Jumat, 31 Juli 2020

PILIH PESAING ATAU PESANDING

Oleh Sulistyowati, S.Pd, M.Pd.
 
SMPN 1 Pujon – Kab. Malang 

 

Sesungguhnya manusia diciptakan Alloh SWT dalam keadaan fitrah (baik), terlahir sampai tumbuh dewasa, orang tua, keluarga atau lingkunganlah yang menjaga tetap baik atau membuatnya jahat. Karena setiap anak akan tumbuh dan berkembang dengan pengaruh yang didapat dari lingkungannya. Jika lingkungannya baik maka anak itu akan tumbuh dan berkembang baik dan sebaliknya jika lingkungan itu buruk maka anak akan tumbuh dan berkembang sesuai asumsi yang diterimanya misalnya kejahatan.

Setiap orang pasti menginginkan sebuah kehidupan yang baik untuk mencapai puncak kebahagiaannya dalam hidup, baik dalam berkeluarga, bermansyarakat, dan bekerja. Bahkan terpenting disini adalah baik dalam diri sendiri bagaimana dirinya dapat mengeksplorasikan suatu tindakan yang baik atau positif di lingkungannya terhadap orang lain.

Namun dalam perjalanannya kehidupan seseorang mulai dari lahir sampai dewasa bahkan sampai meninggal, kepribadian dirinya sangat ditentukan oleh penanaman pendidikan oleh orang tua atau keluarganya sedini mungkin.  Bagaimana orang tua mengajarkan atau mendidik anaknya itulah yang akan membuat dampak sangat panjang pada kehidupannya yang akan datang. Sungguh sangat penting sebuah awal pendidikan dalam keluarga untuk anak-anak sebelum terpengaruh lingkungan luar yang sangat membahayakan bagi si anak karena sedang mengalami proses awal pertumbuhan dan perkembangannya. Perlu dipahami keluarga adalah peletak dasar pendidikan yang pertama dan utama yang akan mewarnai perilaku serta kehidupan si anak  ke depannya. 

Dalam sebuah penelitian psikologi sifat naluriah manusia itu sesungguhnya baik karena manusia merupakan makhluk yang sempurna karena dikaruniai akal dan pikiran. Akal pikiran itu akan selalu berfungsi dan beroperasi pada saat akan atau sedang bahkan setelah melakukan segala aktifitas terkecuali bagi mereka yang mengalami gangguan atau tidak normal dalam otaknya.

     Manusia selalu berfikir dalam segala bentuk tindakan atau perbuatan dan akan terscan dan terekam oleh otak. Otak mengamati, memahami dan menilai keadaan sebelum dilakukan apakah baik atau buruk tindakan tersebut. Wajar saja orang yang mau berbuat jahat seketika berubah tidak jadi melakukan kejahatan tersebut karena sejahat-jahatnya perilaku manusia sesungguhnya dalam pikirannya mengalami gejolak kubu positif dan negatif. Sejatinya semua itu dipengaruhi oleh perasaan, sedangkan  perasaan itu dikendalikan oleh otak.

Akhirnya semua pendidikan dari kecil akan mempengaruhi kehidupannya di masa mendatang. Lihatlah di sekitar kita perilaku dari teman, tetangga, bahkan sampai para pejabat. Mereka akan berperilaku yang tdak sama, mengapa????? Tergantung hasil didikan ketika masih kecil dan juga pengaruh dari lingkungan.  Pada akhirnya  yang berkembang pada diri manusia adalah 2 (dua) sifat dan perilaku kontradiktif.  Seperti kisah berikut ini, kejadian dan peristiwa  dalam kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar kita, boleh jadi  kita sendiri mengalami dan melakukannya. 

Di sebuah desa yang aman dan damai, tinggal seorang PETANI bertetangga dengan seorang yang berprofesi sebagai PEMBURU. Tetangga ini memelihara beberapa anjing galak yang kurang terlatih. Anjing-anjing sang pemburu kerapkali melompati pagar & mengejar-ngejar domba-domba milik sang petani. Sudah berulangkali pak petani meminta tetangganya untuk menjaga dan melatih anjing-anjingnya. Sayangnya si pemburu terlalu sibuk berburu sehingga terkesan tak mau peduli. Hingga suatu hari anjing-anjing pemburu itu melompati pagar & menyerang beberapa ekor domba petani sampai terluka parah. Sang petani mulai kehilangan kesabarannya. Ia memutuskan untuk pergi ke kota dan berkonsultasi kepada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita sang petani dengan seksama, kemudian dengan hati-hati dia berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu & memerintahkannya untuk merantai & mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang kawan & mendapatkan seorang lawan...". "Mana yang Anda inginkan, kawan atau lawan yang menjadi tetangga Anda?", ujar pak hakim.  

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang kawan.“Baik, saya akan menyarankan anda sebuah solusi yg WIN-WIN. Domba-domba anda akan aman & anda akan tetap berkawan dengan tetangga itu..”.

Mendengar solusi pak hakim, si petani itu setuju. Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil 3 ekor domba terbaiknya dan  menghadiahkannya kepada 3 anak pemburu. Tentu saja anak- anak pemburu itu sangat senang menerima hadiah dari sang petai. Setiap hari mereka bermain-main dengan domba-domba yang lucu itu.

Maka demi menjaga keselamatan mainan baru anak-anaknya, si pemburu kemudian mengkerangkeng anjing-anjing pemburunya, bahkan mulai melatihnya agar tidak menyerang domba. Semenjak saat itu, anjing-anjing si pemburu tak pernah lagi menganggu domba pak petani. Sebagai tanda terimakasihnya pada kedermawanan sang petani, pemburu itu mulai sering berbbagi hasil buruan kepada pak petani. Dan timbal baliknya sang petani mengirimkan daging domba & keju buatannya. 

Dalam waktu singkat mereka menjadi sahabat yang sangat erat.  Sebuah ungkapan mengatakan: “Cara terbaik untuk menaklukkan & mempengaruhi orang adalah dengan menjadikannya pesanding, bukan pesaing". Sebuah ungkapan yang sudah sangat jarang kita temui akhir-akhir ini, di mana orang-orang saling menjatuhkan. Sahabat dekat, bahkan saudara dekat saja bisa saling menjatuhkan. Maka hidupkanlah persandingan, sehingga tak kan ada lagi persaingan di antara kita, yang ada kita saling menguatkan untuk memperkokoh kebersamaan. 

Pada arena kehidupan kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, untuk memilih diperlukan kekuatan hati dan jiwa yang sebagian besar sudah kita dapatkan sejak kecil baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Namun belajar tak pernah berhenti untuk memperkokoh diri, karena pada hakekatnya belajar adalah menuju perubahan. Tentunya perubahan menuju pada kesempurnaan hidup, minimal kita memilih untuk memposisikan diri sebagai pesaing atau pesanding. 

    Marilah kita terus menghebatkan diri, mengasah otak, pikiran dan jiwa  kita dengan mengedepankan etika moral terindah, agar manusia di lingkungan kita aman, nyaman ketika berkomunikasi serta berinteraksi dengan kita. Sulit pasti tapi dengan niat dan tekad tegak setiap sisi penghalang pasti akan tumbang. Terus merubah diri menuju paripurna kehidupan yang senatiasa diiringi do’a kepada Sang Pemilik Kesempurnaan  Alloh SWT.  Barokalloh. 

 

 

 

 

 

 

 


                                              DAFTAR PUSTAKA 

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Artikel www.muslimafiyah.com

Artikel Happiness Life Coach,  Trainer NLP Guzz Afif (Nyentrik Lucu Profesional)

https://www.islampos.com

https://wahdah.or.id/setiap-jiwa-manusia-memiliki-potensi-untuk-berbuat-      kebaikan-dan-keburukan/