Sabtu, 02 Mei 2020

Guru Dosen Makan Gaji Buta?

oleh  Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)


Setelah viral FB Imas Masrikah  __konon katanya dibajak__   mengatakan “Guru Makan Gaji Buta Saat Wabah Covid-19”. Kini pengamat pendidikan Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji menyimpulkan, “Guru dan Dosen PNS  Makan Gaji Buta”. Dalam pernyataan persisnya Ia mengatakan, “Enak kan dosen dan guru PNS, tidur-tiduran saja tetap digaji”.

Indra Charismiadji  mengabaikan tugas guru  saat stay at home dan WFH. Bahkan di sejumlah daerah ada sejumlah guru yang masih mendatangi murid satu-satu karena keterbatasan fasilitas belajar.  Bahkan bukankah para kepala sekolah dan guru bergantian piket ke sekolah.  Faktanya hampir semua sekolah dalam kontrol dan pengawasan guru. Apalagi  anak didik, semua dalam kontrol para guru.

Faktanya guru melakukan beberapa hal, diantaranya : 1) melakukan pembelajaran daring, 2) menilai hasil pembelajaran daring, 3)  guru walikelas memantau kesehatan anak didik, 4) memenuhi administrasi, 5) mengikuti  peningkatan kompetensi secara virtual, 6) mengikuti kegiatan organisasi profesi, 7) ada yang kuliah daring, 8) membangun komunikasi intensif dengan orangtua dan 9) bahkan menggalang dana kemanusiaan untuk guru honorer dan masyarakat.

Bila menstigma guru dan dosen PNS makan gaji buta sangat tidak elok. Musibah Covid-19 bukan kehendak para ASN guru dan dosen.  Kalau pun pembelajaran dilaksankan secara PJJ atau daring merupakan tuntutan keadaan, bukan keinginan. Justru hadirnya sebuah lagu kisah Istri Nabi,  Syahidah Aisyah yang digubah menjadi sebuah lirik, “Kerinduan Guru Pada Anak Didik” adalah sebuah keinginan bekerja di sekolah, ingin ketemu anak didiknya. Bukan ingin tidur-tiduran di rumah!

Wabah Covid-19  malah menjadi sebuah kode keras  bagi pemerintah,  masyarakat dan  semua ekosistem pendidikan.   Pesannya, “Jangan anggap enteng tugas guru dan dosen, tanpa guru maka anak didik dan para mahasiswa menjadi tak terdampingi, mereka bisa  gagal didik dan tidak menjadi apa-apa.  Guru dan dosen harus lebih diperhatikan oleh pemerntah, masyarakat dan semua pihak”. Menjadi guru adalah menjadi profesi yang tidak diminati entitas  anak didik terbaik.

Faktanya tidak ada dosen dan guru kaya raya. Profesi ini cenderung volume pengabdiannya  lebih besar dari gaji yang didapatkan. Apalagi guru honorer jauh lebih besar pengabdiannya, bahkan ada yang bergaji Rp. 300 ribu. Tidaklah heran zaman orde lama guru dengan gaji kecil “disanjung” sebagai pahlwan. Pahlawan tanpa tanda jasa, ini adalah sebuah “gaji mental” untuk mengkompensasi dari gaji riil yang tak pantas diterima. Guru identik dengan Oemar Bakri dan  tampilannya identik dengan sepeda kumbang.

Bila Indra Charismiadji menghakimi guru dan dosen PNS tidur-tiduran makan gaji buta, tentu tak elok.  Tak elok karena apa? Pertama tak sesuai fakta. Kedua guru/dosen  bukan profesi yang bergaji besar dan berfasilitas  lengkap dari negara.  Gaji guru di Indonesia termasuk  negara dengan gaji yang kecil.  Bahkan sejumlah guru banyak yang gaji minus karena tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga.  Ketiga memang guru dan siswa/mahasiswa  saat wabah Covid-19 ini terkadang belajar sambil rebahan bukan tiduran.

Untuk Indra Charismiadji semoga  pernyataan yang dilontarkan tidak selevel dengan akun FB yang tidak memahami dunia pendidikan secara utuh. Sebuah pepatah mengatakan, ”Air dalam sebuah botol akan keluar sesuai isinya. Bila isinya madu maka akan keluar madu. Bila isinya racun maka racun yang akan keluar”. Semoga para pengamat pendidikan bisa lebih jernih, mendalam, kaffah dalam  melihat sebuah sikon dan dinamika.