Jumat, 19 Juni 2020

Gaya Hidup Hedonisme


Oleh Sulistyowati
SMPN 1 Pujon – Kab. Malang 
                
Sering kita mendengar kata ‘hedon’ seperti dalam percakapan sehari-hari, 'hedon banget sih kamu' dan sebagainya. Biasanya, kata tersebut digunakan untuk menggambarkan atau mengkritik seseorang yang memiliki gaya hidup konsumtif, boros menggunakan uang untuk hal-hal yang tidak penting.
Kata hedon lazim juga dilontarkan kepada seseorang yang mempunyai hasrat belanja tinggi, membeli barang ini itu tanpa berpikir panjang. 

Hedonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu hedonismeos dengan kata dasar hedone. Kata hedone memiliki arti ‘kesenangan’,  sedangkan hedonismeos diartikan sebuah cara pandang yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kesenangan sebanyak mungkin. Kesenangan tersebut bisa didapatkan melalui berbagai cara, seperti menikmati hiburan, memiliki harta, kegiatan seksual, dan sebagainya. 

Sejarah Hedonisme
Kata hedonisme sudah muncul sejak awal munculnya filsafat, atau saat manusia mulai berfilsafat pada tahun 433 Sebelum Masehi. Pandangan ini muncul ketika Socrates, salah satu filsuf paling terkenal mempertanyakan mengenai tujuan hidup manusia di dunia ini. Pertanyaan tersebut akhirnya melahirkan pandangan hedonisme. Pada masa itu hedonisme bukan untuk menggambarkan perilaku negatif, melainkan untuk mendeskripsikan esensi dari eksistensial manusia di muka bumi ini.

Jawaban atas pertanyaan Socrates yang kemudian menjadi pandangan hedonismeos atau yang sekarang dikenal dengan nama hedonisme ini berawal dari pemikiran beberapa filsuf lainnya, seperti Aristippus dan Epikuros. Kedua filsuf tersebut memiliki pandangan berbeda terhadap hedonismeos.

Aristippus menggambarkan semua kesenangan manusia bersifat fisik, begitupula dengan ketidaksenangannya. Sedangkan Epikuros mengartikan hedonismeos adalah kebahagiaan manusia harus didapat dengan menyeimbangkan hal positif dan negatif. Berbeda dengan Aristippus, Epikuros menanamkan sisi-sisi spiritual pribadi individu di dalam pemikirannya. Selanjutnya berbagai orang yang mendeskripsikan pemikiran ini di masa-masa modern pada akhirnya memiliki pandangan dengan garis besar yang sama, bahwa hedonisme adalah pandangan seseorang yang berusaha hidup untuk mencari kesenangan sebagai tujuan paling utama, terutama untuk dirinya sendiri.

Faktor Penyebab Hedonisme
Gaya hidup Hedonisme tidak terjadi begitu saja, ada beberapa faktor yang memicu seseorang menjadi penganut paham hedonisme, baik itu faktor dari dalam diri sendiri “internal” ataupun dari luar “eksternal”.

1. Faktor Internal
Faktor internal atau dari dalam diri sendiri merupakan penyebab hedonisme yang paling utama. Sudah menjadi sifat dasar manusia ingin memiliki kesenangan sebanyak-banyaknya dengan bekerja seringan mungkin. Selain itu manusia juga memiliki sifat dasar tidak pernah puas dengan hal yang sudah dimiliki. Sifat dasar manusia inilah yang menjadi penyebab hedonisme dan juga perilaku konsumerisme.

2. Faktor Eksternal
Faktor penyebab hedonisme dari luar yang paling utama ialah arus informasi dari luar yang sangat besar atau globalisasi. Kebiasaan-kebiasaan dan paham orang dari luar negeri yang dianggap bisa membuat senang kemudian diadaptasi oleh masyarakat Indonesia.

Moo
Dewasa ini, makna dari hedonisme bagi sebagian besar masyarakat mendeskripsikan hedonisme sebagai sebuah perilaku konsumtif atau konsumerisme yang berdampak buruk bagi penganutnya. Tentu saja gaya hidup ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal, di antaranya:

Sedari kecil terlalu dimanjakan orangtua, diberi berbagai fasilitas atau kemudahan sehingga merasa selalu mendapatkan apa yang diinginkan tanpa mempedulikan neraca kebutuhan, dan faktor lainnya
Kehadiran ‘influencer’ di media sosial sangat mempengaruhi rasa kecemburuan untuk memiliki benda-benda mewah yang sebenarnya tidak sanggup untuk didapatkan sehingga memaksakan segala cara meskipun harus berutang

Pergaulan atau bergaul dengan orang-orang yang memiliki standar hidup mewah, menggunakan barang-barang bermerek, sehingga muncul rasa minder ketika tidak sepadan dengan mereka. Akhirnya demi mengikuti pergaulan tersebut, Anda rela menghabiskan uang untuk membeli barang yang sama
Menjamurnya akses keuangan bagi masyarakat untuk meminjam uang dan mengangsur dengan mudah.

Ciri-Ciri Hedonisme Di Masyarakat
Perilaku hedonisme ini sangat mudah kita temukan di tengah masyarakat, namun banyak yang tidak menyadari bahwa mereka tengah terjerumus dalam hedonisme. Berikut ini ialah ciri-ciri hedonisme yaitu:
Berpikir bahwa tujuan utama dalam hidup seseorang ialah kenikmatan dan kesenangan pribadi.
Tidak perduli dengan kepentingan dan kebahagiaan orang lain sehingga menjadi pribadi yang egois.
Tidak pernah merasa puas dengan hal yang telah dimiliki baik itu harta maupun keluarga.
Sifat konsumtif, lebih mengutamakan membeli sesuatu karena kesenangan ketimbang kebutuhan.
Mereka yang menganut hedonisme cenderung diskriminatif dan sombong, melihat orang lain berdasarkan hartanya dan selalu merasa lebih baik dari orang lain.

Mencermati semakin maraknya perilaku gaya hidup hedonis yang menunjukkan kemewahan, kesenangan, menghamburkan uang, berfoya-foya serta kehidupan yang menuntut agar terlihat lebih modis, trendi dan mengikuti jaman ternyata telah menjerumuskan sebagian dari kita ke lubang bencana. Terlebih pandangan hidup hedonis ini menjadikan hidup kita semakin bermasalah, dikarenakan rendahnya pemikiran sebagian orang dalam menyikapi sebuah persoalan atau kebutuhan apa yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Demi gaya hidup, sebagian dari kita lebih suka menghabiskan waktu di café, mall, diskotik dan sebagainya, bahkan rela menghamburkan uang jutaan hanya demi kesenangan sesaat yang seharusnya uang tersebut bisa kita gunakan untuk kebutuhan yang lebih wajib atau bisa kita tabung untuk masa depan kita.  

Gaya hidup hedonis tentu memiliki dampak kurang baik bagi finansial, bagaimana tidak, barang-barang model terbaru selalu dipamerkan di gerai-gerai mall maupun pertokoan. Hal ini mengakibatkan pemborosan kehidupan melampaui batas, mereka yang memiliki pandangan hidup hedonis akan melakukan segala cara untuk mendapatkan barang tersebut tak peduli salah atau benar, walaupun sebenarnya mereka sedang tidak membutuhkannya. Mereka ingin agar bisa diakui, bisa bergaya hidup mewah, dianggap gaul atau modis.

Contoh kasus yang terjadi di Blitar-Jawa Timur pada 5 Oktober 2019 lalu, dikutip dari jpnn.com, dimana seorang suami SB nekat mencuri helm demi memenuhi keinginan istrinya yang suka bergaya hidup mewah. SB lelaki berprofesi sebagai kuli ini sudah mencuri helm milik karyawan toko di Kota Blitar sebanyak tiga kali, didepan petugas, dia mengaku mencuri helm untuk memenuhi tuntutan dari sang istri yang selalu minta uang lebih. 

Hedonisme sendiri adalah sebuah pandangan hidup yang menganggap bahwa seseorang akan bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Seperti minum air garam, orang yang memiliki gaya hidup hedonisme akan semakin haus dan tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Gaya hidup hedonisme juga tidak lepas dari pengaruh pergaulan sekitar dimana sebagian dari kita sudah terjangkit pandangan hidup liberal.

Pandangan hidup ini hanya ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dan hanya berlandaskan materi keuntungan semata. Akhirnya tidak sedikit orang menjadi korban seperti salah satu contoh diatas. 

Cara Menghindari Perilaku Hedon dan Konsumtif
Hedon yang dapat mengarah pada perilaku konsumtif  merupakan kebiasaan hidup yang dapat merusak keuangan. Gaya hidup seperti ini sudah melekat di kalangan generasi milenial. Gaji anak-anak muda ini habis untuk nongkrong di kafe, jajan kopi, makan di restoran, jalan-jalan, dan perilaku konsumtif  lainnya tanpa memiliki tabungan maupun investasi. Buang jauh-jauh perilaku atau gaya hidup hedon bila tidak ingin terpuruk soal keuangan di masa depan. Ada beberapa cara untuk menghindari perilaku hedon, antara lain:
1. Membuat Daftar Prioritas Kebutuhan
Langkah awal untuk menjauhi hidup hedon, adalah dengan menyusun daftar kebutuhan prioritas Anda. Tulis daftar tersebut, dan tanamkan dalam pikiran Anda sehingga daftar tersebut akan menjadi pengingat. Jadi ketika timbul hasrat membeli sesuatu di luar kebutuhan, Anda harus berpikir panjang apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak, masih bisa ditunda atau tidak.  Berusaha menjalankan komitmen tersebut, sehingga Anda mampu menahan hawa nafsu untuk membeli barang di luar kebutuhan.

2. Menabung dan Berinvestasi
Setiap kali menerima gaji, langsung gunakan untuk pengeluaran rutin, seperti membayar sewa rumah, tagihan listrik dan air, cicilan utang kalau ada. Jangan lupa menyisihkan uang untuk tabungan, dana darurat, dan investasi. Ketiganya sangat penting agar keuangan Anda stabil. Jika ada kebutuhan mendadak, Anda dapat menggunakan dana darurat. Sementara tabungan dan investasi untuk menjamin keuangan di masa depan Anda.

3. Membuat Anggaran Keuangan
Agar terhindar dari gaya hidup hedon, Anda perlu membuat anggaran keuangan. Dengan begitu, Anda dapat mengetahui seberapa besar uang dari penghasilan yang bisa Anda belanjakan. Cara mengatur keuangan lazimnya menggunakan sistem 50-20-30. Setiap gaji atau penghasilan yang Anda terima setiap bulan, alokasikan 50% untuk biaya hidup sehari-hari, seperti makan, biaya transportasi, membayar sewa rumah, tagihan listrik dan air, termasuk tagihan kartu kredit. Selanjutnya, sisihkan 20% dari gaji untuk tabungan dan investasi, serta dana darurat.Sedangkan sisa anggaran 30% dari gaji Anda untuk hiburan, liburan, belanja baju atau membeli barang yang diinginkan. 

4.  Kurangi Gesek Kartu Kredit
Kartu kredit sangat memudahkan seseorang untuk berbelanja, membeli barang, makan di restoran, sampai membeli tiket konser musik.  Kartu kredit juga menawarkan pembayaran cicilan yang mudah. Tapi ingat menggunakan kartu kredit sama saja dengan berutang. Walaupun membayarnya bisa mencicil, tapi bila terlambat bakal kena denda. Gunakan kartu kredit dengan bijak, untuk berhemat manfaatkan promo yang ada. Pastikan memakai kartu kredit sesuai kemampuan anggaran.

5.  Selektif berteman dan bergaul
Teman berpengaruh besar terhadap pola perilaku dan kehidupan. Perilaku kita menunjukkan siapa teman kita. Kalau berteman dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, berteman dengan penjual sate pasti akan bau sate. Pilih teman yang menunjukkan pada kebenaran dan kuat agamanya. 

6.  Beramal dan Bersedekah
Untuk yang satu ini mungkin terdengar sedikit klise. Beramal dan bersedekah bisa menghindarkan dari perilaku hedon. Berpikirlah bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung kita dan membutuhkan uluran tangan kita. Hal tersebut akan membuat berpikir dua kali ketika ingin menghambur-hamburkan uang.

7.  Berpegang  pada Agama 
Di era milenial dengan kehidupan yang serba bebas, telah banyak menjerumuskan pada jurang kehinaan serta kehancuran. Mengapa??  Kiblat kehidupan hanya kepentingan duniawi semata. Agama adalah benteng dan tuntunan yang akan menyelamatkan kehidupan manusia dunia akherat. 
Sebagai Muslim kita patut berbangga, karena Islam tak hanya mengatur urusan ibadah semata, lebih dari itu Islam juga sebagai ideologi yang memiliki pandangan hidup khas sesuai dengan akidah Islam. Kebahagian didalam Islam diukur ketika mendapatkan keridhoan dari Allah SWT. Dengan cara menaati perintah Allah dan menjauhi larangaNya.  Memaknai arti kebahagiaan secara benar maka dengan sendirinya kita akan mewujudkan langkah kehidupan kita sesuai dengan syariat Islam. 
Menerapkan pola hidup sederhana, bersyukur dengan apa yang kita miliki dan selalu 'melihat kebawah' dimana diluar sana masih banyak orang-orang yang masih membutuhkan bisa menjadi pengontrol bagi kita agar terhindar dari hedonisme. Gaya hidup hedonisme tidak lain hanyalah salah satu dampak dari naluri/gharizah baqa’ (mempertahankan diri) yang mendorong manusia mempertahankan diri atau menguasai sesuatu yang di inginkan. 
Kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya harta atau mewahnya rumah, namun kebahagiaan itu jika hati tentram dan selalu bersyukur atas rejeki yang telah Allah berikan kepada kita. Banyak atau sedikitnya rejeki adalah ketika Ridho Allah menyertai dan tentu akan merasa cukup sehingga tak terpancing kelamnya gaya hidup hedonis.  Roda kehidupan takkan pernah berhenti bergulir. Waktu demi waktu  terus berlalu dengan segala asesorisnya. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan untuk menyongsong hari esok. Terus berusaha menguatkan jiwa raga agar tidak mudah terbawa arus kehidupan hedonis. 
Selamat berjuang menguatkan diri, percayalah bersama Alloh SWT  pasti bahagia. 

DAFTAR PUSTAKA 
Iwan dkk, 2018. IPS Kelas IX. Jakarta: Kemendikbud
Iwan Kurnia. 2007. IPS Terpadu 3. Jakarta:Ghalia Indonesia Printing 
Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. https://www.perilakuhedonisme.edu/
http://www.perilakukonsumtif.info/