Jumat, 31 Juli 2020

PILIH PESAING ATAU PESANDING

Oleh Sulistyowati, S.Pd, M.Pd.
 
SMPN 1 Pujon – Kab. Malang 

 

Sesungguhnya manusia diciptakan Alloh SWT dalam keadaan fitrah (baik), terlahir sampai tumbuh dewasa, orang tua, keluarga atau lingkunganlah yang menjaga tetap baik atau membuatnya jahat. Karena setiap anak akan tumbuh dan berkembang dengan pengaruh yang didapat dari lingkungannya. Jika lingkungannya baik maka anak itu akan tumbuh dan berkembang baik dan sebaliknya jika lingkungan itu buruk maka anak akan tumbuh dan berkembang sesuai asumsi yang diterimanya misalnya kejahatan.

Setiap orang pasti menginginkan sebuah kehidupan yang baik untuk mencapai puncak kebahagiaannya dalam hidup, baik dalam berkeluarga, bermansyarakat, dan bekerja. Bahkan terpenting disini adalah baik dalam diri sendiri bagaimana dirinya dapat mengeksplorasikan suatu tindakan yang baik atau positif di lingkungannya terhadap orang lain.

Namun dalam perjalanannya kehidupan seseorang mulai dari lahir sampai dewasa bahkan sampai meninggal, kepribadian dirinya sangat ditentukan oleh penanaman pendidikan oleh orang tua atau keluarganya sedini mungkin.  Bagaimana orang tua mengajarkan atau mendidik anaknya itulah yang akan membuat dampak sangat panjang pada kehidupannya yang akan datang. Sungguh sangat penting sebuah awal pendidikan dalam keluarga untuk anak-anak sebelum terpengaruh lingkungan luar yang sangat membahayakan bagi si anak karena sedang mengalami proses awal pertumbuhan dan perkembangannya. Perlu dipahami keluarga adalah peletak dasar pendidikan yang pertama dan utama yang akan mewarnai perilaku serta kehidupan si anak  ke depannya. 

Dalam sebuah penelitian psikologi sifat naluriah manusia itu sesungguhnya baik karena manusia merupakan makhluk yang sempurna karena dikaruniai akal dan pikiran. Akal pikiran itu akan selalu berfungsi dan beroperasi pada saat akan atau sedang bahkan setelah melakukan segala aktifitas terkecuali bagi mereka yang mengalami gangguan atau tidak normal dalam otaknya.

     Manusia selalu berfikir dalam segala bentuk tindakan atau perbuatan dan akan terscan dan terekam oleh otak. Otak mengamati, memahami dan menilai keadaan sebelum dilakukan apakah baik atau buruk tindakan tersebut. Wajar saja orang yang mau berbuat jahat seketika berubah tidak jadi melakukan kejahatan tersebut karena sejahat-jahatnya perilaku manusia sesungguhnya dalam pikirannya mengalami gejolak kubu positif dan negatif. Sejatinya semua itu dipengaruhi oleh perasaan, sedangkan  perasaan itu dikendalikan oleh otak.

Akhirnya semua pendidikan dari kecil akan mempengaruhi kehidupannya di masa mendatang. Lihatlah di sekitar kita perilaku dari teman, tetangga, bahkan sampai para pejabat. Mereka akan berperilaku yang tdak sama, mengapa????? Tergantung hasil didikan ketika masih kecil dan juga pengaruh dari lingkungan.  Pada akhirnya  yang berkembang pada diri manusia adalah 2 (dua) sifat dan perilaku kontradiktif.  Seperti kisah berikut ini, kejadian dan peristiwa  dalam kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar kita, boleh jadi  kita sendiri mengalami dan melakukannya. 

Di sebuah desa yang aman dan damai, tinggal seorang PETANI bertetangga dengan seorang yang berprofesi sebagai PEMBURU. Tetangga ini memelihara beberapa anjing galak yang kurang terlatih. Anjing-anjing sang pemburu kerapkali melompati pagar & mengejar-ngejar domba-domba milik sang petani. Sudah berulangkali pak petani meminta tetangganya untuk menjaga dan melatih anjing-anjingnya. Sayangnya si pemburu terlalu sibuk berburu sehingga terkesan tak mau peduli. Hingga suatu hari anjing-anjing pemburu itu melompati pagar & menyerang beberapa ekor domba petani sampai terluka parah. Sang petani mulai kehilangan kesabarannya. Ia memutuskan untuk pergi ke kota dan berkonsultasi kepada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita sang petani dengan seksama, kemudian dengan hati-hati dia berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu & memerintahkannya untuk merantai & mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang kawan & mendapatkan seorang lawan...". "Mana yang Anda inginkan, kawan atau lawan yang menjadi tetangga Anda?", ujar pak hakim.  

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang kawan.“Baik, saya akan menyarankan anda sebuah solusi yg WIN-WIN. Domba-domba anda akan aman & anda akan tetap berkawan dengan tetangga itu..”.

Mendengar solusi pak hakim, si petani itu setuju. Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil 3 ekor domba terbaiknya dan  menghadiahkannya kepada 3 anak pemburu. Tentu saja anak- anak pemburu itu sangat senang menerima hadiah dari sang petai. Setiap hari mereka bermain-main dengan domba-domba yang lucu itu.

Maka demi menjaga keselamatan mainan baru anak-anaknya, si pemburu kemudian mengkerangkeng anjing-anjing pemburunya, bahkan mulai melatihnya agar tidak menyerang domba. Semenjak saat itu, anjing-anjing si pemburu tak pernah lagi menganggu domba pak petani. Sebagai tanda terimakasihnya pada kedermawanan sang petani, pemburu itu mulai sering berbbagi hasil buruan kepada pak petani. Dan timbal baliknya sang petani mengirimkan daging domba & keju buatannya. 

Dalam waktu singkat mereka menjadi sahabat yang sangat erat.  Sebuah ungkapan mengatakan: “Cara terbaik untuk menaklukkan & mempengaruhi orang adalah dengan menjadikannya pesanding, bukan pesaing". Sebuah ungkapan yang sudah sangat jarang kita temui akhir-akhir ini, di mana orang-orang saling menjatuhkan. Sahabat dekat, bahkan saudara dekat saja bisa saling menjatuhkan. Maka hidupkanlah persandingan, sehingga tak kan ada lagi persaingan di antara kita, yang ada kita saling menguatkan untuk memperkokoh kebersamaan. 

Pada arena kehidupan kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, untuk memilih diperlukan kekuatan hati dan jiwa yang sebagian besar sudah kita dapatkan sejak kecil baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Namun belajar tak pernah berhenti untuk memperkokoh diri, karena pada hakekatnya belajar adalah menuju perubahan. Tentunya perubahan menuju pada kesempurnaan hidup, minimal kita memilih untuk memposisikan diri sebagai pesaing atau pesanding. 

    Marilah kita terus menghebatkan diri, mengasah otak, pikiran dan jiwa  kita dengan mengedepankan etika moral terindah, agar manusia di lingkungan kita aman, nyaman ketika berkomunikasi serta berinteraksi dengan kita. Sulit pasti tapi dengan niat dan tekad tegak setiap sisi penghalang pasti akan tumbang. Terus merubah diri menuju paripurna kehidupan yang senatiasa diiringi do’a kepada Sang Pemilik Kesempurnaan  Alloh SWT.  Barokalloh. 

 

 

 

 

 

 

 


                                              DAFTAR PUSTAKA 

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Artikel www.muslimafiyah.com

Artikel Happiness Life Coach,  Trainer NLP Guzz Afif (Nyentrik Lucu Profesional)

https://www.islampos.com

https://wahdah.or.id/setiap-jiwa-manusia-memiliki-potensi-untuk-berbuat-      kebaikan-dan-keburukan/ 



Kamis, 30 Juli 2020

MENIKMATI MUSIBAH

Oleh : Supriyanto, M.Pd*



Rasulullah SAW bersabda, “Tiada orang mukmin yang ditimpa kesusahan dan kesedihan (hingga duri yang diinjaknya) melainkan dengannya Allah SWT menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, 4/1992)

Di era pandemi Covid 19 ini, tidak sedikit diantara kita yang Allah berikan rejeki berupa musibah. Baik musibah berkurangnya harta karena sulitnya kondisi perekonomian maupun musibah berupa datangnya penyakit pada diri dan keluarganya. Bahkan tidak sedikit pula diantara kita yang sampai harus menginap di rumah sakit hingga berhari-hari, berminggu-minggu atau malah ada yang sampai sebulan lebih untuk mengobati penyakitnya atau untuk melakukan isolasi agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Kondisi seperti itu jika dialami oleh seorang kepala rumah tangga jelas akan sangat berdampak pada kehidupn ekonomi dan sosial bagi keluarganya. Demikian juga jika musibah penyakit itu menimpa seorang ibu atau istri. Jelas akan sangat berpengaruh dan berdampak secara emosi, sosial dan ekonomi bagi keluarganya.

Bagi mereka yang pendapatan keluarganya merupakan pendapatan tetap yang berasal dari gaji sebagai PNS, TNI, Polri dan sebagainya yang memang dijamin secara rutin setiap bulan akan tetap cair, tentu musibah penyakit akibat virus covid 19 tidak akan berpengaruh secara besar terhadap kondisi ekonomi keluarga tersebut. Akan tetapi jika badai musibah ini menimpa keluarga dengan pengahsilan yang tidak tetap seperti itu tentu akan sangat mengguncang sendi-sendi perekonomian keluarganya.

Itu baru dampak ekonomi bagi keluarga yang ditimpa musibah terkait Covid 19. Masih ada dampak sosial yang tidak lebih ringan bagi mereka. Virus baru ini benar-benar telah membuat sebagian besar kita merasa ketakutan melihat ngerinya berbagai pemberitaan tentang jatuhnya banyak korban di seluruh dunia. Tentu tidak ada satu pun diantara kita yang ingin tertular virus ini. Karena itu, bagi mereka yang terpapar virus ini harus melakukan isolasi, baik di rumah sakit maupun secara mandiri di rumah. 

Keluarga dekat yang telah melakukan kontak dengan pasien terkonfirmasi pun harus di rapid dan di swab untuk membuktikan mereka terpapar juga atau tidak. Dan selama menunggu hasil swab (yang kadang mencapai 14 hari, bahkan lebih) itu mereka harus diisolasi, tidak boleh keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain. Bagi sebagian orang tentu tidak mudah menjalani masa isolasi ini. Guncangan psikologis, emosi dan perasaan dikucilkan oleh masyarakat tetangga dan rekan-rekan kerja serta komunitasnya tentu akan mengguncang hatinya. Akibatnya kesedihan dan kesusahan tersebut justru semakin menambah parah penyakitnya karena imunitas tubuh yang semakin menurun. 

Apalagi jika diantara masyarakat dan tetangganya ada yang sangat berlebihan memperlakukan mereka. Mereka over protective untuk keluarganya agar tidak terpapar virus mengerikan ini. Akan tetapi tanpa mereka sadari mereka telah melakukan penyiksaan dan teror psikologis kepada penderita yang terpapar virus ini beserta keluarganya. Oknum-oknum ini dengan galaknya menuntut keluarga tetangganya tersebut untuk segera memberikan penjelasan kepadanya (padahal dia bukan pengurus RT atau RW, bukan pula anggota Gugus Tugas Covid 19) kapan keluarga pasien di rapid dan bagaimana hasilnya, kapan keluarga pasien di swab dan bagaimana hasilnya. Bahkan dengan tanpa perasaan, oknum-oknum ini dengan tega melakukan interogasi via telepon kepada pasien covid 19 yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Duh teganya.

Penderitaan yang bertumpuk-tumpuk ini tidak sedikit yang membuat penderitanya berputus asa. Mereka merasa telah menjadi sampah masyarakat. Sumber penularan dan penyebaran penyakit. Mereka merasa tidak dipedulikan lagi oleh keluarga besarnya sendiri yang takut tertular. Mereka juga merasa dikucilkan oleh masyarakat dan tetangganya juga rekan-rekan kerjanya. Bahkan ada seorang pasien covid yang sudah lama tak kunjung sembuh dengan keluarnya hasil swab yang negatif  berkeinginan untuk nekad terjun dari lantai dua rumah sakit yang merawatnya. Masya Allah.

Sebagai seorang muslim dan juga seorang mukmin, tentunya kita harus memiliki pegangan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Bahwa tak satu pun peristiwa termasuk musibah yang menimpa kita, melainkan telah tertulis dalam ketentuan-Nya. Sebagai hamba, tugas kita hanya menjalaninya dengan sabar, ikhlas, ridho dan tawakkal kepada-Nya. Yakinlah bahwa ada hikmah besar yang disediakan oleh Allah SWT kepada kita dibalik semua musibah yang menimpa kita.

Musibah ini membuat mata hati kita menjadi terbuka lebar akan nikmatnya persaudaraan, kepedulian dan kesetiakawanan. Nikmatnya ukhuwah islamiyah. Betapa banyak teman dan saudara yang selama kita berjaya datang beramai-ramai mengelu-elukan kita. Memuja dan  memuji semua keberhasilah kita, semua capaian prestasi kita dan semua kesuksesan kita. Akan tetapi disaat kita mengalami musibah ini, tidak semua diantara mereka menunjukkan kepeduliannya. Hanya mereka yang benar-benar tulus bersahabat dan bersaudara dengan kitalah yang akan selalu setia dan tetap membersamai kita, mendo’akan kebaikan untuk kita, membantu semua kebutuhan kita dan selalu berusaha menghibur serta membesarkan hati kita. Mereka tetap setia hingga kita benar-benar bisa keluar dari masa-masa sulit saat menghadapi musibah ini. Allah telah membuka semuanya melalui musibah ini.

Saat kita menginap di rumah sakit, kita menyaksikan sendiri dengan mata kepala kita sendiri bagaimana penderitaan para pasien yang mengalami sesak nafas dan harus dibantu dengan tabung dan selang oksigen. Disitu kita bisa semakin bersyukur atas nikmat nafas dan oksigen gratis yang telah diberikan oleh Allah SWT selama bertahun-tahun kepada kita. Kita juga bisa melihat sendiri bagaimana pasien yang di dalam paru-parunya telah terisi berliter-liter cairan yang mengganggu pernafasannya sehingga harus dikeluarkan dengan pembedahan dan pemasangan selang dan peralatan khusus. Kita juga menyaksikan sendiri pasien di depan kita mengalami detik-detik sakaratul maut setelah hampir sehari semalam seruangn bersama kita dan para pasien lainnya. Bahkan hampir setiap hari selama kita di RS, di ruang isolasi tersebut melihat satu persatu pasien lainnya dijemput mobil ambulan jenazah untuk dimakamkan sesuai protokol covid 19 di pemakaman khusus.

Di sana kita juga menyaksikan sendiri bagaimana susahnya mereka yang mengalami gagal ginjal sehingga harus melakukan cuci darah secara rutin. Kita juga melihat pasien yang sakita jantung plus pneumonia sehingga nafasnya menjadi sangat berat hingga terpaksa harus sering-sering diuap dan bernafas dengan bantuan masker dan selang khusus. Itu pun ketika tidur tidak bisa berbaring dengan nyaman. Dia harus tidur dengan posisi setengah duduk dengan menginggikan ranjang di sisi tubuh bagian atasnya. 

Dari sana kita bisa belajar mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan organ-organ dalam tubuh kita yang ternyata sangat mahal harganya. Selama ini Allah SWT memberikan semuanya secara gratis kepada kita. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah lagi yang kamu dustakan? 

Mungkin selama ini kita terlalu sombong dengan berbagai capaian prestasi duniawi kita hingga kita melupakan adanya peran Allah SWT dalam semua capaian prestasi kita itu. Mungkin selama ini ada rasa ujub, riya’ dan sum’ah yang sering hinggap di hati kita, baik kita sadari atau pun tidak. Hingga kemudian kita menjadi begitu tersentak ketika Allah SWT hadirkan musibah ini dalam kehidupan keluarga kita. Merenggut sebagian keperkasaan kita. Menggerus sebagian kemampuan berfikir dan kecerdasan kita. Menhancurkan sebagian kecongkakan dan kebanggaan pada diri kita.

Pada saat-saat seperti inilah Allah SWT memberikan waktu yang begitu longgar buat kita merenung. Ber-muhasabah diri bersama keluarga. Adakah selama ini perbuatan-perbuatan kita yang bernilai dosa di mata Allah SWT? Adakah diantara sekian amal sholih kita selama ini yang masih bercampur dengan kesyirikan walaupun selembut rambut dibelah tujuh berupa riya’ dan sum’ah apalagi sampai menimbulkan ujub yang membuat kita menepuk dada? 

Penderitaan dan musibah ini “memaksa” kita untuk semakin mendekat kepada-Nya. Memperbanyak rintihan-rintihan do’a dan muanajat di malam-malam yang gelap disaat yang lain sedang terlelap dalam buaian mimpi-mimpinya. Mungkin selama ini kita terlalu pelit meluangkan waktu untuk bermunajat kepada-Nya di sepertiga malam yang mustajabah itu. Mungkin kesibukan duniawi kita seharian selama ini telah membuat Allah SWT begitu kangen pada rintihan do’a dan munajat kita. Hingga akhirnya musibah itu datang mengantarkan kita kembali kepada-Nya dengan tangisan dan rintihan lemah seorang hamba kepada Tuhan-Nya, untuk mengakui semua dosa-dosa yang telah dilakukannya, serta memohon ampunan-Nya yang seluas samudera.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziah menguraikan di dalam Kitabnya, Madarijus Salikin, bahwa karena musibah yang tidak terlepas dari dosa, dan tidak diampuni seluruh dosa kecuali dengan taubat, atau dengan kebaikan-kebaikan yang memusnahkan dan menghancurkan dosa-dosa. Karena itu, taubat bagaikan lautan yang kualitas airnya tidak pernah berubah karena adanya bangkai. Apabila air telah mencapai dua kulah maka tidak mengandung najis.

Orang-orang yang berdosa mempunyai tiga sungai untuk menyucikannya di dunia, dan apabila ketiga sungai itu belum cukup menyucikannya maka mereka disucikan di dalam sungai neraka Jahanam pada hari kiamat. Ketiga sungai (di dunia) itu adalah sungai taubat nasuhah, sungai kebaikan yang menghanyutkan dosa-dosanya, dan sungai musibah besar yang menghapuskan dosa-dosanya. 

Apabila menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah SWT akan memasukkannya ke dalam salah satu dari tiga sungai ini, sehingga pada hari kiamat nanti dia datang dalam keadaan bersih dan suci, hingga tidak perlu penyucian yang keempat, yaitu neraka.  

Karena begitu besarnya rahmat da karunia Allah dibalik musibah ini, maka tak sepatutnya membuat kita berputus asa dari rahmat-Nya. Tak sepantasnya membuat kita menjauh dari-Nya. Sebagaimana Nabi Ayub AS yang begitu sabar dan tegarnya menghadapi rentetan musibah penyakit yang menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun. Kesabarannya menghadapi musibah kematian anak-anaknya yang terjadi secara beruntun, juga kematian semua binatang ternak dan musnahnya semua harta kekayaan yang selama ini telah melimpahi keluarganya. Semua musibah itu hanya membaut dia semakin dekat kepada Tuhan-Nya hingga membuat setan dan iblis berputus asa terhadapnya.

Karena itu, marilah kita menikmati musibah ini dengan semakin mendekatkan diri kita dan keluarga kita Kepada Allah SWT. Memperbesar kesabaran, keikhlasan, ridho dan tawakkal kepada-Nya serta memperbanyak istghfar dan taubat nasuha. Yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya. Badai akan segera berlalu. Pelangi nan indah akan tersenyum menawan setelah badai dan hujan reda. 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Qs. Al-Insyirah : 5-6)


______________________

  • Rumahku Surgaku di Bumi Allah yang indah, 26 Juli 2020

Guru IPS dan Geografi diundang BKKBN Jabar mengembangkan SSK



Socius Media. Bandung, (29/7), Untuk mewujudkan SSK yang lebih berkualitas, BKKBN Perwakilan Jawa Barat mengundang sembilan guru IPS yang juga pengurus FKGIPS PGRI Jabar dan MGMP IPS, serta 9 guru Geografi tingkat SMA untuk menyusun RPP, LKPD dan lnstrumen Penilaian untuk Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). 

Selama dua hari, (28-29/7), bertempat di Bidang Latbang BKKBN Jabar,  kesembilan orang guru IPS yang digawangi oleh koordinator sekaligus Nara Sumber SSK, Yanto Surya Hadiyanto dari SMPN 1 Cisolok dan Yayan Moch. Ramdhan dari SMAN 1 Cisolok, Sukabumi,  tersebut secara serius membahas dan menyusun RPP, LKPD & Instrumen penilaian yang akan dijadikan contoh untuk SSK di Jawa Barat dan nasional . 

Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala BKKBN Jawa Barat, Drs. Kusmana. Dalam sambutannya, sosok yang akrab dipanggil "Ayah Uung" oleh kalangan BKKBN ini, berharap kegiatan ini akan menghasilkan output yang berkualitas untuk kemajuan SSK. Ia pun menegaskan pentingnya perencanaan dalam berkeluarga karena dengan keluarga berencana segalanya akan jauh lebih baik. 

Yanto Surya Hadiyanto yang juga Ketua Pengda FKGIPS PGRI Kab. Sukabumi dan MGMP IPS Kab. Sukabumi menegaskan bahwa esensi dari SSK adalah penanaman nilai-nilai kependudukan kepada peserta didik. Menurutnya kesadaran tentang kependudukan dan keluarga berencana penting diberikan sejak dini. 

Peserta yang hadir dari tingkat SMP dalam kegiatan ini merupakan sosok yang tidak asing lagi bagi kalangan guru IPS Jawa Barat. Selain Yanto Surya, juga hadir Enang Cuhendi (Ketua PW FKGIPS PGRI Jabar dan Waketum PP FKGIPS Nasional PGRI), Suciati (Waka PW FKGIPS PGRI Jabar), Muh. Nursodik (Waka PW FKGIPS PGRI Jabar), Epha Srimawati (Bendahara PW FKGIPS PGRI Jabar), Dedi Supriatna (Wakil Sekretaris PW FKGIPS PGRI Jabar), Hilman Latif (Ketua Pengda FKGIPS PGRI KBB), Riring Paela (Ketua Pengda FKGIPS PGRI Kuningan) dan Cecep Suheri (Pengda FKGIPS PGRI Cianjur).


Selama pelaksanaan kegiatan tatap muka ini protokol kesehatan sesuai standar protokol Covid-19 dilaksanakan secara ketat. Pihak BKKBN membekali peserta dengan masker & hand sanitizer, menjaga jarak duduk antar peserta, membagi peserta dalam dua ruang terpisah antara SMP dengan SMA dan pemenuhan ketetentuan lainnya sesuai protokol kesehatan. Kegiatan ditutup secara resmi oleh Irfan, selaku Koordinatir Bidang Pengendalian Kependudukan BKKBN Jabar.(Socius Media-Enang Cuhendi)

Minggu, 19 Juli 2020

Tunjangan Profesi kepada Guru Kedepankan Prinsip Efisien, Efektif, Transparan, Akuntabel, dan Manfaat


Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Peraturan Sekretaris Jenderal Nomor 6 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Penyaluran Tunjangan Profesi dan Tunjangan Khusus Bagi Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Prinsip penyaluran tunjangan profesi dan tunjangan khusus tertuang dalam Pasal 3 yaitu efisien, efektif, transparan, akuntabel, dan manfaat.

“Dengan mengedepankan lima prinsip tersebut maka tunjangan profesi bagi guru bukan PNS diharapkan dapat diberikan tepat sasaran,” jelas Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Evy Mulyani, di Jakarta, Sabtu (18/07).

Peraturan Sekretaris Jenderal Nomor 6 Tahun 2020 Pasal 6 menekankan bahwa pemberian tunjangan profesi bagi guru bukan PNS dikecualikan bagi guru pendidikan agama yang tunjangan profesinya dibayarkan oleh Kementerian Agama dan guru yang bertugas di Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK).

Pengecualian pemberian tunjangan profesi kepada guru yang bertugas di SPK telah dilakukan sejak tahun 2019 dengan pertimbangan lima prinsip tersebut. Selain itu, pemberian tunjangan profesi bagi guru juga memperhatikan pemenuhan delapan Standar Nasional Pendidikan, yakni Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan, dan Standar Penilaian Pendidikan oleh satuan pendidikan termasuk SPK. 

Selanjutnya, merujuk pada pemenuhan syarat minimal 24 jam mata pelajaran sebagai beban kerja guru selama satu minggu, dan jumlah siswa minimal dalam satu kelas, untuk tiga mata pelajaran yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia khusus bagi siswa Warga Negara Indonesia pada SPK. Hal tersebut diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 31 Tahun 2014 tentang Kerja Sama Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan oleh Lembaga Pendidikan Asing dengan Lembaga Pendidikan di Indonesia.

Pemberian tunjangan profesi kepada guru tidak hanya mensyaratkan kepemilikan sertifikat pendidik sesuai mata pelajaran dengan kurikulum nasional, namun juga harus memenuhi syarat lainnya. “Sampai saat ini untuk guru bukan PNS pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat masih tetap mendapatkan tunjangan profesi sesuai dengan ketentuan,” terang Evy.  

Dengan pemberian tunjangan profesi, diharapkan guru bersertifikat pendidik lebih bermartabat dan lebih profesional dalam melaksanakan tugasnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini sejalan dengan peran guru sebagai pendidik profesional yang mempunyai fungsi dan kedudukan yang sangat strategis untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional.

Jakarta, 18 Juli 2020
Evy Mulyani
Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: www.kemdikbud.go.id

Minggu, 12 Juli 2020

Pandemi Covid-19, Guru Santai Siapa Bilang?


Oleh Suriani,SPd 

 SMPN 1 Karang Bintang Kab.Tanah Bumbu Kalsel


Mewabahnya covid-19 membuat semua perubahan yang cepat dan sangat berpengaruh pada semua sendi kehidupan. Tidak hanya membuyarkan ekonomi namun juga seluruh kegiatan sehari-hari di dunia. Ketakutan kepada Covid-19 yang merusak tatanan dan dilakukan dengan upaya-upaya pencegahan dan meminimalisir penyebarannya. Dunia sedang diuji. Tak terkecuali dunia pendidikan yang merupakan soko guru bangsa, dimana anak-anak berkumpul dan berinteraksi di satuan pendidikan masing-masing. Tentu saja tulisan ini tidak bermaksud mengabaikan para pejuang kemanusiaan yang bekerja di bidang kesehatan  sebagai bagian paling penting dalam perang melawan covid-19. Merekalah pejuang paling berani dan terdepan dalam melawan covid-19.

Dalam bidang pendidikan Kebijakan Kemendikbud merespon cepat dan mengevaluasi operasional pendidikan dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi.  Social distancing dan Physical Distancing adalah dua kebijakan terpopuler ketika daerah melaksanakan lockdown pada beberapa  kota/kabupaten.  Pemerintah melakukan evaluasi dampak pandemi covid-19 yang dari hari ke hari terus meningkat tajam. Implementasi pada dunia pendidikan mengambil langkah bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti khususnya pada  Sekolah Dasar kelas 1-5, Sekolah Dasar lanjut kelas 7-8,  Sekolah Menengah kelas 10-11, dan pembelajaran di tingkat perguruan tinggi. 


Pendidikan harus terus berjalan tetapi kebijakan social distancing dan  physical distancing tidak boleh dilanggar guna memutus dan menekan seminimal mungkin penyebaran covid-19. Beberapa daerah zona merah dan terbanyak kasus covid-19 seperti Jawa Timur dan DKI Jakarta dan sekitarnya dengan sangat terpaksa menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).  Dasar hukumnya  Permen Kesehatan No 9 Tahun 2020. Kemungkinan perluasan PSBB di daerah lain sangat  mungkin terjadi mengingat tanda-tanda pandemik covid-19 belum juga mereda. 


Propinsi Kalsel misalnya awal Maret lalu belum terpapar virus corona, tetapi per tanggal 15 April 2020 sudah terdapat 49 kasus  yang terkonfirmasi. Pada tanggal 12 Juli 2020 bertambah pesat menjadi 4.069 kasus terkonfirmasi. Kalsel termasuk zoma merah terbesar ke-enam secara nasional penyebaran wabah covid-19. Di wilayah Bagian Timur Indonesia Provinsi Sulsel, Kota Makassar sebagai kota pertama di luar Pulau Jawa yang melaksanakan PSBB, kini Sulsel menempati posisi ketiga terbessar 6.009 kasus.


Pembelajaran dengan moda daring adalah pilihan tepat  untuk mengoperasionalkan pendidikan. Tenaga pendidik,  tenaga kependidikan ( proktor, tenaga admin) dan  siswa dituntut untuk melek teknologi informasi. Sayangnya ada sintimen negatif terkait pelaksanaan PBM  berbasis moda daring ini. Sindiran yang menyatakan lockdown guru santai. Pengertian santai yang dimaksud tidak bekerja tapi menerima  gaji buta. Penulis merasa  tertantang untuk membuktikan kebenaran,apa betul guru santai masa lockdown?


Penulis berhasil melakukan survey ringan yang meminta responden menjawab ; lockdown guru santai. (terima gaji buta). Apakah setuju? Jika setuju apa alasannya dan jika tidak setuju apa alasannya? Responden disebar pada 14 propinsi kepada guru dan kepada orang tua siswa.  


Bagaimana hasilnya? Responden guru menjawab 97% tidak setuju, alasanya serupa bahwa guru tetap mengajar dari rumah (work from home) dengan moda daring. Yang berbeda hanya teknis operasional dan pendekatan moda daringnya. Misalnya daerah yang mudah akses internet menggunakan tatap muka dengan konfrensi terbuka guru dan siswa menggunakan aplikasi seperti zoom meeting, hang outs,dan webex.  


Wilayah yang cukup baik sinyal internet menggunakan google classroom dan WA grup.  Tidak sedikit responden yang menjelaskan bahwa tugas mereka lebih berat dan lebih sibuk, dibaning situasi normal. Mengapa? Karena guru dituntut menyiapkan materi sesuai arahan yang mengarah kepada kecakapan hidup, seperti kecakapan mengatasi wabah covid-19. Tes tertulis disiapkan melalui format google form dan di bagikan  ke siswa melalui WA grup kelas masing-masing dan batasan waktu,  rata-rata sampai jam 10 malam. Artinya guru memonitor aktivitas pembelajaran sampai malam. Tendensi kesibukan yang hampir tanpa batas dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka yang hanya terbatas sampai sore hari. Guru wajib membuat laporan.

Hanya 3% responden guru menjawab betul tidak bisa melaksanakan PBM karena tidak ada akses internet. Penulis mencermati daerah mana responden bertugas. Ternyata responden ini berada di daerah yang memang sulit akses internet seperti di daerah yang berada di posisi terluar  dan terdepan wilayah NKRI, misalnya perbatasan di Kalbar dengan Malaysia.  Pada daerah ini terdapat kita maklumi. Namun dapat teratasi dengan program pendidikan yang diluncurkan kemendikbud via program TVRI dalam satu minggu ini. Namun demikian dari survey ditemukan juga masih ada oknum guru nakal yang tidak mau melaksanakan tugas saat pendemi covid-19, angkanya sangat kecil dan kasus per kasus, sehingga tidak bisa digeneralisasi bahwa guru santai saat pandemi covid-19. 

Bagaimana dengan responden orang tua siswa? Responden kelompok ini menjawab 71%  tidak setuju jika disebut guru santai masa pandemik ini. Alasannya guru memberi tugas rutin sesuai jadwal pelajaran. Sayangnya tidak semua guru bisa memperhatikan aspek daya olah siswa dalam memahami materi. Ada juga orang tua siswa yang mengkonfirmasi kepada guru pengajar untuk meminta pertemuan terbatas dengan anaknya untuk meminta pertemuan tatap muka. Merasa tidak sanggup mengajari putra/putrinya pada materi yang dibelajarkan moda daring, maka orang tua siswa  meminta kesediaan waktu mengajari anaknya. Mamanya juga mengerjakan pekerjaannya dengan online  sambil menunggu anak di mobil. Ini terjadi pada responden yang berdomisili di salah satu kota propinsi Jatim.  29% responden siswa setuju menjawab bahwa guru memang santai dan terima gaji buta saat pandemi. Penulis mendalami alasan responden ini. Ada yang menjawab guru santai murid dan orang tuanya sibuk mengerjakan PR, artinya responden ini hanya melihat satu sisi tugas rumah kepada anaknya saja. Belum melihat pada proses pembuatan materi dan soal PR yang dilakukan guru yang membutuhkan waktu dalam persiapannya. Kita maklum alasan responden yang senada berada pada responden  klaster pekerjaan buruh harian, pekebun kecil, pelaku UKM mikro. Ada juga kalangan profesional menjelaskan keselamatan lebih penting, materi pelajaran bisa dikejar, biarlah guru santai!  


Berdasarkan paparan data di atas. Apakah betul pada masa darurat pandemi covid-19 guru santai? Tentu tidak bukan?  Namun diakui masih ada oknum guru yang memanfaatkan lockdown tidak melaksanakan kewajibannya, hanya saja sangat sedikit dan kasuistis. Semoga tulisan ini bermanfaat dan memberi motivasi pada guru untuk terus memberikan yang terbaik di tengah badai virus corona.


Kini Indonesia berada di era new normal, walau pun pandemi covid-19 terus meningkat mencapai 74.018 kasus per tanggal 12 Juli 2020. Tindakan berani pemerintah kita menerapkan new normal harus kita dukung. Fase kenormalan baru disambut dengan optimis warga negara. Protokol kesehatan terus dilanjutkan dengan kehati-hatian yang tinggi dalam warga beraktivitas. 


Guru Indonesia diminta menyesuaikan bekerja dengan situasi kondisi. Aktivitas normal PBM dilaksanakan hanya pada zona hijau sebanyak 37 kota/kabupaten/wilayah, terbanyak di wilayah Pulau Sumatra. Zona kuning dan merah PBM dilaksanakan dengan PJJ  (Pembelajaran Jarak Jauh) guru diminta menyiapkan RPP adaptif menyesuaikan dengan situasi kondisi di wilayah masing-masing. Satuan pendidikan sekolah PAUD dan SD sampai SMP dilarang melakukan pembelajaran tatap muka, termasuk pada MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) selama tiga hari. Kepala sekolah, Pengawas dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan diminta melakukan pengawasan sesuai protokol kesehatan yang ketat.


Dari kacamata aktivitas guru, masa libur dihabiskan dengan membuat RPP adaptif dan belajar meningkatkan kompetensi PJJ. JIka pada masa libur guru bisa menggunakan waktu untuk beranjang sana ke kampung atau bersilaturrahmi dengan keluarga dan sanak famili yang jauh. Kini guru sangat sibuk belajar dan terus bekerja guna mempersiapkan pembelajaran baru di tahun ajaran baru 2020/2021,  siapa bilang guru santai?

  


Tanah Bumbu - Kalsel, 12 Juli  2020.


Rujukan :

  1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22.TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

  2. Surat Edaran Mendikbud, SE Mendikbud Nomor 3 tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19) pada Satuan Pendidikan diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 9 Maret 2020 di Jakarta.

  3. Sekretaris Jenderal Mendikbud, surat nomor 35492/A.A.5/HK/2020, tanggal 12 Maret 2020 perihal pencegahan terhadap perkembangan dan penyebaran COVID-19 di lingkungan Kemendikbud, para Pimpinan Unit Utama, Kepala Unit Pelaksana Teknis, Kepala LLDIKTI, dan Pemimpin Perguruan Tinggi.  

  4. Permenkes No 9 Tahun 2020  tentang PSBB (Pembatasan Sosial BerskalaBesar)

  5. Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2O2O Tentang Pelaksanaan Kebijakan  Pendidikan Dalam Masa Darurat  Penyebaran  Corona Virus / Desease (Covid- 1 9)

  6. Kompas.com, 15 April 2020 

  7. Antara.com, 15 April 2020

  8. Hasil Survey Penulis.

  9. https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2019/06/30/338bf614-157f-4f91-acc6-dd8d6042f605.png?d=1. Edisi  26 Juni 2020.



Sabtu, 04 Juli 2020

“Guru Penggerak Sebagai Pendorong Transformasi Pendidikan Indonesia”

Kemendikbud Luncurkan Merdeka Belajar Episode 5: Guru Penggerak

Siaran Pers_
_Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan_

Nomor: 159/sipres/A6/VI/2020


Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hari ini, Jumat (03/07) meluncurkan Merdeka Belajar Episode 5: Guru Penggerak, secara virtual yang dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, didampingi Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Iwan Syahril. Acara peluncuran juga dihadiri Gubernur, Bupati/Walikota, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Organisasi/Asosiasi Profesi Guru, Guru, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Insan Pendidikan di seluruh Indonesia.

“Guru Penggerak sebagai pendorong transformasi pendidikan Indonesia, diharapkan dapat mendukung tumbuh kembang murid secara holistik sehingga menjadi Pelajar Pancasila, menjadi pelatih atau mentor bagi guru lainnya untuk pembelajaran yang berpusat pada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi bagi ekosistem pendidikan,” tutur Mendikbud.

Arah program Guru Penggerak berfokus pada pedagogi, serta berpusat pada murid dan pengembangan holistik, pelatihan yang menekankan pada kepemimpinan instruksional melalui on-the-job coaching, pendekatan formatif dan berbasis pengembangan, serta kolaboratif dengan pendekatan sekolah menyeluruh. Pelatihan kepemimpinan sekolah baru diawali dengan rekrutmen calon Guru Penggerak. Selanjutnya dilakukan pelatihan Guru Penggerak dengan mengikuti lokakarya pada fase pertama dan pendampingan pada fase kedua.  “Siapkan diri Anda dan siapkan guru-guru terbaik di sekolah Anda untuk bergabung menjadi Guru Penggerak,” pesan Mendikbud.

Direktur Jenderal GTK, Iwan Syahril, menjelaskan proses pendidikan dan penilaian Guru Penggerak berbasis dampak dan bukti. “Proses kepemimpinan sangat penting dan dalam proses pengembangan kepemimpinan ini, kami berkaca dari berbagai macam studi dan pendekatan andragogi atau pembelajaran orang dewasa bahwa kita harus lebih fokus kepada on the job learning. Artinya, pembelajaran yang relevan dan kontekstual sehingga memberi dampak sebaik-baiknya,“ imbuh Iwan.

Terdapat tiga modul pelatihan. Paket Pertama adalah Paradigma dan Visi Guru Penggerak dengan materi refleksi filosofi pendidikan Indonesia – Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai dan visi Guru Penggerak, dan membangun budaya positif di Sekolah. Paket Kedua adalah Praktik Pembelajaran yang Berpihak pada Murid dengan materi pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial dan emosional, dan pelatihan (coaching). Paket Ketiga adalah Kepemimpinan Pembelajaran dalam Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah berisi materi tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, pemimpin dalam pengelolaan sumber daya, dan pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid.

Melalui visi Merdeka Belajar, Guru Penggerak diharapkan dapat mencetak sebanyak mungkin agen-agen transformasi dalam ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan murid-murid berkompetensi global dan berkarakter Pancasila, mampu mendorong transformasi pendidikan Indonesia, mendorong peningkatan prestasi akademik murid, mengajar dengan kreatif, dan mengembangkan diri secara aktif. Guru Penggerak bisa berperan lebih dari peran guru saat ini.

Iwan menambahkan program Guru Penggerak merupakan bentuk kolaborasi dari seluruh pihak dengan fokus pada murid. “Guru Penggerak harus bisa menginspirasi untuk terus belajar dan menggali potensi serta menjadi teladan bagi siswa. Mari kita kuatkan kolaborasi untuk anak-anak Indonesia menuju kualitas pendidikan yang semakin baik,” kata dia.

Untuk berpartisipasi, berikut adalah tahapan Program Guru Penggerak: 
13 Juli 2020: informasi rekrutmen calon peserta.
13 Juli – 22 Juli 2020: pendaftaran calon peserta melalui laman sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak.
23 Juli – 30 Juli 2020: seleksi tahap 1 untuk administrasi, biodata, tes bakat skolastik, esai, dan studi kasus pembelajaran.
24 – 28 Agustus 2020: pengumuman hasil seleksi tahap 1 dan penjadwalan seleksi tahap 2.
31 Agustus – 16 September 2020: Seleksi tahap 2 untuk simulasi mengajar dan wawancara.
19 September 2020: pengumuman calon Guru Penggerak. 
5 Oktober 2020 – 31 Agustus 2021:  pendidikan Guru Penggerak. 
15 September 2021: pengumuman hasil penetapan Guru Penggerak. 

Informasi lebih lengkap mengenai Guru Penggerak akan diumumkan melalui laman pendaftaran https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak/detil-program/ 

Sebelumnya, Kemendikbud telah meluncurkan 4 Episode Merdeka Belajar. Pada Episode 1 Merdeka Belajar mengubah Ujian Nasional menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional, menyederhanakan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan menyesuaikan kuota penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi.

Merdeka Belajar Episode 2: Kampus Merdeka, memberikan kemudahan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Merdeka Belajar 3: Perubahan Mekanisme Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2020, dan Merdeka Belajar 4: Program Organisasi Penggerak. 

Jakarta, 03 Juli 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: www.kemdikbud.go.id

Jumat, 03 Juli 2020

Dahsyatnya Kata-Kata

Sulistyowati 
SMPN 1 Pujon – Kab. Malang 

    Pasti tidak bisa di pungkiri, bahwa kita semua sangat mungkin pernah mengalami berbagai peristiwa menyenangkan maupun tidak menyenangkan bahkan menyedihkan karena kata-kata. Kita pernah sedih karena kata-kata, kita bisa gembira karena kata-kata, kita termotivasi sampai terisolasi juga karena kata-kata.  
Kata-kata terkadang memiliki kekuatan dahsyat yang mampu mempengaruhi seseorang dalam menjalankan kehidupan. Sebuah kata bisa membuat sesorang bersemangat, optimis, dan menjalani hidup dengan penuh harapan akan masa depan. Tetapi sebuah kata bisa menjerumuskan orang pada situasi di mana ia menjadi loyo dan tidak bergairah untuk menghadapi kehidupan.     
Karena itulah untuk bisa membangun semangat, seseorang membutuhkan kata-kata entah dari mana ia dapatkan yang bisa menjadi sebuah prinsip dan pegangan hidup. Kata-kata bisa menjadikan cambuk dan semangat  di kehidupan sehari-hari. 
    Dalam kehidupan sehari-hari, motivasi sesorang akan mengalami pasang surut. Di kala motivasinya sedang tinggi, ia akan sangat bergairah dan bersemangat dalam menghadapi hidup. Tetapi,  di kala motivasinya sedang turun, peran kata-kata yang menjadi prinsip hidup akan menjadi sangat penting untuk membangkitkan motivasi dan semangatnya. 
    Pada sebuah acara di salah satu stasiun televisi, Dedy Corbuizer mengeluarkan kata-kata yang sangat menarik:”Jika Anda tidak mengerti, jangan bicara, tapi BELAJARLAH”.  Sebuah kalimat yang mengingatkan betapa kata-kata mempunyai kekuatan yang dahsyat, yang bisa mempengaruhi banyak keadaan. Bahkan lebih tragis yang kemudian menimbulkan perang teluk, barasal dari untaian kata komando  sang Presiden  Amerika Serikat George W.Bush “Serang Irak” sekitar tahun 2003.  Akhirnya menimbulkan perang berkepanjangan dan membawa bencana serta penderitaan dari kedua negara bahkan sebagian masyarakat dunia terdampak juga. Itulah sebagian contoh akibat dari sebuah kata-kata. 
    Dengan kekuatan kata-kata dan akibat dahsyat yang ditimbulkannya, seyogyanya  kita mulai menjaga kata-kata yang akan kita keluarkan. Nasihat orang tua, bahwa lidah tidak bertulang perlu menjadi perhatian yang sangat serius sehingga apapun yang kita katakan sudah kita pikirkan terlebih dahulu. Jangan sampai penyesalan datang setelah apa yang kita katakan. 
Seiring nafas kehidupan sudah tidak tertakar untaian kata-kata yang saya terima memenuhi ruang jiwa, baik kata-kata yang bernada simpati, pujian, atensi maupun doa. Sungguh teramat sulit menghapus dari relung jiwa rangakaian kata, sindirian, cercaan, ejekan, hinaan sampai pembunuhan karakter. Kala semuanya hadir menghampiri angan memunculkan emosi dan deraian air mata. Luar biasa perihnya bahkan sampai melemahkan langkah semangat kehidupan saya. Akhirnya kekuatan kata-kata juga dan Rahmat Alloh SWT yang membangkitkan semangat langkah kehidupan saya. Dengan segenap asa saya berusaha menyadari serta memahami bahwa “semua yang terjadi adalah kehendak Alloh SWT dan Alloh SWT pasti punya rencana yang lebih indah”.  Terus berusaha menguatkan diri dan menjadikan semua yang terjadi  sebagai racikan jamu kehidupan untuk memperkuat semangat dalam menggapai Rahmat dan Ridho Alloh SWT. 
Sering kita dengar pepatah “pikir dulu baru bicara”  dan jangan dibalik, karena dampaknya akan sangat fatal. Teruslah berhati-hati dan berusaha mengeluarkan pilihan kata-kata yang indah. Karena yang terucap dari setiap mulut dan untaian kata-kata dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan di media sosial merupakan gambaran kepribadian orang tersebut. 
Keterampilan menjaga kalimat  yang kita keluarkan juga tidak datang dengan sendirinya. Membutuhkan pembiasaan dan latihan terus menerus. Jika seseorang terbiasa berpikir dulu sebelum bicara, kebiasaan itu akan terus dibawa hingga masa tua. Tetapi, jika seseorang terbiasa baerkata-kata dahulu sebelum berpikir, kebiasaan ini akan terus berlanjut pula.     
    Cobalah juga menghindari  berkata-kata  yang tidak bermanfaat, karena hanya membuang-buang waktu dan tidak mempunyai akibat positif. Berkata-katalah yang membuat hidup kita dan sekeliling kita menjadi lebih aman dan nyaman. Apa yang kita keluarkan seyogyanya memberikan semangat hidup untuk kita dan sekeliling kita, sehingga hidup kita akan semakin menyenangkan serta membawa ketenangan. 
    Saya masih teringat kata-kata dari peserta pelatihan Instruktur Guru Pembelajar di Palembang tepatnya di Hotel Horison. Sebetulnya saya datang kesini penuh ketakutan, tapi dengan kata-kata bunda Sulis “Bahwa anda yang hadir disini adalah guru pilihan dan hebat”, ibarat amunisi semangat saya bangkit,  terus berusaha untuk menjadi hebat, semangat berjuang dan berkarya.  Kalimat tersebut tidak hanya sekedar kata-kata yang mendominasi pikiran, tetapi merasuk ke dalam keseluruhan sendi kehidupan serta  menjadi prinsip yang menggelora dalam menjalani kehidupan serta menjadi motivasi untuk terus menjadi terbaik, di manapun berada. 
Thomas Alfa Edison adalah genius yang sangat berpengaruh pada peradaban dunia. Sebagai seorang anak Thomas lahir dengan kemampuan biasa-biasa saja, tidak memiliki kecerdasan khusus seperti anak-anak lainnya, bahkan dianggap bodoh oleh gurunya sehingga para guru menyerah dalam usaha mendidik Thomas.
Suatu hari, guru memanggilnya dan memberikan sepucuk surat kepadanya dengan pesan "Jangan buka surat ini di perjalanan, berikan kepada ibumu." Thomas dengan gembira membawa pulang surat itu dan memberikan kepada ibunya. Ketika menerima surat itu, ibu Nancy Edison membacanya, lalu menangis. Sambil berurai air mata, dia membaca surat itu dengan suara keras di depan anaknya: "Putra Anda seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidiknya. Agar anda mendidiknya sendiri."
Kemudian ibu Nancy berkata kepada Thomas, "Kamu anak yang jenius nak, sekolah belum cukup baik untuk mendidik anak yang hebat seperti kamu. Mulai saat ini ibu yang akan mendidik kamu"
Sejarah kemudian mencatat, di usia 12 tahun Thomas sudah memiliki laboratorium kimia kecil di ruang bawah tanah rumah ayahnya. Setahun kemudian dia berhasil membuat telegraf yang sekalipun bentuk dan modelnya sederhana tapi sudah bisa berfungsi. Ketika berusia 32 tahun, Thomas berhasil menciptakan lampu pijar, yang akhirnya mengubah wajah dunia menjadi terang benderang penuh cahaya. Setelah Ibunya wafat dan waktu itu Thomas telah menjadi tokoh penemu ternama. Ketika ia membereskan barang-barang lama keluarganya, ia menemukan kertas surat terlipat di laci sebuah meja. Thomas membuka dan membaca isinya sbb: "Putra Anda anak yang bodoh. Kami tidak mengizinkan anak Anda bersekolah lagi." Itulah isi surat yang sesungguhnya yang pernah dibawa dan diberikan Thomas kepada ibunya dahulu. Setelah membaca surat itu Thomas menangis berjam-jam. Kemudian Thomas menulis di buku diarynya sbb: "Saya, Thomas Alfa Edison, adalah seorang anak yang bodoh, yang karena seorang ibu yang luar biasa, mampu menjadi seorang jenius pada abad kehidupannya."
Hebatnya kata-kata yang diucapkan dengan tepat dan bijaksana. Kata-kata memang memiliki kekuatan dahsyat sehingga banyak kalangan memanfaatkan kekuatan kata untuk membangun pencitraan tentang dirinya atau menghancurkan "musuh" dengan berita-berita hoaks. Di medsos setiap hari kita disuguhi dengan berbagai hoaks yang berisi berita bohong, fitnah dan penyebaran kebencian terhadap seseorang atau kelompok tertentu.
Ada lagi sebuah rangkaian kata bijak, "Mati hidup ditentukan oleh lidah”.  Saya sangat setuju dengan pernyataan ini. Jiwa kita akan mati atau hidup, tergantung asupan apa yang dikonsumsi oleh jiwa kita. Kalau setiap hari kita mendengarkan kata-kata yang pesimis, kasar, umpatan dan ancaman maka akhirnya kita akan menjadi orang yang negatif dan bermental pecundang dan sebaliknya. 
    Pada akhirnya,  memilah dan memilih mana yang akan kita katakan menunjukkan siapa diri kita. Hati-hati dengan kata-kata. Jangan biarkan kata-kata menjadi belenggu yang justru membuat hidup kita tenggelam. Jangan sampai kita terpuruk, justru oleh kata-kata yang kita keluarkan sendiri. 
    Kata-kata adalah do’a apalagi jika dituturkan orang tua atau pendidik. Dalam kata-kata terselip kekuatan yang sangat dahsyat. Cukup jelas contoh kata, peristiwa dari ibu Nancy Edison serta kisah Malin Kundang adalah salah satu legenda yang mengedukasi kita, bagaimana saktinya kata-kata seorang ibu yang mampu merubah terhadap kehidupan anaknya.  
Itulah sebabnya Revita (2014) menyebutkan berbahasa harus dengan hati atau kalbu bukan dengan mulut.  Saat hati atau kalbu mendominasi kita dalam berbicara, maka akan keluarlah kata-kata yang baik.  Kalbu menjadi koridor dan penuntun lidah untuk berucap. Semoga kita mampu mengendalikan kedahsyatan kata dan bahasa serta berhati-hati menggunakannya dalam berkomunikasi dalam kehidupan. Marilah terus menata jiwa, memperbaiki kosakata kita dan selalu berdoa semoaga Alloh SWT senantiasa Merahmati diri dan ucapan kita. Aamiin YRA. 

            






                                              DAFTAR PUSTAKA 
Aa Gym. 2000. Management Qolbu. Bandung: MQS Pustaka Grafika 
Aa Gym. 2006. Muhasabah Diri. Semarang: Difa Press
Akbar Z. 2011. Man Jadda Wajada. Jakarta: PT Ikrar Mandiri.  
M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 
Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 
Artikel www.muslimafiyah.com
 
https://wahdah.or.id/setiap-jiwa-manusia-memiliki-potensi-untuk-berbuat-     
 kebaikan-dan-keburukan/ 
http://khazanah.republika.co.id/beri...ia-dari-aa-gym  


Kamis, 02 Juli 2020

Pemanfaatan Metode Virtual Tour Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

ATJIH KOERNIASIH 

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat 


Ada pesan yang disampaikan oleh menteri  dan Kebudayaan melalui Surat Edaran  Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Belajar dari Rumah melalui Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ) . 

Salah satu pesannya adalah, guru seyogyanya harus memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa, tanpa membebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum. 

Pesan itu rasanya logis, karena memang dalam kondisi belajar saat pandemi covid -19 dengan belajar dari rumah rasanya sulit ketuntasan  kurikulum seratus persen tercapai,  mengingat sarana prasarana yang tentunya banyak mempengaruhi selain mode belajar 

Berdasarkan hal tersebut, maka sudah saatnya guru harus  lebih kreatif dalam pemilihan metode maupun pendekatan,  dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Sehingga, diharapkan tidak muncul kebosanan, rasa jenuh yang mungkin saja dapat muncul  pada peserta didik. Akibatmya pembelajaran kurang bermakna. 

Pembelajaran bermakna menurut David Paul Ausubel, seorang ahli psikologi pendidikan dari Amerika Serikat, adalah suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep konsep yang relevan pada struktur kognitif seseorang. Dengan demikian bisa diartikan peserta didik akan lebih bermakna belajarnya bila mengalami sendiri dan banyak menggunakan alat indra dibandiingkan hanya sekedar mendengar penjelasan guru. 

Berkenaan dengan itu, maka metode karyawisata satu di antara beberapa metode yang bisa menjadi salah satu pilihan untuk dipilih oleh guru. Hal  ini selaras dengan  konsep merdeka belajar yang disampaikan oleh mendikbud  pada peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2019, bahwa salah satu ciri merdeka belajar adalah  bila guru sekali waktu membawa peserta didik untuk belajar di luar kelas. Metode ini rasanya baik diterapkan  tidak terkecuali pada  mata pelajaran IPS, contohnya  saat membahas sejarah dengan berkunjung ke mesium sejarah. 

Permasalahan muncul. Yaitu tidak mungkin metode karyawisata dapat digunakan di saat adanya pandemi covid 19. Saat di mana pemerintah menghimbau untuk tetap di rumah, Belajar dari Rumah, Mengajar dari Rumah agar dapat memutus rantai penyebaran virus tersebut. 

Virtual Toer bisa menjadi sebuah alternatif pilihan pengganti karyawisata. Apa arti Virtual Toer? Menurut Wikipedia Virtual Toer yang diterjemahkan dari bahasa Inggris Tur Virtual adalah simulasi dari lokasi yang ada, biasanya terdiri dari urutan video atau gambar foto. Mungkin juga menggunakan elemen multimedia lain seperti efek suara,narasi.dan teks. Untuk mempengaruhi tele-tourism


Beberapa link Virtual Tour  dapat kita gunakan dalam pembelajaran daring yang  menggambarkan tentang mesium sejarah Indonesia. Dua di antaranya adalah, Museum Nasional : http://museumnasional.indonesiaheritage.org/, dan Museum Sribaduga http://gg.gg/Tiket-Sribaduga

Penulis pun saat pembelajaran Daring beberapa waktu lalu melaksanakan pembelajaran daring menggunakan Virtual Toer. Tak sengaja beberapa link tentang mesium sejarah Indonesia saya dapatkan dari grup WhatsApp sekolah. Seorang rekan guru mengirim link -link tersebut. 

Ketika saya buka-buka link tersebut. Saya tertarik ke pada link mesium Sri Baduga. Alasannya pertama, karena di dalam mesium tersebut ada menggambarkan mengenai kondisi masyarakat praaksara.  Baik sosial,  budaya maupun  ekonomi. Kebetulan materi kelas 7 di mana saya mengampu sedang membahas materi mengenai hal tersebut. 

Alasan ke dua, karena di dalam mesium ini menggambarkan kondisi sosial budaya dan perekonomian masyarakat khusus Jawa Barat. Mengapa tidak saya membahas ini.  Bukankah materi pembelajaran itu sebaiknya dari  lingkungan mereka terdekat lebih dahulu?.  Ya, pendekatan  Kearifan lokal ingin saya tonjolkan. 

Ketiga, alasannya penulis tertarik karena ketika kita (baca peserta didik)  membuka link ini mereka akan diantarkankan dengan musik gamelan atau yang kita ketahui degung. Selain efek musik, Virtual mesium ini pun dilengkapi dengan narasi. Sehingga peserta didik seperti sedang berjalan-jalan melihat-lihat isi dari museum  dengan dipandu seorang guide. 

Keempat, media daring inipun sederhana. Hanya menggunakan fasilitas WhatsApp grup kelas. Yang memungkinkan sebahagian besar peserta didik dapat mengaksesnya. 

Kegiatan awal pembelajaran yang penulis lakukan seperti biasa, memberikan salam kepada mereka dengan menggunakan voice note yang ada di WhatsAap.  Kemudian memberikan motivasi dan mengingatkan tentang perilaku hidup sehat.Terutama tentang sikap dalam menghadapi pandemi corona. Mencuci tangan, menggunakan masker, dan tetap di rumah saja. 

Setelah itu, mengecek kehadiran melalui kegiatan mengisi list kehadiran dengan pemberian batas waktu. Barulah mereka mendengarkan tujuan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang akan mereka lakukan yang penulis sampaikan melalui voice note. Setelah itu mereka mulai menjelajah mesium melalui link yang dishare di grup dengan waktu yang sudah ditentukan pula. 

Setelah waktu yang ditentukan untuk menjelajah mesium Sri Baduga secara Virtual  selesai,  mereka kembali ke grup kelas maya WhatsAap. Mereka dipersilahkan untuk bertanya dan berdiskusi dari yang mereka lihat di Virtual Toer tentang kondisi sosial budaya dan  ekonomi masyarakat Jawa Barat. 

Untuk mengecek sejauh mana hasil yang mereka kuasai maka penulis mempersilahkan mereka melaporkan dalam bentuk tulisan di grup kelas WhatsApp juga. Sengaja penulis menugaskan mereka mengirimnya ke grup. Minimal nanti akan dibaca pula oleh teman -temannya. 

Cara penilaian di atas saat berganti kelas, saya rubah. Di kelas 7A  comtohnya. metodenya sama tetapi saya gunakan game.Bentuk pertanyaannya berupa soal jawaban singkat, atau beberapa gambar di mesium saya screenshoot dan saya share di WhatsApp  grup Kelas dan saya buat pertanyaan. Siapa yamg menjawab lebih dahulu dan benar itu, saya beri jempol. Jempol itulah nanti saya hitung. Bagi peserta didik yang banyak mendapatkan jempol itu artinya yg mendapat nilai paling besar. 

Sebagai apresiasi kepada yang mendapat jempol paling banyak,  penulis memberikan apresiasi berupa pemberian pulsa ke nomornya. Tidak besar tetapi bagi peserta didik tentunya sangat berkesan dan bermakna. 

Sedangkan untuk ulangan hariannya penulis mengunakan google formulir dengan menggunakan sandi yang penulis berikan. Alasan menggunakan google formulir mudah untuk dibagikan kepada mereka, karena linknya dibagikan ke grup kelas WhatsApp  Lebih praktis. 

Tiada ada yang sempurna. Begitu juga dalam penggunaan metode ini. Tentunya ada kelemahan. Tetapi untuk sebuah tujuan agar tidak monoton dan itu -itu saja metode yang digunakan serta untuk menyegarkan pembelajaran, metode Virtual Toer rasanya bisa menjadi sebuah pilihan.