Kamis, 30 Juli 2020

MENIKMATI MUSIBAH

Oleh : Supriyanto, M.Pd*



Rasulullah SAW bersabda, “Tiada orang mukmin yang ditimpa kesusahan dan kesedihan (hingga duri yang diinjaknya) melainkan dengannya Allah SWT menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, 4/1992)

Di era pandemi Covid 19 ini, tidak sedikit diantara kita yang Allah berikan rejeki berupa musibah. Baik musibah berkurangnya harta karena sulitnya kondisi perekonomian maupun musibah berupa datangnya penyakit pada diri dan keluarganya. Bahkan tidak sedikit pula diantara kita yang sampai harus menginap di rumah sakit hingga berhari-hari, berminggu-minggu atau malah ada yang sampai sebulan lebih untuk mengobati penyakitnya atau untuk melakukan isolasi agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Kondisi seperti itu jika dialami oleh seorang kepala rumah tangga jelas akan sangat berdampak pada kehidupn ekonomi dan sosial bagi keluarganya. Demikian juga jika musibah penyakit itu menimpa seorang ibu atau istri. Jelas akan sangat berpengaruh dan berdampak secara emosi, sosial dan ekonomi bagi keluarganya.

Bagi mereka yang pendapatan keluarganya merupakan pendapatan tetap yang berasal dari gaji sebagai PNS, TNI, Polri dan sebagainya yang memang dijamin secara rutin setiap bulan akan tetap cair, tentu musibah penyakit akibat virus covid 19 tidak akan berpengaruh secara besar terhadap kondisi ekonomi keluarga tersebut. Akan tetapi jika badai musibah ini menimpa keluarga dengan pengahsilan yang tidak tetap seperti itu tentu akan sangat mengguncang sendi-sendi perekonomian keluarganya.

Itu baru dampak ekonomi bagi keluarga yang ditimpa musibah terkait Covid 19. Masih ada dampak sosial yang tidak lebih ringan bagi mereka. Virus baru ini benar-benar telah membuat sebagian besar kita merasa ketakutan melihat ngerinya berbagai pemberitaan tentang jatuhnya banyak korban di seluruh dunia. Tentu tidak ada satu pun diantara kita yang ingin tertular virus ini. Karena itu, bagi mereka yang terpapar virus ini harus melakukan isolasi, baik di rumah sakit maupun secara mandiri di rumah. 

Keluarga dekat yang telah melakukan kontak dengan pasien terkonfirmasi pun harus di rapid dan di swab untuk membuktikan mereka terpapar juga atau tidak. Dan selama menunggu hasil swab (yang kadang mencapai 14 hari, bahkan lebih) itu mereka harus diisolasi, tidak boleh keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain. Bagi sebagian orang tentu tidak mudah menjalani masa isolasi ini. Guncangan psikologis, emosi dan perasaan dikucilkan oleh masyarakat tetangga dan rekan-rekan kerja serta komunitasnya tentu akan mengguncang hatinya. Akibatnya kesedihan dan kesusahan tersebut justru semakin menambah parah penyakitnya karena imunitas tubuh yang semakin menurun. 

Apalagi jika diantara masyarakat dan tetangganya ada yang sangat berlebihan memperlakukan mereka. Mereka over protective untuk keluarganya agar tidak terpapar virus mengerikan ini. Akan tetapi tanpa mereka sadari mereka telah melakukan penyiksaan dan teror psikologis kepada penderita yang terpapar virus ini beserta keluarganya. Oknum-oknum ini dengan galaknya menuntut keluarga tetangganya tersebut untuk segera memberikan penjelasan kepadanya (padahal dia bukan pengurus RT atau RW, bukan pula anggota Gugus Tugas Covid 19) kapan keluarga pasien di rapid dan bagaimana hasilnya, kapan keluarga pasien di swab dan bagaimana hasilnya. Bahkan dengan tanpa perasaan, oknum-oknum ini dengan tega melakukan interogasi via telepon kepada pasien covid 19 yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Duh teganya.

Penderitaan yang bertumpuk-tumpuk ini tidak sedikit yang membuat penderitanya berputus asa. Mereka merasa telah menjadi sampah masyarakat. Sumber penularan dan penyebaran penyakit. Mereka merasa tidak dipedulikan lagi oleh keluarga besarnya sendiri yang takut tertular. Mereka juga merasa dikucilkan oleh masyarakat dan tetangganya juga rekan-rekan kerjanya. Bahkan ada seorang pasien covid yang sudah lama tak kunjung sembuh dengan keluarnya hasil swab yang negatif  berkeinginan untuk nekad terjun dari lantai dua rumah sakit yang merawatnya. Masya Allah.

Sebagai seorang muslim dan juga seorang mukmin, tentunya kita harus memiliki pegangan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Bahwa tak satu pun peristiwa termasuk musibah yang menimpa kita, melainkan telah tertulis dalam ketentuan-Nya. Sebagai hamba, tugas kita hanya menjalaninya dengan sabar, ikhlas, ridho dan tawakkal kepada-Nya. Yakinlah bahwa ada hikmah besar yang disediakan oleh Allah SWT kepada kita dibalik semua musibah yang menimpa kita.

Musibah ini membuat mata hati kita menjadi terbuka lebar akan nikmatnya persaudaraan, kepedulian dan kesetiakawanan. Nikmatnya ukhuwah islamiyah. Betapa banyak teman dan saudara yang selama kita berjaya datang beramai-ramai mengelu-elukan kita. Memuja dan  memuji semua keberhasilah kita, semua capaian prestasi kita dan semua kesuksesan kita. Akan tetapi disaat kita mengalami musibah ini, tidak semua diantara mereka menunjukkan kepeduliannya. Hanya mereka yang benar-benar tulus bersahabat dan bersaudara dengan kitalah yang akan selalu setia dan tetap membersamai kita, mendo’akan kebaikan untuk kita, membantu semua kebutuhan kita dan selalu berusaha menghibur serta membesarkan hati kita. Mereka tetap setia hingga kita benar-benar bisa keluar dari masa-masa sulit saat menghadapi musibah ini. Allah telah membuka semuanya melalui musibah ini.

Saat kita menginap di rumah sakit, kita menyaksikan sendiri dengan mata kepala kita sendiri bagaimana penderitaan para pasien yang mengalami sesak nafas dan harus dibantu dengan tabung dan selang oksigen. Disitu kita bisa semakin bersyukur atas nikmat nafas dan oksigen gratis yang telah diberikan oleh Allah SWT selama bertahun-tahun kepada kita. Kita juga bisa melihat sendiri bagaimana pasien yang di dalam paru-parunya telah terisi berliter-liter cairan yang mengganggu pernafasannya sehingga harus dikeluarkan dengan pembedahan dan pemasangan selang dan peralatan khusus. Kita juga menyaksikan sendiri pasien di depan kita mengalami detik-detik sakaratul maut setelah hampir sehari semalam seruangn bersama kita dan para pasien lainnya. Bahkan hampir setiap hari selama kita di RS, di ruang isolasi tersebut melihat satu persatu pasien lainnya dijemput mobil ambulan jenazah untuk dimakamkan sesuai protokol covid 19 di pemakaman khusus.

Di sana kita juga menyaksikan sendiri bagaimana susahnya mereka yang mengalami gagal ginjal sehingga harus melakukan cuci darah secara rutin. Kita juga melihat pasien yang sakita jantung plus pneumonia sehingga nafasnya menjadi sangat berat hingga terpaksa harus sering-sering diuap dan bernafas dengan bantuan masker dan selang khusus. Itu pun ketika tidur tidak bisa berbaring dengan nyaman. Dia harus tidur dengan posisi setengah duduk dengan menginggikan ranjang di sisi tubuh bagian atasnya. 

Dari sana kita bisa belajar mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan organ-organ dalam tubuh kita yang ternyata sangat mahal harganya. Selama ini Allah SWT memberikan semuanya secara gratis kepada kita. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah lagi yang kamu dustakan? 

Mungkin selama ini kita terlalu sombong dengan berbagai capaian prestasi duniawi kita hingga kita melupakan adanya peran Allah SWT dalam semua capaian prestasi kita itu. Mungkin selama ini ada rasa ujub, riya’ dan sum’ah yang sering hinggap di hati kita, baik kita sadari atau pun tidak. Hingga kemudian kita menjadi begitu tersentak ketika Allah SWT hadirkan musibah ini dalam kehidupan keluarga kita. Merenggut sebagian keperkasaan kita. Menggerus sebagian kemampuan berfikir dan kecerdasan kita. Menhancurkan sebagian kecongkakan dan kebanggaan pada diri kita.

Pada saat-saat seperti inilah Allah SWT memberikan waktu yang begitu longgar buat kita merenung. Ber-muhasabah diri bersama keluarga. Adakah selama ini perbuatan-perbuatan kita yang bernilai dosa di mata Allah SWT? Adakah diantara sekian amal sholih kita selama ini yang masih bercampur dengan kesyirikan walaupun selembut rambut dibelah tujuh berupa riya’ dan sum’ah apalagi sampai menimbulkan ujub yang membuat kita menepuk dada? 

Penderitaan dan musibah ini “memaksa” kita untuk semakin mendekat kepada-Nya. Memperbanyak rintihan-rintihan do’a dan muanajat di malam-malam yang gelap disaat yang lain sedang terlelap dalam buaian mimpi-mimpinya. Mungkin selama ini kita terlalu pelit meluangkan waktu untuk bermunajat kepada-Nya di sepertiga malam yang mustajabah itu. Mungkin kesibukan duniawi kita seharian selama ini telah membuat Allah SWT begitu kangen pada rintihan do’a dan munajat kita. Hingga akhirnya musibah itu datang mengantarkan kita kembali kepada-Nya dengan tangisan dan rintihan lemah seorang hamba kepada Tuhan-Nya, untuk mengakui semua dosa-dosa yang telah dilakukannya, serta memohon ampunan-Nya yang seluas samudera.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziah menguraikan di dalam Kitabnya, Madarijus Salikin, bahwa karena musibah yang tidak terlepas dari dosa, dan tidak diampuni seluruh dosa kecuali dengan taubat, atau dengan kebaikan-kebaikan yang memusnahkan dan menghancurkan dosa-dosa. Karena itu, taubat bagaikan lautan yang kualitas airnya tidak pernah berubah karena adanya bangkai. Apabila air telah mencapai dua kulah maka tidak mengandung najis.

Orang-orang yang berdosa mempunyai tiga sungai untuk menyucikannya di dunia, dan apabila ketiga sungai itu belum cukup menyucikannya maka mereka disucikan di dalam sungai neraka Jahanam pada hari kiamat. Ketiga sungai (di dunia) itu adalah sungai taubat nasuhah, sungai kebaikan yang menghanyutkan dosa-dosanya, dan sungai musibah besar yang menghapuskan dosa-dosanya. 

Apabila menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah SWT akan memasukkannya ke dalam salah satu dari tiga sungai ini, sehingga pada hari kiamat nanti dia datang dalam keadaan bersih dan suci, hingga tidak perlu penyucian yang keempat, yaitu neraka.  

Karena begitu besarnya rahmat da karunia Allah dibalik musibah ini, maka tak sepatutnya membuat kita berputus asa dari rahmat-Nya. Tak sepantasnya membuat kita menjauh dari-Nya. Sebagaimana Nabi Ayub AS yang begitu sabar dan tegarnya menghadapi rentetan musibah penyakit yang menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun. Kesabarannya menghadapi musibah kematian anak-anaknya yang terjadi secara beruntun, juga kematian semua binatang ternak dan musnahnya semua harta kekayaan yang selama ini telah melimpahi keluarganya. Semua musibah itu hanya membaut dia semakin dekat kepada Tuhan-Nya hingga membuat setan dan iblis berputus asa terhadapnya.

Karena itu, marilah kita menikmati musibah ini dengan semakin mendekatkan diri kita dan keluarga kita Kepada Allah SWT. Memperbesar kesabaran, keikhlasan, ridho dan tawakkal kepada-Nya serta memperbanyak istghfar dan taubat nasuha. Yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya. Badai akan segera berlalu. Pelangi nan indah akan tersenyum menawan setelah badai dan hujan reda. 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Qs. Al-Insyirah : 5-6)


______________________

  • Rumahku Surgaku di Bumi Allah yang indah, 26 Juli 2020