Rabu, 10 Juni 2020

Usik TPG, Guru Tagih Utang!

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Anggaran TPG yang dikucurkan pemerintah kepada  sebagian kecil guru bagai air di gelas dengan air di teko. Air di gelas anggaran TPG yang diberikan pada sebagian kecil guru. Air di teko bagaikan utang pemerintah pada guru honoroer puluhan tahun dalam derita.

Sebagian kecil guru yang dapat TPG baru 14 tahun.  Coba bayangkan  guru di negeri ini menjadi Oemar Bakri selama 60 tahun menderita.  Selama 60 tahun guru dengan gaji yang sangat-sangat kecil. Saya anak guru SD. Sejak lahir makan beras bau apek, ada kutunya, ada kerikilnya.

Saya saksi hidup  puluhan tahun  guru hidup sengsara. Tidaklah heran generasi muda alergi untuk menjadi guru.  Bila saat ini ada pihak yang mengusik TPG pasti lahir dari pemikiran sempit yang ahistori. Semua tahu bahkan sampai saat ini gaji guru di negeri kita termasuk yang sangat kecil dibanding negara-negara lain.

Mengapa TPG jangan diusik? Pertama utang pemerintah pada  guru yang sudah lama digaji dengan sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” terlalu  eskalatif dan akumulatif. Kedua pemerintah dan para pejabat itu lahir dari didikan tangan guru. Jangan jadi Malin Kundang! Ketiga, sekali TPG diusik, guru akan tersulut secara nasional. Ini bukan masalah finansial, melainkan masalah penghinaan pada profesi guru.

Bila ada Presiden, Menteri, Dirjen, politisi di DPR RI menyoal untuk menghentikan atau mempersulit TPG maka akan berhadapan dengan chaos luar biasa. Dapat Saya prediksi semua guru yang selama ini sudah jinak tak mau demo dan mogok secara nasional, akan terjadi. Mau coba? Silahkan coba!

Selama TPG cair dan tidak disoal, maka guru akan lebih kooperatif. Mengusik TPG  bagi guru adalah SARA. Mengapa? Karena 60 tahun guru menderita sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Prof. Dr. Moh. Surya sebagai Ketua Umum PB PGRI saat itu bersama semua pengurus PGRI  demo memenuhi Jakarta. 

Lancarnya TPG kontribusinya sangat luar biasa. Pemerintah daerah punya dana endapan. Bank derah hidup dan bergeliat. Perekonomian dan bisnis bergeliat. Bila guru gajian dan TPG cair maka yang diuntungkan adalah kehidupan perekonomian publik. Satu juta lebih guru “menyumbang” pada geliat ekonomi mikro.

Jadi bila ada pihak dari pemerintah atau politisi mengusik TPG  yang baru 14 tahun,  maka guru akan menagih utang pemerintah selama 60 tahun atas derita guru. Kita sudah merdeka 75 tahun, namun guru __itu pun sebagian__ baru merdeka 14 tahun. TPG baru didapatakan sebagian kecil guru baru 14 tahun.

Waktu 14 tahun dengan 60 tahunan bagaikan gelas dengan teko. Mengapa guru kompetensinya  dianggap tidak sesuai harapan? Tidak murni salah guru. Jawab dahulu. Mengapa negara menggaji guru sejak zaman doeloe sangat rendah?  Karena profesi guru sejak dahulu dianggap tidak menjanjikan masa depan, maka generasi terbaik tidak mau jadi guru.

Bila pemerintah berani menggaji guru seperti di negeri maju, sekitar Rp 30 sd 80 juta maka, semua lulusan terbaik dari SMA/SMK/MA akan memilih menjadi guru. Jadi siapa yang salah terkait kompetensi guru yang sulit naik? Karena kesalahan pemerintah dalam memuliakan dan menghormati profesi guru. 

Sangat gampang menaikan profesinonalisme dan  kompetensi guru.  Caranya? Rekrut calon guru terbaik dari lulusan pendidikan menengah terbaik. Caranya? Beri gaji tinggi dan masa depan cerah bagi keluarganya. Insyaallah, generasi terbaik akan memilih profesi  guru. Selama gaji guru kecil dan TPG disoal, selama itu pula generasi terbaik akan “menghindar” menjadi guru.