Rabu, 06 Mei 2020

DILEMA TRADISI MUDIK DITENGAH CORONA

oleh Rizki Mega Saputra, S.Pd
(Pengajar SMPN Satu Atap Nyogan)

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo resmi menyampaikan larangan mudik bagi masyarakat Indonesia. Telah menjadi keharusan bagi masyarakat Indonesia, beberapa hari menjelang hari lebaran terjadi fenomena yang sangat unik. Yaitu adanya tradisi mudik yang dilakukan masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Mudik ini biasanya dilakukan oleh para perantau yang berasal dari desa yang bekerja di kota  kota besar. Mereka melakukan tradisi mudik karena ingin merayakan hari raya idul fitri dikampung halamannya.

Mudik merupakan fenomena sosial yang rutin setiap tahun terjadi. Mudik di sini diartikan sebagai liburan massal warga kota-kota besar di daerah asal mereka (desa atau kota-kota yang lebih kecil). Kegiatan ini biasanya di lakukan menjelang hari raya Idul Fitri, natal dan tahun baru (Abeyasekere 1989; Jelinek 1991; Evers dan Korff 2000: Somantri 2001).
Mudik dapat diartikan sebagai pulang kampung walaupun secara harfiah sebenarnya berasal dari kata udik yang mempunyai arti desa. Mudik kebiasaan yang selalu dilakukan masyarakat Indonesia menjelang perayaan Idul Fitri tiba. Umumnya mudik lebaran dilakukan oleh segenap umat beragama Islam yang berada diperantauan atau bertempat tinggal jauh dari kampung halaman mereka. Kebiasaan ini dilakukan pada 7 (tujuh) hari sebelum lebaran hingga 7 (tujuh) hari sesudah hari raya tersebut.

Mudik menurut antropolog Neil Mulder sering dimaknai sebagai proses migrasi internal (lokal) yang berlangsung secara temporer. Mudik juga merupakan simbol kultur komunalitas yang terjadi pada masyarakat baik sebelum maupun pasca libur panjang atau hari besar seperti Natal, tahun baru, dan terutama pada saat lebaran. Mudik di Indonesia sudah menjadi suatu tradisi yang selalu dilakukan di masyarakat Indonesia pada peringatan hari-hari yang dianggap penting, seperti pada waktu lebaran atau liburan. Mudik atau dalam artian lain pulang kampung ini sudah merupakan aktivitas rutin tahunan bagi sebagian masyarakat Indonesia yang sebagai perantau atau jauh dari keluarga.

Pulang kampung sebenarnya kamuflase dari semangat memperoleh legitimasi sosial dan menunjukkan eksistensinya. Itulah awal mula mudik menjadi tradisi yang seolah-olah mempunyai akar budaya. Sesungguhnya tradisi mudik (dari Jakarta ke udik) lebih disebabkan oleh problem sosial akibat perbedaan mencolok kemajuan Jakarta dan kota-kota lain. Tengok saja, sebagian besar pemudik adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah yang ingin pamer kepada masyarakat udiknya, seolah-olah mereka telah mencapai sukses (Kompas:2011).

Sebenarnya fenomena mudik tahun ini dipandang ada dua faktor kemungkinan yaitu menjadi suatu ancaman terhadap kesehatan orang lain dan berkurangnya atau bahkan hilangnya penghasilan bagi pekerja informal yang ada di perkotaan.

Solidaritas Sosial 

Solidaritas merupakan sebuah keterkaitan terhadap kelompok sosial karena pada dasaranya masyarakat itu saling membutuhkan dengan kata lain bahwa solidaritas dapat diartikan sebuah kesetiakawanan serta perasaan sepenanggungan diantara kelompok sosial.

Paul Johnson mengatakan solidaritas menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan yang di dukung nilai-nilai moral dan kepercayaan dalam masyarakat. Wujud nyata hubungan bersama melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antara mereka.

Salah satu sosiolog yang membahas tentang solidaritas yaitu Emile Durkheim, beliau merupakan seorang pencetus sosiologi modern yang terkenal. Durkheim paling tertarik pada cara yang menghasilkan solidaritas sosial, cara yang berubah yang mempersatukan masyarakat dan bagaimana para anggotanya melihat dirinya sebagai bagian dari suatu keseluruhan. Adanya perbedaaan tersebut Emile Durkheim mengacu pada dua tipa yaitu mekanik dan organik.

Pengertian secara sederhana dari solidaritas yang dimaksud oleh Emile Durkheim yaitu solidaritas organis merujuk pada orang-orang kota yang salah satu cirinya adalah adanya pembagian tugas atau pekerjaan sesuai dengan kemampuan, kemudian untuk solidaritas mekanik bisa dikatakan sebagai orang-orang desa yang mempunyai ikatan dan latar belakang yang sama.

Tradisi mudik dilakukan oleh beberapa orang bekerja atau tinggal sementara dikota untuk kembali lagi pada saat tertentu dengan begitu mereka kembali ke desa atau kekampung masing-masing dengan solidaritas yang tinggi maka bisa dikatakan adanya solidaritas mekanik.

Status sosial

Status sosial biasanya didasarkan pada berbagai unsur kepentingan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu status pekerjaan, status dalam sistem kekerabatan, status jabatan dan status agama yang dianut. Status seseorang dapat berinteraksi dengan baik terhadap sesamanya, bahkan banyak dalam pergaulan sehari-hari seseorang tidak mengenal orang lain secara individu, melainkan hanya mengenal statusnya saja.
Menurut Soerjono Soekanto bahwa status sosial merupakan tempat seseorang yang secara umum didalam masyarakat sehubungan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulan, prestise serta juga hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.

Secara sederhana status sosial diartikan sebagai sebuah kedudukan seseorang yang ada di masyarakat sesuai dengan hak dan tanggung jawab yang dimilikinya, kemudian akan ada namanya tingkatan-tingkatan status dimasyarakat yang biasanya yaitu karena kekayaan, kedudukan, keturunan dan pendidikan.

Ralph Linton (dalam Polak, 1985) membedakan ada beberapa jenis status yaitu ascribed status (status sudah dari lahir), Achieved Status (berdasarkan usaha) dan Assigned status (status yang diberikan).

Saya menganggap bahwa sebagian pemudik itu ke achieved status dengan alasan bahwa biasanya para perantau akan diberikan penghargaan orang sukses karena berhasil pada pekerjaannya dikota, meskipun terkadang mereka hanya kamuflase prestisenya untuk diakui telah sukses diperantauan misalnya dengan membawa mobil baru ke kampung masing-masing yang tidak lain terkadang itu mobil hasil dari menyewa dikota.

Fenomena mudik sering dijadikan sebagai media untuk menunjukkan sukses di kota. Status sosial yang diperoleh perlu diketahui oleh sanak-keluarga. Mereka datang dengan mobil pribadi, walau harus menyewa dari rental. Tidak hanya itu biasanya para pemudik rela mengeluarkan uang banyak untuk menyewa mobil demi prestis yang ingin didapat oleh orang-orang di desa. Jadi inilah fenomena mudik, menjadi tidak sekedar merayakan hari raya akan tetapi juga menjadi ajang pamer keberhasilan mereka mengais rejeki di tanah perantauan.

Ketika banyak masyarakat kita di hari raya idul fitri pulang ke kampung halamannya, sebenarya lebih sebagai bentuk upaya pencarian jati diri mereka yang sesungguhnya. Sebab ketika berada di kota-kota besar, eksistensi mereka sebagai seorang manusia tidak ubahnya seperti sekrup dalam mesin yang tidak diperhitungkan. Sementara di kampung halaman, mereka biasanya adalah orang-orang yang diperhitungkan, dibutuhkan, dan dimanusiakan layaknya bagian dari komunitas sosial tertentu.
Secara tidak kita sadari sebenarnya mudik bisa pula dikatakan sebagai salah satu gambaran nyata tentang pola hidup konsumtif masyarakat akibat merasa mencapai kemenangan setelah melaksanakan puasa ramadhan selama satu bulan penuh dengan hamburkan uang yang mereka peroleh selama ini pada sesuatu yang dapat dianggap mubazir.

Lalu akankah fenomena mudik di masa yang akan datang hilang? Setelah tahun ini mudik dilarang karena pandemi yang merengkuh kebersamaan dan kebahagian seluruh manusia di Indonesia ini bahkan dunia. Alangkah baiknya kita menunda mudik yang menjadi acara tahunan demi menjaga kelangsung kehidupan yang lebih baik lagi. Virus corona yang sedang melanda saat ini akan hilang ketika kita semua menjaga diri serta taat anjuran dan mengukuti apa yang disarankan oleh pemerintah Indonesia.

Daftar Pustaka

Doyle Paul Johnson. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta:Gramedia Hal. 181
George ritzer. 2012. Teori Sosiologi dasi Sosiologi Klasik sampai perkembangan terakhir Post Modern. Pustaka Pelajar:Yogyakarta. 145
Abdul Syani, Sosiologi Sistematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) hal 93