Jumat, 08 Mei 2020

Melihat Pemikiran Iwan Syahril, Dirjen GTK Yang Baru

oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Dalam tulisannya yang berjudul “Proklamasi dan Transformasi Pendidikan Indonesia Abad ke-21” yang Ia ramu dari buku “Peluang dan Tantangan Pendidikan Abad 21” terbitan STKIP Kebangkitan Nasional-Sampoerna School of Education, 2011. Ia menuliskan terkait pentingnya “kebangkitan” pendidikan di abad 21.

Iwan Syahril menjelaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah buah karya gerakan terorganisir para pemuda pelajar. Terutama para mahasiswa yang mengecap pendidikan tinggi. Iwan Syahril  seolah berpesan bahwa “Hanya dengan gerakan terorganisir sebuah kebangkitan akan tercapai”.  Begitu pun dalam dunia pendidikan.

Dunia pendidikan adalah kunci. Ia mengatakan karena pendidikanlah Indonesia terbangun. Kesadaran, persatuan dan cita-cita itu terlahir karena proses pendidikan. Kebangsaan itu terlahir karena pendidikan. Pendidikan menyadarkan kebangsaan. Iwan Syahril dalam tulisannya seolah menghendaki gerakan kebangkitan  jilid ke  4, dimulai dari pendidikan!

Gerakan kebangkitan bangsa kita memang berjiid-jilid, jilid pertama yakni saat generasi Budi Utomo 1908. Jilid ke dua  generasi  Sumpah pemuda 1928, dan  jilid ke tiga  generasi saat  proklamasi kemerdekaan  1945? Setidaknya perjuangan terorganisir pada masa lalu untuk memerdekakan negara sudah tercapai.

Bagi Iwan Syahril ada perjuangan di abad 21 yang harus mengorganisir ulang  kekuatan bangsa yakni melakukan transformasi pendidikan. Bukan hanya reformasi pendidikan. Reformasi baginya  hanyalah bentuk lebih baik dari apa yang selama ini kita telah lakukan. Sedangkan transformasi  berarti menjadi sebuah bentuk yang berbeda dari apa yang sudah ada selama ini. Berbeda (kebaruan) itu lebih penting dari hanya lebih baik.

Iwan Syahril ingin pendidikan Indonesia “tampil beda”.  Apakah Ia pengagum Gus Dur yang selalu harus tampil beda?   Iwan Syahril memaparkan lima langkah transformasi pendidikan agar kita lebih baik,  bangkit dan berbeda.  Pertama,  pendidikan harus memerdekakan. Ia tidak boleh menjadi penjara kreatifitas dan imajinasi siswa. Ia tak boleh mengerdilkan dan menindas peserta didiknya yang kejeniusannya tidak bisa dibuktikan lewat ujian tertulis semata.

Kedua, pendidikan tidak boleh membungkam rasa ingin tahu siswa yang tak tersentuh oleh buku teks dan soal ujian. Proses belajar mengajar seharusnya tidak berpusat pada guru, sekolah, kurikulum, orang tua, apalagi penguasa, tapi menginspirasi siswa untuk memberi jutaan pertanyaan tentang hal-hal yang nyata di sekitar mereka. Inspirasi yang menggerakkan mereka untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan jawaban dari sumber-sumber pembelajaran yang ada.

Ketiga, pendidikan memberi contoh konsisten implementasi tutur, tindak dan perilaku norma dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Ia tidak boleh memodelkan cara berbuat curang, termasuk kolusi, korupsi, maupun manipulasi karena alasan apa pun. Guru dan segenap elemen di sekolah harus menjadi contoh dalam bertindak dan berperilaku yang baik.

Keempat, pendidikan harus menjadi bagian pembangunan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Ia tidak boleh boleh menyemai bibit curiga, benci, dendam, dan permusuhan, baik karena hal suku, ras, kelas, harta, agama, antar golongan, dan antar bangsa. Idealnya dalam satu ruang kelas di Indonesia terlihat keanekaragaman agama, suku dan kelas sosial. Misalnya ada orang Jawa, Batak, Maluku, Cina, dan Minahasa.

Kelima, pendidikan harus menciptakan budaya belajar yang dicontohkan semua guru. Guru pembelajar menghasilkan pengajaran yang berkualitas. Guru pembelajar selalu mencari pengetahuan terkini dan terus mencari berbagai cara mengajar kreatif dan efektif. Guru pembelajar menginspirasi siswa dan masyarakat untuk gandrung belajar. Karena itu guru pembelajar akan meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Ahaa, kelima pemikiran terkait transformasi pendidikan di atas cukup wow. Sebaiknya para guru membaca dan memahami pemikiran Iwan Syahril yang ditulis  sejak tahun 2011.  Kini Ia menjadi pejabat Kemdikbud sebagai Dirjen GTK. Ia menjadi “Bapak Muda” para guru. Mengapa menjadi Bapak Muda, bukan mamah muda? Karena Ia Bapaknya para guru dalam usia muda.

Itulah era disrupsi. Mendikbud dan Dirjennya adalah generasi muda. Mas Menteri dari Bos Gojek dan Dirjen GTKnya dari guru, dosen  Yayasan perguruan swasta. Ada sejumlah harapan  pada mereka __Mas Menteri dan Bang Iwan__ yakni nasib guru dan pendidikan harus jauh  lebih baik. Mereka masih muda dan pembelajar, kita punya harapan dan guru menanti harapan lebih baik itu.