Minggu, 10 Mei 2020

Peran Guru IPS Dalam Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme

oleh Sulistyowati, S.Pd.  M.Pd.
Guru IPS SMPN  1 Pujon,  Kab. Malang, Jatim


Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional juga untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sistem pendidikan di Indonesia menerapkan  pendidikan berbasis karakter menjunjung  nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Kemendikbud memaparkan lima nilai karakter yang seharusnya terinternalisasi dalam pendidikan yaitu, nilai religius, nilai nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong (Pengelola Web Kemdikbud, 2017). Untuk mendapatkan pendidikan, maka lembaga keluarga bekerja sama dengan lembaga pendidikan dalam artian menempatkan anak mereka ke dalam sekolah, agar anak-anak mendapatkan lmu pengetahuan maupun karakter. Sekolah ideal adalah sekolah yang menerapkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga setiap anak yang terdidik dapat ikut andil dalam mencapai tujuan nasional bangsa kita yang dimuat dalam UUD 1945 alinea keempat.

Pendidikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Jadi, pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa tentu memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan rekayasa bangsa (Studi, Pancasila, & Kewarganegaraan, 2015). Siswa merupakan aset terbesar dalam menentukan kemajuan bangsa di masa depan. Siswa yang akan memegang tanggung jawab menghidupi kemerdekaan yang telah dititipkan oleh leluhur kepada kita. Untuk itulah pendidikan harus membawa mereka kepada rasa cinta dan bangga kepada tanah air. Tetapi melihat kondisi mental siswa yang kian memburuk saat ini sangat diragukan bahwa mereka memiliki jiwa nasionalisme.

Dalam berbagai kasus yang kita temui saat ini mengajarkan kita bahwa ada sesuatu yang salah dalam bidang pendidikan terkait pengembangan karakter. Dimuat dalam situs ksp.go.id, Pada tanggal 5 Agustus 2019 dilakukan pelatihan guru untuk mendeteksi sejak dini intoleransi di sekolah. Peserta dilatih untuk memahami empati, toleransi, intoleransi, kekerasan, dan perdamaian, cara berkomunikasi konstruktif (Ksp.go.id, 2019) . Lalu apakah pelatihan seperti ini bisa mengurangi tindak kekerasan di sekolah?

Jika ditinjau dari sudut pandang guru pendidikan ilmu pengetahuan sosial (IPS) pendidikan yang terlaksana sampai saat ini sangat memperhatikan pembentukan karakter siswa. Sejak periode jabatan Presiden Jokowi pun, pembentukan karakter menjadi salah satu fokus pembangunan sumber daya manusia yang disebut revolusi mental.

Pendidikan tentu merupakan salah satu faktor terbesar yang menentukan keberhasilan pembangunan karakter anak. Tetapi siapa sangka, sekolah juga memberikan fakta mengejutkan mengenai kemerosotan karakter anak!

Di sekolah masih terdapat tindakan bullying dan kekerasan. Seperti yang dimuat oleh berita di situs Okezone.com yang ditulis oleh (Nasuha, 2019) terdapat berbagai kasus kekerasan dan bullying yang terjadi di sekolah diantaranya adalah kekerasan yang dilakukan antar siswa yaitu seorang taruna di Makassar dengan luka lebam disekujur tubuhnya akibat penganiayaan oleh seniornya. Terdapat juga kekerasan antar guru dengan siswa yaitu guru menampar hingga menendang siswa SMP di NTT serta ada juga kasus kekerasan antara murid dengan guru yakni murid melakukan rundungan pada gurunya di Gresik dengan mendorong dan mengarahkan tangannya yang terkepal kearah guru serta mengeluarkan kata-kata kotor dan merokok dihadapan guru. Selain itu kekerasan seksual terjadi dalam sekolah. Dalam Tempo.co juga dimuat bahwa hasil pengawasan KPAI mengungkap terjadi kasus kekerasan di SD dan SMP yang terjadi di 13 lokasi dan menimbulkan korban sebanyak  73 orang (Riana, 2019). Beberapa kasus yang terjadi tersebut begitu miris mengingat bahwa sekolah merupakan tempat yang kerap dianggap aman bagi anak.

Saat ini kita memang berada dalam era revolusi 4.0 teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dan semakin cepat. Namun dari segi karakter, kita masih mengalami ketertinggalan. Kasus bullying yang marak tanpa mengenal batas usia, kekerasan terhadap siswa yang dilakukan tenaga pendidik, bahkan tindakan kekerasan yang berujung pada kematian. Semua kasus kekerasan yang menimpa murid dan guru tersebut mencerminkan pembangunan karakter kepada penerus bangsa kurang efektif. Bukan hanya siswa, bahkan makna seorang guru juga sudah melenceng dari makna yang sesungguhnya. Pendidikan karakter yang selama ini dikobar-kobarkan sepertinya tidak mengalami perkembangan dalam bidang implementasi dan tidak membawa perubahan yang signifikan. Pendidikan berbasis karakter seakan menjadi retorika belaka yang banyak dibicarakan namun minim tindakan. Seorang siswa harusnya memiliki empati dan kasih sayang diantara sesama siswa dan kepada guru begitu juga sebaliknya.

Dalam konteks pendidikan IPS yang akan mengajarkan tentang relasi yang berlandaskan kasih sayang, maka hal ini cukup kontekstual dalam pembentukan karakter siswa. Dalam hal ini siswa bukan hanya dilihat sebagai siswa tetapi sebagai agent of change. Agent of change bagi keluarganya, lingkungan sekitar, bahkan bangsa dan negaranya. Mengingat materi IPS pada pendidikan dasar memuat konten tentang pesan moral dari kegiatan komunikasi antara manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam dan lingkungannya. Jika materi tersebut disajikan secara proporsional,  komunikatif dan kreatif pasti akan membawa pengaruh positip terhadap pola perilaku para siswa, yang akhirnya akan makin menguatkan karakter para siswa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara maupun dalam pergaulan dunia. Muaranya menumbuhkan jiwa Nasionalisme, cinta tanah air serta rela berkorban untuk bangsa dan negara.

Revolusi 4.0 memang menjadi tantangan bagi pendidikan. Dengan berbagai kemajuan teknologi yang ditawarkan, ada hal yang paling penting untuk diperhatikan. Merosotnya pengenalan jati diri guru maupun siswa. Guru bukan hanya sekedar profesi. Perlu dicatat menjadi guru bukan suatu cita-cita atau pilihan tetapi merupakan panggilan, karena tidak sembarang orang artinya menjadi guru tidak mudah, karena membimbing manusia untuk berubah kearah yang lebih baik dalam menggapai cita-cita serta menanamkan nilai-nilai moral.  Seorang guru memiliki tugas mulia dan peran penting mempersiapkan generasi bangsa yang diawali dengan pembelajaran di dalam kelas. Dengan kata lain guru memiliki kekuatan membuat anak bersemangat untuk selalu belajar dan berbuat apapun serta kapanpun. Guru memiliki posisi yang sangat kuat memberi  teladan, memiliki potensi menginspirasi siswa melakukan sesuatu secara kreatif, inovatif dan santun.

Sepatutnya para guru/pendidik terus merevolosi diri untuk makin profesioanal dalam segala dimensi, dapat menjadi tuntunan bukan hanya sekedar tontonan serta teladan bagi para siswanya. Tidak hanya mengandalkan dimensi Fikriyah/Intelektualitas, tapi terus menguatkan dimensi Ruhiyah/Spiritualitas, karena hanya Rahmad & Karunia ALLOH SWT yang akan menuntun pada kebenaran, profesianalisme serta tugas kita untuk mendidik anak- anak bangsa menjadi manusia paripurna sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional. Jadi guru IPS memiliki peran strategis dalam menumbuhkan karakter anak-anak bangsa serta jiwa Nasionalisme melalui pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. Semoga bermanfaat, terus semangat merevolosi diri. Salam sukses dan santun  untuk semuanya, bersama ALLOH  SWT pasti Bisa dan terealisasikan Percayalah !!



DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar AS. 1992. Kepada Para Pendidik Muslim. Jakarta: Gema Insani Press
Dirjen GTK. 2018. Pedoman Umum Program PKB. Jakarta: Kemendikbud
M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media
Sapriya. 2012. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara.
http://www.dakwahtuna.com/2007/03/29/138/menjadi-pelopor- 
kebajikan/#ixzz6F7V0C4ZJ