Selasa, 02 Juni 2020

MENGUBAH PARADIGMA SAMPAH MENJADI SUMBER DAYA


Endang Purwaningsih, S.Pd

Guru SMPN 4 Tanggul, Jember   


    Selama aktivitas manusia di bumi ini terus berlanjut, maka sudah dapat dipastikan bahwa produksi sampah akan terus berlanjut pula. Hal tersebut akan terus berlangsung, sebab semua aktivitas manusia akan menghasilkan limbah buangan yang sering kita sebut sampah. Mungkin tanpa kita sadari, bahwa manusia adalah salah satu makhluk produsen sampah terbesar di planet Bumi.

    Manusia dengan segala bentuk aktivitasnya, dari masa ke masa, telah mampu mengubah wajah dunia melebihi komunitas flora maupun fauna. Berbagai produk hasil kebudayaan manusia, memang tercipta dari kelebihannya yang memiliki akal, budi dan pikiran. Situs- situs kebudayaan masa lalu,  hingga hasil karya inovati masa modern saat ini, telah membuktikan bahwa teknologi senantiasa meningkat seiring  dengan kecerdasan otak manusia yang terus berkembang.

    Teknologi memang bagai  bilah pisau, satu sisi dapat memberikan manfaat  bagi kemudahan hidup manusia, namun disisi lain mesti ada dampak yang berupa sisa buangan aktivitas berupa sampah. Ironisnya, sebagian besar dari kita, seakan memandang sebelah mata sampah sebagai polutan dalam kehidupan kita. Sampah di buang sembarangan, sampah dihindari, sampah dianggap tidak berguna, dekat dengan sampah itu hina, menjijikkan  dan berbagai pandangan sinis cenderung negatif  tentang sampah melekat dalam benak kita semua selama ini. Oleh sebab itu tempat terbaik baginya adalah TPA ( Tempat Pembuangan Akhir).

    Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang dihasilkan, bisa berasal dari sisa limbah aktivitas Rumah Tangga, Industri Kecil/ Rumah Tangga, Industri pabrik dan sebagainya. Pada umumnya, sisa limbah dari industri pabrik berskala menengah sampai besar sudah ada regulasi yang mengatur secara khusus, tentunya melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Sampah produksi aktivitas Rumah Tangga masyarakat, justru seringkali menjadikan  permasalahan lingkungan secara serius.

    Dampak negatif seringkali harus  kita rasakan, sebagai akibat dari perilaku karma kita memperlakukan sampah sembarangan semisal membuang sampah ke sungai, membakar sampah, atau menimbun dalam tanah.  Fenomena mulai dari banjir akibat dari meluapnya sungai yang alirannya tersumbat sampah, atau pendangkalan dasar sungai oleh timbunan sampah, polusi udara akibat membakar sampah, atau tanah produktif menjadi tanah yang kurang produktif yang hilang kesuburannya akibat timbunan plastik yang sampai 1000 tahun baru dapat diuurai oleh makhluk pengurai dalam tanah. 

    Kebiasaan sebagian besar warga  masyarakat,  masih memiliki maindset bahwa sampah adalah barang yang sudah tidak berguna, ternyata membawa perilaku dan tindakan semena-mena terhadap sampah. Hal tersebut tercermin dalam cara masyarakat yang secara umum, masih selalu membuang dan jarang sekali yang menaruh perhatian secara khusus terhadap keberadaan sampah limbah aktivitas rumah tangga. Padahal, bukan tidak mungkin jika sampah tersebut masih memiliki nilai guna untuk kebutuhan sehari-hari. Umumnya jika tidak dibuang, sebagian diantaranya dijual kepada pemulung barang bekas pakai.

    Sebenarnya, tidak terlalu sulit bagi kita untuk sedikit meluangkan perhatian secara khusus terhadap sampah. Sampah sisa aktivitas rumah tangga semisal berbagai barang berbahan  kertas, plastik, gelas, kaca, sisa sayur-mayur, kulit buah, sisa makanan dapat kita kelompokkan dengan 2 keranjang/tempat.  Kedua  wadah tersebut diperuntukkan kelompok Sampah Basah (mudah/cepat busuk) dan Kelompok Sampah Kering (sulit/ tidak gampang busuk dan diurai mikroorganisme)  sesuai dengan sifat dasar sampah tersebut.

    Ayo kita  mulai mengubah paradigma sampah menjadi Sumber Daya ( resource). Caranya kita mulai dari diri kita, keluarga kita, rumah kita, lingkungan kita. Istilah TPA yang selama ini adalah singkatan dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah, mulai sekarang bisa kita ubah kepanjangannya menjadi Tempat Pengolahan Awal Sampah. Sekarang, kita sudah mendapatkan paradigma sampah yang keren , positif maknanya. Bukan lagi menjadi sekedar sisa limbah yang mesti harus dibuang, tetapi justru menjadi salah satu alternatif Sumber Daya (resource) siap untuk diolah menjadi barang baru kebutuhan manusia. 

   

Proses pengolahan kembali berbagai sampah sisa aktivitas manusia tersebut, dapat melalui program 5 R ( Reduce, Reuse, Recycle, Replace dan Repair).  Reduce berarti kita mengurangi sampah yang kita hasilkan atau mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Reduce dilakukan dengan cara, kita mengurangi barang-barang belanja yang tidak “terlalu” dibutuhkan seperti baju atau celana baru, aksesoris-aksesoris, penggunaan kertas tissue dengan menggantinya dengan sapu tangan karena dapat digunakan berulangkali dengan cara mencucinya, mengurangi penggunaan kertas di kantor dengan melakukan print preview sebelum mencetak, membiasakan membaca koran online, karena semua itu akan berujung menjadi sampah.

    Reuse memiliki arti menggunakan kembali seperti baju lama bisa digunakan kembali dengan cara merubah model atau menambah kain dari baju-baju bekas yang akhirnya kelihatan menarik dan bisa dipakai dengan memodifikasi  menjadi baju model baru kembali, pernak-pernik rumah semisal taplak mini  vas bunga, cover TV/kulkas, dan sebagainya. Bisa juga dengan memberikan baju bekas yang layak pakai kepada orang lain yang membutuhkan.

Recycle adalah mendaur ulang barang, misalnya :  dengan memisahkan 2 kelompok sampah berdasarkan sifat dasarnya ( sampah organik dan sampah anorganik) kita sudah memiliki bahan berharga yang bernilai sebagai Sumber Daya. Sampah Organik (sampah basah) dapat terdegradasi/membusuk/cepat hancur secara alami  cukup dengan mengubur sampah basah ( sisa sayur-mayur, buah dan sisa kotoran ternak) dengan tanah, maka  dalam beberapa waktu kita akan mendapatkan tanah organik yang subur dan berfungsi sebagai pupuk untuk tanaman sekitar rumah kita. Sedangkan sampah Anorganik (sampah kering), sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diurai secara alami, sehingga lebih menjadi polutan bagi lingkungan terutama tanah. Sampah jenis ini (botol kaca, botol plastik, tas plastik, kertas dan kaleng besi/aluminium/ perak/tembaga) bisa kita daur ulang menjadi wadah/tempat bumbu dapur, pot/vas bunga, tempat peralatan sekolah/kantor, berbagai kerajinan tangan. Selain untuk pemakaian sendiri, jika memiliki kualitas bagus dapat memiliki nilai jual untuk sumber perekonomian keluarga.

Replace berarti mengganti atau menghindari barang yang sekali pakai dengan barang yang bisa dipakai berulang-ulang, misalnya : membawa tas belanjaan sendiri dari rumah, cara tesebut efektif untuk mengurangi sampah plastik dari bungkus belanjaan yang berpotensi menjadi tumpikan sampah. Adapun Repair yaitu memperbaiki barang-barang yang rusak agar dapat dipakai kembali. Langkah tersebut, menjadikan kita tidak perlu membeli barang baru, karena barabg lama masih bisa digunakan kembali.

Salah satu cerita pengalaman yang menginspirasi kita,  untuk mengubah paradigma sampah mnjadi sumber daya adalah seorang Doktor filsafat lulusan Plekkhanov Institute Moskow, Rusia, sekaligus adik sastrawan Pramudya Ananta Toer yaitu Soesilo Ananta Toer (81 th.), rela menjadi pemulung sampah di Blora, Jawa Tengah. Setiap malam beliau mengais bak sampah untuk mendapatkan rupiah.

Selain berbagai cara diatas dalam mengubah sampah menjadi sumber daya, yang paling sederhana dan tidak membuat kita repot adalah kita tinggal mengumpulkan dan memilah antara sampah basah dan sampah kering. Apabila suatu ketika tukang loak/pemulung barang bekas mampir ke rumah, kita bisa memberikan secara cuma-cuma atau gratis saja, toh kalaupun dijual harganya juga sangat murah. Hitung-hitung, sudah ada pihak yang menerima barang yang sudah tidak dimanfaatkan di rumah. Rumah dan lingkungan jadi bersih, kita sudah berstatus menjadi”Pahlawan Penyelamat Lingkungan “, kita juga bisa beramal untuk membantu orang yang membutuhkan barang.

Pada akhir-akhir ini kesadaran masyarakat untuk mengubah paradigma sampah menjadi sumberdaya juga sudah mulai tumbuh dan berkembang. Beberapa kota besar seperti Surabaya, Malang  terdapat lembaga sudah mengupayakan dalam berbagai kegiatan mengelola sampah, misalnya membentuk Bank Sampah.  Bank Sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah. Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetor ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat pengepul sampah. Nasabah mendapatkan tabungan yang bisa dimanfaatkan untuk membayar berbagai rekening tagihan misalnya pembayaran PLN, PDAM dsb.

Tujuan utama Bank Sampah untuk membantu pemerintah dalam menangani pengelolaan dan pengolahan sampahdi Indonesia. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya lingkungan yang sehat, rapi dan bersih, (H.Asrul Hoesein).  Bank sampah versi regulasi Permen lingkungan Hidup no.13 Th. 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) melalui Bang Sampah (Permen LH Bank Sampah). Sementara Permen LH Bank Sampah terbit berdasarkan pada Undang-Undang No.18 Tahun 2018 tentang Pengeloalaan Sampah (UUPS). Maka sangat jelas bahwa untuk melaksanakan program 3R berada dalam pengelolaan Bank Sampah.

Masih menurut H. Asrul Hoesien, tentang eksistensi Bank Sampah adalah merupakan perekayasaan sosial dan/ atau wakil pemerintah terdepan dalam menjalankan program 3R. Maka seharusnya pengelolaan Bank Sampah difasilitasi Pemerintah dan Pemerintah Daerah setempat (Pemda). Sebagai lembaga pengelola sudah selayaknya di beri ruang di Kantor Desa atau Kelurahan dalam menjalankan misi sosial dan edukasi, dengan dilengkapi prasarana dan sarana untuk kegiatan edukasi di masyarakat.

Bank Sampah memiliki fungsi sosial, yaitu peran strategis dan sangat penting dalam tata kelola sampah di Indonesia. Termasuk peran Assosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), sangat diharapkan untu membangun dan memperkut kelembagaan Bank Sampah sebagai mitra sejajar dengan assosiasi-assosiasi Industri berbahan baku limbahatau sampah.