan bahwa biasanya para perantau akan diberikan penghargaan orang sukses karena berhasil pada pekerjaannya dikota, meskipun terkadang mereka hanya kamuflase prestisenya untuk diakui telah sukses diperantauan misalnya dengan membawa mobil baru ke kampung masing-masing yang tidak lain terkadang itu mobil hasil dari menyewa dikota.

Fenomena mudik sering dijadikan sebagai media untuk menunjukkan sukses di kota. Status sosial yang diperoleh perlu diketahui oleh sanak-keluarga. Mereka datang dengan mobil pribadi, walau harus menyewa dari rental. Tidak hanya itu biasanya para pemudik rela mengeluarkan uang banyak untuk menyewa mobil demi prestis yang ingin didapat oleh orang-orang di desa. Jadi inilah fenomena mudik, menjadi tidak sekedar merayakan hari raya akan tetapi juga menjadi ajang pamer keberhasilan mereka mengais rejeki di tanah perantauan.

Ketika banyak masyarakat kita di hari raya idul fitri pulang ke kampung halamannya, sebenarya lebih sebagai bentuk upaya pencarian jati diri mereka yang sesungguhnya. Sebab ketika berada di kota-kota besar, eksistensi mereka sebagai seorang manusia tidak ubahnya seperti sekrup dalam mesin yang tidak diperhitungkan. Sementara di kampung halaman, mereka biasanya adalah orang-orang yang diperhitungkan, dibutuhkan, dan dimanusiakan layaknya bagian dari komunitas sosial tertentu.
Secara tidak kita sadari sebenarnya mudik bisa pula dikatakan sebagai salah satu gambaran nyata tentang pola hidup konsumtif masyarakat akibat merasa mencapai kemenangan setelah melaksanakan puasa ramadhan selama satu bulan penuh dengan hamburkan uang yang mereka peroleh selama ini pada sesuatu yang dapat dianggap mubazir.

Lalu akankah fenomena mudik di masa yang akan datang hilang? Setelah tahun ini mudik dilarang karena pandemi yang merengkuh kebersamaan dan kebahagian seluruh manusia di Indonesia ini bahkan dunia. Alangkah baiknya kita menunda mudik yang menjadi acara tahunan demi menjaga kelangsung kehidupan yang lebih baik lagi. Virus corona yang sedang melanda saat ini akan hilang ketika kita semua menjaga diri serta taat anjuran dan mengukuti apa yang disarankan oleh pemerintah Indonesia.

Daftar Pustaka

Doyle Paul Johnson. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta:Gramedia Hal. 181
George ritzer. 2012. Teori Sosiologi dasi Sosiologi Klasik sampai perkembangan terakhir Post Modern. Pustaka Pelajar:Yogyakarta. 145
Abdul Syani, Sosiologi Sistematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) hal 93

Selasa, 05 Mei 2020

TIPS PEMBELAJARAN DARI MAS MENTERI (BELAJAR DARI COVID-19)

Triyanto
Guru SMP Negeri 1 Palembang

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, menyampaikan bagaimana menghadapi kondisi krisis akibat pandemi Covid-19. Melalui Youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, beliau menyampaikan Tips pembelajaran di rumah kepada para pengajar dan orang tua. Mas Menteri memberikan 7 (tujuh) Tips agar pembelajaran jarak jauh terlaksanan dengan efektif dan efisien.

Tips Pertama, hindari stres.
Mas Menteri mengawali tips pertamanya, jangan stres ini adalah masa adaptasi, pasti tidak mudah, penuh dengan kebingungan dan ketidakpastian, ini adalah normal. Jangan khawatir, yakini bahwa cara terbaik untuk belajar suatu hal baru adalah keluar dari zona nyaman. Guru diharapkan melakukan evaluasi dan selalu memperbaiki diri dengan mengembangkan kemampuan. Kemampuan pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi terus dikembangkan dan mencoba mempelajari metode-metode pembelajaran (online) terbaik.

Tips kedua, membagi kelas menjadi kelompok yang lebih kecil.
Guru diharapkan untuk tidak takut bereksperimen dengan cara-cara baru. Kondisi seperti ini merupakan moment untuk berinovasi. Alumnus Harfard Business School, Amerika Serikat ini berpendapat, tidak semua murid memiliki level kompetensi yang sama.  Murid unggul pada satu bidang, belum tentu unggul pada bidang yang lainnya. Membagi kelompok kecil berdasarkan kompetensi yang sama. Setiap kelompok mempelajari topik yang menarik atau sulit bagi mereka. Guru membimbing mereka untuk menggali materi pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dan kompetensi dasarnya tercapai.

Tips ketiga, mencoba Project Based Learning.
Belajar di rumah memungkinkan guru memberikan group project assignment. Guru menciptakan tantangan, yang menuntut kelompok untuk berkolaborasi. Rancangan pembelajaran seperti ini  melatih tanggung jawab, empati, saling memotivasi serta menumbuhkembangkan semangat gotong royong pada kelompok. Project Based Learning juga bertujuan untuk mengembangkan semagngat kerja sama dan kreatifitas para siswa.


Tips keempat, alokasi lebih banyak waktu bagi yang tertinggal.
Prhatian guru lebih banyak diberikan kepada para murid yang tertinggal di kelas. Hal ini diharapkan agar mereka mampu mengejar ketertinggalannya. Para murid tersebut diharapkan akan lebih percaya diri pada saat bergabung di kelasnya nanti. Menteri yang juga pendiri Gojek tahun 2010 ini, mempertanyakan, mengapa semua guru dan pengajar harus membagi waktu secara rata. Anak memiliki kemampuan yang berbeda. Waktu yang diperlukan anak untuk mempelajari materi berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Anak yang mandiri tidak memerlukan waktu yang sama lamanya dibandingkan dengan anak yang memerlukan bantuan lebih untuk mencapai kompetensi.

Tips kelima, fokus pada yang terpenting.
Saatnya untuk menguatkan konsep-konsep fundamental yang mendasari kemampuan murid-murid. Kemampuan literasi, numerasi dan pendidikan karakter harus diperkuat. Kemampuan tersebut diharapkan dapat mengantarkan para murid sukses pada berbagai bidang pelajaran. 

Tips keenam, Sering “nyontek” antara guru.
Guru berkesempatan melakukan inovasi media atau metode belajar online. Pada kondisi seperti sekarang, literasi digital merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pada pembelajaran online. Kolaborasi dengan guru-guru yang lebih mahir kemampuan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi harus ditingkatkan. Para guru jangan ragu-ragu meminta pertolongan dan meminta contoh best practise dari guru yang lebih kompeten. Guru ikut sebagai partisipan pada kelas virtual merupakan satu cara untuk mengembangkan kemampuan literasi digitalnya.

Tips ketujuh, have fun.
Menteri kelahiran Singapura, pada tanggal 4 Juli 1984 ini menutup tipsnya dengan menyatakan: “mengajar itu tidak mudah, tetapi siapa bilang harus membosankan? dan sama-sama saja.”   Guru sudah seharusnya mendengarkan instingnya sebagai guru dan orang tua. Apa yang diragukan tetapi dipercaya terbaik untuk para muridnya, sudah saatnya untuk dicoba. Guru sudah saatnya berani melakukan berbagai inovasi, agar pembelajarannya lebih efektif. Jika dalam pembelajaran para murid dibimbing untuk berani banyak bertanya dan mencoba, bagaimana dengan gurunya. Guru harus berani mencoba untuk banyak tanya, banyak mencoba dan banyak karya.

Mencermati Tips Pembelajaran dari Menteri peraih penghargaan Nikkei Prize ke-24 tahun 2019, muncul pertanyaan, seberapa efektif Tips Pembelajaran menurut beliau ini!. Para guru perlu mencoba, karena berani mencoba merupakan pintu meraih sukses. Guru yang sukses, bukan hanya mampu mentransfer ilmu kepada muridnya. Guru  sukses adalah guru yang mampu membelajarkan muridnya untuk mencapai tujuan dan kompetensi yang dibutuhkannya. 

Sumber: KEMENDIKBUD RI: https://www.youtube.com/watch?v=GS7k6eR1QIs

Sabtu, 02 Mei 2020

Bercadar Bukan Karna Agama dan Bermasker Bukan Karna Asap.

oleh  SURYA IRA MAHAYANI, S.Pd.
SMP Negeri 4 Mandau  Duri- Riau.


Tak pernah terlintas dalam benak ku seperti ini biasanya kalau ditanya kepada anak murid saat belajar IPS musim ada berapa di Indonesia mereka menjawab tiga buk,  musim hujan, musim kemarau dan musim asap. Karena musim asap ini terjadi dua kali dalam setahun yang terjadi di kota tempat ku tinggal. Banyak  cadar yang di gunakan musim asap yang tidak biasanya digunakan orang dalam keseharianya secara  mendadak akibat ulah asap tersebut.

Tapi saat ini terulang kembali banyaknya orang menggunakan cadar bukan karena agama dan menggunakan masker bukan karena asap tapi karna adanya wabah Pandemi Covid-19 mulai terhitung  tanggal 16 Maret 2020 sesuai dengan Surat Edaran Pemerintah Daerah anak sekolah dan guru seta Staf Tata Usaha di Liburkan akibat adanya wabah Pendemi Covid -19 sampai tanggal 30 Maret 2020.

Dengan adanya wabah Covid -19 masyarakat diminta untuk memakai masker kemanapun pergi dan menjaga jarak kepada setiap orang minimal satu meter.  Minggu pertama telah berlalu semua orang di daerah dilarang keluar rumah keadaan mulai sepi tapi masih ada juga yang melakukan kegiatan di luar rumah seperti  pedagang  kaki lima yang mencari nafka untuk menghidupi keluarganya.

Gejala Virus Corona (COVID-19)
Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat.

Penderita dengan gejala yang berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul ketikatubuh bereaksi melawan virus Corona. Secara umum, ada 3 gejala umum yang bisa  yaitu: Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius), Batuk, Sesak napas.

Penyebab Virus Corona (COVID-19)
Infeksi virus Corona atau COVID-19 disebabkan oleh coronavirus, yaitu kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Pada sebagian besar kasus, coronavirus hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu. Akan tetapi, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Ada dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, kemudian diketahui bahwa virus Corona juga menular dari manusia ke manusia.
Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui berbagai cara, yaitu:

Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19 batuk atau bersin
Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-19
Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19

Virus Corona dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut usia, orang yang memiliki penyakit tertentu, atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah, perokok, dan ibu hamil.

Diagnosis Virus Corona (COVID-19)
Untuk menentukan apakah pasien terinfeksi virus Corona, dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien dan apakah pasien baru saja bepergian atau tinggal di daerah yang memiliki kasus infeksi virus Corona sebelum gejala muncul. Dokter juga akan menanyakan apakah pasien ada kontak dengan orang yang menderita atau diduga menderita COVID-19.

Guna memastikan diagnosis COVID-19, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut:
Rapid test sebagai penyaring
Tes usap (swab) tenggorokan untuk meneliti sampel dahak (tes PCR)
CT scan atau Rontgen dada untuk mendeteksi infiltrat atau cairan di paru-paru

Pengobatan Virus Corona (COVID-19)
Infeksi virus Corona atau COVID-19 belum bisa diobati, tetapi ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dokter untuk meredakan gejalanya dan mencegah penyebaran virus, yaitu:

Merujuk penderita COVID-19 yang berat untuk menjalani perawatan dan karatina di rumah sakit rujukan
Memberikan obat pereda demam dan nyeri yang aman dan sesuai kondisi penderita

Menganjurkan penderita COVID-19 untuk melakukan isolasi mandiri dan istirahat yang cukup

Menganjurkan penderita COVID-19 untuk banyak minum air putih untuk menjaga kadar cairan tubuh
Komplikasi Virus Corona (COVID-19)
Pada kasus yang parah, infeksi virus Corona bisa menyebabkan beberapa komplikasi berikut ini:
Pneumonia (infeksi paru-paru)
Infeksi sekunder pada organ lain
Gagal ginjal
Acute cardiac injury
Acute respiratory distress syndrome
Kematian

Pencegahan Virus Corona (COVID-19)
Sampai saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus Corona atau COVID-19. Oleh sebab itu, cara pencegahan yang terbaik adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus ini, yaitu:

Terapkan physical distancing, yaitu menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, dan jangan dulu ke luar rumah kecuali ada keperluan mendesak.

Gunakan masker saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian.
Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60%, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat umum.

Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan.
Tingkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat.

Hindari kontak dengan penderita COVID-19, orang yang dicurigai positif terinfeksi virus Corona, atau orang yang sedang sakit demam, batuk, atau pilek.

Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah.

Jaga kebersihan benda yang sering disentuh dan kebersihan lingkungan, termasukkebersihan rumah.
Untuk orang yang diduga terkena COVID-19 atau termasuk kategori ODP (orang dalam pemantauan) maupun PDP (pasien dalam pengawasan), ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar virus Corona tidak menular ke orang lain, yaitu:

Lakukan isolasi mandiri dengan cara tinggal terpisah dari orang lain untuk sementara waktu. Bila tidak memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi yang berbeda dengan yang digunakan orang lain.
Jangan keluar rumah, kecuali untuk mendapatkan pengobatan.

Bila ingin ke rumah sakit saat gejala bertambah berat, sebaiknya hubungi dulu pihak rumah sakit untuk menjemput.

Larang dan cegah orang lain untuk mengunjungi atau menjenguk Anda sampai Anda benar-benar sembuh.
Sebisa mungkin jangan melakukan pertemuan dengan orang yang sedang sedang sakit.

Hindari berbagi penggunaan alat makan dan minum, alat mandi, serta perlengkapan tidur dengan orang lain.

Pakai masker dan sarung tangan bila sedang berada di tempat umum atau sedang bersama orang lain.
Gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung bila batuk atau bersin, lalu segera buang tisu ke  tempat sampah.

Saya berharap semoga wabah ini cepat berakhir dan bisa berkumpul kembali melaksanakan aktifitas seperti biasanya, untuk anak didik ku ibu sudah kangen untuk berjumpa bertegursapa dan memberikan ilmu kepada anak didikku.  Jadikan ini pelajaran berharga buat kita semua untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan.





Guru Dosen Makan Gaji Buta?

oleh  Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)


Setelah viral FB Imas Masrikah  __konon katanya dibajak__   mengatakan “Guru Makan Gaji Buta Saat Wabah Covid-19”. Kini pengamat pendidikan Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji menyimpulkan, “Guru dan Dosen PNS  Makan Gaji Buta”. Dalam pernyataan persisnya Ia mengatakan, “Enak kan dosen dan guru PNS, tidur-tiduran saja tetap digaji”.

Indra Charismiadji  mengabaikan tugas guru  saat stay at home dan WFH. Bahkan di sejumlah daerah ada sejumlah guru yang masih mendatangi murid satu-satu karena keterbatasan fasilitas belajar.  Bahkan bukankah para kepala sekolah dan guru bergantian piket ke sekolah.  Faktanya hampir semua sekolah dalam kontrol dan pengawasan guru. Apalagi  anak didik, semua dalam kontrol para guru.

Faktanya guru melakukan beberapa hal, diantaranya : 1) melakukan pembelajaran daring, 2) menilai hasil pembelajaran daring, 3)  guru walikelas memantau kesehatan anak didik, 4) memenuhi administrasi, 5) mengikuti  peningkatan kompetensi secara virtual, 6) mengikuti kegiatan organisasi profesi, 7) ada yang kuliah daring, 8) membangun komunikasi intensif dengan orangtua dan 9) bahkan menggalang dana kemanusiaan untuk guru honorer dan masyarakat.

Bila menstigma guru dan dosen PNS makan gaji buta sangat tidak elok. Musibah Covid-19 bukan kehendak para ASN guru dan dosen.  Kalau pun pembelajaran dilaksankan secara PJJ atau daring merupakan tuntutan keadaan, bukan keinginan. Justru hadirnya sebuah lagu kisah Istri Nabi,  Syahidah Aisyah yang digubah menjadi sebuah lirik, “Kerinduan Guru Pada Anak Didik” adalah sebuah keinginan bekerja di sekolah, ingin ketemu anak didiknya. Bukan ingin tidur-tiduran di rumah!

Wabah Covid-19  malah menjadi sebuah kode keras  bagi pemerintah,  masyarakat dan  semua ekosistem pendidikan.   Pesannya, “Jangan anggap enteng tugas guru dan dosen, tanpa guru maka anak didik dan para mahasiswa menjadi tak terdampingi, mereka bisa  gagal didik dan tidak menjadi apa-apa.  Guru dan dosen harus lebih diperhatikan oleh pemerntah, masyarakat dan semua pihak”. Menjadi guru adalah menjadi profesi yang tidak diminati entitas  anak didik terbaik.

Faktanya tidak ada dosen dan guru kaya raya. Profesi ini cenderung volume pengabdiannya  lebih besar dari gaji yang didapatkan. Apalagi guru honorer jauh lebih besar pengabdiannya, bahkan ada yang bergaji Rp. 300 ribu. Tidaklah heran zaman orde lama guru dengan gaji kecil “disanjung” sebagai pahlwan. Pahlawan tanpa tanda jasa, ini adalah sebuah “gaji mental” untuk mengkompensasi dari gaji riil yang tak pantas diterima. Guru identik dengan Oemar Bakri dan  tampilannya identik dengan sepeda kumbang.

Bila Indra Charismiadji menghakimi guru dan dosen PNS tidur-tiduran makan gaji buta, tentu tak elok.  Tak elok karena apa? Pertama tak sesuai fakta. Kedua guru/dosen  bukan profesi yang bergaji besar dan berfasilitas  lengkap dari negara.  Gaji guru di Indonesia termasuk  negara dengan gaji yang kecil.  Bahkan sejumlah guru banyak yang gaji minus karena tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga.  Ketiga memang guru dan siswa/mahasiswa  saat wabah Covid-19 ini terkadang belajar sambil rebahan bukan tiduran.

Untuk Indra Charismiadji semoga  pernyataan yang dilontarkan tidak selevel dengan akun FB yang tidak memahami dunia pendidikan secara utuh. Sebuah pepatah mengatakan, ”Air dalam sebuah botol akan keluar sesuai isinya. Bila isinya madu maka akan keluar madu. Bila isinya racun maka racun yang akan keluar”. Semoga para pengamat pendidikan bisa lebih jernih, mendalam, kaffah dalam  melihat sebuah sikon dan dinamika.