Rabu, 01 Juli 2020

NEW NORMAL DILIHAT DARI SISI SOSIOLOGI


Oleh: 
Rizki Mega Saputra, S.Pd
Pengajar SMPN Satu Atap Nyogan

Istilah new normal akhir-akhir ini semakin akrab di telinga kita. Seperti yang disampaikan oleh Achmad Yurianto, Juru Bicara Penanganan Covid-19 dalam salah satu press conference perkembangan penanganan Covid-19 mengatakan, masyarakat harus menjaga produktivitas ditengah pandemic virus corona Covid-19 dengan tatanan baru yang disebut new normal. Secara mendasar sebenarnya kita belum paham dengan pengertian dari new normal  itu seperti apa yang di maksudkan oleh pemerintah, karena tidak banyak referensi yang menjelaskan secara sederhana kepada masyarakat awam tentang pengertian dan maksud dari tujuan yang di inginkan.

Penulis menyederhanakan pengertian new normal itu adalah sebuah pembiasaan baru baik itu dari sisi perilaku kehidupan, kelembagaan, serta kebijakan dalam masyarakat.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengkritisi keputusan pemerintah yang mulai memberlakukan "new normal". Lewat siaran pers bernomor 002/Per/1.0/1/2020, PP Muhammadiyah memandang berbagai pemberitaan dan pernyataan pemerintah tentang new normal akhir-akhir ini menimbulkan tanda tanya dan kebingungan masyarakat. 

Di satu sisi pemerintah masih memberlakukan PSBB tapi pada sisi lain menyampaikan pemberlakuan relaksasi. Kesimpangsiuran ini, menurut PP Muhammadiyah, sering menjadi sumber ketegangan aparat dengan rakyat. Bahkan, demi melaksanakan aturan kadang sebagian oknum aparat menggunakan cara-cara kekerasan (ceknricek.com. 05/28/2020)

Penulis akan mengulik beberapa teori yang berkaintan dengan new normal dari pandangan sosiologi, alasannya karena kebijakan new normal ini yang saat ini kita bingungkan akan berdampak langsung terhadap tatanan masyarakat yang otomatis berdampak semua segi kehidupan. Teori yang penulis deskripsikan yaitu teori anomie dan teori perubahan sosial. 


Teori Anomie 
Kebijakan new normal yang diberlakukan oleh pemerintah dapat berpotensi adanya anomie, maksudnya akan adanya beberapa kebijakan yang malah diabaikan oleh masyarakat. 
Buku berjudul The Division of Labor in Society (1893) oleh Emile Durkheim mempergunakan istilah anomie untuk mendeskripsikan keadaan deregulation di dalam masyarakat yang diartikan sebagai tidak ditaatinya aturan-aturan yang terdapat pada masyarakat sehingga orang tidak tahu apa yang diharapkan dari orang lain dan keadaan ini menyebabkan deviasi .

Penjelasanan definisi anomie menurut Emile Durkheim adalah suatu situasi yang berada tanpa adanya norma dan tanpa arah sehingga dalam kehidupan yang dijalani tidak tercipta keselarasan antara kenyataan yang diharapkan dan kenyataan sosial yang ada. 

Tokoh lain yaitu Robert K. Merton juga membahas makna anomie, Merton mengatakan bahwa kondisi sosial yang disebabkan adanya ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan pada kehidupan manusia. 

Penulis menyimpulkan pengertian tentang anomi (anomie) gambaran mengenai kehidupan yang ada di dalam masyarakat dengan banyak aturan, norma, dan juga nilai-nilai pengendalian sosial, akan tetapi antara aturan, norma, dan nilai-nilai dalam masyakat yang bersangkutan tidaklah dipergunakan, dan malah menjalankan apa yang bertentangan dalam kehidupan masyarakat. 

Capaian new normal juga harus diikuti capaian kepahaman dan ketaatan masyarakat terhadap apa-apa saja yang diinginkan oleh pemerintah sehingga semua bisa berjalan dengan baik tanpa akan menimbulkan konflik baru dimasyarakat kita. 

Coba amati saja disekitar tempat tinggal kita, berapa banyak masyarakat yang benar-benar mematuhi aturan protokol kesehatan yang telah disampaikan oleh pemerintah kita selama ini. Sudah pasti ada saja yang melanggar aturan itu padahal masyarakat kita paham dengan dampak yang diakibatkan ketika satu orang saja yang terkena virus ini maka otomatis orang-orang sekitarnya akan terkena imbas, terlebih lagi daerah atau tempat yang dinyatakan zona merah. Hal ini terjadi karena adanya anomie, yang tidak ada sepehaman yang pasti dari semua masyarakat kita.


Teori Perubahan sosial 
Perubahan sosial menurut Farley (Sztompka,1993:5) adalah perubahan pola perilaku, hubungan sosial, lembaga dan struktur sosial pada waktu tertentu. Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan.

Perubahan sosial terjadi pada semua masyarakat dan dalam setiap proses dan waktu, dampak perubahan tersebut berakibat positif dan juga negatif. Terjadinya perubahan sosial merupakan gejala yang wajar dari kehidupan manusia. 

Seorang sosiolog yaitu Talcot Parson berpendapat perubahan hanya dapat dipahami  melalui pemahaman mengenai struktur lebih dahulu. Perubahan sosial terjadi pada masyarakat terutama pada dekade terakhir dapat dikategorikan sebagai perubahan sosial yang disengaja (intended change) dan tidak disengaja (unintended) atau dengan istilah lain contact change  dan immanen change. 
Intended change atau contact change merupakan perubahan sosial yang bersumber dari luar masyarakat baik yang disengaja, melalui agent of change (orang yang terlihat dalam perubahan tersebut) maupun secara spontan dikombinasikan oleh pihak-pihak dari luar masyarakat (Soerjono Soekanto 1990:349-350).

Perubahan sosial yang terjadi saat pademi corona ini bisa Penulis deskripsikan kedalam perubahan sosial yang disengaja, alasannya adalah melihat dari sisi kebijakan new normalnya bukan terhadap kejadian pademi corona. Perubahan disengaja merupakan perubahan yang terjadi memang sengaja dan direncakan oleh masyarakat sebagai kebijakan yang harus dilakukan demi perubahan yang lebih baik lagi. 

Terlihat dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang diterapkan kepada masyarakat kita dari jaga jarak, PSBB lalu ada PSBB transisi yang kemudian menjadi kebijakan new normal.
Sztomka juga mengatakan bahwa suatu masyarakat senantiasa mengalami perubahan disemua tingkat kompleksitas internalnya. Sosiologi mengkaji bahwa suatu perubahan dilihat sebagai sesuatu yang dinamis dan tidak linear. Perubahan tidak terjadi secara linear pada tingkat makro terjadi perubahan ekonomi, politik, sedangkan pada tingkat mezzo terjadi perubahan kelompok, komunitas, dan organisasi, dan ditingkat mikro terjadi perubahan interaksi dan perilaku individual. Masyarakat bukan sebuah kekuatan fisik (entity) tetapi seperangkat proses yang saling bertingkah ganda (Sztompka, 2004:21-22).

Perubahan sosial akan terus terjadi selama manusia masih dalam bumi ini, karena manusia akan terus berusaha dalam memperbaiki tatanan kehidupan secara individu maupun kelompoknya. Berkaitan dengan kebijakan new normal ini semoga ada penyampaian yang sama terhadap kebijakan new normal kesemua masyarakat kita. Setelah sebelumnya ada penerapan kebijakan PSBB dan beberapa istilah lainnya. Penulis mengatakan begitu karena akan ada potensi terjadinya kekacauan bahkan kriminalitas dengan adanya kebijakan new normal ini terlebih lagi beberapa tahanan sudah dibebaskan. Diharapkan juga ketika sudah secara total penerapan new normal disemua daerah maka otomatis ada peraturan baru yang berkaitan dengan sanksi hukuman.

Hukuman pelanggaran yang seharusnya kita terapkan pada semetara adalah bersifat edukasi dahulu sehingga masyarakat tidak merasa keberatan dan berakibat memberontak.
Harapan masyarakat ketika sudah penerapan new normal maka tidak adanya penyebaran virus corona sehingga semua aktivitas akan berjalan sesuai dengan yang diharapakan semua orang.