Kamis, 21 Mei 2020

Bahagia Berurai Air Mata

Oleh : Supriyanto, M.Pd

Hari ini aku menangis sesenggukan di Masjid Al Ikhlas. Air mataku mengalir deras membasahi pipi dan maskerku.

Seperti biasanya setiap hari di Bulan Ramadhan selama masa WFH/SFH, selesai salat jama'ah subuh di masjid aku tidak pulang. Kusempatkan setiap pagi untuk iktikaf sambil berdzikir menunggu matahari terbit dan tibanya waktu syuruq untuk melaksanakan 2 raka'at salat isyraq/syuruq yang pahalanya menurut Rasulullah SAW seperti pahala naik haji dan umrah yang sempurna.

Sekitar satu jam aku duduk tafakur sambil berdzikir dan memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Saat membaca shalawat itulah tiba-tiba terlintas sepenggal kisah dalam Kitab Irsyadu Ibad yang semalam aku baca menjelang tidurku.

Dalam kitab itu diceritakan tentang Athiyah bin Khalaf, seorang saudagar di Mesir, pedagang kurma kaya raya yang sedang bangkrut. Ia menyempatkan diri beribadah di Masjid Amr bin Ash. Saat itu ia didatangi oleh seorang perempuan miakin dengam pakaiannya yang kumal.

"Wahai hamba Allah, tak inginkah kau bersedekah untukku dan anak-anakku? Aku seorang syarifah (keturunan Rasulullah SAW), janda yang memiliki beberapa anak yang masih kecil di rumah. Sudah beberapa hari ini kami belum makan, kami tak memiliki apa pun yang bisa kami pakai untuk membeli makanan," kata perempuan itu.

Seketika wajah sang lelaki tertunduk. Pikirannya bekerja keras. Dia berdiskusi dengan pikiran dan hatinya sendiri.

"Engkau ini pedagang yang telah bangkrut. Kau sudah tidak lagi memiliki harta selain sehelai pakaian yang sedang engkau kenakan kini. Apa yang bisa engkau sedekahkan untuk syarifah ini? Jika pun engkau memberikan bajumu ini maka engkau akan malu terlihat auratmu di masjid ini", kata pikirannya.

" Tapi dia seorang syarifah miskin dengan anak-anak yatimnya yang sedang menahan lapar yang amat sangat. Kalau aku tidak membantu mereka, lantas apa yang akan aku katakan nanti di akhirat kepada Rasulullah", suara hatinya pun berbicara lirih.

Sejenak dia pun menoleh kepada syarifah itu dan berkata dengan lembut, "Wahai syarifah, ikutlah aku."

Maka bergegaslah lelaki itu keluar meninggalkan masjid dan menuju rumah petaknya yang mau runtuh itu. Sesampainya di rumah dia masuk daneminta syarifah menunggu di depan pintu yg ditutupnya. 

Dia pun membuka pakaiannya, melipat dan membungkusnya dengan rapi setelah berganti dengan kain kumal sekedar untuk menutup auratnya.

"Wahai syarifah, aku hanya miliki sehelai baju ini. Juallah dan belikan makanan untukmu dan anak-anakmu.", kata si lelaki kepada syarifah.

Dengan wajah berbinar syarifah menerimanya dan dengan tulus berdo'a, " Semoga Allah SWT menggantinya dengan pakaian surga untukmu dan kamu tidak akan membutuhkan sesuatu pada orang lain selama hidupmu."

Setelah syarifah pergi, lelaki iku mengurung diri di rumahnya sambil berdzikir dan menangis, bermunajat sepanjang hari hingga akhirnya tertidur. 

Dalam tidurnya itu dia bermimpi didatangi seorang bidadari yang sangat cantik yang membawakan buah apel yang baunya sangat harum untuknya. Saat buah apel itu dipecah keluarlah sehelai pakaian surga yang sangat indah.

Dengan penuh keheranan, Athiyah, lelaki itu, bertanya kepada sang bidadari, "Siapakah dirimu?" "Aku adalah Asyura',  istrimu di Surga", jawab sang bidadari.

Athiyah tersentak dan terbangun dari tidurnya. Dia pun berdo'a, " Ya Allah, jika mimpiku ini benar adanya, dan bidadari itu adalah istriku, maka matikanlah aku segera agar bisa bertemu dengan-Mu."

Belum selesai dia berdo'a, Allah pun sudah mengambil nyawanya.

Bukan tentang Athiyah dan bidadarinya yang membuatku menangis di Masjid pagi ini. Aku menangis karena teringat Rasulallah SAW.

Sebelum menikah, beliau adalah seorang pemuda yang kaya raya. Seorang pedagang antarnegara yang sukses. Banyak saudagar lain yang tertarik berkongsi dengan beliau sebagai investor dan beliau sebagai operator bisnisnya.  

Salah seorang investor, saudagar besar nan kaya raya itu bernama Khadijah binti Khuwailid. Bisnis mereka senantiasa menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Keuntungan yang terus menambah pundi-pundi kekayaan mereka berdua.

Kekaguman Khadijah pada pribadi Muhammad mengantarkan mereka berdua menjadi suami istri. Pasangan saudagar kaya raya di Kota Makkah. 

Beliau dan keluarga menikmati kehidupan yang bahagia dan kaya raya itu hingga beliau memilih ber uzlah di Gua Hira dan menerimah nubuwah kenabian.

Sejak itulah beliau memilih fokus berdakwah dan menghabiskan harta kekayaannya untuk dakwah.

Tidak sedikit harta beliau dan harta Bunda Khadijah yang dihabiskan untuk membiayai dakwah dan untuk menaklukkan hati banyak pemimpin kabilah untuk memeluk dan membela agamanya.

Setelah Islam berjaya di Madinah pun, Allah SWT memberikan hak 20% dari harta ghanimah untuk beliau. Dan itu jumlah yang sangat besar setiap kali ada peperangan yang dimenangkan oleh kaum muslimin. Nilainya bisa milyaran dan bahkan triliunan rupiah.

Jika beliau menghendaki hidup sejahtera dan kaya raya seperti sebelum mendapat nubuwah maka kehidupan mewah bukan hal yang sulit beliau dapatkan. Dan itu pun tak akan habis dinikmati oleh 7 turunan sekali pun.

Tapi ternyata bukan itu yang beliau kehendaki di dunia ini. Beliau memilih menginfakkan harta yang menjadi hak beliau itu di jalan dakwah. Semua keluarga dan anak cucu beliau pun mengikutinya.

Mereka memilih hidup dalam ketrerbatasan ekonomi demi tegaknya agama Allah. 

Hingga kita pun bisa membaca kisah si Syarifah bersama beberapa anak yatimnya yang kelaparan dan memohon sedekah.

Ya Rasulullah.... Betapa mulia hatimu. Betapa agung budi pekertimu. Betapa lembut jiwamu. Engkau memilih hidup menderita meski harta dunia datang melimpah kepadamu demi umatmu.

Ya Allah, hamba rindu kepada nabi-Mu. Hamba ingin memeluknya, duduk bersimpuh didepannya sambil mendengarkan banyak wajangannya  

Ya Allah, ijinkan hba segera bisa berziarah ke makam beliau di Madinah, bermunajat di raudah yang mustajabah untuk semua do'a. Ijinkan hamba dan keluarga segera bisa menunaikan ibadah haji dan umrah dengan pahala yang sempurna.

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi)

*Supriyanto, M.Pd*
*Masjid Al Ikhlas, 26 Ramadhan 1441H*