Sabtu, 23 Mei 2020

LAUK DAUN

oleh Yanti Susanty.SE.,M.Pd

Siang ini, kulihat di dalam tudung nasi, lauknya sayur kangkung. Yang kali ini ditumis. Hari sebelumnya kangkung diberi santan putih. Hari sebelumnya lagi, sayur kol yang ditumis bersama telor. Dan hari sebelumnya lagi, sayur asam.
Hmmm, kalau aku hitung, sudah ada sepuluh hari teman makan kami, sayur terus.
Mak, oh, Mak! teriakku memanggil Emak. Tidak ada sahutan. aku coba mencarinya di kamar, juga tak ku jumpai.
Kulihat di kursi tamu, Alina adekku, sedang asyik mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. 
Ya, sejak adanya wabah Covid_19 ini, semua sekolah diliburkan. Untuk kemudian belajar di rumah. Dan Alina, mendapatkan banyak tugas dari guru, yang akan dikumpulkan saat masuk sekolah nantinya.
Alina, mana Emak? tanyaku.
Dikebun, Kak jawab Alina, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya. 
Sambil berlari ke kebun, aku memanggil Emak,
 Mak ... Emak!"
Dengan suara lembutnya, Emak menjawab panggilanku, ada apa memanggil Emak? Mau nyusu? kata Mak sambil membawa daun ubi di tangannya. 
Emak menghampiriku.
 "Mak, kok daun ubinya banyak sekali, untuk apa? tanyaku, pada Emak.
 Dengan santai, Emak menjawab, ya, untuk dimasaklah! yuk, pulang. Ajak Alina makan. Emak sudah tumis kangkung kesukaanmu."
Lalu sambil berjalan, Emak berkata lagi padaku, "besok, teman makan kita, gulai daun ubi!"
"Mak, kok kita makan sayuran terus ya, Mak?" tanyaku.

 "Ya ampun, Sumi! Apa kamu tidak tau, kalau Pemerintah meminta kita  untuk selalu  lauk daun? karna itu adalah salah satu cara terhindar dari covid_19!" kata Emak, penuh semangat. 
 "Ya ampun, Mak! Pemerintah mengadakan Lockdown, untuk menutup beberapa tempat, dengan maksud memotong penyebaran covid_19. Lockdown, Mak, bukan Lauk daun!" jawabku sambil tertawa. Lalu, memeluk Emak penuh sayang.
Sayaaaaang, Emak!

-Selesai-
2 April 2020